Hopeless

Hopeless
Chapt 108



Luna berjalan menuju kelasnya, liburan yang terasa hampa, bahkan di hari terakhir liburannya harus dia habiskan di rumah sakit. Gadis itu berharap teman sekolahnya tidak ada yang mengetahui hal ini atau dia akan bingung harus menjawab apa.


" Eh Lun, Lo udah dapat kabar belum? Resya pindah Sekolah loh," ujar Ghea dengan heboh saat Luna baru mendudukan dirinya ke kursi dengan nyaman. Luna menatap Ghea dengan bingung karna dia masih tidak menangkap maksudnya.


" Pindah? Pindah sekolah? Kok mendadak? Baru juga satu semester," ujar Luna dengan bingung, orang aneh mana yang berpindah sekolah di pertengahan semester? Apalagi untuk siswa Sekolah teknik, mereka harus mengulang dari semester 1 jika mau pindah sekolah.


" Gak tahu gue, tadi gue ketemu wali kelas terus beliau bilang gitu, Resya pindah sekolah, nanti beliau mau minta jam buat masuk kelas. Gue udah coba telpon Resya tapi ternyata ponsel sama semua sosmednya udah gak bisa dihubungin. Gak jelas banget kayak buronan gitu."


Buronan? Entah mengapa Kata itu membekas di pikiran Luna. Apakah dengan kata lain Resya memang melakukan suatu tindakan kriminal? Atau dia juga terlibat kasus teror selama ini? Luna tidak mengerti dan hanya bisa menerka nerka.


" Yaudah kita tunggu aja nanti Info dari wali kelas, gak seru lagi dong kalau kurang satu, harusnya kan kita berenam sekarang cuma berlima," ujar Luna dengan sedih.


Bahkan jika Resya terlibat pun, sebenarnya Luna berharap gadis itu tidak harus keluar dari sekolahnya, apalagi memang cukup sulit masuk ke STM Taruna. Namun Luna tidak bisa melakukan apapun karna semua keputusan mengenai 'hukuman' ditentukan oleh Mr. Wilkinson.


Papanya tidak akan mungkin melepaskan mereka, namun tidak juga membunuh atau Menyakiti mereka, papanya pasti punya cara menghukum mereka dengan kejam namun halus.


Tak lama bel pun berbunyi dan wali kelas masuk ke dalam kelas itu persis seperti yang dikatakan Ghea dan menyapa mereka semua.


" Hari ini Ibu mau membawa kabar kalau salah satu teman kita, Resya, pindah dari STM Taruna karna ada suatu hal. Disini Ibu ingin menyampaikan pada kalian, sebenarnya Ibu sangat sedih karna ibu harus kehilangan dua anak Ibu di kelas ini."


Kelas yang sebenarnya tadi masih ada bunyi bisik bisik kini seratus persen, mereka ikut terbawa atmosfer kelas yang sendu, cara bicara wali kelas mereka yang sungguh mencerminkan kehilangan membuat mereka ikut sedih.


" Ibu ingin sekali mengatakan hal ini sejak lama, Ibu harap kalian tetap kompak dan selalu rukun sampai kelulusan nanti. Jangan ada kehilangan lagi, jangan ada siswa yang merasa terkucilkan atau tidak nyaman. Cukup dua anak pergi dari kelas ini."


Mereka mengangguk dan mendengarkan perkataan wali kelas tersebut, semoga setelah ini semua berjalan lancar dan tidak ada hal seperti ini.


“ Lun! Resya pergi karna masalah kemarin?” Tanya Radith setelah wali kelas itu pergi, Luna menggelengkan kepalanya dan mengedikkan bahunya.


“ Gue gak tahu sih, tapi mungkin iya karna semua serentak gitu, tapi gue masih gak tahu hubungan Resya sama Lucy apaan, gak tahu deh pokoknya gue bingung banget kalau bahas begini,” ujar Luna frustasi, dia tidak mau membahas masalah ini lagi, untung saja dia tidak menjadi trauma atau depresi karna masalah ini, kan tidak lucu jika pemeran utama malah menjadi gila * lho eh?


“ Sebenernya gue udah curiga pelaku terornya dia, waktu itu hari dimana Lo hilang dan ditemuin di rooftop, sebenernya gue udah cari cari Lo ke kantin, UKS, bahkan toilet cewek yang mungkin Lo datengin, tapi gak ada satu tempatpun yang kasih gue petunjuk dimana Lo, nah waktu gue mau balik ke kelas, gue Tanya ke Resya lihat Lo atau enggak, dan dia bilang lihat Lo sama Darrel lagi jalan berdua.”


Luna mencoba mengingat kejadian hari itu, kala itu kan Luna sedang galau memikirkan Radith yang selalu ketus padanya dan memilih untuk menyendiri di rooftop, tapi mengapa Resya bilang dia melihat Luna dengan Darrel?


“ Gue pikir yaudah lah Lo udah sama Darrel, ternyata emang firasat gue aja yang salah. Tapi sorenya waktu pulang, ternyata Lo gak ketemu sama Darrel seharian, langsung dong gue kaget, waktu itu gue gak begitu mikirin Resya, tapi setelah kejadiannya lewat gue sering mergokin dia kayak sinis gitu ke Lo, makanya gue pernah peringatin Lo buat hati – hati sama tuh ciwi – ciwi.”


“ Kenapa Lo gak pernah bilang masalah ini sih sama gue? Kalau gitu kan gue gak begitu susah nemuin siapa yang neror gue,” ujar Luna sedikit sewot meski dengan suara pelan karna takut menjadi pusat perhatian, Radith hanya melihat ke arah atas tampak berpikir. Tidak mungkin kan Radith berkata dia melindungi Luna dari jauh saat Luna masih dalam jangkauannya?


“ Karna gue gak tahu Lo diteror sampai sebegitunya, jadi gue kalem aja, lagipula liburan gue gak ketemu sama Lo sama sekali, tahu tahu udah masuk rumah sakit aja Lo, mana diracun pakai Racun paling berbahaya di dunia pula,” ujar Radith merinding membayangkan apa yang harus dialami Luna.


“ Heehh, yaudah lah, udah kejadian juga semua, lagian udah berakhir juga. Eh tapi..” Luna terdiam dan meresapi apa yang tadi dikatakan Radith, dia baru menyadari sesuatu.


“ Lo nyari gue dari kantin sampai ke toilet cewek? Demi apa dith? Lo khawatir sama gue hari itu?” Tanya Luna dengan wajah penuh harap. Kala itu Luna masih sangat menyukai Radith, mendapat fakta Radith peduli padanya tentu membuat Luna jadi sedikit berbunga dan berdebar.


“ Gak, waktu itu Lo dicari sama guru, terus guru itu nyuruh gue nyari Lo, karna gak ketemu ya udah gue bilang aja Lo gak ada, akhirnya gak jadi nyariin deh,” ujar Radith dengan tenang dan meyakinkan, membuat Luna langsung kecewa karna tidak seperti ekspetasinya yang berlebihan.


“ terus kenapa waktu itu Lo tahu gue ada di rooftop? STM Taruna kan Luas dith,” ujar Luna mencoba untuk menekan Radith agar lelaki itu mau mengakui apa yang ingin Luna dengar.


“ STM Taruna Luas, tapi Lo kan Cuma kesitu situ aja, ya akhirnya gue ada feeling aja Lo itu di rooftop, eh ternyata feeling gue bener,” jawab Radith biasa saja dengan semua itu, namun tidak dengan Luna, sepertinya gadis itu memang sosok yang hiperbola.


“ Lo feelin gue kesana? Astaga, So sweet banget sih dith, coba Lo bilang dari awal, makin jatuh cinta deh dith gue sama Lo,” ujar Luna tanpa sadar dan tanpa dosa, Radith tertawa untuk sepersekian detik, Luna bahkan tak menyadari tawa lelaki itu.


“ Emanag sekarang Lo udah gak jatuh cinta sama gue?” Tanya Radith yang di luar dugaan Luna, membuat gadis itu tersentak dan menatap Radith dengan tatapan bingung.


“ eh? Emmm.” Luna bahkan tak bisa menjawab pertanyaan Radith, bahkan dia sendiri tidak tahu perasaannya untuk siapa. Radith kah? Darrel kah? Ah entahlah, Luna merasa pusing sendiri jika harus membahas masalah ini.


“ Gue mau ke kantin, ikut gak Lo?” Tanya Radith yang berdiri dari tempat duduknya, Luna melihat jam di tangannya yang menunjukkan pukul delapan, namun Radith sudah lapar? Astaga lelaki itu.


“ Mau, tapi bayarin ya, gue lagi miskin,” ujar Luna yang juga berdiri dan mengikuti Radith melangkah.


***


“ Pak, ke café cemara dulu ya pak, mau beli milkshake,” ujar Luna pada Pak Jono yang dituruti oleh pria itu, sudah lama Luna tidak meminum milkshake, gadis itu rindu rasa milkshake yang ada di café cemara, meski begitu tetap saja minuman wajibnya adalah air kelapa muda sampai dia merasa mual karna rasa air itu.


Mobil berhenti di depan pintu café itu dan pak Jono mencari parkir agar tidak menglahangi jalan. Luna berjalan dengan riang dan memesan dua porsi minuman untuk dibawa pulang, satu untuknya dan satu lagi untuk Pak Jono. Luna duduk di salah satu meja dan menunggu pesanannya selesai dibuat.


“ Lho kak Darrel?” Luna heran dan kaget Darrel masuk ke Café ini dengan masih mengenakan seragam SMA, Luna baru menyadari seharian ini Luna tidak bertemu atau bertukar pesan dengan lelaki itu, jika diingat pun mereka memang sudah tidak sering bertukar pesan untuk sekadar berbasa – basi, namun Luna baru menyadari hal itu sekarang.


Luna hendak menyapa Darrel, namun dia mengurungkan niatnya karna Darrel kemari bukan untuk dirinya atau pergi bersama Angga ( sahabat Darrel yang dia kenal), namun lelaki itu malah berjlaan menghampiri sebuah meja dimana ada seorang gadis disana, gadis itu juga memakai seragam SMA sama seperti dirinya.


Wajah gadis itu tampak tak asing, seakan Luna pernah melihat wajah itu entah dimana, Luna berusaha mengingat – ingat dan akhirnya dia menyadari sesuatu dan langsung bangkit dari kursinya menghampiri kedua orang itu.


“ Enak ya kak,” ujar Luna yang menciduk kekasihnya sedang berduaan dengan mantan kekasihnya, ya, seseorang yang mengaku sebagai mantan kekasih Darrel saat mereka liburan di Bali, kala itu Darrel menolak gadis itu mentah – mentah, namun yang kini dilihat Luna sangat di luar dugaannya.


“ Lunetta? Kamu disini?” Tanya Darrel dengan riang, Luna menatap Darrel dengan tatapan tak suka dan tatapan teluka, namun pandangan Luna segera teralihkan pada gadis yang ada di depan Darrel.


“ Mba yang waktu itu ketemu di Bali kan mba? Hebat yah mbaknya ngejar pacar saya, oh bukan bukan, tunangan saya sampai seperti ini, bahkan sekarang bisa ke café berdua bahkan tanpa sepengetahuan saya,” ujar Luna yang menekankan kata tunangan, entah apa yang merasuki Luna, yang jelas Luna merasa sangat sensitive melihat mereka berdua.


“ Loh, kamu salah paham,” ujar Darrel memengahi karna gadis yang ada di depannya juga tampak tak nyaman dengan kehadiran Luna yang tiba – tiba.


“ Salah paham kak? Hahaha, iya Luna yang salah paham, gakpapa kalian terusin aja, dan kak Darrel..” Luna menggantungkan kata katanya dan melepas kalung yang ada di lehernya.


“ Luna balikin. Silakan kak Darrel lamar cinta pertama kakak dan bahagia selamanya,” ujar Luna yang kembali ke mejanya karna seorang pelayan tampak bingung mencari keberadaan Luna. Gadis itu segera membayar dan keluar dari tempat itu.


Darrel melihat kalung liontin beserta sebuah cincin di kalung itu dengan shock, dia tak menyangka Luna sampai semarah ini, bahkan dia tidak mau mendengar penjelasan Darrel sama sekali.


“ Permisi,” ujar Darrel meninggalkan meja itu tanpa menyentuh kalungnya dan berlari mengejar Luna yang entah berbelok ke arah mana. Gadis yang ada di meja itu tersenyum dan mengambil kalung yang tadi diletakkan Luna ke atas meja dan membuka isi liontin itu.


“ wah,” ujar gadis itu singkat dan menyimpan kalung milik Luna ke dalam tasnya dan segera membayar tagihan karna dia yakin Darrel tak akan kembali ke tempat ini untuk menemuinya.


Darrel segera mengambil mobilnya dan menuju rumah Luna, berharap Luna langsung pulang ke rumah setelah pergi dari tempat ini, dan benar saja, Darrel sampai bertepatan dnegan mobil Luna yang memasuki halaman rumah, lelaki itu langsung memasukkan mobilnya dan turun untuk mengejar Luna.


“ Luna, dengerin aku dulu, kamu salah paham,” ujar Darrel menarik tangan Luna agar gadis itu berhenti berjalan, Luna berusaha melepaskan cekalan tangan Darrel, namun lelaki itu memegang tangannya dengan kuat, membuat Luna malah kesakitan karnanya.


“ Lepasin Luna kak!” seru Luna meronta dan berusaha melepas tangan Darrel, namun Darrel malah mendekat dan memeluk Luna dari belakang, semua tidak seperti yang Luna bayangkan.


Ingat kan tempo hari Darrel harus pergi karna ada investor untuk restorannya yang cenderung masih berantakan? Investor itu rupanya ayah Fera dan beliau meminta Fera untuk mengurus masalah perjanjian bisnis kali ini.


Darrel sendiri hanya berusaha professional dan menjalankan tugasnya ebagai pemilik rwstoran yang menghadapi pemegang saham, dia tidak mempermasalahkan kejadian di Bali apalagi dia sungguh tidak ingat ada gadis bernama Fera yang pernah menjadi mantan kekasihnya.


Mereka sendiri baru bertemu hari ini dan jujur saja Darrel juga terkejut saat melihat gadis itu adalah anak dari Investor yang ditemuinya tempo hari, namun dia menutupi semua itu dan bertindak sewajarnya. Siapa sangka di tempat itu juga ada Lunetta yang entah mengapa hari ini terasa sekali gadis itu sedang dalam mood yang buruk.


“ Lepasin, Luna gak mau dengar apapun yang kak Darrel bilang, lepasin, kita putus aja.”


Darrel diam dan melepaska pelukannya, pria itu tak menyangka Luna mengtakan hal itu dengan mudahnya, apakah kata putus se sepele itu bagi Luna?


“ Putus Lun? Kamu lihat aku meeting sama perempuan tadi, kamu salah paham dan kamu minta putus? Sesepele itu hubungan kita Lun?” Tanya Darrel dengan tak percaya, Luna memandang Darrel dengan berani, bahkan gadis itu menahan air matanya agar tidak telihat lemah.


“ Kamu pacaran sama aku tapi hati kamu buat Radith aja aku masih bisa tahan, aku masih sayang dan tulus sama kamu, bahkan sampai saat ini. Tapi barusan, kamu minta putus?” Darrel tersenyum kecewa dan menggeleng pelan, tidak menyangka Luna seegois ini dan menganggap enteng hubungan mereka.


“ Oke, kamu mau putus kan? Aku turutin mau kamu, kita putus.” Darrel pergi begitu saja tanpa berbalik lagi, masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari halaman rumah Luna. Saat mobil Darrel tak terlihat lagi barulah Luna terduduk dan menangis sejadi – jadinya.


Luna tidak sengaja mengucapkan kalimat keramat itu, Luna tidak sadar melakukannya, hatinya hanya memanas dan terluka Darrel bersama gadis yang tanpa sopan memeluk Darrel kala itu, namun mengapa kata putus begitu mulus meluncur dari bibirnya?


Bahkan Darrel yang sesabar itu sampai murka dan menyerah untuk memperjuangkan Luna. Baru kali ini Luna merasa kehilangan, kehilangan suatu yang berharga dihidupnya.