Hopeless

Hopeless
Jangan Tinggalkan



"Kita perlu bicara. Terserah mau di mana. Di sini, di rumahmu atau di tempat lain."


Daripada mengundang perhatian para tetangganya, Kinan akhirnya memilih naik ke atas motor.


Beni membawa Kinan ke cafe kita-kita dan menyewa room karaoke untuk tiga jam. Ia butuh privasi untuk berduaan bersama Kinan membahasa masalah yang sedang mereka hadapi saat sekarang ini. Beni sudah merasakan kekacauan hidupnya. Ia benar-benar menjadi pengangguran sekarang dan masalah itu dia tidak terlalu peduli sama sekali.


"Kenapa harus masuk room?" protes Kinan. Beni tidak menanggapi. Ia berdiri di depan pintu room dan menunggu Kinan masuk.


Kinan tidak punya pilihan selain masuk. Keduanya duduk berdampingan membiarkan musik menggema begitu saja.


Sepuluh menit berlalu, Beni tidak juga membuka suara. Sementara Kinan hanya memilih menunggu.


Terdengar ketukan di pintu di menit ke tujuh belas. Pelayan masuk membawa pesanan mereka.


"Makan," Beni memberi perintah.


"Aku tidak lapar."


"Kita akan bicara setelah makanannya habis."


Tidak ada gunanya berdebat dengan Beni. Bisa-bisa mereka tidak keluar dari room jika apa yang diinginkan Beni belum terwujud.


Kinan memilih untuk menikmati nasi goreng. Beni hanya memperhatikannya, tidak melepaskan tatapan sama sekali. Berulang kali Kinan hampir tersedak karena salah tingkah yang menyebabkan Kinan mangalami kesulitan untuk menelan makanannya.


Uhuk... Uhukk...


Pada akhirnya Kinan benar-benar tersedak.


"Tidak ada yang akan merebut makananmu." Beni menepuk-nepuk punggung Kinan seraya mengulurkan minum.


"Berhenti menatapku."


"Apa salahnya? Kamu tambah manis."


Aku, kamu, benar-benar terasa sangat canggung.


"Terima kasih, hati-hati diabetes kalau dinikmati secara berlebihan."


"Mau diabetes, kolestrol, gagal ginjal, gagal jantung, sudah tidak peduli."


Mendengar pernyataan Beni, Kinan memberanikan diri menatap Beni. Manik mereka beradu. Kinan baru menyadari jika wajah Beni semakin tirus. Matanya lebih cekung.


"Kamu baik-baik saja?"


"Tidak ada yang baik-baik saja sejak malam itu," Beni menjawab seadanya. Ia benar-benar sudah hancur.


"Jangan ngomong gitu, dong." Kinan tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Jiwanya juga berkecamuk. Di lihat dari penampilan fisik, sepertinya Beni lah yang lebih menderita dengan kondisi hubungan mereka ini.


"Kinan."


"Hmm?"


"Abang tidak mau putus apa pun ceritanya. Ini mungkin terdengar konyol, tapi Abang tidak bisa hidup tanpa kamu. Rasanya mau mati saja."


Kinan bisa merasakan bahwa apa yang dikatakan Beni jujur apa adanya sesuai dengan apa yang pria itu rasakan saat ini, walau kalimat tidak bisa hidup terdengar sangat berlebihan karena sejatinya hidup mati seseorang ada di tangan Yang Maha Kuasa.


"Lalu kamu maunya apa?" Kinan berusaha bersikap tenang dan lembut.


"Dengan menantang keinginan orang tua kamu?"


"Abang tidak peduli!"


Kinan menarik napas panjang, "Jangan jadi anak durhaka. Hidupnya tidak akan berkah."


"Abang tidak peduli, Kinan. Apa pun yang terjadi, Abang tidak peduli."


"Kita tidak boleh egois sebagai anak. Dan seharusnya kita memang tidak menjalin hubungan ini. Sebelum semuanya terlambat, mari mengakhirinya dengan baik-baik. Di luar sana, masih banyak perempuan-perempuan yang sepadan dengan kamu. Yang cocok di mata keluarga kamu. Kamu hanya perlu belajar melepaskan aku, melupakan aku dan merelakan hubungan kita..."


"Oh, jadi kamu sudah menemukan yang baru? Sudah menemukan pengganti?" wajah Beni berubah sinis.


"Bukan seperti itu..." Kinan masih berusaha tenang. Ia bisa melihat jika ada yang tidak beres dengan mantan kekasihnya itu.


"Jadi apa?" Suara Beni kembali lembut. "Tolonglah mengerti sama Abang, Kinan. Abang akan melakukan hal apa pun agar bisa bersama dengan kamu. Abang akan buktikan jika Abang tidak main-main dengan ucapan Abang." Beni menangkup tangannya, menggenggamnya dengan erat seakan takut jika Kinan akan menghilang jika ia melepaskannya.


"Kinan percaya, tapi Kinan tidak mengharapkan pembuktian apa pun."


Beni terlihat terluka mendengar pernyataan Kinan. Perlahan genggaman tangannya lepas. "Jadi kamu ingin melihat Abang hancur? Kamu tahu, Kinan? Abang sudah dipecat karena tidak masuk berminggu-minggu tanpa keterangan karena sibuk mencari kamu ke sana kemari." Beni tidak menjelaskan bahwa ia juga sudah keluar dari rumah mereka dan tidak akan kembali sebelum orang tuanya memberikan restu.


Kinan terkejut mendengar pernyataan tersebut. Jadi sekarang Beni sudah tidak bekerja lagi.


"Abang tidak peduli dengan semuanya. Yang Abang butuhkan itu, kamu, Kinan."


"Bukan, kamu hanya belum bisa menerima keadaan ini. Itu saja. Seiring berjalannya waktu, kamu akan sadar bahwa ini merupakan salah satu kegilaan kita yang kelak akan kita tertawakan..."


"Kamu menganggap hubungan ini sebatas itu?" Beni lagi dan lagi bertanya dengan nada terluka. "Kamu menganggap perasaanku hanya sesaat. Aku bisa saja menghancurkan diriku di hadapanmu. Kamu mau lihat? Kamu mau menyaksikannya." Beni berdiri, menatap Kinan dengan marah. Tapi ada yang salah dengan tatapannya. Manik itu perlahan mengeluarkan tangisan. Hati wanita mana yang tidak terenyuh melihat sang kekasih hati mengeluarkan air mata kepedihan.


"Ayo, katakan bahwa kamu ingin hubungan ini berakhir? Ayo, katakan!" Beni membersit hidungnya. Demi apa pun, ia juga tidak pernah menyangka jika dirinya akan segila ini seolah dunianya hanya berpusat kepada Kinan..


"Duduk dulu, tenangkan dirimu..."


"Aku hanya bisa tenang jika kamu tidak mengakhiri hubungan ini, Kinan!"


"Aku tidak bisa. Hubungan kita tidak ada masa depan."


"Oh, jadi kamu ingin ini berakhir," Beni menyeringai. Tatapannya jatuh pada botol minuman dan dengan segara mengambilnya dan melempar benda itu ke dinding hingga menjadi serpihan.


"Kamu apa-apaan?!" Kinan meninggikan suaranya. Beni mengabaikan dan berjalan menuju pecahan beling tersebut dan mengambil yang paling runcing kemudian menggenggamnya hingga tangannya mengeluarkan darah.


"Katakan lagi bahwa kau akan meninggalkanku!"


"Jangan bodoh, kamu!"


"Oh, masih tidak percaya jika aku lebih baik mati daripada harus kamu tinggalkan!" Beni melempar beling kaca, lalu meninju dinding hingga luka baru tercipta di ruas jarinya.


"Hentikan, apa yang kamu lakukan?!" Kinan melompat mendekat ke arahnya.


"Jangan sok peduli, kamu!" Beni membenturkan kepala ke dinding. "Aku lebih baik mati. Aku lebih baik hancur. Katakan jika kamu akan tetap meninggalkanku! Katakan, Kinan!" Air hidung Beni sudah meluber kemana-mana.


Kinan pun ikut menangis, pun ia menggelengkan kepala. "Hentikan, kumohon." Kinan menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Beni. Seketika Beni menghentikan kegilaannya. Disambutnya Kinan dengan mendekapnya lebih erat. Dikecupnya berulang kali pucuk kepala gadis itu. "Abang tidak mau putus, Sayang. Abang tidak mau ditinggalkan. Abang benar-benar tidak bisa hidup tanpa kamu. Tolong jangan tinggalkan Abang."


Kinan hanya bisa menganggukkan kepala di dalam dekapan pria itu. Yang penting Beni tenang dulu. Mengikuti maunya pria itu lebih baik daripada Beni semakin menghancurkan ruangan ini dan benar-benar bunuh diri.