
"Untung kamu cepat bawa istri kamu kemari, Ben." Ucap wanita berusia 45 tahun yang berprofesi sebagai bidan. Beni mengenal orang tersebut karena sebelum membuka klinik yang lumayan besar di pusat kota, bidan itu tinggal di samping rumah orang tua Beni.
"Istri kamu sedang hamil dan hampir mengalami keguguran."
Mendengar penuturan sang bidan, Beni langsung sumringah. Istrinya hamil!
"Istri Beni hamil, Tan?"
"Ya. Sudah masuk lima minggu ini."
"Sayang, kamu dengar? Kamu sedang hamil."
Kinan hanya menatap Beni dengan tatapan kosong. Kebahagiaan dan rasa antusias yang dipancarkan Beni tidak menular sama sekali kepadanya. Ya, ia tidak bahagia mendengar kabar tersebut. Bahkan hanya untuk sekedar tersenyum tipis, Kinan tidak sanggup melakukannya. Menurutnya, kehamilannya hanya akan menambah penderitaannya. Tidak mungkin ia mengajukan cerai dalam kondisi hamil. Ia berpikir kehadiran anak justru akan menambah objek bagi Beni untuk disakiti. Kinan sudah tidak percaya bahwa Beni akan berubah. Pria yang menikahinya itu tidak akan pernah berubah, ia yakin itu.
Lantas, sekarang apa yang harus ia lakukan dengan kandungannya? Sangat tidak mungkin ia menggugurkannya. Kinan sendiri yang meminta kepada Tuhan agar diberikan anugerah. Sekarang, Tuhan sudah mengabulkan pintanya. Bukankah seharusnya yang Kinan lakukan adalah mengucap syukur kepada sang Ilahi? Sekeras itukah hatimu Kinan, hingga engkau enggan untuk berterima kasih kepada sang Pemberi rezki?
"Doa kita terkabul, Sayang." Beni menggenggam kedua tangan Kinan seraya mengecupnya berulang kali. "Kita akan memiliki anak. Ini kabar yang sangat membahagiakan." Senyum sumringah terpatri di wajah Beni. Wajah itu begitu bahagia. Lupakah pria itu bahwa setengah jam yang lalu dia melayangkan tamparan pada wajah istrinya.
"Kinan, Abang sangat bahagia, Sayang." Beni mengecup kening Kinan kemudian kembali menghadap pada bidan yang dari tadi hanya diam menyaksikan mereka.
"Jadi gimana, Tan, apakah ada obat khusus yang harus dikonsumsi Kinan agar dia dan janinnya baik-baik saja?"
"Tante sudah menyuntikkan penguat pada rahimnya. Minggu depan kamu bawa istri kamu lagi kemari. Kita lihat perkembangannya, apakah masih perlu mendapatkan suntik penguat. Selain itu, istri kamu harus istirahat yang cukup, nutrisinya tercukupi dan jangan sampai istri kamu stress."
Beni menganggukkan kepala. Setelah melakukan pembayaran, Beni berpamitan dan berjanji akan membawa Kinan seminggu kemudian.
Kinan hanya diam, tidak berkomentar. Pikirannya kacau dan melayang. Sungguh, ia tidak merasakan sedikit pun kebahagiaan mengetahui kehamilannya.
"Tante Rina tadi memberikan susu. Abang ambil rasa cokelat. Abang tahu kamu tidak suka susu, tapi demi anak kita kamu minum, ya, Sayang."
Kinan hanya membisu.
"Sekarang kita harus beli buah yang mengandung asam folat. Atau kamu ingin buah yang lain. Ah, kamu suka buah pir 'kan, sepertinya stok di rumah sudah habis. Kita beli ya? Oh ya, jeruk juga kaya akan asam folat. Kita juga harus beli."
Sampai di rumah, Beni menyusun barang belanjaan mereka, memasukkan buah ke dalam kulkas.
"Tadi Sayang sudah makan malam?" tanya Beni dengan lembut. Kinan tidak menyahut, ia masuk ke dalam kamar dan langsung berbaring.
"Sayang, jangan gini dong. Abang salah, Abang minta maaf, ya."
"Aku ngantuk," Kinan memejamkan mata, sebulir air mata keluar dari sudut matanya. Sumpah, hatinya masih saja berdenyut sakit.
"Ya udah, kamu istirahat. Abang minta maaf." Beni membelai rambutnya, kemudian mendaratkan satu kecupan hangat di dahinya.
Keesokan harinya, Beni sudah menyiapkan sarapan untuknya. Rumah juga sudah rapi dan bersih bahkan Beni juga sudah mencuci. Semua pekerjaan rumah dia lakukan agar Kinan tidak terlalu banyak bergerak.
"Gimana? Kamu ada merasa mual, Sayang?"
Kinan menggelengkan kepala.
"Baguslah, ini kamu sarapan dulu. Abang akan buatkan susu."
Satu minggu, selama itu Beni selalu berada di samping Kinan, meratukannya. Namun, itu hanya bertahan satu minggu. Karena di minggu berikutnya, Beni kembali membuat ulah dengan mengajak teman-temannya ke rumah. Tiga sampai empat orang dan mereka bermain judi di sana hingga dini hari. Kinan hanya bisa berdiam diri di kamar, bergelut dengan pemikirannya. Bahkan untuk ke toilet, ia harus menahan diri. Karena jika ia keluar dari kamar, otomatis ia bisa melihat apa yang dilakukan Beni dan rekan laknatnya.
Sepanjang malam, Kinan hanya duduk merenungi nasibnya di sudut kamar. Kenapa, Ya Allah, kenapa begini? Pertanyaan menuntut kepada sang Khalik pun tercetus.
Tidak tahan dengan pemikiran yang semakin kusut membuat kepalanya sering diserang rasa sakit luar biasa. Yang akan Kinan lakukan, menjambak rambut sekuat tenaganya. Ingin rasanya ia menjerit, memaki agar Beni mengerti dengan apa yang ia rasakan. Tapi, setiap ia bersuara, yang terjadi adalah pertengkaran. Begitu lah seorang pecandu, tidak bisa dinasehati, merasa paling benar, egonya tinggi dan ilusinya kemana-mana.
Mental Kinan benar-benar mulai terganggu. Emosinya sering meledak-ledak tapi tidak bisa tersalurkan. Bagaimana jika Beni memukulnya lagi?
"Argghhh!!" di luar kendalinya, Kinan menjerit seraya melempar cermin dengan bantal.
Beni masuk ke dalam kamar, Kinan melayangkan tatapan sinis. "Mau sampai kapan kamu buat rumah ini sebagai tempat maksiat?"
"Kamu kenapa?" Dengan tololnya Beni bertanya. Matanya sudah merah mungkin kebanyakan mengkonsumsi narkoba.
"Kamu usir temanmu atau aku yang pergi?!"
"Kinan, Abang gak suka diancam, ya?"
"Kamu pikir aku suka diginiin? AKU HAMPIR GILA DI SINI, ANJING! MENAHAN MUAL MENAHAN PIPIS. APA YANG KAMU LAKUKAN DI LUAR SANA, BERSENANG-SENANG DENGAN TEMAN-TEMAN SETANMU!!"
"Kamu ingin buat Abang malu, hah?"
"Malu? Masih punya urat malu rupanya?"
Beni langsung meraup pipinya, mencengkeram wajahnya dengan kuat, "Mau cari gara-gara lagi?"
"Fiuuh!!" Kinan meludahi wajah Beni lalu mendorong pria itu. Pun ia berlari ke luar kamar. "PERGI KALIAN SEMUA, ANJING! MAU KULAPORKAN KE KANTOR POLISI KALAIN? HAH?"
Teman-teman Beni segera berdiri dan tidak lupa memunguti uang mereka. "Ben, kami cabut, ya," ucap Tamvan dengan seringai tipis di wajah.
Beni menganggukkan kepala. Dan begitu temannya keluar, Beni langsung mengunci pintu.
"Maksud kami buat begini, apa?"
"Aku tidak sudi tinggal di rumah yang penuh maksiat!"
"Jadi mau kamu apa?" tantang Beni.
"Mauku sudah jelas! Aku ingin cerai!!"
Beni melangkah lebar, ia kembali mencengkram wajah Kinan. "Sudah Abang katakan, jangan pernah ucapkan kata-kata sialan itu!"
"Jangan banyak tingkah kamu!" Beni melepaskan pipi Kinan dengan kasar. "Abang tidak ingin ribut, ini sudah tengah malam. Sana tidur." Beni memungut alat-alat yang ia gunakan untuk menghisap narkoba jenis sabu. Tanpa merasa sungkan lagi kepada Kinan, pria itu menghisap benda itu di hadapan Kinan.
Kinan menerjang benda itu, merebutnya dan melemparnya. "Ini yang kamu katakan akan berubah setelah aku hamil? Janjimu berbau najis, Monyet!! Aku gak mau bayi ini! Aku gak sudi mengandung anak kamu! Arggghhh!!" Kinan memukul perutnya, ia benar-benar sudah hilang akal. Saat itu usia kandungannya memasuki bulan ke empat.
Apanya yang berubah, sejak kehamilannya, Beni bahkan semakin kasar. Pukulan semakin sering ia dapatkan. Lebam di tubuh sudah hal biasa. Benjol di kepala juga bukan hal yang aneh. Dalam satu minggu, Kinan pasti mendapatkan kekerasan. Apakah Kinan tinggal diam? Tidak. Ia membalas.
"Kamu jangan jadi gila ya, Kinan!" Beni menahan tangan Kinan. Kinan dengan sangarnya menggigit kedua tangan Beni. Beni refleks mendorong Kinan hingga kepala Kinan terbentur ke dinding. Pusing yang sangat luar biasa langsung menyerang Kinan. Tangannya meraba-raba mencari apa yang bisa ia gunakan untuk menyerang Beni. Helm, tangannya menemukan helm. Pun Kinan berdiri dan langsung menyerang kepala Beni. Beni kembali mendorongnya hingga terjatuh lalu menendang punggungnya kemudian perutnya. Ya, Beni menendang perut Kinan yang sedang mengandung.