
" Kamu harus nurut apa kata dokter, kamu jaga kesehatan dan gak boelh sakit lebih lama lagi, kasihan yang ngasih sumbangan, oke?"
Itulah pesan perpisahan yang disampaikan Radith sebelum akhirnya Blenda masuk ke pintu pesawat dan meninggalkan nusantara untuk berobat ke negara yang terkenal dengan super powernya. Lelaki itu langsung pergi ke markasnya untuk beristirahat. Rasanya sudah lama sekali dia tak pergi ke tempat itu, bahkan sudah lama sekali teman – temannya tak mengajaknya berkumpul ke tempat itu.
" Ngapain ya gue sendirian ke sini? Gilak, gue harus apa sendirian di sini coba? Nelpon Luna buat ajak dia kesini aja kalik ya? Mau gak ya dia? Tapi kalau ternyata dia lagi sama kak Darrel gimana dong?" Radith bergelut dengan pikirannya sendiri sampai akhirnya dia nekat menelpon gadis itu. Entah bagaimana dia hanya memikirkan Luna untuk saat ini, bukan berarti Radith mengakui bahwa dia menyukai Luna. Kalian jangan salah paham.
" Lun, Lo masih ingat rumah kosong yang gue jadiin markas kan? Kesini dong Lun, lo lagi gak sibuk kan? Gue gabut banget sidini sendirian, ajak orang juga biar gak jadi fitnah," ujar lelaki itu yang langsung mematikan panggilan telponnya saat Luna mengiyakan permintaannya. Tak butuh waktu lama, Luna masuk ke dalam sana bersama dengan dua orang suruhannya yang langsung takjub dengan tempat rahasia ini.
" Kalian temenin gue main Billyard yok, kalian bisa kan main ini? Gue udah pesen beberapa porsi pizza, yok ke sana," ujar Radith yang langsung mengajak mereka ke meja billyard tanpa memikirkan perasaan Luna sedikitpun. Gadis itu melongo parah karna dia ditinggalkan dan dilupakan begitu saja oleh orang yang mengajaknya ke tempat ini.
" Lo kok nyebelin banget sih dith? Lo kenapa ngajakin gue ke sini kalau akhirnya Lo Cuma ngacangin gue gitu aja? Sumpah demi appaun, Lo nyebelin banget Dith," ujar Luna dengan kesal dan langsung duduk di sofa. Entah mengapa mood nya sangat buruk hari ini, apalagi Darrel memita waktu untuk seharian dan mungkin beberapa hari ke depan akan jarang menghubunginya.
" Ya karna gue juga bingung Lo mau napain kalau di sini? Lo juga gak bisa main billyard, nah kebetulan juga mereka bisa main, ya udah dong mending gue ajak dia, Lo di situ aja duduk manis seperti putri, kalau Lo mau ngoceh cerita apapun juga gue dengerin pasti, Oke Luna? Oke Radith," ujar Radith tanpa memandang ke arahnya.
Luna menghela napasnya dan diam saja, menuruti apa mau Radith yang memang sudah sangat biasa semena – mena dengan dirinya. Gadis itu menidurkan dirinya di sofa dan membuka ponselnya untuk mulai memainkan beberapa permainan sekaligus membuka sosial media untuk melihat apa yang sedang viral hari ini. Gadis itu menggelengkan kepalanya, membuat Radith tertarik dan bertanya.
" Kenapa Lo geleng – geleng gitu?" tanya Radith yang sedang bersantai karna menunggu giliran bermain, Radith menyesal mengajak kedua orang itu bermain bersama karna ternyata dua orang itu sangat hebat dalam memainkan permainan ini. Radith bahkan hanya memasukkan satu bola sementara salah satu dari mereka sudah tiga dan orang itu melakukannya dengan berurut.
" Ck, kalian kok keren bangetsih mainya? Fokus kalian bagus banget," ujar Radith yang tak tahan untuk memuji mereka karna memang mereka terlihat hebat. Mereka tertawa mendengar respon Radith yang terkesan berlebihan, meski mereka juga mengakui keberuntungan hari ini cukup bagus untuk bisa memenagkan permainan ini.
" Ini loh dith, masak ada artis yang ngakunya cewek, tapi gila nyay gak ketulungan, gak ada malu nya sebagai cewek, tapi gue curiga sih sebenernya dia itu gak cewek, pecicilannya aja udah kelihatan banget, ah, jijik gue," ujar Luna yang menggulirkan layarnya setelah melihat video itu. Video yang menampakkan satu orang wanita dan seorang pria cukup terkenal sedang bernyanyi bersama di sebuah kafe.
Dalam video itu tampak sang Pria meminta si wanita untuk mengikuti apa yang dia lakukan, yaitu melakukan pemanasan dasar sebelum bernyanyi, sepertinya itu potongan dari instalive yang mereka lakukan. Dalam video itu tampak sang wanita yang entah mengapa menjadi artis itu mencoba untuk menirukan nada rendah yang dilakukan sang pria, namun suara jati diri wanita itu lah yang keluar.
Parahnya, wanita itu terkejut sendiri dengan suaranya dan langsung memukul – mukul sang pria, sang pria menyingkir dari layar dan menghindar dari pukulan itu. Wanita itu kemudian bangkit dan langsung mengambil kuris yang tanpa diduga dia lemparkan terpat ke arah pria itu. Kursi besi yang seharusnya berat dia lemparkan dengan mudah. Tangguh sekali wanita itu.
" Lo apa gunanya sih Lun ngikutin berita kayak gitu? Ngerusak otak tahu gak? Lagian yang Lo sebut artis itu, emang dia punya prestasi apa kok bisa dipanggil publik figur? Emang dia ada hal baik apa untuk dipertontonkan ke publik? Yang kayak begitu harusnya dianyepin aja, gak usah di blow up mulu, prestasi nihil, tapi duit dia ngalir terus karna diundang ke acara talkshow, gak guna."
Luna terkagum pada Radith yang sepertinya sangat membenci tipe orang macam mereka. Mencari uang dengan mempermalukan diri sendiri, bahkan mereka sengaja membiarkan diri mereka menjadi bahan hujatan bagi orang lain sampai mereka diundang ke sebuah acara dan menjadi terkenal meski bukan dalam konotasi baik.
Gadis itu heran, mengapa masih ada saja orang yang memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara seperti itu? Apa mereka tidak mempertimbangkan efek ke depannya? Ata mereka sudah menyiapkan rencana jika publik mulai bosan dan jengah melihat wajah mereka di layar ponsel ataupun layar televisi? Entahlah, bagi Luna sendiri, yang seperti ini memang tak layak untuk terus diangkat menjadi topik dan menguasai industri hiburan.
" Lihat deh dith, lagi jaman ya nge prank pengemudi ojek online, dibikin nangis – nangis dulu terus dikasih hadiah duit gede? Bagus sih manfaatnya, tapi kok gue kurang srek ya sama caranya? Kenapa gak mereka kasih langsung bantuan itu ke mereka tanpa bikin mereka sedih dan putus asa gitu? Gak ngerti lagi deh gue," ujar Luna menggelengkan kepalanya lagi.
" Kalau gak gitu ya kontennya sepi Lun, gak seru, gak ada gregetnya. Itu kan strategi mereka ngelakuin prank – prank gitu, bikin orang nangis – nangis, terus bantu mereka. Di upload ke kutub dan dapat bayaran dari viewers, dapet duit dari iklan, duit mereka balik dan bahkan mereka dapat duit yang lebih banyak dari yang mereka keluarkan. Dan semua itu berkat kuota penonton yang terbuang."
" Lo pikir lagi aja deh, Lo beli kuota buat nonton konten kayak gitu. Lo buang duit buat beli kouta, Lo buang kuota buat kasih makan mereka. Hidup yang sungguh adil kan? Hahah," ujar Radith yang menyampaikan opiinya dengan logika. Logika yang tidak memakai hati sedikitpun saat mengungkapkannya.
" Tapi dith, sebenernya tuh bagus tauk konten kayak gini, ini tuh kayak jadi tamparan juga buat orang – orang yang suka cancel sembarangan, mereka kan juga cari rejeki buat keluarga mereka, kita sebagai user enak – enak aja main cancel karna ngerasa kita punya hak untuk itu. Kadang orang kayak gitu itu bisa disebut manusia yang gak bisa memanusiakan manusia lain."
" Nah, kalau Lo bisa ambil sisi positifnya ya bagus, gue gak pernah bilang apa yang mereka lakukan itu salah, toh pada akhirnya mereka bantu orang itu. Tapi sebenernya di satu sisi gue mikir, mau berbuat baik kok dijadiin konten? Itu kayak Lo gunain kesusahan orang lain buat kasih makan Lo. Tapi di satu sisi gue juga mikir hal kayak gitu perlu di blow up biar kita semua tuh tahu dan niru hal yang baik. Gak tahu juga lah gue, pusing mikir begitu, hidup gue aja udah susah, mikir hidup orang lain pula."
Luna terkekeh mendengar Radith yang mengeluh, dia kembali fokus padaponselnya dan mulai mengomentari setiap hal viral yang ada di sosial media itu. Kebanyakan adalah orang yang sengaja bertindak bodoh untuk membuat konten yang menurut mereka lucu, dan setiap apa yang Luna lihat, gadis itu selalu melaporkannya pada Radith dan meminta pendapat lelaki itu.
" Lun, kalau Lo pakai sosial media buat lihat hal yang gak berfaedah gitu, mending Lo buang ponsel Lo dan Lo pergi ke belantara sekarang. Lo buang kuota buat sesuatu yang gak perlu njir," ujar Radith yang mulai tak sabar karna Luna terus menganggunya bermain hingga dia terus saja kalah dari dua orang ini.
" Gini nih, Lo kalau minum kopi pasti gak pakai gula ya dith? Hidup Lo pahit amat sih, gak ada santai santainya. Kita tuh juga perlu hal bego kayak gini dith buat menghibur diri, kan gak tiap hari bisa piknik, gimana sih Lo," ujar Luna membela dirinya, meski faktanya dia memang mengikuti akun dengan konten tak berfaedah entah apa alasannya.
" Iya, hiburan. Tapi otak Lo lama – lama rusak kalau lihat konten kayak gitu terus, lama – lama Lo bisa tiru apa yang mereka lakukan dan lebih parahnya lagi, Lo bakal jadi bego karna tiap hari makanan mata dan otak Lo itu orang – orang bego."
Radith duduk di bawah sofa karna seluruh sofa dikuasai oleh Luna. Lelaki itu duduk di karpet dan menjadikan sofa itu sebagai bantalan untuk kepalanya. Luna menengok ke bawah dan melihat Radith yang memejamkan kepalanya.
" Dith, gue tuh belakangan ini sering ngerasa kesemutan gitu, gue gak ngapa – ngapain juga kesemutan sendiri, gue takut kalau ternyata itu bukan pertanda bak gitu," ujar Luna setelah melepaskan ponselnya dan melihat ke langit – langit ruangan itu dan mencoba untuk membuka pembicaraan bersama Radith.
" Ya wajar lah kalau kesemutan, Lo gak ngapa – ngapain. Itu kan artinya salah satu bagian tubuh Lo ada yang tertekan terus, akhirnya aliran darah di bagian itu gak lancar, nah waktu Lo bergerak, darah itu langsung ngalir gitu aja, jadi lah Lo kesemutan. Masak kayak gitu aja Lo gak tahu ih Lun?" tanya Radith dengan wajah sinisnya, membuat Luna berdecih dan meraup wajah Radith yang tampak menyebalkan.
" Berarti kayak gitu tuh wajar ya dith? Aiih gue kira ada apa – apa sama gue, kan gak lucu kalau ternyata gue sakit yang berbayaha gitu, terus umur gue gak lama lagi, gue harus nulis wasiat, terus.."
" Lo mati sekarang aja kalau mau gue bisa bantu Lun. Lo tuh kebanyakan nonton sinetron tau gak sih, drama banget hidup lo, udah gak usah mikri yang aneh – aneh, ucapan tuh doa, Lo kalau gue aminin gimana? Lo pikir sakit kayak gitu tuh enak?" Luna langsung cemberut karna Radith benar – benar marah padanya.
Luna tahu betul Radith sangat memahami berada di kondisi sakit parah yang tak terobati sangat tidak enak, setidaknya hampir dua tahun Radith mendampingi Blend ayang merasakan kondisi itu. Tentu saja Radith marah karna Luna malah menggunakan hal itu untuk berfantasi liar, gadis itu memang tak pernah tahu rasanya hingga biasa saja saat mengatakan hal itu.
" Yaudah maafin gue sih dith, gue kan gak sengaja juga, tiba – tiba aja pikiran kayak gitu muncul, ya Lo gak usah marahin gue gitu, ngegas lagi, gue gak suka dibentak – bentak dith" ujar Luna pelan dna takut, membuat Radith sadar apa yang dia lakukan sudah keterlaluan dan membuat Luna merasa tak enak.
" Mana yang sering kesemutan? Gue pijit sini biar darahnya lancar," ujar Radith mengalihkan pembicaraan dan membalikkan tubuhnya hingga melihat Luna yang masih setia menatapnya. Mendengar tawaran itu tentu membuat Luna merasa senang, gadis itu berpikir bagian tubuh mana yang sering merasa kesemutan.
" Sebenernya tuh tergantung sikon dith, kadang tangan, kadang kaki, kalau sekarang sih sebenernya kaki gue yang sering kesemutan, kadang sampai gak bisa digerakin loh dith saking banyaknya semut yang lewat – lewat gitu di kaki gue," ujar Luna yang membuat Radith terkekeh dan memegang kaki itu untuk mulai memijatnya.
" Lo kebanyakan makan yang manis – manis kalik, makanya banyak semut di pembuluh darah lo, awas loh kalau dia gigit nanti Lo jadi gendut, pembuluh darah Lo bentol – bentol terus nanti Lo melebar dengan sendirinya," ujar Radith dengan asal dan sama seklai tak masuk akal.
" Emang bisa kayak gitu juga? Kok serem banget? Gue baru tahu njir kalau bisa kayak gitu. Pokoknya gue gak bakal minum manis – manis lagi deh, daripada ntar gue melebar," ujar Luna yang masih belum sadar jika Radith hanya bercanda. Bagaimana mungkin gadis itu dipanggil gadis yang cerdas padahal gadis itu memiliki pikiran yang pendek?
" Iya bagus tuh, Lo gak boleh makan atau minum manis terlalu banyak nanti Lo tambah manis, terus nanti semutnya makin seneng deh buat lewat – lewat di dalam tubuh Lo ini," ujar Radith yang membuat Luna menganggukan kepalanya dengan lucu, menurut saja dengan apa yang dikatakan Radith.
" Eh, tadi Lo bilang gue manis kan ya? Akhirnya Lo mau mengakui kalau gue manis dith? Astaga, kamu so sweet sekali tuan muda. Ya gue tah usih kalau gue manis tanpa Lo bilang juga, tapi kalau dengar pengakuan Lo tuh rasanya beda gitu dith," ujar Luna yang membuat Radith melongo dan baru sadar atas apa yang dia katakan. Lelaki itu memilih diam agar topik ini segera berlalu.
" Tuan muda, nona muda, Pizza yang dipesan sudah datang," ujar oranag yang tadi bermian billyard, Radith menoleh sedangkan Luna langsung mengangkat tubuhnya yang berbaring. Mereka melihat tiga kotak pizza yang tadi sudah Radith pesan. Luna bertepuk tangan senang melihat kehadiran tamu yang akan mengenyangkan perut mereka.
" Lo tuh orang kaya, tapi kok norak sih waktu lihat Pizza?" tanya Radith dengan heran sambil menyiapkan Pizza itu di atas meja.
" Udah lama gue gak makan junkfood, apalagi kak Darrel selalu larang gue makan yang begini, akhirnya gue bisa makan ini lagi, ya gue seneng lah," ujar Luna yang mengambil satu potong pizza lalu memakannya dengan lahap.
" Kalau dia tahu gue kasih makan Lo kayak gini, pasti dia bakal bawel ke gue. Duh, tahu gitu gue pesen nasi padang tadi," ujar Radith dengan dirinya sendiri.
" Gak papa, gue gak akan aduin ke kak Darrel, gue juga seneng bisa makan smeua ini lagi, tapi tetep sih masakan kak Darrel terbaik, lebih enak dari semua makanan ini," ujar Luna yang tanpa sadar memuji Darrel di hadapan Radith.
" Wih, Lo udah cinta ya sama dia? Udah move on dari gue dong?" Tanya Radith yang membuat Luna tersadar dan terdiam dengan pizza yang memenuhi mulutnya yang kini menggembung
*
*
*
Next Part jam 3 Sore 😙