Hopeless

Hopeless
Chapter 176



"Ataksia adalah gangguan gerakan tubuh yang disebabkan masalah pada otak. Saat terserang ataksia, seseorang sulit menggerakkan tubuh seperti yang diinginkan atau anggota tubuh dapat bergerak di saat tidak diinginkan. Dengan kata lain, ataksia berarti juga gangguan saraf atau neurologis yang berpengaruh pada koordinasi, keseimbangan, dan cara bicara."


"Banyak kondisi yang dapat menyebabkan kerusakan bagian otak yang mengatur koordinasi otot. Kondisi tersebut bisa berupa kecanduan alkohol, penyakit, faktor genetik, atau konsumsi obat tertentu."


"Dalam hal ini Lunetta didiagnosis menderita Ataksia Friedreich, Ataksia Friedreich merupakan salah satu penyakit saraf degeneratif yang memengaruhi sistem saraf dan jantung. Ataksia Friedreich merupakan penyakit yang bersifat genetik dan diwariskan melalui kromosom autosom dengan gen bersifat resesif."


"Tapi ini masih diagnosis awal, untuk peninjauan lebih lanjut terhadap diagnosis, pasien harus mengikuti beberapa tahap Diagnosis yaitu Peninjauan riwayat medis, Pemeriksaan kondisi fisik, Pemeriksaan konduksi saraf, Elektrokardiografi (EKG), Ekokardiografi, Pemindaian MRI."


" Kondisi pasien sekarang sudah stabil, dia hanya perlu waktu untuk meredakan shock, jangan lupa untuk terus meminum obat yang diberikan, mengingat kondisi pasien yang tidak dapat diprediksi. Mohon untuk pihak keluarga jauh lebih memperhatikan pasien, terutama saat sedang kambuh," ujar dokter setelah memeriksa kondisi Luna. Beliau menuliskan beberapa resep baru yang diperlukan untuk pemulihan kondisi Luna.


Baik Jordan maupun Mr. Wilkinson, mereka mengangguk pasrah dan lesu, bagaimana tidak? Akhirnya kondisi Luna terungkap dan mereka mengetahui bahwa kondisi Luna memburuk. Mereka kira jika Luna berpikiran positif dan tak mengetahui keadaannya, gadis itu bisa hidup dengan tenang dan melupakan penyakit ini, hingga penyakit ini yang akhirnya menyerah padanya.


" Memang gak ada cara untuk Luna bisa sembuh ya dok? Berapa pun biayanya akan saya tanggung dok," ujar Mr. Wilkinson entah ke berapa kalinya, beliau masih berharap jika ada cara untuk menyelamatkan nyawa putrinya dan mengembalikan kondisi Luna seperti sedia kala. Bahkan beliau rela menyerahkan seluruh harta miliknya jika memang itu diperlukan.


" Maaf, untuk saat ini tidak ada obat untuk penyakit ataksia, tinggal bergantung pada kondisi dan daya tahan tubuh pasien, ada beberapa pasien yang bisa melewati penyakit ini sampai belasan tahun meski sesekali kambuh, bisa saja kondisi Lunetta juga seperti itu, jadi kita semua berdoa saja yang terbaik untuk Luna."


Dokter itu pamit untuk pergi dan membiarkan Jordan serta Mr. Wilkinson untuk masuk ke kamar Luna. Gadis itu tampak kacau, kondisinya yang masih pingsan membuat gadis itu tampak kasihan. Lingkar mata yang menghitam dan wajah yang tampak tirus. Hal itu tentu membuat hati Mr. Wilkinson jadi teriris. Tak mungkin dia mau untuk kehilangan malaikatnya satu lagi, dia akan mempertahankan Luna bagaimanapun caranya.


" Pa, bagaimana Luna bisa menerima semua kondisi ini? Jordan takut jika Luna gak bisa terima semua, Jordan takut, Jordan takut," ujar Jordan dengan gagap dan tak sanggup melanjutkan kata – katanya. Mr. Wilkinson langsung mengepalkan tangannya dan mendekat ke arah Luna, tak menghiraukan apa yang Jordan katakan.


" Lunetta memang tak akan bisa menerima kondisinya, kayak kamu gak tahu aja adik kamu ini gimana, itu tugas kamu buat meyakinkan dia kalau dia bakal baik – baik aja, meyakinkan dia kalau semua akan berlalu dan dia akan pulih. Toh masih besar harapannya karna Luna masuk dalam faktor keturunan," ujar Mr. Wilkinson sambil mengelus kepala Luna.


" Jordan bakal stay di Indonesia aja pa, biar Jordan tunda S3 nya dulu, bagaimanapun Luna akan tetap jadi prioritas Jordan, " Ujar Jordan dengan lembut dan memperhatikan Luna yang mulai bergerak. Gadis itu menggeliat dan mulai mmebuka matanya, menatap Jordan dan Mr. Wilkinson yang juga menatapnya dengan penuh senyum.


" Daddy, bang Jordan, Luna tadi mimpi seram banget, Luna mimpi kalau Luna sakit dan Luna gak bakal bisa sembuh, untung aja semua Cuma mimpi dad," ujar Luna melega dan mengelus dadanya yang sempat berdebar karna mimpi itu.


" Luna sayang, Luna janji ya sama daddy Luna bakal bertahan. Selalu berpikiran posisif, Daddy akan cari sampai ke ujung dunia untuk menemukan metode penyembuhan yang pas buat Luna. Luna janji ya akan bertahan untuk Daddy, untuk bang Jordan, untuk Danesya dan untuk diri Luna sendiri, ya?" tanya Mr. Wilkinson dengan sangat lembut dan penuh perhatian.


" Maksud Daddy semua itu bukan mimpi ya dad? Maksud Daddy semua yang terjadi sama Luna itu nyata? Maksud daddy, maksud daddy, Luna, Luna beneran sakit? Luna gak akan pernah bisa sembuh? Daddy." Mata Luna kembali berkaca – kaca setelah menangkap maksud dari daddynya. Gadis itu mulai meneteskan air matanya dan membayangkan hal burruk yang akan menimpanya.


" Luna mau sendiri dad, Luna mau sendiri," ujar Luna memalingkan mukanya dan enggan menatap siapapun. Tuan Wilkinson dan Jordan paham, Luna perlu waktu untuk menerima semuanya, mereka memutuskan untuk kelaur dan memberikan Luna ruang untuk menenangkan pikirannya. Cepat atau lambat gadis itu harus menerima semua dan berjuang untuk mengalahkan penyakit itu.


" Luna, ini udah jam makan siang, kamu harus makan sayang. Kamu mau makan apa? Abang bakal bilang ke chef buat siapin segera. Kamu mau makan apa, ayo sebutin aja," ujar Jordan dari balik pintu, lelaki itu tak berani membuka pintu yang sebenarnya tak dikunci itu, apalagi Luna belum memberinya ijin untuk masuk.


" Abang masuk aja, sekalian Luna mau bicara," ujar Luna yang membuat Jordan membuka pintu dan masuk dengan takut – takut ke arah Luna. Sebenarnya tingkah lelaki itu sangat menggemaskan, namun Luna tidak dalam mood yang baik untuk mengomentari hal itu.


" Abang, Luna mau berhenti sekolah aja ya," ujar Luna yang tentu membuat Jordan terkejut. Gadis itu mengatakannya tanpa beban dan bahkan tak ada rasa penyesalan sedikitpun. Apakah gadis itu mengerti arti dari ucapannya? Jika emengerti, mengapa gadis itu masih saja menyuarakan niatnya?


" Gak bisa Luna, kamu gak bisa keluar sekolah gitu aja, kalau keluar kamu harus mengulang dari kelas satu. Kamu harus memulai semua dari awal. Kamu gak bisa lakuin itu, kondisi kamu tuh gak parah sayang, abang yakin kamu bisa lewatin itu semua, abang yakin kamu akan baik – baik aja," ujar Jordan yang langsung menggenggam tangan Luna. Gadis itu mulai sesenggukan lagi.


" Untuk apa Luna bertahan di sana bang? Toh setelah lulus Luna gak akan bisa apa – apa, apalagi untuk tes kesehatan pun Luna udah gak lulus kan kalau sekarang? Luna rasa akan membuang waktu kalau Luna tetap bersekolah di sana dan Luna gak bisa lakuin itu," ujar Luna yang keukeuh dengan pendiriannya dan tak menghentikan air matanya.


Hatinya hancur, batinnya terluka menerima semua kenyataan ini. Dia tak bisa melakukannya lagi. Dia tak bisa bersikap seolah dia akan baik – baik saja, terlebih setelah tadi dia sempat mendengar apa yang dikatakan oleh papa dan abangnya, seakan tak ada harapan lagi dia bisa sembuh. Luna akan menerima hal ini? Yang benar saja, kalian coba pikir bagaimana perasaan Luna, bagaimana hancurnya Luna mengetahui hal ini.


" Udah, itu bisa diomongin nanti, kamu makan dulu ya, terus minum obat biar bisa pulih," ujar Jordan setelah menggelengkan kepalanya pelan agar tak membahas masalah ini lebih lanjut. Lebih baik jika Mr. Wilkinson lah yang memberi nasehat Luna mengenai sekolahnya. Luna pun menggeleng, enggan untuk makan apalagi meminum obat.


" Kok gak mau? Abang bawain bubur? Atau pizza? Atau kamu mau apa? Sup? Kamu harus makan Lun, abang gak mau malah kamu tambah drop, kamu tambah sakit," ujar Jordan yang masih halus pada Luna. Gadis itu masih keukeuh menolak makan dan memilih untuk kembali tidur membelakangi Jordan.


" Luna mau tidur, Luna gak mau diganggu dulu, abang bisa keluar sekarang?" tanya Luna tanpa berbalik dan menutupi selimut sampai ke kepala. Jordan menyerah dan langsung bangkit dari sana keluar dari kamarnya yang dipakai oleh Luna. Jordan tahu akan sangat berat bagi Luna untuk menerima ini semua, namun Luna tak boleh terpuruk terlalu lama, semua malah akan menjadi lebih buruk nantinya.


" Rel, gue bener – bener butuh bantuan Lo, gue udah nyerah nyuruh dia makan, kalau gini terus dia tambah sakit, kalau Lo luang Lo tolong ke sini dan bujukin Luna, please ya Rel," ujar Jordan setelah panggilan telponnya diangkat oleh orang yang ada di seberang sana. Jordan mematikan panggilan telpon dan berjalan dari sana setelah menatap pintu kamar yang sudah tertutup rapat itu.


*


*


*


Darrel langsung bergegeas ke rumah Luna setelah mendapat panggilan dari Jordan. Lelaki itu langsung masuk ke rumah Luna dan berjalan ke dapur. Dengan sigap dia meracik sayuran dan ayam yang dia buat sop spesial. Lelaki itu menghidangkannya di sebuah mangkok dan segera membawanya ke lantai dua dimana Luna berada.


Tanpa mengetuk atau sekadar memanggil, lelaki itu masuk ke dalam kamar dan melihat seonggok daging tertutup selimut yang tampaknya membelakanginya. Darrel berjalan pelan ke arah Luna dan meletakkan nampan berisi sop ayam, minumnya susu hangat dan air putih yang membantunya untuk meminum obatnya. Bahkan di nampan itu sudah ada obat yang harus diminum Luna.


" Luna, aku udah bawa sop ayam, kamu makan dulu yuk, aku suapin," ujar Darrel menggoyangkan badan Luna pelan. Gadis itu bereaksi, dia langsung bangkit dan menatap ke arah Darrel. Luna sangat berantakan, wajah gadis itu dipenuhi air mata dan ingus. Gadis itu tidak tidur sama sekali, dia hanya tak mau diganggu oleh siapapun.


" Kak Darrel," ujar Luna pelan sambil sesenggukan. Tangisnya pecah seketika, melihat hal itu Darrel langsung sigap membawa Luna ke pelukannya, membiarkan gadis itu menumpahkan semua gesilahnya, membiarkan gadis itu mencurahkan semua lukanya.


" Kamu gak perlu cerita apapun, aku udah tahu semua, kalau kamu cerita nanti kamu tambah sedih, sekarang kamu boleh nangis sepuasnya, habis itu makan yah, aku suapin. Tapi nangisnya jangan lama – lama, nanti supnya keburu dingin," ujar Darrel yang diangguki oleh Luna. Gadis itu meneruskan aktivitasnya dan menangis hingga tersedu – sedu. Darrel pun tak mengatakan apapun, hanya mengelus Rambut Luna agar gadis itu merasa nyaman.


Perlu menunggu untuk beberapa menit sebelum akhirnya Luna menghentikan tangisnya dan melepaskan pelukannya dari Darrel, gadis itu mengelap semua ingus dan air matanya menggunakan tangan, lalu membersihkannya dengan baju Darrel sebagai lap. Bukannya marah, lelaki itu malah terkekeh melihat perbuatan Luna yang sangat kekanakan. Gadis itu selalu bisa membuat harinya yang kacau jadi berwarna.


" Udah marahnya? Udah jelek tuh mukanya, makan dulu ya, sop ayam buatan babang Darrel pasti bikin neng Luna berselera dan mau tambah," ujar Darrel yang berdiri lalu mengambil nampan yang ada di sana membawanya ke dekat kasur agar Luna bisa makan. Dengan sabar Darrel menyuapi Luna seperti ayah yang menyuapi anaknya, selayaknya anak manis, Luna menghabiskan sop itu dengan nikmat.


" Sekarang kamu mau minum susu gak? Kalau mau diminum, kalau enggak kamu minum obatnya biar cepat pulih," ujar Darrel yang membuat Luna kembali sedih, gadis itu menatap enggan semua obat yang ada di sana, dia masih tak memiliki niat sedikitpun untuk menyentuh apalagi meminum semua obat yang ada di sana.


" Kamu harus minum obat ini biar gak kambuh dan perlahan penyakit itu hilang. Gini aja deh, kamu minum obatnya, terus setiap butir obat yang kamu minum bakal aku ganti pakai permintaan. Di sini ada enam butir yang harus kamu minum, kalau kamu minum semua, aku bakal kasih kamu enam permintaan, apapun itu," ujar Darrel dengan senyum yang merekah. Luna tampak tergoda dengan penawaran Darrel.


Gadis itu akhirnya memasukkan satu persatu obat yang ada di sana, menggunakan air putih sebagai pelarut yang membantu obat itu masuk ke tenggorokannya. Luna tersenyum lebar setelaah meminum semua obatnya, karna akhirnya dia punya enam permintaan penuh yang akan dituruti oleh Darrel.


" Nice girl, sekarang kamu ada permintaan apa?" tanya Darrel dengan wajah antusiasnya, Luna tampak berpikir dan menggelengkan kepalanya.


" engga sekarang deh kak, nanti aja kalau kepikiran. Luna lagi gak mau apa – apa, Luna Cuma mau diem aja di sini, Luna malas kalau harus keluar kamar," ujar Luna yang membuat Darrel kembali bersedih.


" Ayo kita ke balkon," ujar Darrel yang langsung menarik Luna untuk turun dari kasur dan keluar ke arah balkon kamar Jordan.


Darrel duduk di lantai dan meminta Luna untuk tiduran yang beralaskan kakinya. Lelaki itu mengelus kepala Luna yang melihat ke arah bintang gak gemerlap.


" Kamu lihat bintang itu? Bintang melambangkan harapan Lun. Selama bintang masih ada di langit, harapan itu pasti masih ada. Kamu gak boleh patah harapan, kamu gak boleh putus asa, kamu lihat, bintang di langit ada jutaan, bahkan ada milyaran, begitu juga harapan kamu untuk sembuh. If you believe it, You'll get it."


Luna mengangguk percaya dan mulai menatap bintang – bintang yang ada di sana. Hatinya sedikit melega mendengar apa yang Darrel katakan, meski sebenarnya dia masih tak mau percaya tentang kondisinya.


Darrel ikut menatap bintang di langit yang cerah ini, perlahan namun pasti Darrel akan membuat Luna bangkit, melawan penyakit ini dengan segala cara yang mereka punya. Darrel akan membuat Luna bahagia bagaimanapun caranya.