
" Lun, Lo beneran ngajak kak Darrel kesini kan? Gue udah nyalon nih dari siang sampe nyaris malem buat acara ini, awas aja Lo bohongin gue," ujar Ghea yang masih saja bercermin untuk membenarkan tatanan Rambutnya.
" Iyaa, Lo udah tanya itu lima kalik Ghe, gue gak akan bohong, gue udah janjian sama dia buat acara kita," ujar Luna yang jengah karena Ghea terus meributkan hal itu.
Karena Ghea pula Luna harus menghabiskan malam santainys ke tempat seperti ini, bahkan Ghea langsung datang ke rumah Luna sepulang dari Salon. Gadis itu terus rewel dan membuat Luna pusing sendiri. Akhirnya disinilah mereka, sebuah Restoran ternama, mereka hadir setengah jam lebih awal dari waktu yang ditentukan.
" Kok mereka gak datang datang? Udah lumutan nih gue nunggunya, nanti rambut gue berantakan pula," ujar Ghea dengan wajah kesalnya meski pandangannya tak teralihkan dari cermin.
" Kita yang terlalu dini maemunahhh, kita janjian jam berapa? Lo sih harus buru buru kesini, padahal kan masih ada dua puluh menit dari waktu janjian," ujar Luna dengan kesal sambil memainkan ponselnya. Luna yang memiliki status tunangan saja tidak seheboh itu bertemu dengan Darrel.
Sering Darrel mengajaknya keluar, sia hanya mengenakan kaos dan celana sebtas Lutut, padahal mereka pergi ke restoran mahal dan terkenal di kota itu.
Namun karena ini makan malam bersama, Luna TERPAKSA, Memakai pakaian bagus dan menawan, tidak mungkin dia mempermalukan Darrel dan dirinya sendiri dengan memakai pakaian tak pantas. Meski tidak memakai pakaian mewah, Dress selutut berwarna biru laut dengan high-heels dengan warna yang senada cukup baik menempel di badannya.
Harus menunggu waktu sekitar 20 menit sebelum akhirnya Resya, Darrel, Angga dan seorang pria lagi yang tidak Luna kenali, Darrel sungguh membawa dua temannya untuk makan malam bersama kali ini.
" Lho Res? Kok Lo bisa bareng sama mereka?" Tanya Ghea dengan spontan, gadis itu segera menutup mulutnya sendiri setelah sadar.
" Iya tadi ketemu di parkiran, hells gue patah, untung kak Darre bawa sepatu cewek, jadi gue cuma pakai flatshoes," ujar Resya yang dengan percaya dirinya mengangkat kakinya untuk menunjukkan flatshoes cantik yang dia gunakan.
" Itu sepatu harusnya buat gue njir!" seru Luna yang menyadari cengiran di bibir Resya, sungguh, Luna sudah berpesan pada Dareel untuk membawakannya sepatu karna dia tidak begitu suka memakai heels yang tinggi, terlalu sulit untuk berjalan.
" Hehehe, bukan gue yang minta, kak Darrel yang kasih buat gue," Ujar Resya dengan tak tahu malunya, Luna sampai geram dan menatap Resya dengan tatapan jengkel, tak masalah jika sepatu menjadi milik Resya, namun tatapan remeh Resya entah mengapa menyenggol hati Luna.
" Luna, udah ya, cuma sepatu, lagian kasihan Temen kamu, masak dia pakai heels patah kan?" bujuk Darrel yang sudah duduk di sebelah Luna, membuat Ghea sedikit memekik riang karena kehadiran Darrel, lelaki itupun hanya terkekeh melihat ekspresi berlebihan Ghea.
" Woi, kita disuruh berdiri aja nih?" Tanya Angga dengan eajah kesal dan perkataan yang menyindir, Darrel sendiri malah menatapnya sinis karna hal itu.
" Lo bisa duduk sendiri tanpa disuruh njir, gak usah pencitraan gitu, eneg gue lihatnya," ujar Darrel sambil memutar bola matanya, membuat Angga dan seorang pria lain itu terkekeh dan duduk di hadapan Darrel, Darrel sendiri langsung berpindah tempat agar enak berkomunikasi dengan Luna saat makan.
" Gue kan pencitraan, apalagi di depan cewek cewek cantik gini," ujar Angga yang duduk dengan tenang sambil menatap Ghea yang juga menatapnya, Angga mengedipkan satu matanya dan membuat Ghea tersenyum malu sampai menutup mukanya.
Siapa yang tidak mengenal Angga? Lelaki tampan sekaligus sahabat Darrel yang menempati urutan kedua most wanted di STM Taruna, Tampan dan tidak pernah mendapat gossip miring, tidak memiliki fans fanatik dan dikabarkan tidak memiliki kekasih. Namun tak ada yang mengejarnya karena semua berfokus untuk mendapatkan hati Darrel.
" Jangan mau sama Angga, dia gay, makanya gak pernah punya pacar. Mending sama aku, aku gak pernah ada kabar miring, gak kalah ganteng juga dari Angga, ganteng aku malah," ujar lelaki itu sambil menyisir rambutnya ke arah belakang, Darrel yang melihat itupun menjadi risih sendiri.
" Jangan mau sama Tama, dia playboy kelas teri, modal janji bisa dapat cewek suci," celetuk Darrel dengan asal yang membuatnya dipelototi oleh Angga dan Luna.
" Serius njir?" tanya Angga yang kemudian menatap Tama, sedangkan Tama sendiri menatap Darrel dengan mata yang nyaris keluar. Darrel dengan wajah kalem dan tenangnya sudah menjatuhkan reputasi Tama dengan telak
" Tanya aja sendiri sama orangnya, eh Kamu kok belum panggil pesanannya sih?" tanya Darrel setelah memberi usul, seakan tak ingin mencampuri urusan mereka, sementara Luna masih dengan wajah cengonya menatap Darrel dan Tama bergantian.
" Memang serius kak dia kayak gitu?" tanya Luna dengan tidak percaya, Darrel sendiri hanya mengangkat bahu sebagai jawaban, tak ada senyum di wajahnya, membuat semua yang ada disitu percaya bahwa yang dikatakannya adalah benar.
" Rel, wah, wah Lo bener bener ya Rel, Lo bisa bisanya jatuhin temen sendiri kayak gitu, ngomong gak Lo kalau itu semua bercanda?!" Ancam Tama dengan wajah galaknya namun Darrel malah memasang wajah bingung, membuat Tama akhirnya menyerah dan duduk diam sambil merajuk.
Darrel tidak mau mempedulikan Tama, lelaki itu melambaikan tangan dan meminta pelayan menyajikan makanan yang sudah dipesannya tadi pagi, makanan pun sengaja di pesan sesuai request mereka bersama agar acara makan ini dapat dinikmati oleh semua orang.
Tak perlu waktu lama, makananpun datang dengan aroma yang menggiurkan, membuat penghuni meja itu menatap lapar makanan yang mulai tersaji satu persatu, bahkan Tama yang tadinya merajuk pun langsung membatalkan niatnya dan menatap ingin makanan di depannya.
" Gak jadi marah Tam? Kan Lumayan, kurang porsi buat satu orang makin kenyang gue," ujar Darrel menyindir TAMA sambil terkekeh, membuat lelaki itu menatap Darrel dengan ringisan di bibirnya.
" Nanti gue lanjut marah lagi, makanannya enak soalnya," ujar Tama yang terkekeh sambil memotong daging asap yang tersaji di hadapannya.
Semua orang tertawa melihat tingkah Tama dan mulai menyantap makanan yang tersaji di atas meja dengan nikmat diiringi candaan dan obrolan ringan agar suasanya makan tidak hening.
*
Ujian telah berakhir, siswa siswi akhirnya dapat sedikit bernapas sebelum menghadsoi serangkaian remidial yang akan menanti mereka seminggu ke depan, ditambah lsgi kegiatsn hansek yang sudah dipastikan akan diadakan hari senin setelah serangkaian remidial.
Luna yang enggan memikirkan serangkaian kegiatan itu akhirnya memilih untuk menagih janji Darrel yang akan membawanya ke taman bermain. Meski terdengar kenakan kanakan, Darrel dengan senang hati membawa Luna ke tempat itu.
Gadis itu seperti anak kecil yang baru pertama kali dibawa ke taman bermain, tingkahnya tampsk norak dan sedikit memalukan, untung saja Darrel memiliki stok muks tembok yang cukup untuk menampung malu.
" Kak, mau naik itu," ujar Luna yang dengsn riang menunjuk kora kora di depannya, Darrel menggeleng dan menolak permintaan Luna, mereka baru saja sampai, bermain kora kora akan membuat pusing.
" Gak mau tahu, pokoknya kita naik itu," rengek Luna seoerti biasa. Saat ini Darrel lebih mirip seorang ayah yang mengasuh anak dibanding dengan sepasang kekasih yang bermain bersama.
" Nanti pusing kalau main itu, kita main komedi putar dulu buat pemanasan," ujar Darrel memberi pengertian dan alasan mengapa tidak memperbolehkan Luna menaiki wahana itu.
" Oke, habis komedi putar kita naik itu, terus naik yang itu," ujar Luna yang menunjuk Kora kora lalu menunjuk ke arah histeria yang membuat para pengunjung mengantre panjang.
Darrel mengangguk dan menggandeng Luns menuju komedi putar, tiket bebas yang mereka beli membuat mereka tak perlu mengantre lama dan langsung masuk untuk memilih Kuda yang akan mereka tumpangi.
" Luna mau naik yang ini, kudanya nyengir, lucu," Ujar Luna mengelus salah satu kuda yang ada di wahana itu. Darrel sendiri hanys mengangguk dan memilih tempat di sebelah Luna agar gadis itu tidak sendirian.
Darrel dengan penuh gaya menaiki patung kuda itu dan memasang tampang layaknya panglima perang, Luna sampai tertawa melihat wajah Darrel yang pongah diatas kuda berwarna pink yang Lucu.
Saat semua tempat terisi penuh, Luna segera bersiap dan mengeluarkan ponselnya untuk merekam setiap apa yang mereka mainkan di tempat ini. Gadis itu mengambil Video bagaimana pengunjung menikmati wahana santai ini.
Luna juga mengambil gambar wajah konyol Darrel yang membuatnya tertawa lepas. Luna tak menyangka Darrel memiliki bakat untuk menjadi jelek.
Tak lama komedi putarpun berhenti. Luna tak merasakan pusing apapun menaiki wahana itu, akhirnya Luna memilih untuk keluar dan berlan menuju kora kora sesuai yang dijanjikan Darrel.
Namun saat mengantre giliran untuk naik, Luna melihat Radith yang berjalan bersama seseorang. Melihatnya sekilas saja membuat Luna merasa tak asing dengan orang itu.
" Radith? Blenda? Kalian kesini juga?" tanya Luna dengan wajah riangnya. Blenda mengangguk senang beberapa kali sementara Radith hanya diam tanpa berniat menanggapi.
" Iya, Radith udah janji bawa aku kesini, gak nyangka ketemu kak Luna disini, hehehehe," jawab Blenda yang menghampiri Luna.
" Kalian mau ke wahana mana?" tanya Luna dengan antusias, Radith sendiri memandang Darrel seolah memberi kode, Darrel menangkap kode Radith, namun lelaki itu tidak bisa berbuat banyak
" Mau ke rumah hantu, katanya sih serem disana, penasaran aku," ujar Blenda dengan senyum manisnya.
" Kak, kita ke rumah hantu aja ya," ujar Luna menatap Darrel dengan wajah melasnya. Darrel tampak menghela napas dan berusaha mencari alasan agar Luna tidak kesana bersama Mereka
" Gak bisa dong, kita kan udah Antre di Kora kora, bentar lagi kita naik loh," ujar Darrel menunjuk wahana di depan mereka, Luna sendiri hanya merengut dan berkata
" Kita kan bisa keluar dari sini kak, gak masalah kan," jawab Luna yang masih mengeyel dan berteguh dengan keinginannya.
" Kita gak boleh ganggu kencan mereka Luna, biar Radith kencan berdua sama pacarnya," ujar Darrel kemudian.
" Eh, gak ganggu kok, malah seru kalau ramai ramai, banyak teman ngobrol, iya kan dith?" tanya Blenda yang menatap ke arah Radith.
Baik Darrel maupun Radith, mereka memandang Blenda dan Luna yang sama sama tak mengerti situasi. Ayolah, mereka kemari untuk kencan dengan pasangan masing masing, bukan untuk berpiknik ria.
" Yaudah, keputusan sudah dibuat, Ayo Blen, kita ke rumah hantu bersama. "
Darrel langsung mengangkat alisnya dengan bingung. Itukah ekspresi orang yang akan masuk ke rumah hantu? Mau bertamu kah mereka? Kenapa wajah mereka tampak riang?
" Kamu tau artinya rumah hantu kan Lun?" tanya Darrel memastikan saat mereka berjalan melawan antrean. Luna mengangguk riang dan menggandeng Darrel agar berjalan lebih cepat.
Luna datang ke arah Blenda dan melepaskan tangan Darrel untuk meraih tangan Blenda. Kedua gadis itu berjalan sambil bergandengan tangan, membuat Darrel dan Radith yang dianggurkan pun saling menatap
" Mau gandengan juga gak?" tanya Darrel yang menatap Radith dan berkata iseng. Radith tampak diam dan membayangkan bila mereka berjalan riang sambik bergandengan tangan
Radith langsung menggelengkan kepalanya dan bergidik geli karena mereka akan terlihat sebagai jeruk makan jeruk. Radith langsung berjalan menyusul kedua gadis itu, meninggalkan Darrel yang terkekeh melihat kegelian Radith.
Mereka sampai di depan pintu masuk rumah hantu, Luna sedikit menegang sementara Blenda tampak santai. Luna tak pernah mengunjungi tempat seperti ini dalam hidupnya, semoga tidak seburuk yang ada dipikirannya.
Mereka mulai memasuki tempat yang gelap dengan lampu merah sebagai penerangan. Terdapat banyak boneka hantu yang tertempel di dinding ruangan itu.
Tiba tiba ada yang meniup leher Luna dari arah samping, membuat gadis itu menjerit keras dan menutup matanya rapat rapat. Darrel yang melihat itu dengan sigap membawa Luna ke dekapannya agar gadisnya tidak diganggu oleh 'hantu' yang ada disini.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan Luna yang masih enggan membuka mata, tiba - tiba jatuhlah boneka pocong persis di depan Radith yang memimpin jalan
" Bangsat! Kaget gue! Anjing Lo cong!" seru Radith yang memarahi boneka itu, membuat Blenda yang ada di belakangnya menggeleng geli.
Radith melompati boneka itu, diikuti oleh ketiga orang lainnya.
Mereka terus mengalami gangguan dan penampakan serta suara yang menyeramkan. Seakan mereka sudah memasuki sarang hantu ( Ya iyalah, kan rumsh hantu)
Darrel yang ada di paling belakang terus waspada, apalagi ada Luna yang masih betah menempel pada ketiaknya karena ketakutan, mungkin sebentar lagi gadis itu akan menangis karena takut.
" Tiba tiba ada seseorang yang memegang pundak Darrel, membuat lelaki itu reflek melepaskan Luna dari dekapannya dan menarik orang itu. Didapatinya Genderuwo yang wajah yang rusak parah.
" Huaaaa!!!!" Seru Darrel dengan kaget.
Bugh
Entah sial atau sudah nasib, genderuwo itu harus menerima bogem mentah dari Darrel yang terkejut, membuatnya sempoyongan dan berjalan menjauh dari mereka.
" Gila lo kak! Genderuwonya sampai teler gitu," ujar Radith yang menatap tak percaya.
" Salah dia sendiri ngagetin gue, kan gue Reflek," jawab Darrel yang tidak peduli dan meraih tubuh Luna yang sudah berjongkok sambil menangis.
" Ini lagi satu, kenapa malah jongkok disitu sih?" tanya Radith dengan heran. Radith memperhatikan Luna yang menunjuk kakinya, rupanya ada sepasang tangan yang memegang kaki gadis itu.
Darrel ikut berjongkok dan berusaha melepaskan tangan itu, namun tangan itu semakin erat membuat Luna mulai histeris.
" Lepasin atau gue injek sampai remuk?" tawar Radith yang berdiri tepat di samping mereka. Perlahan tangan itu melepaskan kaki Luna dan menghilang dalam gelap.
Luna diangkat oleh Darrel dan dituntun menuju pintu keluar yang tak jauh dari mereka.
Akhirnya mereka dapat bernapas lega dan mengelap keringat saat sudah sampai di luar. Luna sendiri langsung mengusap air matanya dan memandang rumsh hantu di belakangnya. Tak akan pernah Luna memasuki tempat itu lagi.
" Tadi waktu masuk berani, kenapa malah nangis jejeritan?" tanya Darrel dengan nsds mengejek.
" Ya mana aku ahu di dalam situ banyak hantu yang nyeremin !" seru Luna yang tidak terima di ejek.
Ketiga orang itu memandang Luna dengan tatapan aneh dan bingung. Apakah Luna demam?
" Besok Lo buat sendiri, rumah hantu isinya boneka barbie unyu, biar gak nyeremin," ujar Radith dengan wajah malas dan berjalan menjauh dari mereka semua.