
Hai Lunetta
Jika kamu sudah baca ini, berarti kamu udah tahu kekacauan yang ada di kamarku.
Yah, kekacauan itu sama kayak yang aku rasakan setelah kecelakaan ini.
Aku hancur
Sangat hancur sampai ke dalam.
Aku berusaha bertindak biasa saja di depan semua
Namun nyatanya aku gak mampu Lun, aku gak bisa hadapin kamu.
Aku terlalu merasa tak berguna dan Aku gak akan pantas buat kamu.
Satu hal yang pasti, aku sayang banget sama Kamu Lunetta.
Dari dulu aku mau bilang, 'will you marry me?'
Tapi aku rasa sekarang gak mungkin lagi kan? Jangan lua bahagia. Aku sayang sama kamu.
~oooo~
" Kak Darrel, kak Darrel kemana? Kak Darrel ada di mana? Kak Darrel?" tanya Luna sambil memeluk kertas yang dia bawa sambil menangis sejadi – jadnya. Gadis itu langsung berjalan keluar dari kamar dan menengok ke kanan kiri. Gadis itu bingung harus mencari Darrel kemana, dia langsung berlari ke kamar pembantu dan mengetuk pintu kamar itu berulang kali.
" Ada apa non? Ya Allah! Non Luna kenapa? Kenapa Non Luna nangsi?" tanya pembantu itu yang kaget sekaligus takut karna Luna menangis sampai sesenggukan. Gadis itu menggelengkan kepalanya dan berusaha mengatur napasnya. Dia tak mungkin memberi tahu pembantu Darrel kemungkinan terburuknya, dia harus menemukan Darrel terlebih dahulu.
" Bibi beneran gak lihat Darrel? Bibi beneran gak tahu Darrel ada di mana?" tanya Luna yang terburu – buru, pembantu itu menggelengkan kepalanya pelan, lalu tampak mengingat – ingat sesuatu. Pembantu itu langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengambil secarik kertas yang diberikan pada Darrel malam tadi, bibi itu yakin kalau surat itu untuk Lunetta saat ini.
Luna membaca isi surat iru dan langsung berlari setelah mengatakan pada apembantu itu untuk tak mengikutinya. Luna berlari ke arah Dapur sesuai intruksi surat itu. Gadis itu tak tahu ada apa di dapur Darrel sampai lelaki itu memintanya untuk menengok ke Dapur.
Ternyata di dapur terdapat sebuah piring berisi sebuah makanan yang tak asing bagi Luna. Gadis itu duduk dan menatap makanan itu dengan sedih dan air mata yang terjatuh. Di bawah piring itu terdapat sebuah surat juga. Luna emngambil surat itu dan mulai membacanya. Kenapa Darrel memberinya teka teki seperti ini? Kenapa Darrel seperti mempermainkan dirinya?
" Lunetta, Pancake coklat keju, kamu suka banget kan waktu aku bikinin ini buat kamu? Aku mau kamu tetap bahagia walau gak ada aku. Aku mau kamu tetap bisa ingat rasa pancake ini, manis, seperti kisah kita. Selamat makan Lunetta." Luna menghirup ingusnya untuk masuk dan mengambil sendok kecil yang ada di piring itu.
" masih dengan buatan orang yang sama dengan rasa yang sama. Rasa yang sangat Luna suka yang dibuat oleh orang yang Luna cinta. Kak Darrel, kak Darrel dimana? Luna khawatir," ujar Luna yang kembali memasukkan satu suap lagi pancake ke dalam mulutnya dan memejamkan matanya untuk menikmati rasa pancake itu.
Pancake yang sudah dingin, Luna tebak sudah dibuat sejak pagi atau mungkin sejak tadi malam, namun rasanya masih enak. Gadis itu menghabiskan sesuap demi sesuap sampai suapan terakhir memenuhi mulutnya. Gadis itu kembali memikirkan keadaan Darrel dan langsung bangkit dari duduknya, setelah yakin Darrel tak ada di rumah ini, Luna hendak pergi dari rumah itu.
Mata Luna menangkap sesuatu yang tertempel di sebuah kursi yang ada di sana. Luna menghampiri kursi tersebut dan mendapati pita hitam yang ditalikan. Luna langsung melihat sekitar, tak jauh dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat pita semacam ini yang mengikat tali penggantung Figura.
Luna berjalan mengikuti petunjuk itu, pita pita itu terpasang dan seakan menunjukkan pada Luna sebuah jalan. Gadis itu terus berjalan pelan, ternyata pita itu menuntunnya ke sebuah pintu yang sudah dicoret coret dengan pilok berwarna merah. Luna bahkans ampai ngeri melihat pilok itu. Apakah Darrel ada di balik ruangan ini? Mungkinkah Darrel..?
Gadis itu tak mau berspekulasi sendiri. Dia memilih untuk menyiapka mentalnya dan membuka pintu tersebut. Namun semua gelap saat dia membuka pintu. Gadis itu melangkah masuk dan mencoba untuk mencari tombol lampu, namun Luna tak bisa menemukan apapun. Luna berjalan pelan sambil meraba sekitar karna dia lupa untuk membaa ponselnya dari kamar Darrel.
~ bbzzzttt
Sebuah layar menyala terang, membuat Luna menyipitkan matanya saking terasa silaunya. Gadis itu menutup mukanya dan mengintip proyektor itu dari balik jari – jari tangannya. Gadis itu langsung membuka tangannya saat tahu apa yang ada di layar besar itu.
Foto – foto Luna sejak Luna bayi. Ya, setidaknya itulah yang Luna tebak karna di sana terdapat dua bayi perempuan dan satu anak lelaki yang sangat mirip dengan bang Jordan. Luna kembali meneteskan air mata jika mengingat moment itu, apalagi saat foto Sheila muncul di layar saat dia dan Danesya berebut untuk berfoto dengan gadis itu.
Luna menyadari hari – hari itu adalah masa yang terindah di hidupnya. Masa yang tak mungkin dan tak akan pernah mungkin terjadi lagi karna Sheila pun sudah pergi dari dunia ini. Semua yang tersisa hanyalah kenangan semata. Kenangan yang Luna sendiri sudah mulai melupakannya.
" Ternyata wajah gue mirip banget ya sama Danesya," ujar Luna tanpa sadar saat melihat wajah dua orang balita yang berhadapan. Satu memegang boneka dan yang satu memegang sebuah bola basket plastik yang lebih besar dari ukuran kepalanya. Bisa kalian tebak Luna yang mana? Kalian bisa menilai dari seberapa pendiamnya Luna selama ini kan?
Slide terus berganti dan kini Luna memasuki masa SMP, masa dimana dia mulai bisa merasakan kebahagiaan karna memiliki Adel, Keyla dan Lucy. Masa dimana dia mulai bisa berkembang terutama di bidang basket. Masa dimana dia menorehkan banyak prestasi dan menggunakan kemampuan otaknya secara maksimal.
Layar masa SMP nya ditutup dengan foto kelulusannya yang taampak tersenyum bahagia di samping pak Indra. Ya, pak Indra yang menemaninya saat kelulusan, bukan papanya. Pak Indra sebagai pengganti papanya yang kini sudah kembali ke kampung halamannya karna Luna sudah beranjak dewasa. Lelaki itu sudah melakukan tugasnya dengan sangat baik.
Layar di depan Luna kini menunjukkan saat Luna mulai masuk SMK, Maih dengan wajah pak Indra yang menemaninya untuk mendaftar. Luna bahkan tak tahu jika seseorang mengambil gambar dirinya sat mendaftar. Sepertinya itu orang suruhan papanya karna dia harus dipantau dan apapun yang Luna lakukan akan diketahui oleh papanya.
Luna terkekeh saat dia melihat dirinya sewaktu muda terjatuh setelah menabrak dan Radith mengulurkan tangannya dengan wajah dingin. Pertemuan kedua mereka yang sama sekali tak ada kesan mereka akan bersahabat dan sampai sejauh ini. Luna makin merindukan saat – saat itu, gadis itu menyadari Radith bahkan sudah kesal padanya saat mereka pertama kali bertemu.
Namun hebatnya, meski Radith sudah berdoa untuk tak bertemu dengannya, mereka malah makin sering bertemu setelah itu. Ya, Luna kan satu kelas dengan Radith. Mereka bertemu setiap hari dan Luna selalu membuat Radith berada dalam masalah. Sepertinya Luna harus meminta maaf untuk semua itu pada Radith saat mereka bertemu.
Sisa slide yang ada di layar menunjukkan kebersamaan Luna dengan teman – temannya dan dengan Darrel. Melihat wajah Darrel, Luna kembali merasa sedih. Gadis itu kembali menangis dan menatap gambar – gambar Darrel dengan senyum yang miris. Luna menyadari, bahkan sejak awal, Darrel selalu mengorbbankan kebahagiaannya demi Luna.
" Kak Darrel yang selalu sayang sama Lo Lun, bahkan dia berusaha menerima Lo yang masih suka sama Radith. Tapi apa yang Lo kasih buat dia? Lo bahkan Cuma bisa kecewain dia Lun. Lo gak bisa bikin dia bahagia dan bahkan Lo gak tahu dia dimana, pacar macam apa?" tanya Luna pada dirinya sendiri. Luna mulai terduduk dan menangis sedih.
" kenapa Lo baru sadar saat dia gak ada? Kenapa Lo baru sadar Lo sayang sama dia saat dia udah gak tahu dimana? Saat dia bahkan ada di kondisi seperti ini, kenapa Lo baru sadar? Kenapa Lo baru mau bikin hati Lo mengakui kalau Lo udah sayang sama dia? Kenapa Lo masih maksain buat suka sama Radith? Untuk apa Lun?"
Entah mengapa Luna yang sejenak memejamkan matanya, dia hanya bisa melihat wajah Darrel di sana. Itu artinya dia sudah benar – benar jatuh cinta pada Darrel kan? Itu artinya dia sudah memberikan sepenuh hatinya untuk lelaki itu kan? Itu artinya dia tak lagi menyukai Radith kan?
' Kamu sudah bertumbuh dengan sangat baik. Dari peri kecil yang lucu, menjadi puteri cantik yang menawan. Mari terus bertumbuh bersama, lalui setiap hari sampai hari tua nanti.' Luna membaca tulisan itu dengan hati – hati, dia takut dia salah membaca dan menjadi salah paham dengan semua.
Tiba – tiba saja sebuah lampu tumblr yang sudah disusun membuat Luna terpaku seketika. Bukan karna keindahan lampu itu, namun apa yang tertulis di sana. Luna masih tak paham apa maksudnya, Luna masih mencoba untuk memahami situasi yang terjadi saat ini. Lampu menyala terang membuat Luna bisa melihat semua yang ada di sekelilingnya.
" Will you marry me Lunetta?" Luna langsung membalikkan badannya dan menatap sesosok yang berdiri tegak sambil membawa sebuah kotak perihasan berisi cincin berlian. Lelaki itu berjalan mendekat, namun Luna malah ketakutan dan memundurkan langkahnya.
" Aku masih hidup. Kaki aku masih napak nih, kenapa kamu kaget banget gitu?" tanya orang itu yang membuat Luna memandang kaki orang itu dan menunjukkan wajah terkejutnya. Gadis itu menunjuk ke arah kaki orang itu dan tak bisa mengatakan apapun, membuat lelaki itu paham dan langsung berjalan ke arah Lunetta lalu mendudukkan gadis itu ke salah satu kursi.
" Aku gak pernah cacat. Waktu operasi hari itu aku Cuma operasi ringan dan semua baik – baik aja. Aku sengaja minta dokter buat ngomong kayak gitu karna aku mau tahu reaksi orang di sekitarku. Terutama kamu, aku mau lihat bagaimana reaksi kamu punya tunangan cacat kayak aku."
" Aku udah dengar semua yang kamu omongin di dapur atau di sini tadi. Aku dengar semuanya. Terima kasih karna pada akhirnya kamu bisa kasih seluruh hati kamu buat aku. Terima kasih karna kamu udah mau percaya sama aku. aku sangat berterima kasih untuk itu."
" Apa kamu mau terus percaya sama aku di kemudian hari? Terus sayang sama aku dan menghabiskan sisa hidup kita bersama? Apa kamu mau menikah sama aku? nanti kita bisa punya anak enam. Atau tujuh kalau kamu kuat ngelahirinnya. Kamu mau kan?" tanya Orang itu dengan nada lembut yang membuat siapapun akan meleleh.
" KAK DARREL JAHAT! KAK DARREL UDAH BIKIN TAKUT LUNA! KAK DARREL JAHAT." Ah, sepertinya Luna bukan bagian dari 'siapapun', gadis itu sama sekali tak luluh, malah meluapkan semua amarah dan kekesalannya dengan memukul Darrel menggunakan bunga yang ada di meja itu. Untung saja hanya bunga, coba kalau Darrel meletakkan tongkat baseball di sana, apa yang terjadi?
" Maaf udah bikin kamu bingung, udah bikin kamu khawatir dan bahkan udah bikin kamu nangis kayak gitu. Aku juga merasa tersiksa harus sejahat ini sama kamu, makanya aku janji sama kamu, setelah ini aku akan perlakukan kamu seperti puteri, aku akan tebus semua luka kamu dengan kebahagiaan," ujar Darrel yang membuat wajah Luna memerah.
" Luna gak mau menikah sama Kak Darrel. Enggak sampai kak Darrel mau pakai costum badut dufan dan bagiin balon ke anak – anak yang ada di sana," ujar Luna dengan asal. Lelaki itu malah mengangguk yakin dan menarik tangan Luna dengan semangat.
" Aku bakal lakuin itu besok, sekarang kamu pakai dulu cincinnya dan sebentar lagi kita akan menikah. Kita bakal punya anak enam, anak pertama laki – laki," ujar Darrel yang membuat Luna terkejut seketika. Gadis itu menggelengkan kepalanya kuat dan langsung menarik tangannya yang belum terpasang cincin.
" Luna maunya anak perempuan yang pertama, biar Luna punya teman shopping, Luna punya teman buat ghibah, Luna punya teman buat diajak kemana – mana," ujar Luna dengan imutnya. Darrel memasang wajah tak suka dan kini kembali menggelengkan kepalanya. Membuat Luna mengangkat alisnya dan menunggu apa yang hendak dikatakan lelaki itu.
" Kalau anak pertama laki – laki, kamu punya orang yang bisa jagain kamu. Aku mau anak kita laki – laki biar bisa jagain kamu. Nanti anak kedua baru deh perempuan," ujar Darrel yang masih tak disetujui oleh Luna, mereka tetap ngotot satu sama lain dengan opini mereka. Membuat mereka berdiam beberapa saat sampai akhirnya mereka saling berpandangan.
" Kenapa gak kembar yang satu laki – laki yang satu perempuan?" usul Luna sambil menunjuk ke arah Darrel. Lelaki itu tampak berbinar dan langsung setuju dengan usul Luna. Mereka melakukan tos dan tertawa bersama. Saat tertawa mereka mereda, Darrel kembali mengambil tangan Luna dan meletakkan cincin yang dia siapkan ke jari tengah gadis itu.
" Jari manis, kamu jangan iri ya, bentar lagi kamu juga bakal ada yang temenin kok," ujar Darrel yang mengelus punggung tangan Luna dan mengecupnya. Mereka memandang taman belakang Darrel yang sudah ditutup entah menggunakan apa sehingga seperti ruangan tertutup dan bukannya sebuah halaman. Lelaki itu mempersiapkan semua dengan sangat matang.
" Kita gak akan tahu apa yang ada di depan kita Lun. Tapi apapun yang terjadi, aku harap kamu bisa percaya sama aku. Percaya kalau aku akan tetap sayang sama kamu sampai kapanpun."
" Ya, Luna janji Luna akan percaya akan hal itu."