Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 42



Luna sudah mempersiapkan kopernya dan berjalan masuk ke dalam mobil dimana Darrel sudah berada di dalam mobil itu. Luna kini bisa meninggalkan Indonesia dengan rasa yang bahagia, tak memiliki beban karna kekasihnya sudah baik – baik saja. Luna bahkan bisa bersenandung sepanjang jalan dan malah menjadikan mobil sebagai tempat karaoke dirinya dan Darrel.


" Kak, Luna tuh kadang hran kenapa gak Daddy, bang Jordan sama Danesya yang pindah aja k sini ya? Makam mama kan ada di sini. Kalau semua pindah ke england, mama sendirian dong di sini? Jadi susah juga kan kalau mau ziarah ke makam mama," ujar Luna yang membuat Darrel terdiam sebentar. Dalam pertimbangan mereka, mereka tak pernah memikirkan masalah ini.


" Yah, kalau semua udah tenang dan kondusif, pasti balik lagi ke Indonesia kok. Lagian bagaimanapun kan asal kita dari sini Lun, jadi cpat atau lambat pasti bakal balik lagi," ujar Darrel yang tak membuat Luna merasa puas dengan jawaban lelaki itu. Luna hendak mengatakan sesuatu, tapi Darrel langsung menyela gadis itu.


" Papa, bang Jordan, Aku dan bahkan Radith, sudah mikirin banyak hal, dan memang yang terbaik itu kamu berangkat dulu ke sana. Kami punya banyak pertimbangan, nah aku harap kamu tinggal nurut aja dan tunggu komando dari pacar kamu yang paling ganteng ini," ujar Darrel yang menyisir rambutnya ke belakang. Luna langsung berdesis mendengar hal itu, membuat gadis itu langsung terdiam dan tak mengatakan apapun.


Mereka sampai di bandara tak lama kemudian. Darrel sendiri langsung mengantar Luna sampai ke bagian keberangkatan. Luna harus melanjutkan jalan sendiri untuk pemeriksaan tiket dan passport. Kali ini Luna menggunakan penerbangan reguler, bukan pesawat pribadi miliknya, membuat keamanan gadis itu jauh lebih ketat dari sebelumnya.


" Kak, berlebihan gak sih kak? Masak sampai beli semua tiket first class buat body guard body guard ini kak? Gimana kalau salah satunya ada pembajak pesawat gitu?" tanya Luna yang membuat Darrel langsung menutup mulut gadis itu. Inilah alasan Luna tidak diijinkan mengetahui apapun. Karna jika Luna mengetahui satu hal, gadis itu selalu tanpa sengaja mengucapkannya, bahkan tak peduli dengan sikon yang ada.


" Kamu tinggal duduk manis di pesawat, bobok juga boleh. Sampai sana langsung kabarin aku dan gak usah n gomong macam – macam, terutama masalah ini, okay? Pokoknya jangan sampai orang lain tahu kalau kamu udah tahu sesuatu," ujar Darrel yang diangguki oleh Luna. Gadis itu meregangan tangannya dengan lebar ditambah senyum merekah yang gadis itu tunjukkan.


Darrel yang mengerti langsung tertawa ringan dan setelah itu dia langsung memeluk luna dnegan erat. Lelaki itu memeluk Luna dan bahkan mengecup kepala Luna berkali – kali sampai akhirnya mereka melepaskan pelukan mereka karna Luna harus segera pergi.


" Kalau kamu sampai sana ketemu sama cogan bule, kamu foto dan kirim ke aku ya," ujar Darrel yang membuat Luna mengernyitkan keningnya, gadis itu tak menangkap maksud perkataan Darrel.


" Mau aku ajak gelut, mumpung lapangan masih luas," ujar Darrel yang membuat Luna tertawa, lelaki itu bahkan masih sempat – sempatnya mmbicarakan hal yang tak penting itu. Memang Luna tak pernah membahas masalah lelaki lain di depan Darrel untuk waktu yang lama ini. Karna keseharian Luna kan hanya di rumah, pergi ke mall pun tak pernah menemukan pria yang lebih tampan dari Darrel.


" Ya udah ah, Luna mau terbang dulu. Kak Darrel jaga diri di Indonesia, kalau kak Darrel kangen, telpon Danesya aja, kan wajahnya sama," ujar Luna yang membuat Darrel menggelengkan kepalanya dengan wajah serius, membuat Luna kembali mengerutkan keningnya.


" Danesya kan sibuk udah jadi super model, jadi aku telpon kamu aja yang nganggur dan memiliki waktu luang anytime," ujar Darrel yang terasa panas di kuping Luna. Gadis itu bahkan sampai menggeplak kepala Darrel dengan reflek.


" awas aja kalau sampai sana Luna dapat kerjaan tapi gak dibolehin sama kak Darrel, bakal aku cari kak Darrel," ujar Luna yang membuat lelaki itu tertawa, lelaki itu segera meminta Luna untuk pergi sebelum percakapan mereka makin melebar dan Luna malah jadi ketinggalan pesawat dengan semua tiket first class yang otomatis hangus.


*


*


*


Darrel langsung pergi dari bandara menuju kantor Radith. Dia memang sudah memiliki janji dengan lelaki itu, tak lain untuk membahas masalah yang akan menjadi bom waktu bagi mereka. Darrel harus segera menyelesaikan masalah itu sebelum masalah itu melukai Luna dan keluarganya yang lain. Lelaki itu bergegas untuk ke kantor Radith karna dia sudah terlambat.


Darrel sampai di kantor Radith dan langsung masuk setelah mengatakan pada bagian customer servise dan orang itu menunjukkan Darrel jalannya. Lelaki itu masuk ke salah satu ruangan yan ada di lantai paling atas. Apakah memang bos besar selalu ada di lantai atas?


" Kalau ada kebakaran, bos yang berpotensi besar buat mati duluan dong ya kalau kayak gini? Kenapa gue baru sadar sama hal ini ya? Wah, kayaknya gue harus pindah ruangan ke lantai satu deh." Darrel terus mengomel sendiri sembari menunggu lift yang membawanya ke lantai lima dimana ruangan Radith berada. Darrel sengaja masuk ke kantor ini sendiri dan meninggalkan smeua pengawalnya di lantai satu.


" Lo lama banget sih kak? Lo keliling Indonesia dulu?" Tanya Radith dengan sewot namun tak dijawab apapun oleh Darrel, lelaki itu langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Radith. Darrel menjelaskan jika Luna sedikit lama dalam bersiap sehingga dia harus menunggu sampai gadis itu benar – benar berangkat.


" Langsung ke Intinya aja nih. Lo dapat info apa tentang tuh cewek? Kalau bukan karna Lo yang minta gue pertahanin dia jadi Direktur Utama, udah gue depak di ke Afrika," ujar Darrel yang membuat Radith mengangguk dan membuka satu berkas file dengan map bening, membedakannya dengan map lain yang memiliki warna berbeda.


" Gue udah telusurin Karin dan emang zon, gak ada Info sama sekali tentang masa lalu dia. Lo udah tahu hal itu kan? Walau gue udah coba korek Info, tetap aja gue gagal dan berakhir zonk," ujar Radith yang membuat Darrel menggangguk.


" Serius Lo Cuma dapat info itu? itu Info kan kita semua udah tahu sih, Lo gak ada info baru?" tanya Darrel tak sabar, membuat Radith berdecak dan meminta lelaki itu diam dengan isyarat jarinya. Darrel mengikuti lelaki itu dan menutup mulutnya sementara Radith membuka lembar berikutnya.


" Nah karna buntu, gue coba iseng buat teliti orang – ornag yang ada di sekitar Luna, dari Roy, suaminya Key, pacarnya Lucy, Kak Keyla istri bang Jordan, bahkan bapak – bapaknya dari teman – teman Luna dan juga Lo," ujar Radith yang menunjukkan ke arah Darrel lembar – lembar yang dia kumpulkan selama beberapa hari ini.


" Lah? Ada nama gue gitu? Lo pikir gue terlibat gitu? Wah, parah Lo, wah, wah, gue juga harus teliti Lo nih, gue curiga ternyata malah Lo yang terlibat," ujar Darrel yang membuat Radith mendengus kesal, Darrel langsung menutup mulutnya meski dia sudah memajukan bibirnya beberapa kali.


" Di sini gue menemukan sesuatu yang unik, ternyata bukan Karin satu – satunya orang yang turun dari langit alias gak punya riwayat keluarga atau riwayat kelahiran. Tapi ada satu orang lagi, Lo penasaran gak siapa orangnya?" tanya Radith yang membuat Darrel mengangkat alisnya. Dia menunggu Radith membuka suara, baru saja Radith membuka mulut, pintu terbuka lebar.


" Sorry sorry gue telat. Kenapa Lo minta gue ke sini sih? Gue nyasar tahu gak, gitu tuh Lo minta ornag buat jemput gue kek," ujar orang itu yang membuat Radith memutar bola matanya dengan malas. Radith melihat Darrel dan orang itu secara bergantian.


" Kalian berdua ada darah yang sama atau gimana sih? Jangan – jangan kalian saudara ya? Brisiknya kompak banget," ujar Radith yang membuat orang itu terkekeh dan menggaruk belakang kepalanya dengan bingung. Sudah dia diminta untuk datang ke tempat ini tiba – tiba, sudah sampai malah kena marah.


" Bukannya dia pacar Adel? Dia ada hubungannya sama masalah ini?" tanya Darrel yang membuat orang itu juga menatap bingung, dia hanya datang karna diminta datang, bahkan dia tak bertanya ada masalah dan ada keperluan apa dia sampai dipanggil oleh Radith. Untung saja Radith bukan orang jahat yang berniat untuk melukai lelaki itu.


" Apa sih? Apa sih? Apa yang gue gak tahu? Eh? Lo pacar Luna yang ketua OSIS itu kan? Lo udah putus belum dari dia?" tanya lelaki itu yang membuat Darrel berdiri untuk menggeplak kepalanya, namun Radith mencegah Darrel dan menggantikan tugas lelaki itu untuk menggeplak Rafa karna posisinya lebih dekat.


" Oke guys, kita fokus dulu buat sekarang karna masalahnya gak main – main kali ini. Lo mau tahu alasan Lo dipanggil ke sini kan? Kanr akita butuh bantuan Lo sekaligus mencurigai Lo tentang sesuatu, Lo bisa tebak hal apa gak?" tanya Radith yang meembuat Rafa menatap ke arah atas, tanda dia sedang berpikir.


" Lo dipanggil ke sini karna riwayat kelahiran dan siapa keluarga Lo itut gak jelas, Lo pasti dilahirkan kan? bukan menetas dari telur dinosaurus apalagi dari batu beranak yang kepanasan kena sinar matahari terus pecah dan keluar Lo. Gak mungkin kan?" tanya Darrel dengan nada bercanda, namun tidak dengan Rafa, lelaki itu langsung menegang karna pertanyaan Darrel.


" Gue udah tahu Lo salah satu dari mereka, termasuk dari orang yang lagi kami selidiki. Apa Lo masih berhubungan sama mereka?" tanya Radith yang membuat Rafa menggelengkan kepalanya dnegan cepat. Radith dan Darrel langsung diam dan menunggu lelaki itu menjelaskan.


" Gue udah gak ada hubungannya sama mereka bahkan sejak kenal Adel, sejak SMA. Gue gabung ke mereka karna mereka bisa bantu gue balas dendam sama orang yang udah bikin adik kandung gue gila. Sekarang adik gue udah sehat dan bahagia, jadi gue gak ada dendam apapun, bahkan gue udah lupa sama grub itu."


" Grub? Lo yakin bukan salah satu dari mereka kan? Kalau gitu Lo bisa ceritain itu grub apa dan gimana sistemnya kan?" tanya Radith yang membuat Rafa ragu sesaat, namun lelaki itu menganggukan kepalanya dan mulai serius, terlihat dari dia yang berdehem lalu menatap Radith dan Darrel bergantian.


" Mereka bakal rekrut anak – anak yang punya keinginan kuat terhadap sesuatu. Nah, mereka bakal hapus riwayat kelahiran orang itu dan mengurus yang palsu sebagai gantinya. Jadi kami memang udah gak punya identitas lain. Selama udah terikat, gak akan bisa lepas sampai mereka sendiri yang lepasin," ujar Rafa yang membuat Radith dan Darrel tertegun.


" Bos gue untungnya baik, dia biarin gue sama Arya pergi setelah kami udah bantu dia dalam banyak hal, tapi dengan syarat gue gak boleh kasih tahu hal ini sama siapapun. Jadi gue gak jamin gue bakal aman setelah ini."


" tunggu, Bos Lo? Bos Lo sama bos yang lain itu beda?" tanya Radith memotong pembicaraan Rafa, lelaki itu mengangguk, membenarkan perkataan Radith, mereka memang memiliki bos masing – masing yang akhirnya menjadi ayah mereka di riwayat kelahiran palsu itu. Mereka lah yang berwenang memutuskan nyawa 'anak'nya.


" Nah Bos – bos itu semua dikomando dari satu bos besar. Tapi sampai sekarang gue gak pernah tahu siapa dia, bahkan bos – bos pun gak tahu siapa itu bos besar yang sebenernya. Karna mereka gak pernah ketemu langsung, Cuma lewat telpon aja, itu pun dengan suara yang disamarkan kayak penjual boraks gitu," ujar Rafa yang membuat Darrel geli karna membayangkan suara penjual bakso boraks yang terciduk.


" Bos – bos itu udah disumpah atas nyawa mereka untuk bos besar dengan imbalan apapun yang mereka mau. Gue pernah lihat ada yang berkhianat atau berniat mundur karna tobat, eh malah bos itu dibawa ke kandang buaya dan jadi makan siang buaya di hadapan bos lain biar mereka semua tahu aturan yang ada di grub itu gak main – main."


" Lo gak punya akses apapun tentang bos besar itu? atau Lo gak pernah diceritain apapun gitu sama Bos Lo tentang bos besar itu?" tanya Darrel yang dijawab gelengan kepala oleh Rafa.


" Yang gue tahu dia bukan orang Indonesia karna kode negara waktu telpon gak pernah ada kode negara Indonesia. Tapi setiap telpon, dia selalu pakai kode negara yang beda, gue pernah tanya ke bos gue apa dia pindah tempat dan bos gue keclepos bilang kalau itu Cuma buat mengelabuhi."


" Gue gak ngerti konsepnya gimana. Tapi yang jelas gak ada akses apapun buat tahu siapa itu bos besar," ujar Rafa yang membuat Radith dan Darrel langsung memegang kepala mereka yang mendadak pening, mereka sama – sama tak menyangka jika akan sampai seperti ini.


" Kalau boleh gue kasih saran, kalian gak udah ada masalah sama grub itu, bahkan gue bertaruh naywa but keluar karna gue itu anak kesayangan bos, jadi lebih diawasi. Demi Adel gue keluar dari grub terkutuk itu. kalian jangan sampai melibatkan diri sama grub itu atau kalian bakal menyesal sendiri," ujar Rafa yang membuat Darrel dan Radith berpandangan.


" Kaih tahu kita bagaimana cara join ke grub mereka," ujar mereka setelah saling memberi kode. Rafa langsung menggelengkan kepalanya dan berdiri.


" Sorry, gue gak bisa bantu. Gue gak bisa biarin kalian join ke grub itu, gue permisi aja, terima aksih untuk undangannya, ingat pesan gue ya, kalian jangan terlibat.


" Gue bahkan harus satu minggu dirawat karna ditabrak truck dan harus nyaris mati karna nyelametin Adel dari mereka. Itu pun karna Bos masih kasihan sama gue. Kalau kalian anggap grub ini grub biasa, kalian salah."


Rafa sungguh langsung berjalan keluar dari ruangan itu, menyisakan Radith dan Darrel yang tampak bimbang dan gusar. Mereka bisa melihat wajah Rafa yang sangat ketakutan dan bahkan lelaki itu sampai gemetar saat Radith menanyakan syarat. Itu artinya Rafa tak bercan atau main – main dengan perkataannya.


" Apa rencana Lo setelah ini?" tanya Darrel dengan wajah yang datar dan serius.