Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 83



Kondisi Darrel kian membaik, rupanya ginjal yang bahkan tak sampai lima puluh persen itu bisa diterim aoleh tubuh Darrel. Terlebih lelaki itu memiliki keinginan kuat untuk sembuh dan sadar, hal itu tentu membuat semua orang melega. Kini mereka tak perlu khawatir dengan masalah yang sempat 'mengganggu' mereka.


Luna duduk dengan kalem di sofa sementara ketiga orang tua masih berdiri mengelilingi Darrel. Luna masih tidak terbiasa dengan kehadiran orang tua Darrel. Bukan tak ramah, mereka bahkan terlalu ramah dan malah membuat Luna takut, Luna takut mengecewakan mereka dan mereka jadi tidak suka pada Luna. Gadis itu berusaha menjaga Imagenya di deoan orang tua Darrel.


" Anak Mami yang paling hansome, kenapa kamu sampai seperti ini loh nak? Kamu pasti kebanyakan minum wine yang murah ya? Mami udah bilang buat beli yang mahal, kamu malah seperti itu. huh, mami kecewa," ujar Nyonya Atmaja yang membuat Darrel meringis. Ibunya sudah tua, namun sikapnya jauh lebih parah dari Luna.


" Ah, pantas saja kau selalu sabar menghadapi anak Om yang ajaib. Ternyata Ibumu jauh lebih paarah dari anak Om. Ck, ck, ck, Aku turut berduka kau memiliki istri seceria ini," ujar tuan Wilkinson yang membuat Nyonya Atmaja memeloti tuan Wilkinson, mereka kembali tertawa setelah itu.


" Ah, tunggu. Kau bilang anakmu ajaib? Ajaib yang bagaimana?" tanya Nyonya Atmaja yang baru menyadari dia tak begitu mengenal Lunetta. Luna menatap ke arah Daddynya dan berharap daddynya tidak mengatakan hal yang buruk tentangnya. Namun Daddynya bahkan tak melihat ke arahnya, beliau malah melihat ke arah Darrel yang masih pucat.


" Dia tidak bisa masak, tidak bisa bersih – bersih, suaranya bahkan sampai bertingkat oktaf dan aku selalu pergi ke THT setelah bertemu Luna. Banyak sekali yang dia tidak bisa, namun banyak yang suka sama dia. Makanya aku bilang anakku itu ajaib," ujar Tuan Wilkinson dengan bangganya. Luna langsung menunduk malu sekaligus takut.


Sementara itu orang tua Darrel langsung melongo mendengar penjelasan tuan Wilkinson yang jujur dan tanpa beban. Orang tua Darrel menggelengkan kepalanya dan berjalan pelan ke arah Luna dengan bibir yang sedikit terbuka, seakan kaget dengan fakta itu. Ibu Darrel langsung duduk di sebelah Luna dan menatap gadis itu.


" Bagaimana bisa kita begitu mirip? Ah, kamu itu menantu idaman Tante. Darrel pasti sangat bahagia dan beruntung punya kamu. Fix sih ini, kamu menantu yang tante cari. Nanti jangan lupa kamu minta Darrel buat masakin kamu tiap hari, sama sewa banyak pembantu buat bersihin rumah, kamu nya tinggal nyalon tiap hari biar makin kinclong kayak tante."


Semua orang yang ada di situ langsung melongo melihat Ibu Darrel. Terutama Luna yang masih terkejut sifat buruknya itu justru disukai oleh Nyonya Atmaja. Luna sampai meringis dan tersenyum canggung karna tak tahu harus menjawab apa. Nyonya Atmaja hanya tertawa melihat Luna yang bingung seperti itu.


" Hahaha, tante tidak mencari menantu yang muluk – muluk, karna tante juga bukan istri yang sempurna. Asalkan kamu bisa cinta sama anak tante dan kamu bisa buat dia bahagia, tante pasti suka sama kamu dan merestui kamu. Jadi kamu gak usah mikir bagaimana menjadi menantu yang baik," ujar Nyonya Atmaja yang berubah menjadi lembut.


" Tapi, kalau kamu mau jadi menantu yang super baik. Kamu harus mau temenin tante ke salon, ke butik, ke tempat perawatan dan habiskan uang keluarga Atmaja. Tante bakal bahagia dan bangga punya menantu seperti kamu," ujar Nyonya Atmaja dengan bangga dan tanpa beban.


Di saat orang tua lain ingin mencari yang terbaik bagi anaknya, di saat orang tua lain mencari menantu yang bisa hemat dan berpikir luas untuk masa depan, Ibu Darrel malah berpikir untuk mencari orang yang bisa menghabiskan harta keluarganya. Apa mantan Darrel tidak menyesal saat ini? hahaha.


" Jangan ikuti kata tante, Darrel belum sehebat Om, kasihan dia kalau bangkrut, nanti kalian malah tinggal di kontrakan kecil, kamu pakai daster compang – camping, dan hidup susah. Kamu mau seperti itu?" tanya tuan besar Atmaja yang membuat Luna mndongak, namun kini papa Luna yang tampak tak terima dan memandang tuan Atmaja dengan kesal.


" Hei, apa kau pikir keluarga Wilkinson akan membiarkan Luna mengalami hal itu? kau pasti bercanda jika kau berpikir seperti itu. Bahkan jika aku pensiun saat ini, aku masih bisa menghasilkan banyak uang dan aku pastikan anakku tidak akan hidup susah," ujar tuan Wilkinson dengan sombongnya.


" Hei, kau bahkan memakai tenaga anakku untuk mengembangkan bisnismu. Bahkan kau memiliki anak yang hebat, pasti dia yang membuat usahamu sampai sebesar sekarang? Aku tidak salah kan?" tanya Tuan Atmaja yang membuat tuan Wilkinson tertawa keras, dia tidak menyangka jawaban itu keluar dari mulut tuan Atmaja.


" Kau benar, aku memiliki anak dan kini aku akan memiliki menantu yang hebat. Aku yakin bisnisku akan jauh berkembang dan aku menjadi perusahaan yang super power. Apalagi jika perusahaanku bergabung dengan perusahaanmu. Itu cita – cita kita saat kita hanya sebatas penjual di sebuah ruko," ujar Tuan Wilkinson yang kini membuat Darrel dan Luna terkejut.


" Jadi, Daddy udah kenal lama sama papanya kak Darrel? Kenapa Daddy baru bilang sama Luna sekarang?" tanya Luna yang membuat tuan Wilkinson mengedikkan bahunya, beliau melihat ke arah tuan Atmaja dan meminta Tuan Atmaja yang menjelaskan pada Luna. Tuan Atmaja yang mengerti kode itu langsung menganggukkan kepalanya.


" Om dan papa kamu pernah berteman dulu waktu SMP, kami memang sama – sama punya ambisi ingin jadi penguasaha di saat teman – teman kami ingin menjadi polisi dan dokter. Karna ambisi yang sama itu kami sering berjualan bersama. Waktu SMA, Om dan Papa kamu menyewa Ruko untuk mulai berbisnis, modalnya pun pinjam dengan orang tua."


" Padahal orang tua kami cukup kaya, tapi kami gak mau dan emang pingin semua dari usaha kami sendiri, jadi kami modal nekat saja berani meminjam modal dan berjualan. Om juga menerapkan itu untuk Darrel jadi dia bisa berdiri di atas kakinya sendiri."


" Kami membuka toko sekaligus warung karna Om pintar masak, nah papa kamu bagian yang melayani dan kasir sekaligus. Tapi itu hanya satu tahun. Setelah itu Om harus pindah ke luar negeri dan baru kembali ke Indonesia saat Darrel dan Dara lahir. Om juga melewati banyak hal yang berat jadi Om sudah kehilangan kontak dengan papa kamu."


" Waktu Daddy tahu kamu pacaran sama Darrel, Daddy langsung lacak latar belakang keluarga dia, dan siapa sangka ternyata dia anaknya Atmaja, Atmaja yang papa kenal. Papa jadi mendukung kamu dan dia, tapi papa gak mau bilang dan biarkan kalian menikmati proses kalian sendiri," ujat Tuan Wilkinson yang membuat Luna tersenyum.


" Memang semua adalah takdir dari Tuhan. Bahkan Luna dan Drrel bisa dekat tanpa kita menjodohkan mereka. Sangat mengagumkan," ujar tuan Atmaja yang membuat Darrel tersenyum melihat ke arah Luna. Hal itu diketahui oleh Nyonya Atmaja. Nyonya Atmaja langsung berdiri dan menarik suaminya untuk keluar dari dalam ruang itu, tuan Wilkinson juga mengikuti langkah keluarga Atmaja.


" Aku bahagia banget akhirnya semua berakhir dengan baik. Bahkan jauh lebih baik dari yang aku duga," ujar Darrel saat kamar ini sudah sepi. Luna langsung berdiri dan duduk di samping Darrel yang masih berbaring. Luna menatap wajah Darrel yang tampak lebih bersinar kali ini.


" Semoga ke depannya semua makin baik terutama buat kita, dan semoga gak akan ada lagi kejadian menyedihkan yang ada di antara kita kak. Luna capek nangis – nangis terus kak," ujar Luna yang membuat Darrel mengulurkan tangannya dan mengelus kepala Luna dengan lembut.


" Ah iya, kenapa kak Darrel bikin video kalau kak Darrel udah meninggal? Kenapa kak Darrel kirim video itu ke Luna padahal kak Darrel belum meninggal? Kak Darrel sengaja lakuin itu biar Luna sedih? Padahal Luna lagi ulang tahun loh," ujar Luna yang membuat Darrel terkaget. Lelaki itu tampak mengingat – ingat dan langsung membuka mulutnya.


" Aku minta tolong ambilin ponsel aku di nakas itu dong, itu disitu," ujar Darrel yang menunjuk ponselnya. Luna mengambil ponsel itu dengan bingung dan Darrel menerima ponsel itu dengan senyum, lelaki itu langsung memencet tombol yang ada di sana dan membuat mode loadspeaker.


" Iya, gue tahu Lo mau tanyain soal video di FD. Asli, gue lupa kalau gue ninggalin tuh amplop di kamar Luna. Tadinya gue Cuma mau ngecek kamar Luna, eh malah gue tinggal. Asli, gue gak maksud bikin dia nangis karna ngira Lo dah mati, tapi dia terlanjur nonton, ya udah gue diemin aja."


" Lo gak usah bilang sama Luna, gue gak mau dia ngamuk – ngamuk apalagi sampai ngadu sama bokap. Bisa habis gue kalau bokap tahu, bisa dikira gue sengaja ngerjain Luna." Darrel menatap ke arah Luna dan sedikit tertawa geli, sementara Luna sudah memerah karna kesal.


" BANG JORDAN! Kak Darrel gak usah ngomong sama Luna, Luna udah dnegar semua. Kok Bang Jordan tega banget sih gak langsung ngomong ke Luna waktu itu dan malah bikin Luna mikir yang macam – macam?" tanya Luna yang tak dijawab oleh Jordan. Bahkan panggilan telpon itu langsung terputus setelah Luna menyelesaikan kalimatnya.


" Bukan aku loh yang salah. Aku Cuma mengantisipasi kalau memang pas ulang tahun kamu, akau gak bisa bertahan. Waktu itu aku benar – benar kesakitan dan udah ngerasa waktuku sebentar lagi. Tapi gak tahu gimana, aku Cuma ngebayangin kamu selama aku gak sadar dan itu kasih aku kekuatan banget," ujar Darrel yang membuat Luna tersenyum manis.


" Ya udah, yang penting smeua udah clear, semua udah jelas dan semua udah berlalu. Luna bahagia banget masih bisa lihat kak Darrel di sini," ujar Luna yang membuat Darrel tersenyum aneh. Darrel menatap ke arah pintu sejenak dan kemudian menatap ke arah Luna lagi.


" Yakin kamu udah puas dapat hadiah ulang tahun kayak gini? Kamu udah puas Cuma lihat aku sadar di sini?" tanya Darrel yang membuat Luna mengernyitkan dahinya. Darrel memberi kode dan kemudian pintu kamar itu terbuka. Luna langsung melongo melihat beberapa orang terkasihnya membawa kue beserta lilin ulang tahun.


" Selamat ulang tahun Lunetta. Maaf ya acaranya terlambat, kita harus tunggu Darrel pulih biar pesta ini akan speenuhnya bahagia," ujar tuan Wilkinson yang membuat Luna terharu. Gadis itu menatap ke arah Darrel yang tersenyum memandangnya. Mereka melakukan acara khas perayaan ulang tahun.


" Kak Darrel gak boleh makan kue kan ya? Kak Darrel lihat aja Luna makan ya, Luna bakal kasih tahu rasanya ke kak Darrel biar kak Darrel bisa bayangin rasanya," ujar Luna dengan riangnya. Darrel sampai terkekeh mendengar pernyataan khas Lunetta, namun lelaki itu langsung cemberut dalam sesaat.


" Aku gak mau, aku mau makan juga, tapi bekas kamu aja biar gulanya berkurang," ujar Darrel dengan santai, namun langsung mendapat tatapan tajam dari tiga orang dewasa yang ada di sana. Darrel langsung tertawa canggung karna sikapnya sendiri. Dia lupa jika di sini ada orang lain dan dia tidak bisa menggoda Luna sesuka hatinya.


" Enak aja minta anak Om melakukan hal yang seperti itu. Jangan kamu menodai pikiran polosnya. Halalkan dulu, baru lakukan sesukamu," ujar tuan Wilkinson yang diacungi jempol oleh Nyonya dan tuan Atmaja. Darrel mengangguk dan menatap ke arah Luna dengan tatapan serius yang mematikan sekaligus memabukkan.


a


" Nih," ujar Jordan sambil mengulurkan sebuah kotak yang diberikan oleh Jordan. Darrel langsung membuka kotak itu yang di dalamnya terdapat sebuah cincin yang sangat indah. Bahkan Luna sampai terkagum dengan keindahannya, padahal Luna sudah sering membeli cincin emas bertabur berlian untuk tabungannya. Namun desain cincin ini sangat unik dan Luna menyukainya.


"Lunetta Azura. Aku tahu aku banyak kekurangan dan di waktu lalu aku sering nyakitin kamu. Tapi kamu harus tahu, bahkan sampai detik ini, hanya kamu yang bisa membuat desir dalam darahku berjalan dengan aneh. Bahkan membuat detak di jantungku terus memaksa untuk berpacu meski ragaku tak sanggup lagi."


" Kamu yang sudah bantu aku lolos dari kematianku dan kamu yang bisa membuat aku bernapas sampai detik ini. aku bisa lihat wajah kamu dan aku bisa mengagumi ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna Ini. Lunetta, maukah kamu mengijinkan aku untuk memiliki seutuhnya ciptaan Tuhan yang ada di diri kamu?"


" Mau kah kamu menjadi bagian dalam hidupku, dari detik ini sampai akhir napasku? Ijinkan aku juga menjadi bagian dalam setiap langkahmu. Mau kah kamu menjadi Istri yang paling kukasihi?" tanya Darrel yang membuat Luna membatu.


Tuan Wilkinson tersenyum haru melihat salah satu anaknya sudah akan mengikuti jejak kakaknya. Nyonya dan Tuan Atmaja tampak kagum karna anaknya bisa seromantis itu, padahal Darrel anak yang cukup dingin pada orang lain termasuk orang tuanya. Mereka kini berharap jawaban dari Luna karna gadis itu hanya diam dan tak merespon apapun.


" Luna.. Luna mau kak. Luna mau," ujar Luna setelah berdiam hampir selama tiga menit ( Jordan melihat angka di arlojinya karna Luna hanya terdiam dan suasana di kamar itu menjadi hening). Darrel langsung menghembuskan napasnya dengan lega saat tahu jawaban Luna.


" Terima kasih banyak. Mari mencinta untuk waktu yang lama," ujar Darrel sambil memakaikan cincin cantik itu ke jari Luna.


" Asyik. Mami mau punya cucu, mami mau punya cucu sepuluh, biar bisa main voli dan cadangannya empat!" pekik nyonya Atmaja yang membuat suasana haru itu pecah dan menjadi gelak tawa.


Sepertinya prediksi mereka tepat.


Luna akan cocok dengan Ibu mertuanya.