Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 32



Darrel menengok ke arah Luna dengan terkejut. Bukan saja karna suara Luna yang keras, lelaki itu juga bingung sejak kapan Luna ada di sana. Sementara direktur yang tadinya memasang wajah kesal langsung menatap Luna dan Darrel bergantian dengan wajah bingungnya. Jika itu Lunetta, berarti orang yang ada di hadapannya bukan orang sembarangan, itu lah yang dipikirkan oleh sang Direktur.


" Kamu kenal sama dia?" tanya Darrel pada Luna, gadis itu mengangguk dan mendekat. Dia berdiri di sebelah Darrel dan menatap Direktur yang juga menatapnya. Kini wajahnya sudah tak garang, berubah menjadi cemas dan penuh kebingungan. Luna sendiri juga terkejut bisa melihat sosok ini di perusahaan milik ayahnya.


" Kenal kak, dia teman baru Radith. Luna ketemu beberapa kali sama dia, tapi Luna baru tahu kalau ternyata dia yang jadi direktur di tempat ini. Luna gak pernah tanya juga sih," ujar Luna dengan polosnya. Gadis itu masih menatap Karin yang meencoba membaca dan mengerti situasinya, seolah pikirannya membeku seketika saat melihat Lunetta.


" Ah iya, Karin, kenalin, dia tunangan aku, Darrel Atmaja," ujar Luna yang dengan polosnya mengenalkan Darrel pada Karin. Gadis yang ada di hadapan Luna tentu terkejut. Lelaki tampan di hadapannya ini kekasih Luna, meski cacat, tak menutup fakta wajah itu sangat menawan, mmpesona dan menghipnotis. Tunggu, bukan waktunya membicarakan hal ini.


" Oh ya, perkenalkan, nama saya Karin. Saya ditunjuk oleh atasan saya untuk menjadi direktur di tempat ini. Ada perlu apa ya kalian kemari?" tanya gadis itu dengan ramah. Darrel nyaris tertawa jika dia tak ingat situasi. Cara gadis itu mengubah gelagat menjadi ramah saat tahu siapa Darrel sebenarnya, hal itu membuat Darrel tak bisa menahan tawanya.


" Atasan kamu namanya siapa? Bekerja di perusahaan mana? Kamu direktur kan? Kenapa kamu pakai ruang CEO untuk bekerja?" tanya Darrel dengan nada tegas nan menyeramkan. Bahkan jika Luna tak mengenal Darrel, gadis itu akan takut mendengar suara kekasihnya itu. Apalagi Karin yang baru pertama kali bertemu dengan lelaki itu.


" Eem, saya sendiri yang memutuskan untuk memakai ruang CEO mengingat ruangan ini tak pernah digunakan, jadilebih baik dimanfaatkan. Kebetulan semua staff setuju, akhirnya saya memakai ruangan ini," ujar Karin dengan senyum yang masih dia pertahankan. Kini Luna yang nyaris tertawa, Luna sudah tahu cerita yang sebenarnya.


" Mereka menyetujuinya? Apa karna saya tidak pernah datang ke tmpat ini jadi mereka tidak menganggap saya? Bahkan jika ruangan itu dibiarkan kosong sampai puluhan tahun, tak ada yang boleh masuk atau bahkan menggunakannya. Sepertinya mereka tidak sayang pekerjaan mereka," ujar Darrel dengan geram. Luna mengelus pundak lelaki itu pelan.


" Mereka pasti punya asalan, kit kan belum dengar cerita mereka, mungkin mereka ada sesuatu, mending kita tanya dulu sama mereka," ujar Luna dengan sengaja, dia langsung melihat gelagat aneh dari Karin. Gadis itu tampak menggerakkan bola matanya ke kanan dan kiri dengan cepat.


" Maafkan saya, semua salah saya. Harusnya saya tidak mengusulkan hal itu, mereka juga tidak memberitahu saya tentang peraturan ruangan ini. Tolong jangan salahkan mereka, mungkin mereka tak sengaja melakukannya. Saya akan memindahkan barang – barang saja segera," ujar Karin sopan, membuat Darrel menganggukan kepalanya.


" Baru ditinggal beberapa tahun aja udah kayak gini nih perusahaan. Gimana kalau ganti pemilik? Hey kamu, cari tahu tentang pemegang saham terbesar yang sudah diutus MR. Wilkinson untuk mengelola perusahaan ini, cari tahu apa kerjanya sampai dia bertindak seenaknya dalam menempatkan Direktur dan mengobrak abrik ruangan pribadi CEO."


Orang yang diperintah Darrel langsung mengangguk dan pamit untuk melakukan tugasnya. Luna menatap Darrel dan Karin secara bersamaan. Mengapa Karin tampak begitu gelisah? Padahal gadis itu tadi bilang dia tak tahu apa – apa. Atau gadis itu merasa takut karna kesan pertama Darrel buruk padanya? Gadis itu pasti berpikiran berlebihan.


" Kak Darrel gak usah galak – galak. Kasihan tuh Karinnya sampai takut kayak gitu. Maaf ya Rin, biasanya gak gini kok kak Darrelnya, kamu jangan salah paham sama kak Darrel ya," ujar Luna tersenyum lebar. Karin tersenyum canggung dan mengangguk, lalu pamit untuk mmbereskan barang – barangnya. Luna memanfaatkan hal ini untuk mengajak Darrel berjalan menjauh.


" Luna dapat cerita yang beda dari staff yang ada di bawah tadi kak. Apa gak sebaiknya kak Darrel selidiki dulu kak?" tanya Luna pelan, Darrel mengangguk dan tak terkejut sama sekali. Dia bahkan langsung tahu ada yang tak beres dan sengaja meminta pengawalnya melakukan hal itu untuk melihat reaksi Karin, ternyata sesuai dengan dugaannya.


" Kamu bilang dia teman Radith? Gimana ceritanya Radith bisa berteman sama orang kayak dia sih? Lingkaran perteman Radith kan gak luas," ujar Darrel dengan bingung. Luna hanya mengedikkan bahunya karna dia memang tak bertanya secara mendalam, dia hanya tahu Karin dari pulau lain dan dipindah ke kota ini, Luna menyampaikan hal yang dia tahu pada Darrel.


" Radith juga bilang kak, jangan menilai orang dari covernya aja. Mungkin maksudnya biar Luna gak berpikiran buruk sama Karin, walaupun dia bukan dari pulau Jawa, dia bisa diandalkan. Nyatanya dia bisa jadi direktur," ujar Luna yang membuat Darrel menatap Luna dengan tatapan aneh.


" Bahkan aku yang gak dibilangin sama Radith itu ngerti artinya Lun. Kenapa kamu malah nyambungnya ke masalah itu sih? Astaga, untung kamu pacar aku Lun," ujar Darrel pelan sambil mengurut pelipisnya. Percakapan mereka berakhir setelah Karin keluar dari ruangan Darrel membawa berkas – berkas penting.


" Barang – barang saya yang ada di kamar pribadi belum saya pindahkan. Saya akan pindahkan segera. Sekali lagi mohon maaf karna sudah membuat Pak Darrel merasa tidak nyaman," ujar Karin dengan sopan dan mohon injin untuk memindahkan berkas yang dia bawa ke ruang yang seharusnya. Ruang direktur.


" Bahkan dia berani loh naruh barang pribadi di kamar CEO. Astaga, dia pikir dia siapa?" tanya Darrel pada dirinya sendiri. Luna langsung menenangkan Darrel dan berkata hal itu bukanlah masalah yang besar, dia hanya tak mau Darrel bertindak kasar, meski dia yakin Darrel tak akan melakukannya.


" Habis ini aku mau ngumpulin semua orang di ruang rapat. Kamu gak usah ikut ya? Kamu tunggu aja di dalam sana atau di kamarnya. Nanti aku minta orang buat semprot antiseptik dulu di ruang itu," ujar Darrel yang diangguki oleh Luna. Masih ingatkan Luna memiliki Mysophobia? Dia akan merasa tak nyaman dan risih dengan ruangan yang dipakai oleh orang lain, apalagi orang itu baru meninggalkannya.


Artinya sidik jari, bau dan bekas pemilik terdahulu masih menempel di barang – barang terutama kursi dan kasur yang ada di sana. Memikirkannya saja akan membuat Luna meringis, apalagi sampai menyentuhnya? Gadis itu menunggu saja Darrel menelpon seseorang untuk datang dan membawa antiseptik yang banyak untuk ruangan ini.


Karin kembali dengan keringat yang mulai membasahi dahinya. Ruangan direktur ada di lantai lima, dan tiba – tiba saja lift sedang dibersihkan hingga dia tak bisa menggunakannya. Hal itu membuatnya harus berjalan melewati tangga untuk sampai ke ruangan direktur. Luna tak berkutik, dia hanya merasa kasihan melihat Karin yang kelelahan seperti itu.


" Makasih ya Lun. Sekali lagi maaf, aku gak tahu kalau ada peraturan kayak gitu di perusahaan. Kalau tahu aku pasti gak akan lancang, aku kira sama kayak perusahaan yang ada di cabang, ruangan yang gak dipakai boleh dimanfaatkan, jadi yaah… sekali laagi maaf," ujar Karin yang membuat Luna mengangguk.


" Gak usah minta maaf sampai kayak gitu, kan kamu gak sengaja. Nih tissue, keringat kamu sampai kayak gitu. Gak tega aku lihatnya," ujar Luna yang mengulurkan satu wadah tissue dan diambil oleh Karin, gadis itu mengelap keringatnya pelan dan kembali dalam posisi sopan.


Darrel masih tak mengatakan apapun, membuat gadis itu merasa was – was. Luna yang tahu gelagat Karin langsung menepuk pundak Darrel, lelaki itu langsung menatap ke arah Luna dan melihat Luna yang memelototinya. Lelaki itu menghela napas karna tahu dia kalah jika sudah seperti ini. Dia akhirnya mengubah air mukanya jadi biasa saja.


" Setidaknya kamu tah uada banyak hal yang harus dipelajari saat kamu ada di perusahaan besar, terutama mengenai tata krama. Kamu boleh kembali ke ruangan kamu dan menunggu barang kamu diantarkan oleh orang – orang itu, kalau ada perlu saya akan memanggil kamu," ujar Darrel dengan tenang, tak seperti tadi yang ketus dan trdengar seperti lelaki jahat.


" Baik pak, saya permisi dulu. Luna, aku ke ruangan aku dulu ya. Kalau kamu butuh apa – apa datang aja, kita bisangobrol," ujar Karin dengan ramah, Luna pun mengangguk dan tersenyum. Karin langsung berjalan ke ruangannya sementara Darrel terus memandang gadis itu sampai hilang dari pandangannya.


" Kamu, periksa cctv di dalam ruangan. Apa saja yang dia lakukan di dalam ruangan saya. Laporkan ke saya segera," ujar Darrel pada orang yang ada di belakangnya. Untungnya memiliki banyak pengawal dan orang suruhan, mereka bisa dipencar dan melakukan banyak hal tanpa membutuhkan waktu lama.


" Gak ada yang tahu dan gak ada yang menyangka kalau aku pasang CCTV di ruang ini. Bahkan CCTV nya gak kelihatan. Aku mau tahu dia ngapain aja di ruangan aku. mungkin aja kan kita dapat kejutan dari dia?" tanya Darrel pada Luna. Gadis itu tak menjawab, entah mengapa dia melihat Darrel sangat berminat pada Karin.


" Kak Darrel gak boleh terlalu peduli sama dia kak. Nanti kalau Kak Darrel malah jadi suka sama dia gimana? Luna gak mau kalau Kak Darrel malah jadi suka sama Dia kak," ujar Luna yang meembuat Darrel terkejut. Bagaimana mungkin saat seperti ini dan saat tahu semua yang terjadi, Luna masih bisa memikirkan hal semacam itu?


" Aku gak mungkin suka sama dia, aku Cuma mau tahu apa tujuan dia dipindahkan ke kantor cabang ini. Gak semua orang bisa masuk ke perusahaan ini, tapi dia masuk – masuk udah jadi direktur. Aku mau tahu tentang hal itu," ujar Darrel yang menangkan Luna. Gadis itu mengangguk lega mendengar jawaban Darrel.


" Yah, setidaknya jangan terlalu membenci juga kak, nanti kalau kak Darrel kena karma dan jadi suka sama dia gimana dong? Kan gak lucu banget kak," ujar Luna yang membuat Darrel tertawa. Lelaki itu tak bisa membeci seseorang yang tak dia kenal, tak ada untungnya juga. Bukan berarti dia tak peduli akan kerikil yang akan membuatnya tersandung di kemudian hari.


" Kamu tenang aja. Bertahun – tahun jauh dari kamu juga aku Cuma cinta sama kamu kok, nyonya Atmaja," ujar Darrel dengan wajah genitnya. Luna tertawa dan menabok pundak lelaki itu pelan. Namun Darrel langsung tersadar akan satu hal yang membuat dia mengutuk dirinya sendiri setelah mengatakan hal itu.


" Kamu tunggu di dalam. Aku mau rapat," ujar Darrel yang langsung mendorong kursi rodanya, membuat Luna sedikit tersentak karna lelaki itu kembali menjadi Darrel yang dingin. Luna jadi heran, sebenarnya apa yang terjadi pada kepribadian lelaki itu?


Luna memilih mengabaikan Darrel dan masuk ke ruangan lelaki itu. Dia merebahkan diri di sofa dan memainkan ponselnya, menunggu Darrel selesai dengan rapatnya, meski sebenarnya Luna merasa bosan. Darrel sama saja seperti Radith jika sudah berhadapan dengan pekerjaan.


Sementara itu Darrel dengan cepat dan mendadak meminta semua 'petinggi' di perusahaan itu untuk masuk ke ruang rapat. Mereka tentu saja kerepotan menyiapkan bahan rapat karna Darrel meminta laporan kinerja mereka selama ini. Lelaki itu memang tak pernah memiliki toleransi jika itu adalah masalah perusahaan.


" Bendahara umum, silakan sampaikan laporan keuangan satu bulan ini," ujar Darrel dengan nada dinginnya. Lelaki itu membuat bendahara langsung membuka stopmap yang dia bawa dan membacakan laporan keuangan pada bulan ini. Membuat Darrel mengepalkan tangannya tanpa sepengetahuan orang lain. Bahkan belum satu bulan orang ini menjabat, perusahaan ini sudah sangat kacau.


" Siapa yang bertanggung jawab pada bidang produksi dan pemasaran?" tanya Darrel datar. Mereka yang ditanya langsung mengacungkan jarinya dan menunduk. Darrel meminta salah satu orang yang ada di sebelahnya untuk mendekat dan orang itu langsung pergi dari hadapan Darrel. Tak lama orang itu kembali membawa amplop berwarna coklat dan memberikan amplop besar itu pada Darrel.


" Bagian pemasaran dan Produksi, silakan kalian angkat kaki dari perusahaan ini. Saat ini juga, kalian saya pecat. Kinerja buruk seperti ini tidak pantas untuk bekerja di perusahaan wilkinson. Ini surat pengunduran diri, silakan kalian isi. Kalau tidak, saya akan mengeluarkan surat pemecatan tidak hormat pada kalian."


Dua orang itu langsung membuka mulutnya, namun belum sempat mereka mengatakan sesuatu, sepasang mata menatap mereka dengan tajam, membuat mereka mengangguk dan menerima surat dan sejumlah uang pesangon yang diberikan oleh Darrel. Meski Darrel tak melihat secara langsung, dia sangat tahu apa yang sedang terjadi, lelaki itu tersenyum tipis saat mengetahuinya.


" Ini peringatan untuk kalian semua. Jika kalian tidak sanggup bekerja di perusahaan ini, lebih baik kalian segera angkat kaki dari tempat ini. Kami tidak butuh seorang yang malas mengisi kursi kosong bahkan untuk petugas kebersihan sekalipun."


Darrel langsung meminta orang di belakangnya membantunya keluar dari ruang rapat itu. Meninggalkan keheningan dan kesan mencekam dari staff lain yang masih ada di sana, terutama untuk seseorang yang baru pertama kali bertemu dengan Darrel Atmaja.