
" Kak Darrel, sibuk gak? Main ke rumah Luna dong," ujar Luna pada telpon yang baru saja diangkat oleh lelaki yang berstatus tunangannya. Harap dicatat ya, Darrel adalah tunangan Luna. Yah, itu hanya sekadar pemberitahuan sekaligus kode yang cukup keras jika kalian tahu makna yang ada dibaliknya. Hahaha, Bercanda.
" Loh? Kamu gak sekolah? kamu sakit? Aku ke rumah sekarang kalau kamu sakit." tanya Darrel dengan kaget. Apa terjadi sesuatu yang buruk pada gadis itu hingga dia tak bisa berangkat ke sekolah hari ini?
" Kayaknya kak Darrel yang sakit deh kak, ini kan hari minggu kak, ngapain juga sekolah? lagian ya kak, kalau hari ini hari sekolah, kok Kak Darrel juga gak sekolah?"
Darrel tertawa menyadari kebodohannya. Dia terlalu sibuk pada pekerjaannya sampai lupa dia masih Siswa, dan bahkan dia lupa kalau hari ini adalah hari minggu. Sepertinya dia memang harus sedikit mengurangi porsi kegiatan yang menyita waktunya. Untunglah masa baktinya sebagai ketua OSIS akan segera berakhir, satu kewajibannya akan berkurang.
" Kak Darrel jangan terlalu capek ah, masak masih SMA udah pikun gitu, Luna gak mau kak Darrel terlalu keenakan kerja malah jadi gak punya waktu buat senang – senang, masa SMA tuh singkat kak, masak kakak mau lewatin itu semua untuk kerja?"
" Tapi aku kan anak SMK bukan SMA, beda dong jadinya," bantah Darrel yang membuat Luna jadi kesal sendiri. Gadis itu menghela napas dan meminta Darrel segera datang setelah pekerjaannya selesai, sementara itu Luna juga menghubungi Radith untuk datang, dia berencana akan mengadakan piknik dan sekadar bersantai dengan dua orang itu bersama mereka.
Luna langsung meminta pelayan rumahnya untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk kumpul kelurga itu, bahkan dia meminta Chef memasakkan pizza dan makanan lezat lainnya, yang pasti jauh lebih sehat dibanding membeli makanan dari luar. Luna kembali ke kamarnya untuk bersantai menunggu mereka semua datang.
' Gue udah di luar.'
Luna membaca pesan yang dikirim oleh Radith llu meminta lelaki itu untuk masuk ke dalam rumahnya dan pergi ke ruang bermain dimana Jordan sedang memanjakan dirinya, mungkin hanay di rumah ini Jordan bisa bermain sesuka hati selayaknya seorang anak lelaki. Tak memiliki beban perusahaan yang membuatnya pusing dan menua sebelum waktunya.
" Kacau Lo, masak gue disuruh masuk sendiri? Gue kan tamu disini, disambut kek, kalau gue maling barang – barang di sini gimana?" tanya Radith dengan galak sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah itu. Dia mengira Luna tak mau menghampirinya dan membiarkannya terlantar di rumah besar ini, nyatanya gadis itu masih memiliki hati untuk menyambutnya.
" Hahaha, Lo udah berapa lama temenan sama gue?" tanya gadis itu sambil melangkah masuk ke dalam rumah menuju ruang bermain dimana Jordan berada. Radith terkekeh, benar juga, Luna tak akan pernah memperlakukannya sebagai tamu, untuk apa dia mempermasalahkan hal itu?
" Iya sih gue temennan sama Lo lebih dari setahun, harusnya gue gak nanya hal ini ke Lo, gue yang salah," ujar Radith datar dan berjalan mendahului Luna menuju ruang itu karna Luna berjalan lambat. Tak seperti biasanya, gadis itu lebih tenang dan tidak berisik. Radith jadi senang karna gadis itu lebih tenang hari ini.
" Lo udah temenan sama Gue lebih dari satu tahun, tapi Lo gak bisa bedain mana Gue mana orang lain, teman macam apa Lo?" tanya Luna yang membuat Radith mendaji bingung, kali ini apa yang membuat gadis itu marah atau salah paham?
" Maksud Lo apa? Lo marah sama gue? Lo lihat gue sama siapa kali ini? Perasaan gue di rumah aja dari pagi," ujar Radith yang tak ditanggapi oleh Luna, sepertinya gadis itu sungguh marah padanya. Radith yang diabaikan merasa kesal dan langsung menarik gadis itu ke arahnya karna gadis itu terus berjalan.
Gadis itu tak tahu jika Radith akan menariknya, sehingga kakinya tak siap untuk menahan tubuhnya dan berakhir dengan menubruk Radith, sepertinya lelaki itu menarik Luna terlalu keras. Di saat yang bersamaan, seorang gadis keluar dari lift dan menatap kedua orang itu dengan wajah bingung dan kaget secara bersamaan.
" Kalian ngapain sih? Mau mesum di rumah ini? Wah parah, baru ketemu sekali kok udah mesum aja?" mendengar suara yang tak asing baginya membuat Radith mendongak dan menatap ke arah lift dengan kaget. Jika yang tadi ditariknya adalah Lunetta, lalu siapa gadis yang ada di depan lift? Jika yang ada di depan lift adalah Luna, siapa gadis yang ada di atasnya ini? Pertanyaan itu berputar di kepala Radith berulang – ulang.
" Bilang nih ke temen Lo, jangan narik orang sembarangan, jadi jatuh kan gue, sakit banget," ujar gadis yang ada di atas Radith sambil bangkit berdiri, gadis itu mencari utumpuaan untuk bangun, dan yang tanpa sengaja tangannya malah menumpu ke arah yang seharusnya tidak dipegang oleh sembarang orang. Radith meringis kesakitan karna barang pribadinya ditekan kuat saat gadis itu berdiri.
" Maaf ya nona, gue gak tahu lo siapa, dan gue gak tahu kenapa Lo mirip banget sama Lunetta, tapi yang harusnya kesakitan itu gue, karna Lo nubruk gue, dan Lo udah hancurin masa depan gue waktu lo bangun, Lo Lunetta? Dia siapa sih? Kloningan Lo? Kok ngeselin?" tanya Radith dengan sewot membuat gadis yang tadi menubruknya melotot seketika.
" Maaf ya tuan muda tengil, bukan gue yang narik tangan Lo sampai jatuh, bukan gue yang gak ngenalin temen sendiri, bukan gue yang ngomel – ngomel waktu masuk ke rumah orang lain. Ah ya, masa depan Lo gak akan suram, belum juga ngerasain yang dibakar kan Lo?"
" Radithya David Putra Galeno, gue Lunetta Azura, dan ini kakak gue, Danesya Azura, kami beda beberapa menit, yah, Lo udah cukup cerdas buat mengartikan itu semua kan? Lagian kenapa kalian sampai berantem gini sih?"
" Lo punya kembaran? Sejak kapan? Kok gue gak tahu?" tanya Radith dengan bingung. Danesya malah membuka mulutnya dengan pertanyaan aneh itu. Sepertinya memang tak salah dugaannya, pria yang ada di hadapannya adalah pria gila yang akan membuat siapapun yang bertemu dengannya menjadi stress tak tertahankan.
" Ya kalau gue punya kembaran, berarti gue punya sejak lahir lah dith, gue gak pernah cerita karna memambg gak perlu diceritain, waktu itu dia datang ke Indonesia, tapi Lo gak udah pulang karna Blenda di rumah sakit, clear ya masalah. Parah, kalian pertama ketemu udah ribut gini, serem gue," ujar Luna menggelengkan kepalanya dan berjalan ke arah ruang dimana Jordan berada.
" Kita juga berantem waktu pertama ketemu, jangan lupa dengan Lo yang akhirnya jatuh cinta sama gue," ujar Radith tanpa dosa, namun cukup membuat Luna menatap khawatir ke arah Danesya yang tidak tahu masalah ini. Bukan hal baik membahas masa lalu yang seperti ini di depan keluarganya.
Namun ternyata Danesya tak bereaksi apa – apa, gadis itu langsung berjalan duluan meninggalkan Luna dan Radith yang berjalan beriringan. Luna sendiri langsung menatap Radith dengan geli karna lelaki itu mengomel tanpa suara melihat Danesya pergi. Namun Luna tak ingin mengomentari Radith, takut malah akan terjadi kesalah pahaman yang tidak diinginkan.
" Weh, nyampe juga Lo, gue tebak terjadi kesalah pahaman yang tak diinginkan nih, hahaha," sapa Jordan dengn riang ambil melemparkan stick PS yang langsung ditangkap oleh Radith tanpa berkata apapun. Jordan bisa tahu hal itu karna Danesya yang masuk ke ruang ini dengan kesal dan tak menjawab prtanyaannya. Barulah pertanyaan itu terjawab saat Radith masuk ke ruangan itu.
Cukup lama mereka bermain sebelum akhirnya seseorang lagi masuk ke dalam ruangan itu. Smua yang ada di situ diam menunggu aksi selanjutnya yang akan dilakukan oleh orang itu. Orang itu terdiam karna melihat dua wajah sama persis di hadapannya.
Luna dan Danesya sama – sama diam dengan wajah datar, sengaja tidak memberi tahu Darrel siapa di sini yang Lunetta, entah dari mana ide itu muncul dan mereka bisa kompak melakukannya tanpa janjian. Darrel langsung menangkap bahwa dia sedang diuji dan berurusan dengan hidup mati hubungannya ke depan.
Lelaki itu mendekati kedua orang itu dan mengamati keduanya dari jarak yang cukup jauh, lalu tersenyum dan mendekat ke arah yang 'salah'. Lelaki itu merangkul salah satu gadis yang ada di sana, membuat suasana menjadi tegang karna tampaknya lelaki itu gagal dalam misinya, pasti akan ada perang dunia ketiga setelah ini.
" Selamat siang Danesya, kapan sampai ke Indonesia? Kok gak ngabarin? Ah ya, Kamu gak usah sok sok an nguji aku bisa kenal atau enggak sama dia, dari jauh aja udah kelihatan magnet aku ke dia," ujar Darrel yang langsung berpindah dan merangkul Luna.
" Hampir aja dicerai sama Luna Lo kak, hahahaha" ujar Radith saat melihat wajah Luna yang masam, Darrel hanya menanggapi hal itu dengan tawanya. Mana mungkin dia salah orang saat sudah pernah bertemu kedua orang itu di saat yang bersamaan? Memang mereka terlihat sama persis, namun jika sudah bersebelahan tampak sedikit bedanya dan Darrel bisa menyadari hal itu.
" Bang, Luna pengen deh kita semua yang ada di sini liburan bareng, kemana gitu kek yang seru, yang nature aja, seru kan bang? Ayo bang agendakan, kalian semua harus mau," ujar Luna yang membuat semua orang yang ada di sana diam. Mulai lagi sikap Luna yang otoriter dan seenaknya.
" Ya udah, dalam waktu dekat ini abang agendakan, mumpung sekolah kalian semua belum sibuk, kalau Darrel gak usah belajar juga encer dia, nanti abang cari tempat yang enak buat kumpul – kumpul," ujar Jordan yang membuat Luna memekik girang.
" Ah, seandainya setiap kita pergi ada ada Daddy pasti lebih seru ya, sayang Daddy gak pernah ada waktu buat kita, Daddy terlalu sibuk sama urusan bisnisnya, jadi mana mungkin Daddy sempet liburan sama kita?" tanya Luna dengan sedikit sedih, meski begitu dia cukup senang akhrinya bisa pergi bersama dengan orang – orang ini. Apalagi dengan Danesya, dia ingin lebih dekat dengan saudara kembar yang terpisah selama banyak tahun ini.
" Kata Siapa Daddy gak bisa ikut?"
Semua orang menengok ke arah pintu yang baru saja dibuka. Mata mereka terbuka sempurna dan melongo melihat siapa yang datang ke tempat ini.
" DADDY!!!" Teriak Luna setelah kembali ke kesadarannya.