Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 22



Luna bangun dari tidurnya. Gadis itu melihat sekitar dimana Jordan sudah duduk di kursi dengan wajah yang tegang, sementara Radith tampak santai menanggapi setiap pertanyaan yang Jordan ajukan. Radith tampak masih kesakitan, namun dia berkata bisa menahan itu semua. Jordan bahkan harus berkali – kali memanggil Dokter untuk memastikan Radith baik – baik saja.


" Lo beneran gak kenapa – napa Dith? Lo gak terluka atau apapun? Tapi Lo kan tadi udah kehilangan detak jantung, masak habis itu Lo gak kenapa – napa? Lo gak ada ngalaim hal – hal gaib gitu gak Dith?" tanya Luna yang tak masuk akal, membuat Radith dan Jordan terdiam dan menatap satu sama lain.


" Lo ngomong apa sih? Ngelantur banget. Gue gak kenapa – napa, Cuma keseimbangan gue gak bisa normal buat sementara waktu karna saraf gue kena. Gak usah terllau khawatir," ujar Radith yang membuat Luna melongo dan langsung menatap ke arah Jordan untuk meminta penjelasan. Hal itu membuat Jordan langsung mengangguk membenarkan perkataan Radith.


" Ta.. tapi kenapa? Gue, gue gak mau Lo kenapa – napa, kenapa jadi kayak gini?" tanya Luna dengan sedih. Jordan yang sedari tadi sudah menahan amarah pun akhirnya meledak. Kepalanya pusing, semuanya berantakan dan bahkan Keysha nyaris celaka jika dia tak datang tepat waktu. Semua orang di sekitarnya celaka, bagaimana mungkin dia tak maarah?


Jordan langsung memanggil beberapa pengawal yang dia minta untuk menjaga Luna dan Radith. Luna cukup kaget karna Jordan memanggilnya dengan kasar dan tak sabaran. Pengawal itu datang dnegan takut, namun tetap berusaha berdiri tegak di hadapan bos besarnya. Jordan menatap pengawal itu dengan galak, membuat nyali pengawal itu jadi ciut.


" Sebaiknya Lo punya alasan yang bagus untuk smeua ini, kalau gak kepala Lo yang bakal jadi bayarannya. Lo tahu kan Radith itu berharga dan penting di keluarga gue?" tanya Jordan dengan pelan namun penuh penekanan. Luna sendiri sampai terdiam dan menunggu apa yang akan dilakukan oleh Jordan.


" Maafkan kami. Ini semua karna kelalaian kami dalam menjaga nona dan tuan muda. Kami pantas dihukum," ujar pengawal itu dengan penuh keyakinan. Jordan mengangguk puas dan langsung melayangkan tinjunya pada orang itu. Membuat orang itu langsung terpental, namun segera bangkit dan berdiri tegak meski bibirnya sudah berdarah.


" Udah lah bang, gak usah diperpanjang. Gue juga gak kenapa – napa. Gue masih bisa hidup. Lebih penting buat Lo kasih tahu gue siapa yang udah lakuin ini semua. Gak mungkin kan Lo belum tahu pelakunya?" tanya Radith yang membuat Jordan mengurut hidungnya agar rasa pening di kepalanya hilang.


" Lo boleh keluar. Lo harus pastikan ini yang terakhir, atau Lo akan melihat seluruh keluarga Lo mati di tangan gue," ujar Jordan yang disanggupi oleh orang itu sebelum keluar dari kamar inap Radith. Jordan kembali duduk dan menatap Radith yang masih menggunakan selang infus berisi darah untuk mengganti darah yang terbuang dari tubuhnya.


" Luna, kamu beliin makanan di kantin dulu bisa gak? Terserah beli jajan apa, yang penting camilan. Bisa kan?" tanya Jordan yang meminta Luna untuk keluar. Luna mengangguk dan segera bangkit dari tempatnya. Mungkin memang dia tak boleh ikut campur dengan masalah ini, maka dari itu Jordan memintanya untuk pergi.


" Kenapa sih gue gak boleh tahu? Padahal gue kan penasaran. Kalau gue tahu kan gue bisa jaga diri gue sendiri. Pada akhirnya gue juga yang dikorbankan, kenapa gak gue dikasih tahu dari awal? Menyebalkan," ujar Luna yang berjalan ke arah kantin dan duduk diam di sana.


" Hai, kok kamu diam aja sih di sini? Lagi jagain orang sakit?" tanya seseorang yang tiba – tiba saja muncul dari belakang tubuhnya. Gadis itu cukup tersentak dnegan kehadiran lelaki itu, namun segera mengubah air mukanya dan tersenyum tipis, membuat lelaki itu langsung duduk di hadapan Luna.


" Lagi banyak pikiran ya? Kenapa ke kantin sendirian? Cuma melamun pula," tanya lelaki itu dnegan ramahnya, Luna sendiri tak menjawab dan hanya tersenyum. Ingin memberi tahu lelaki itu bahwa dia tak nyaman dengan kehadiran lelaki itu. Apakah semua lelaki seperti ini? Kenapa terlihat sekali jika lelaki ini hanya modus dan ingin mendekati Luna.


" Permisi," ujar Luna yang tersenyum tipis, namun tangannya ditahan oleh lelaki itu saat dia hendak pergi dari sana. Sekali lagi, Luna dibuat tak nyaman oleh lelaki itu, Luna langsung memberi isyarat pada pengawalnya untuk mendekat dan menyelamatkannya. Pengawalnya pun tanggap dan langsung mencekal tangan pemuda itu.


" Woo, santai dong pak. Saya kan gak menyakiti dia. Kalau kamu keganggu aku minta maaf oke? Aku cuma ngerasa kamu butuh teman bicara dan aku bersedia jadi teman bicara kamu. Tapi kamu malah gak nyaman. Maaf ya, aku pergi sekarang," ujar lelaki itu dan tersenyum lalu melangkah menjauh. Luna hanya melihat lelaki itu dan membiarkannya pergi.


Lelaki itu menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Luna yang juga menatapnya. Lelaki itu menggaruk kepalanya dan benar- benar melangkah pergi dari sana. Membuat Luna akhirnya menghela napas lega dan segera pergi dari kantin menuju suatu tempat dimana dia bisa menghabiskan waktu sampai Jordan memanggilnya kembali.


" Dia kira Luna bakal panggil dia lagi. Dasar cowok kebanyakan baca cerita picisan. Pak antar Luna ke taman dekat sini aja ya pak. Luna suntuk di sini, Luna juga gak bisa masuk ke kamar Radith," ujar Luna yang diiyakan oleh pengawalnya. Gadis itu langsung berjalan ke arah parkir mobil dan meninggalkan rumah sakit setelahnya.


" Pak, tahu gak siapa yang udah nyelakain Luna sama Radith? Bapak kan orang kepercayaan bang Jordan, pasti bapak tahu sesuatu kan?" tanya Luna saat pengawal itu sudah mulai melajukan mobil ke taman terdekat sesuai permintaan Luna. Pengawal itu tampak bingung, karna dia tak boleh berbohong, namun dia juga tak bisa memberi tahu Luna.


" Maaf nona, saya sudah diminta oleh tuan Jordan agar tidak membocorkan identitas pelaku karna banyak faktor yang kami pertimbangkan, mohon nona mengerti," ujar pengawal itu yang membuat Luna memutar otaknya, dia harus mengetahui sesuatu, apapun itu.


" Bapak gak kasihan sama Luna yang terus menerus celaka? Bapak ingat gak Luna nyaris tewas karna kalian semua menyembunyikan fakta Lucy yang udah jahat sama Luna? Bapak mau di kemudian hari Luna mengalami hal seperti ini lagi?" tanya Luna dengan nada yang memelas, tentu saja hal itu membuat pengawal tadi terpengaruh.


" Bapak udah kerja sama keluarga Luna udah dari Luna bayi kan? Bapak anak buah pak Indra, jadi bapak pasti gak mau kan Luna kenapa – napa? Bapak gak mau Luna terus celaka kan pak? Makanya kasih tahu Luna biar Luna bisa berhati – hati pak," ujar Luna yang membuat pengawal itu makin bimbang.


" Baiklah nona, saya hanya bisa membertahu jika pelaku salah satunya adalah pengawal dari keluarga Wilkinson. Dia yang membocorkan informasi pada musuh hingga musuh bisa menyerang tepat waktu. Kami tidak bisa memberitahu nona karna jika hal ini bocor, kami takut pengawal itu akan kabur." Luna mengangguk – anggukan kepalanya, paham dengan situasi ini.


" Abang harus pulang sekarang, setelah ini abang juga bakal balik ke malaysia karna urusan abang belum selesai. Jadi kalian jaga diri baik – baik, terutama Lo Dith, dokter bilang fungsi mata dan keseimbangan Lo bakal memburuk beberapa waktu ini, Lo gak usah banyak tingkah," ujar Jordan dengan nada serius.


" Iya bang, gue bakal lebih jaga diri setelah ini. Lo juga jaga diri baik – baik, gimanapun target utamanya penerus resmi anggota keluarga Wilkinson, gue mah Cuma serpihan krikil yang mereka takut bakal jadi penghalang," ujar Radith yang diiyakan saja oleh Jordan. Jordan langsung pergi dari sana untuk menemui Keysha sebelum akhirnya akan kembali ke Negeri Jiran itu.


" Terima kasih karna Lo udah memilih buat selametin gue dibanding selametin diri Lo sendiri. Kalau gak ada Lo, mungkin gue udah masuk dalam peti dan masuk ke dalam tanah, terima kasih," ujar Luna dengan lirih dan kepala yang menunduk.


" Lo nangis? Lo gak usah nangis, gue gak bisa lihat wajah Lo dengan jelas. Gak bisa ngelakuin adegan romantis – romantis kayak di tv tv. Lo gak usah terlalu berterima kasih sama gue. Gue Cuma ngelakuin tugas gue, yang penting sekararang semua baik – baik aja, sebentar lagi juga gue pulih kok," ujar Radith dengan santai, namun tak cukup membuat Luna tenang.


" Gimana Lo bisa bilang Lo baik – baik aja saat kondisi kayak gini Dith? Lo bahkan terluka parah dan udah mati karna gue. Seandainya Lo gak berurusan sama gue dari awal, Lo gak akan pernah ada dalam bahaya kayak gini," ujar Luna yang membuat Radith tersenyum ringan kala mendengarnya. Lelaki itu meminta Luna untuk duduk karna sedari tadi Luna hanya berdiri.


" Sebuah takdir gua harus ketemu sama Lo. Sebuah takdir gue jadi pelindung buat Lo. Gue gak pernah menyesal atau menyalahkan keadaan, sebaliknya, gue bakal bikin takdir ngikutin apa yang gue mau. Termasuk Lo dan keselamatan dalam hidup Lo," ujar Radith dengan serius, membuat jantung Luna berdebar lebih cepat karnanya.


" Makasih Dith, Makasih buat semuanya. Makasih udah jadi malaikat pelindung yang paling baik di dunia ini. Gue bersyukur punya sahabat kayak Lo, siapapun yang nantinya jadi istri Lo pasti beruntung," ujar Luna tersenyum lebar, membuat senyum di bibir Radith hilang seketika. Gadis itu memang pintar jika diminta untuk merusak suasana.


" Ah, kenapa gak Lo pacaran atau nikah sama Karin – Karin itu sih Dith? Emang agak kepo gitu orangnya, tapi aura yang dia punya sama kayak Blenda, dia cantik, polos, pas lah buat Lo," ujar Luna tiba – tiba. Radith tak tahu Luna hanya menggodanya atau benar berpikir dia akan 'berakhir' bersama Karin.


" Gue kira Lo bercanda masalah ini, ternyata Lo serius. Kalau gitu gue bakal pakai jawaban serius. Karin memang mirip banget sama Blenda, wajah mereka mirip, bahkan aura mereka sama. Tapi gue gak akan pernah bisa suka sama dia, ada beberapa alasan gue melakukan hal itu," ujar Radith menyorot lurus ke arah mata Luna.


" Kenapa Lo gak akan suka sama Dia?" tanya Luna dengan bingung. Mungkin Radith risih dengan gadis yang 'mengejar'nya, tapi Karin tak sebegitu parahnya dalam mengejar Radith, gadis itu sangat Innocent dan terlihat tak mengerti bagaimana menggoda pria.


" Bagaimanapun dia bukan Blenda, dan gue gak bisa jadiin dia pacar apalagi istri atas dasar dia mirip Blenda. Kedua, Blenda itu adik gue, gue gak ada rasa ingin memiliki sebagai istri atau apapun, makanya gue gak bisa ngerasain hal itu ke Karin. Ketiga, gak semuaa sampul buku yang indah, isinya juga indah," ujar Radith yang membuat Luna mengerutkan dahinya.


" Maksud Lo dalemnya Karin gak bagus? Memang Lo udah pernah lihat dalemnya dia? Lo sama dia? Serius Dith?" tanya Luna dengan random, namun Radith cukup mengerti maksud Luna. Lelaki itu langsung memalingkan wajahnya dan enggan menatap ke arah Luna.


" Gue lagi serius, kabel di otak Lo malah putus. Mending gue tidur deh, gak kelihatan juga muka Lo kayak gimana," ujar Radith yang membuat Luna tiba – tiba mengingat sesuatu. Gadis itu langsung mengguncang tubuh Radith dan memaksa lelaki itu untuk membuka matanya.


" Lo ada pengalaman gitu gak selama Lo kritis? Lo kan mati suri, Lo lihat apa waktu itu? Kayak di cerita – cerita gitu gak? Lo lihat surga sama neraka gitu gak? Cerita dong," ujar Luna yang membuat Radith berpikir. Dia tak merasakan dan tak melihat apapun, kecuali..


" Beberapa waktu lalu gue bener – bener ada ditempat yang semua putih, Lo pernah nonton episode spongebob yang ruangnya tak terbatas itu gak? Atau nonton kartun rudy taboti yang waktu mereka terjebak di dunia spidol? Nah gue kayak terjebak di dunia kayak gitu."


" Gue gak paham maksudnya gimana," ujar Luna yang mencoba mengerti namun dia tak bisa membayangkannya sama sekali.


" Ya intinya gue kejebak di ruangan yang bener – bener semuanya putih, gak ada ujungnya, gak ada orang sama sekali. Benar – benar sunyi dan bikin orang itu tertekan. Terus Gue Cuma bisa dengar saru suara dan tiba -tiba gue kayak ditarik gitu dan gue bisa sadar," ujar Radith sambil mengawang, lelaki itu benar – benar mengingat apa yang dia lihat tadi.


" Suara apa?" Tanya Luna penasaran.


" Suara Lo. Suara Lo keras banget gue dnegar. Lo nangis – nangis panggil gue dan minta gue baik – baik aja. Setelah itu gue keseret dan gue gak ingat apa – apa lagi. Lo ngerti gak artinya apa?" tanya Radith karna Luna tampak kosong saat mendengar ceritanya. Benar saja, Luna menggelengkan kepalanya setelah itu.


" Gue kembali, gue selamat, dan gue hidup lagi karna bantuan suara Lo. Lo tulus pingin gue masih hidup dan gue dikasih satu kesempatan lagi untuk hidup. Kalau gak ada suara Lo, mungkin gue selamanya akan terjebak di tempat itu."


" Intinya, Gue bisa hidup lagi juga berkat Lo. Jadi Lo jangan terlalu menyalahkan diri, dan juga, Gue berterima kasih sama Lo karna udah menyelamatkan gue. Terima kasih."