
'Dia benar-benar dewa penolong yang dikirim Allah, bukan hanya untuk menolongku malam itu, tetapi juga untuk mengobati rasa kecewaku.' Nezia mencuri pandang pada Faris.
'Aku tahu, Neng, pasti sulit bagimu untuk melupakan begitu saja kegagalan pernikahan kamu dengan Dito dan melupakan pengkhianatannya. Aku janji, Neng, aku akan membantumu melewati masa-masa sulit itu,' batin Faris seraya menatap Nezia.
"Ehm ...." Suara dehaman Ayah Alex, mengurai tatapan mata keduanya. "Apa, Nak Faris ke sini karena mau ngobrol berdua sama Inez?" tebak ayah dua anak tersebut, bertanya.
Faris tersenyum. "Jika diijinkan, Pak, Bu," balas Faris dengan sopan.
Ayah Alex menatap sang istri.
"Boleh, Nak Faris, tetapi di rumah saja, ya. Tidak baik pergi keluar, menjelang hari pernikahan kalian." Bu Nisa tersenyum, penuh pengertian.
Pemuda berwajah manis itu, tersenyum seraya mengangguk. "Baik, Bu. Terimakasih banyak sudah memberikan ijin."
Nezia kembali melirik Faris dan kemudian tersenyum. 'Sopan sekali kamu, Kang,' batin Nezia, bahagia.
'Ya Allah, maafkan hamba yang sempat marah dan kecewa karena kegagalan pernikahan hamba dengan Dito,' sesal Nezia. 'Hamba baru tahu sekarang, bahwa Engkau mengirimkan pelangi indah setelah hujan badai yang Engkau timpakan pada hamba hari itu,' ucapnya penuh rasa syukur.
"Nez, kamu kenapa, Nak?" Suara lembut sang ibu, menyadarkan Nezia dari lamunan.
"Eh ... enggak apa-apa, kok, Bu," balas Nezia dengan pipi merona merah karena malu jika sang ibu sampai melihat bahwa dirinya tengah memperhatikan dan mengagumi Faris.
"Jangan dilihatin terus, Nak. Tunggu sampai besok, ya," goda sang ibu, membuat pipi gadis cantik itu semakin merona merah.
Faris yang menyadari jika dirinya diperhatikan, tersenyum. 'Terimakasih, Neng, karena kamu telah mau membuka sedikit hatimu untukku,' batin Faris, senang.
"Ya, sudah. Ayo, Bu, kita masuk!" ajak Ayah Alex seraya menggandeng tangan sang istri.
"Ayah, Ibu," panggil Nezia sebelum kedua orang tuanya masuk ke ruang dalam.
"Bolehkah kami mengobrol di taman?" pinta Nezia, kemudian.
Ayah Alex mengangguk, begitu pula dengan sang istri. Mereka berdua kemudian melanjutkan langkah, meninggalkan Nezia dan Faris di ruang tamu.
"Di taman mana, Neng?" tanya Faris dengan dahi berkerut dalam.
"Taman samping itu, Kang," balas Nezia seraya menunjuk ke arah samping kanan kediaman Ayah Alex. "Enggak apa-apa 'kan, Kang?" tanyanya, memastikan.
Faris mengangguk. "Tidak mengapa, Neng, yang penting tempat terbuka agar tidak menimbulkan fitnah," balas Faris.
Nezia kembali tersenyum, gadis itu semakin kagum dengan sosok Faris yang santun, alim, dan sekaligus cerdas.
Tak henti putri bungsu keluarga Alexander JJ tersebut mengucap rasa syukur dalam hati, pada Sang Maha Pencipta atas anugerah luar biasa yang dia terima, dengan hadirnya sosok Faris dalam kehidupan Nezia.
"Neng, kita jadi ke taman atau tidak?" tanya Faris ketika mendapati gadis di hadapannya malah melamun.
"I-iya. Jadi, Kang," balas Nezia, gugup. Gadis itu kemudian segera beranjak yang diikuti oleh Faris.
Mereka berdua kemudian berjalan beriringan, menuju taman samping yang cukup luas dan asri.
πΉπΉπΉ
Malik melihat Dito sedang bersimpuh di kaki papanya Rasti, sementara laki-laki paruh baya tersebut terlihat sangat marah pada Dito.
"Kenapa dengan Dito?" bisik Malik bertanya, pada Abraham.
Putra sulung Ayah Alex itu kemudian menceritakan dari awal. "Sepertinya, Om Tio tidak bisa terima dengan kematian putrinya yang bunuh diri dan menganggap bahwa Dito-lah penyebab semuanya," ucap Abraham.
Malik mengangguk-angguk. Pemuda tampan yang merupakan salah satu pengusaha muda sukses di kota kembang tersebut, kemudian mendekati papanya Rasti.
"Om, saya turut berbelasungkawa atas kepergian Rasti," ucap Malik seraya menyalami laki-laki paruh baya yang masih dikuasai amarah tersebut.
Laki-laki bertubuh tambun tersebut menyambut uluran tangan Malik dan mencoba untuk tersenyum. "Terimakasih, Nak."
"Maaf, Om. Barusan, saya dengar cerita dari Bram ..." Malik menjeda ucapannya, dia melirik Dito yang masih bersimpuh.
"Tentu saja Om kecewa sama dia, Nak Malik!" sergah Pak Tio, sebelum Malik melanjutkan ucapannya. "Baru beberapa hari kemarin Dito menikahi Rasti, tetapi tiba-tiba dia menceraikan anak om!" Laki-laki tersebut kembali tersulut emosi.
"Rasti sangat mencintai Dito, Nak Malik. Tentu saja anak om kecewa dan sakit hati ketika Dito menceraikan dia, hingga anak om nekat mengakhiri hidup dengan melompati balkon! Itu karena Rasti tidak bisa hidup tanpa Dito, Nak Malik!" Napas papanya Rasti memburu, terlihat jelas bahwa amarah masih menguasai hatinya.
Malik menghela napas panjang. "Maaf,Om. Bukan saya ingin ikut campur, tapi apakah bijak jika Om menghakimi seseorang dan kemudian menyumpahinya meski dia adalah menantu Om sendiri, tanpa merunut akar permasalahannya?" Malik menatap dalam netra abu-abu papanya Rasti.
"Rasti, putri Om jelas bersalah karena dia telah merusak hubungan Dito dan adik kami, Inez. Meski dalam hal ini, Dito pun ikut andil karena dia tergoda dengan Rasti." Sejenak, Malik menjeda ucapannya kembali.
"Dit, duduk sini, Dit," pinta Abraham seraya menepuk bangku kosong di sebelahnya.
Pemuda yang wajahnya dirundung duka karena penyesalan yang mendalam tersebut kemudian bangkit dan duduk di samping kakak kandung Nezia.
"Dito kemudian menikahi Rasti, sebagai bentuk kepeduliannya atas apa yang menimpa putri Om. Bukankah itu berarti Dito telah menunjukkan tanggung jawabnya pada Rasti, Om?" Malik kembali menatap laki-laki paruh baya yang mulai terlihat sedikit lebih tenang tersebut.
"Kalaupun kemudian Dito menceraikan putri Om, tentu dia memiliki alasan yang kuat. Tidakkah Om Tio ingin menanyakan terlebih dahulu pada Dito, apakah penyebabnya?" Malik mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi, seraya menatap papanya Rasti.
"Jika ada yang berhak marah dan mengeluarkan sumpah serapah karena dia yang paling terdzolimi di sini, tentu dia adalah Inez, Om. Bukannya Om Tio!" pungkas Malik.
"Tapi Inez tidak akan pernah melakukannya, Om, karena keluarga kami mendidik anak-anaknya agar tidak menjadi seorang pendendam," timpal Abraham yang terdengar sangat menohok bagi papanya Saras.
Laki-laki paruh baya tersebut, menunduk dalam.
"Dan buat elu, Dit." Akbar menatap Dito. "Jika dengan janji Allah yang akan memberikan hukuman berat bagi para pezina, lu tidak takut. Bagaimana bisa, lu ketakutan hanya dengan sumpah seseorang yang belum tentu akan terjadi?" Putra sulung Opa Alvian tersebut memicingkan mata, menatap teman baiknya tersebut.
"Lu boleh saja khawatir dengan sumpah tersebut, tapi lu tidak boleh mempercayainya, Dit!" tegas Damian, menimpali.
"Jadikan itu sebagai cambuk untuk memperbaiki diri dan juga jadikan sebagai pengingat agar kelak lu membekali anak keturunan lu dengan keimanan dan keilmuan, dengan adab dan juga ilmu yang bermanfaat. Supaya anak turun lu tidak mengikuti jejak langkah lu yang sesat itu, Dit!" pungkas Malik.
βββββ bersambung ...
promo novel baru, mampir, yah π₯°