Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 81



Luna masuk ke dalam kamarnya dan menidurkan boneka itu di kasurnya. Gadis itu masih menepuk – nepuk boneka itu seolah boneka itu adalah anaknya yang berusaha sedang dia tidurkan. Gadis itu masih menangis sekaligus berdoa sesuatu yang baik akan terjadi. Gadis itu memejamkan matanya untuk mengatur napasnya yang mulai terasa sulit.


" kalau operasinya gak lancar, Luna bakal donorin ginjal Luna buat kak Darrel. Kalau pun akhirnya kita sama – sama gak bertahan, kita bisa mati bersama. Kak Darrel tahu kan Luna menderita ataksia yang gak bisa disembuhkan? Jadi cepat atau lambat Luna juga bakal lumpuh dan mati karna pernyakit ini. apa bedanya?"


" Kak Darrel, percaya sama Luna ya. Kalau kak Darrel gak selamat pun, Luna gak akan makan obat Luna lagi sampai kapan pun di kemudian hari, Luna gak peduli kak Darrel setuju atau enggak. Luna gak peduli lagi karna kak Darrel gak pernah tepatin janji," ujar Luna pada boneka yang ada di hadapannya, dia tahu boneka itu akan menyampaikan pesannya pada Darrel.


Gadis itu bangkit dari posisinya dan berjalan ke arah kulkas kecil dimana dia menyimpan banyak minuman dingin. Gadis itu ingin membahasi tenggorokannya yang kering. Entah mengapa dia tidak memiliki selera makan meskipun dia merasa lapar. Mulutnya sangat kelu bahkan untuk menegak air.


Luna langsung kembali ke kasurnya. Namun gadis itu kembali menengok ke arah kulkas itu karna di atas kulkas terdapat sebuah amplop berwarna coklat. Lun tak ingat pernah meletakkan amplop di tempat itu. meski merasa penasaran, Luna tak ingin mengambil benda yang bukan miliknya, gadis itu kembali ke kasur dan merebahkan dirinya.


" Kenapa gue iya – iya aja waktu disuruh pulang? Padahal pas gue udah pulang dan udah di rumah, gue malah makinkepikiran sama kak Darrel. Tanya sama Daddy juga gak akan dijawab. Lo **** banget sih Lun," ujar Luna pelan, gadis itu memilih untuk memejamkan mata setelah mematikan ponselnya.


Gadis itu sudah mengirim pesan pada Jordan untuk tidak menghubunginya karna dia ingin tidur dan ponselnya dia matikan. Dia hanya berharap Jordan percaya karna dia sendiri tidak kepikiran untuk bunuh diri atau melakukan hal bodoh lain di rumah saat ini. dia hanya ingin mengistirahatkan pikirannya barang sejenak.


Entah berapa lama Luna merebahkan dirinya. Gadis itu terbangun karna tak tahan dengan rasa lapar yang menyiksa perutnya. Gadis itu akhirnya menghubungi chef lewat telpon rumahnya dan meminta chef itu membawakan pancake coklat untuk dirinya. Luna tak berani membuka ponselnya, sudah tiga jam berlalu, dia tak tahu bagaimana kondisi terkini Darrel. Dia takut akan kecewa.


Jika operasinya sudah selesai dan Darrel tidak bisa, tentu papa atau abangnya tak langsung menghubunginya. Jika dia memaksa untuk tahu, dia sendiri yang akan tercabik, lebih baik dia tampak seperti orang bodoh yang tak mengerti apapun, karna dia tidak siap untuk hancur ke sekian kalinya.


Tak butuh waktu lama, chef sudah mengetuk pintu rumah Luna dan gadis itu membukakannya. Luna membawa pancake itu masuk dan mulai menghabiskannya dengan pelan. Dia meminta Chef membuatkannya pancake coklat keju spesial, namun dia tak mendapati rasa yang spesial pada panake itu, gadis itu kembali menangis saat menghabiskan suapan pertama dalam mulutnya.


" Padahal gue pesan yang spesial, kenapa rasanya biasa aja? Kenapa gak seenak bikinan kak Darrel? Kenapa chef itu lebih payah dari kak Darrel? Awas aja, gue bakal bilang Daddy biar chef itu diganti," ujar Luna pada dirinya sendiri. Gadis itu memasukkan suap kedua, namun kini dia malah memejamkan matanya dan mulai terisak.


" Luna rindu, Luna rindu sama seua hal yang dulu kita lalui. Luna rindu waktu kak Darrel bahagia dan buat banyak makanan enak. Luna gak masalah kalau Luna ahrus jadi gendut luar biasa asalkan kak Darrel ada di sini. Luna gak bakal jadi anak yang nakal, Luna bakal nurut sama semua kata kak Darrel," ujar Luna yang menjatuhkan sendok yang dia pegang.


Gadis itu kembali menangis dan memeluk erat boneka yang diberikan oleh Darrel hingga boneka itu kembali berbunyi. Luna menumpahkan semua air matanya dan meredam suaranya dengan boneka itu. Luna menumpahkan semua kesedihannya untuk saat ini, kesedihan yang dia tahan selama beberapa jam ini.


" Luna gak bisa nangis di sana kak. Luna gak mau bikin banyak orang makin khawatir. Luna gak mau kak Darrel sedih karna Luna. Tapi, Luna gak bisa berpikir positif buat saat ini kak. Luna bahkan tahu kalau kak Darrel kecil kemungkinan untuk selamat. Kenapa Luna gak bisa berharap sama sekali? Kenapa kak?" tanya Luna pada boneka itu tanpa melepas pelukannya.


" Luna ulang tahun hari ini, tapi bahkan Luna gak sanggup buat permintaan untuk kebahagiaan Luna. Luna Cuma berharap kak Darrel selamat. Luna Cuma berharap semua ini gak nyata. Luna gak masalah kalau akhirnya kak Darrel gak sama Luna, asalkan kak Darrel selamat, Luna udah bahagia."


Gadis itu langsung melepaskan pelukan pada boneka besar menggemaskan setelah puas meremas punggung boneka itu. pandangan Luna kembali ke arah kulkas kecil, di sana masih terdapat amplop yang tak Luna sentuh, entah mengapa kini Luna ingin sekali mengetahui apa isinya.


Luna bangkit dari posisinya dan berjalan ke arah amplop itu. Luna mengambilnya dan langsung membuka isinya. Ternyata amplop itu tidak berisi kertas atau surat, malah ada sebuah flash disk yang jatuh di tangan Luna. Gadis itu langsung memiliki firasat yang buruk, namu nentah mengapa dia malah ingin tahu isi flash disk itu.


Luna menyalakan televisi dan langsung menancapkan flash disk itu hingga isi dari flash disk itu bisa terbaca. Luna sedikit bingung karna di flash disk itu hanya berisi satu buah video. Entah apa isi dari video itu. Luna masih tak berani membukanya.


" Harud gue buka? Atau gak gue buka? Harus gue buka? Atau gak gue buka?" tanya Luna sambil melihat remote yang dia pegang. Gadis itu takut isi yang ada di sana ternyata tidak sesuai dan tidak untuk dilihat olehnya. Namun jika bukan untuknya, kenapa flash disk itu bisa berada dalam amplop dan diletakkan di kamar Luna?


" Bodo amat lah, gak ada yan gtahu juga kalau gue duah buka," ujar Luna yang memencet video itu dengan remote hingga isi dari video itu terpampang jelas di televisi kamar Luna. Gadis itu langsung menjatuhkan remote yang dia pegang saat dia melihat wajah seorang pria dengan selang infus di tangannya.


" kak Darrel," lirih Luna saat melihat lelaki yang tampak lemah itu. Lelaki itu tampak bingung harus mengatakan apa, dia hanya melihat ke arah kamera dengans enyum yang sangat dipaksakan. Luna tak bereaksi, namun air yang berasal dari bola matanya mulai berkumpul di pelupuk mata miliknya.


" Aku buat video ini karna aku mau ucapin selamat ulang tahun untuk kekasih dalam jiwaku. Aku gak mau Cuma suara dalam boneka aku yang ngucapin kamu, tapi maaf, kalau kamu nonton video ini, berarti aku lagi gak bisa ngomong sama kamu," ujar Darrel yang masih bingung untuk merangkai kata.


" Aku Cuma mau kamu tahu. Aku udah terlalu sayang sama kamu, aku sayang banget sama kamu dan aku awalnya takut kehilangan kamu. Aku lakuin banyak hal untuk melindungi kamu, tapi nyatanya kamu masih terluka. Aku minta maaf sama kamu," ujar Darrel dengan senyum yang dipaksakan.


" Banyak hal yang kita lalui dari kita pertama ketemu dan kamu bilang kalau aku jodoh kamu. Hahaha, bagaimana aku bisa lupa hal itu? Bahkan aku berusaha buat cari kamu setelah kejadian itu, eh ternyata kita malah satu sekolah. Betapa nasib memang berpihak pada kita."


" Kamu mau aku kasih tahu rahasia gak Lun? Selama bertahun – tahun, aku menyimpan satu luka yang benar- benar bikin aku hancur pelan – pelan. Fakta kalau kamu gak pernah bisa suka sama aku dan Cuma suka sama Radith, itu benar – benar bikin aku down dan bikin aku sempat frustasi."


" Tapi ternyata pada akhirnya aku memprioritaskan kebahagiaan kamu. Kalau akhirnya kamu suka sama Radith dan nyaman sama dia, aku memutuskan buat membiarkan itu. lama kelamaan aku udah biasa sama rasa sakit itu. yah jujur aja, siapa sih yang suka pacarnya masih cinta mati sama cowok lain? Walau aku menyadari sejak awal aku yang paksa kamu buat terima aku."


" Dan ternyata, kemarin kamu minta aku buat jadi tunangan kamu lagi. Kalau boleh, aku pingin lompat dari gedung rumah sakit dan terbang ke angkasa saking senangnya. Tapi sayang, kondisi aku yang buat aku gak bisa buat terima semuanya. Aku gak mau kamu berakhir dengan melihat tunangan kamu diam dan tak bernapas lagi."


" Walau kamu bukan cinta pertama aku, sekarang aku sadar kalau kamu itu cinta terakhir aku. aku gak pernah mencintai seseorang sampai sebodoh ini. Iya, kamu yang udah bikin aku kayak orang idiot, Cuma nunggu kamu buat balas perasaan aku."


" Aku berharap kamu gak akan pernah lihat Video ini, karna kalau kamu lihat Video ini, berarti aku udah gak ada di dunia ini. video ini Cuma rencana B aku kalau ternyata aku gak bisa bertahan sampai ulang tahun kamu. Aku harap kamu gak marah sama apa yang aku lakuin."


Bahu Luna bergetar melihat dan mendengar apa yang dikatakan oleh Darrel. Lelaki itu tampak mengedipkan mata beberapa kali dan memegang perutnya. Sepertinya lelaki itu kesakitan lagi. Luna bahkan sampai bangkit dan mengelus layar televisi itu karna Darrel merasa kesakitan. Luna langsung memelototkan matanya saat Darrel meringis kesakitan.


" Ah, harusnya ini gak ditayangan di video ini, tapi mungkin aku gak ada waktu buat editnya. Aku juga mau bilang ke kamu, aku gak pernah menyesal atas semua, aku gak pernah menyesal kenal dan cinta sama kamu. Walau sekarang aku harus pergi, aku selalu berdoa kamu bakal bahagia." Darrel tampak tersenyum meski matanya sudah berair. Lelaki itu sampai meneteskan air matanya, Luna tak bisa membayangkan apa yang dirasakan lelaki itu.


" Aku memang udah gak ada di dunia ini. Tapi aku bakal selalu ada di samaping kamu, dan kamu gak bisa lihat aku. Aku bakal selalu jaga kamu dan aku bakal nakut – nakutin mereka yang mau berbuat jahat sama kamu."


" Aku akan benar- benar pergi saat aku tahu kamu aman, saat aku tahu ada lelaki yang bisa jagain kamu dengan baik. Sampai waktu itu tiba, aku gak akan ninggalin kamu sedikitpun. Kamu bisa percaya sama aku. Untuk kali ini, tolong percaya sama aku."


" Siapapun laki – laki yang akan jadi pendamping kamu, aku harap kamu bahagia. Kamu harus lupain aku, kamu…" Darrel berhenti dan menarik napasnya dengan panjang. Lelaki itu menekan perutnya dengan kuat, Luna yakin hal inilah yang sebenarnya dirasakan oleh Darrel, namun Luna tak cukup peka untuk menyadari semua.


" Kamu harus jalanin hidup kam udengan bahagia. Kamu gak boleh sebut nama aku lagi, bahkan jika itu hanya di dalam hati kamu. Kamu harus menikah dan punya enam anak sama laki – laki yang kamu cintai, dengan hal itu aku bisa pergi dengan tenang. Kamu mau kan buat aku pergi dengan tenang?" tanya Darrel yang makin melirih.


" Aku sedih karna aku harus pergi saat kamu bahkan udah cinta sama aku. tapi aku juga bahagia, pada akhirnya aku bisa meninggal dengan cinta yang selama ini aku kejar, itu udah cukup buat aku."


" Lunetta. Aku bakal akhiri video ini, aku mau kamu tahu kalau aku sayang banget sama kamu. Aku cinta mati sama kamu. Lunetta, I Love you. Forgive me, Forget me."


Itu adalah kalimat terakhir yang Luna tonton dari video yang ada di dalam flash disk ini. Luna langsung menangis saat video berakhir. Gadis itu bahkan sampai terkikik karna menahan isakannya. Gadis itu bahkan sampai tak tahu harus mengatakan apa lagi setelah video ini berakhir.


" Apa setiap malam kak Darrel ternyata kesakitan? Apa setiap malam ternyata menyakitkan buat kak Darrel? Kak Darrel senyum sama Luna kemarin, apa itu palsu kak? Kak Darrel bahkan tega buat video ini dan memprediksi kematian kak Darrel. Kenapa kak? Kenapa kak Darrel lakuin ini?"


" Lupain kak Darrel? Siksaan macam apalagi itu? lebih dari enam tahun Luna kenal sama kak Darrel, tapi kak Darrel tega lakuin ini? gak kak, Lun gak akan lupain kak Darrel. Luna bakal simpan nama kak Darrel sampai Luna mati."


" Kak Darrel udah cukup banyak rasain penderitaan selama ini. sekarang giliran Luna kak, Giliran Luna yang menyimpan semua kepahitan ini. kak Darrel… kalau memang kak Darrel udah pergi dan kak Darrel ada di sini. Kak Darrel dengar Luna ya kak? Luna cinta sama kak Darrel, dan selalu akan seperti itu."