
Luna dan Darrel sedari tadi mengikuti ke dua orang di depannya dengan heran, mereka tidak malu bertengkar di depan umum. Adel yang terus - menerus mendorong lelaki itu agar menjauh dan lelaki itu yang tiada takut menempel seperti cicak pada Adel.
" Kita jalan sendiri aja yuk," ujar Darrel sambil berbisik, mereka bahkan tidak mampir ke cafe untuk sekadar minum kopi, mereka hanya berputar - putar di sekitar Clarke Quay.
" Jangan kak, aku takut Adel khilaf," jawab Luna sambil mendekat pada Darrel. Lelaki itu hanya mengangguk mengiyakan apa yang Luna katakan.
~Dug
" Aiishh."
Luna ikut merasakan ngilu saat Adel menyikut perut lelaki itu dengan keras, lelaki itu bahkan sampai meremas perutnya yang sakit.
Gadis itu jadi tidak tega dan menghampiri Adel, membuat Adel berhenti menganiyaya lelaki itu.
" Adel udah, kasihan dia, udah ya Del," ujar Luna mengelus bahu Adel. Adel menyingkirkan tangan Luna dari bahunya dengan kasar.
" Lo gak usah ikut campur ya," ujar Adel dengan sewot dan menatap Luna tajam, bahkan Luna sampai mundur satu langkah karena ketakutan. Luna pernah melihat Adel marah, namun dia tidak pernah melihat tatapan benci itu.
Adel hanya pergi begitu saja, membuat Darrel langsung menghampiri Luna dan mengelus pundak gadis itu. Sementara lelaki yang tadi disikut Adel nampaknya tak sanggup lagi disiksa oleh gadis itu.
" Lo kenapa sampai disiksa gitu sama Adel?" tanya Darrel pada lelaki itu.
" Adel salah paham, ada temen seangkatan gue yang tiba - tiba nyium pipi gue kemarin dan Adel lihat itu. Gue juga marah sama tuh orang, tapi Adel gak mau tahu, dia tetep aja marah dan lampiasin pakai cara ini."
" Lo beneran pacar Adel?" tanya Luna setelah mendengar pernyataan orang itu.
" Hahaha, bagi gue udah, gue gak minta Adel jadi pacar gue, tapi gue paksa dia jadi pacar gue. Mungkin itu yang bikin Adel sampai sekarang benci sama gue." Tampak orang itu mengangkat bahu dan menghela nafas, sulit sekali mendapat hati Adel.
" Lah kalau tahu bakal dibenci kenapa harus berbuat kayak gitu?" tanya Luna yang tak paham dengan jalan pikir lelaki itu.
" Gue udah suka dia sejak lama, dan gue udah seneng waktu dia masuk SMA Trisakti, gue langsung aja nekat, padahal gue tahu Adel lebih ganas dari singa mau lahiran," ujar orang itu sambil terkekeh.
Luna merasa kasihan pada orang itu, menyukai gadis seperti Adel, namun Adel tidak membuka hati untuknya. Meski yang gadis itu lihat Adel juga peduli pada pria ini.
Mereka segera berjalan untuk mencari Adel, mungkin perasaan gadis itu sudah lebih baik setelah beberapa saat menenangkan diri.
" Kita gak jadi kencan malah ngurusin orang berantem Lun," lirih Darrel sedikit kesal, Luna sendiri menyikut ringan perut Darrel agar tidak membahas hal itu.
" Adel sahabat aku, kamu gak mau bantu sahabat aku?" tanya Luna dengan sedikit kesal karna respon Darrel.
" Nah gitu dong, Aku lebih suka kamu panggil gitu daripada 'kak'. More closer and I like it," ujar Darrel terkekeh dan menggandeng tangan Luna untuk mengikuti lelaki aneh itu mencari Adel.
Mereka menemukan Adel duduk dipinggir sungai dan menunduk, entah apa yang gadis itu pikirkan, Luna bisa merasakan Adel sedang sedih.
Dari antara empat gadis bersahabat ini, mungkin Adel yang paling berat. Memiliki Ayah Bos mafia yang berada di bisnis Abu - abu, dia harus melihat Ibunya meninggal karena dibunuh dam ayahnya tidak bisa melakukan apapun.
" Adel, gue boleh duduk?" tanya Luna berdiri di depan Adel, Luna mencoba selembut mungkin, tidak ingin Adel mengegas seperti tadi.
" Lun, maaf gue tadi kasar sama Lo," ujar Adel dengan suara bergetar. Luna sontak reflek duduk di samping Adel dan merangkul gadis itu.
" Lo kenapa? Cerita sama gue," ujar Luna dengan lembut, Adel pun semakin terisak, sudah lama dia tidak menangis seperti ini, namun rasanya dia sudah tidak bisa menanggungnya sendirian.
" Bokap.. Bokap bilang gue bakal dicoret dari Kartu Keluarga kalau gue tetap gak pulang ke rumah," ujar Adel dengan sedih.
Masih ingat Adel yang pergi dari rumah dan memilih untuk tinggal bersama Luna? Adel hanya menginap di rumah Luna satu hari, setelah itu gadis itu pergi dan mencari apartemen kecil untuk ditinggalinya.
" Kenapa Lo gak pulang dulu Del? Dengerin penjelasan bokap, mungkin dia punya alasan lain untuk kebaikan Lo?" usul Luna masih dengan nada lembut.
Adel tertawa hambar menanggapi respon Luna, sepertinya Luna terlalu naif, Luna berpikir seperti dia tidak pernah melihat dunia.
" Lo pikir gue mau tinggal sama orang yang udah ambil posisi nyokap di hidup gue dan di hidup bokap?" tanya Adel dengan sinis, meski masih ada aliran air mata di pipinya.
" Gue udah bilang sama, Lo dengar dulu alasannya, Lo coba bertahan satu bulan aja sama nyokap baru Lo, kalau ternyata nyokap Lo baik, Lo harus kasih mobil Lo buat gue, tapi ternyata kalau nyokap Lo jahat, Gue bakal kasih apartemen gue yang di Jakarta buat Lo."
Luna mengatakan itu seolah dia sudah dewasa dan mampu membeli semua dengan uangnya sendiri. Padahal gadis itu masih harus merengek untuk mendapat sesuatu dari papanya, dasar remaja jaman sekarang.
" Oke deal, lebih baik Lo siapin kunci apartemen Lo buat gue," ujar Adel tersenyum sombong, Luna terkekeh saat Adel kembali menjadi dirinya.
" Apartemen gue udah pakai sandi bukan lagi kunci," ujar Luna tak kalah sombong, Adel tertawa mendengar jawaban Luna yang membalasnya tak kalah arogan.
Dari kejauhan tampak dua orang pria yang menghela nafas lega melihat Adel kembali lagi ceria, kedua pria itu akhirnya mendekat ke arah mereka.
Wajah Adel langsung berubah drastis saat melihat seseorang yang saat ini dia benci ada di hadapannya.
" Udah gue bilang Lo pergi ya pergi," tukas Adel dengan galak, namun tak membuat lelaki itu mundur, lelaki itu berjongkok di depan Adel dan menatap gadis itu dengan tatapan sendu
" Lo salah paham, gue gak ada Affair sama dia," ujar lelaki itu melunak dan lembut
" Bodo amat, emang Lo siapa gue?" tanya Adel dengan galak.
" Gue pacar Lo, Percaya sama gue sih del, gue juga gak tau Amanda bakal nyosor gue gitu aja," ujar lelaki itu sambil memegang tangan Adel.
" Oh jadi namanya Amanda? Terserah Lo juga mau ngapain sama dia, gue gak peduli, dan satu lagi ya, gue bukan pacar Lo," ujar Adel menatap ke arah lain tanpa melepas tangannya yang digenggam oleh lelaki itu.
" Tapi del..."
" Lo ngomong lagi, gue marah lagi sama Lo," ujar Adel membuat pria itu terdiam seketika, namun sesaat kemudian matanya berbinar.
" Lo maafin gue? Lo udah gak marah sama gue? YESS!!!" Orang itu bangkit dan melakukan tarian konyol untuk mengekspresikan kegembiraannya, membuat dia orang disitu tertawa lepas menyaksikan pertunjukan ini.
" Ah iya, kita belum kenalan. Nama Lo siapa cantik?" tanya lelaki itu mengulurkan tangan pada Luna.
" Ehem." Darrel memandang orang itu dengan galak karena orang itu menggoda Luna, sementara Adel menyubit pinggang lelaki itu.
" Hehehehe, Pacar Lo ya? Ya maaf gue kan cuma bercanda," ujar lelaki itu tersenyum canggung dengan tangan yang masih terulur.
Luna segera menjabat tangan itu saat lelaki tadi mengode dengan menatap tangannya dan wajah Luna bergantian.
" Hehehe Rafael, panggil aja Rafa, Wakil ketua OSIS SMA Trisakti, yang kece dan seksi," ujar lelaki itu mengulurkan tangan ke Darrel dengan wajah yang pongah.
Darrel tersenyum kecil melihat tingkah sombong lelaki itu meski hanya bercanda. Darrelpun menjabat tangan itu dan tersenyum sopan.
" Darrel, Ketua OSIS STM Taruna," ujar Darrel tersenyum manis, membuat senyum sombong lelaki di depannya hilang seketika.
Cukup dengan menyebutkan jabatannya, banyak warga sekolah lain yang sudah mengetahui betapa Populer Darrel Atmaja, apalagi bila orang itu juga pengurus OSIS.
" Dia Darrel Atmaja? Seriusan?" tanya Rafa pada Luna, Luna pun hanya mengangguk polos dan bingung apa yang menjadi masalah bila Darrel adalah ketua OSIS?
" Lo tahu, masuk STM Taruna itu udah berat, apalagi jadi Ketos, dan Pacar Lo ini populer bahkan sampai ke OSIS di Sekolah gue. Mana mereka selalu minta bikin acara bareng sama sekolah Lo pula."
Luna mengerti penyebab perubahan Ekspresi Rafa, dia memandang Darrel yang memasang wajah tanpa berdosa, Sepertinya memang lelaki itu sengaja membuat Rafa mati kutu karena pamer kepadanya.
" Gimana gue bisa sombong ke Darrel Atmaja, remahan rempeyek doang gue mah dibanding dia," desis Rafa dengan pelan, namun masih bisa didengar oleh ketiga lainnya.
" Heh bego, kalau ngomong sendiri mah dibatin aja, Kalau Lo omongin sama aja buka kartu," ujar Adel sambil menabok pundak Rafa.
Mereka akhirnya memutuskan untuk berjalan jalan di pinggir sungai yang memanjang ini, semakin malam rasanya suasana semakin ramai, apalagi di sekitar sini banyak cafe dua puluh empat jam.
Luna berjalan persis di belakang Adel, sementara Rafa ada di sebelah Adel dan terus menggoda gadis itu, membuat Adel kesal dan akhirnya mendorong lelaki itu terlalu kuat.
Rafa kehilangan keseimbangan dan limbung ke arah sungai, dan cerdasnya dia menarik Adel secara Reflek membuat gadis itu tertarik dan refleknya menarik Luna.
Ketiga orang itu masuk ke dalam sungai yang dalam, Luna tampak kaget dan gelagapan di dalam air. Gadis itu pandai berenang, namun kakinya kram membuatnya tidak bisa fokus dan malah bergerak asal, membuatnya semakin tenggelam.
Darrel yang melihat itu langsung menceburkan diri ke dalam air dan mengangkat Luna hingga gadis itu bisa mengambil udara.
" Kakiku kram," ujar Luna meringis kesakitan.
Jarak mereka ke tepian seharusnya tidak jauh, namun karena Rafa malah melompat, akhirnya mereka bertiga jatuh agak ke tengah.
Darrel langsung menaruh tangannya dibawah ketiak Luna dan berenang ke tepian, Luna sendiri hanya pasrah karena dia merasakan sakit di kakinya, sudah lama dia tidak berolah raga, apalagi berenang.
Mereka sampai ke tepian dengan selamat di iringi tatapan khawatir dari pengunjung disana, Darrel berkata mereka baik - baik saja hingga orang - orang itu tidak terlalu heboh lagi.
Darrel melihat ke arah sungai dan mendapati pemandangan tak biasa. Dia melihat Adel melakukan hal yang tadi dia lakukan sementara Rafa tampak menutup matanya ketakutan.
Mereka akhirnya sampai ke tepian dengan nafas yang ngos - ngosan. Beruntung tidak terjadi sesuatu yang buruk kepada mereka.
" Orang mah cowoknya yang bantu si cewek, kayak Kak Darrel yang bantu Luna buat sampai ke tepi. Nah Elo, udah jatuh narik gue, harus gue yang bawa Lo ke pinggir pula, untung gak gue tinggalin biar dimakan buaya."
Rafa sedikit terkekeh dan melega masih bisa dengar omelan Adel, nyawanya selamat. Sejak kecil dia phobia air yang luas, dulu dia sempat beberapa hari di rumah sakit dan bahkan nyaris meninggal karena terjatuh ke kolam yang dalam.
Sejak saat itu Rafa phobia terhadap apapun yang berhubungan dengan air yang dalam. Hal itu pula yang membuatnya tidak bisa berenang sama sekali.
" Kak, dingin banget," ujar Luna mengusap lengannya yang basah kuyup, udara sangat dingin, ditambah kondisi mereka saat ini. Wajar bila ke empat orang itu merinding dibuatnya.
Mereka segera beranjak dan mencari toko pakaian yang masih buka, namun yang mereka temukan hanya Cafe dan Resto.
Hingga setelah berjalan cukup jauh diiringi tatapan aneh dari pengunjung lain, mereka akhirnya menemukan toko pakaian mahal yang masih buka.
" Kak, kayaknya disini bakal mahal harganya," ujar Luna menahan Darrel yang hendak masuk.
" It is Better daripada kita semua mati kedinginan," ujar Darrel santai dan mengajak ketiganya untuk masik bersama.
Pegawai disana menyambut Mereka dengan sangat ramah, bahkan disaat mereka memakai pakaian basah, pegawai disana tetap tersenyum dan melayani mereka.
" Mannernya beda sekali," lirih Luna sambil menatap pegawai itu. Pegawai itu menjadi pemandu mereka dalam memilih Baju.
Luna memilih baju berawarna hitam polos, Luna tidak melihat harga yang tertera, dia kira harganya murah seperti saat dia hanya mrnghabiskan 100 ribu untuk outfit. Gadis itu juga membeli Rok rampel merah selutut dan pakaian dalam wanita.
Hal yang nyaris sama juga oleh Adel, gadis itu mengambil kaos berwarna biru gelap dan celana kulot panjang dengan pakaian Dalam polos yang sejenis dengan Luna.
Darrel membayar semua belanjaan mereka dan memberikan dompetnya pada Luna yang juga membeli tas baru karena tasnya basah.
Luna melihat struk pembelian dan melotot seketika. Harga kaos yang dibelinya ternyata sangat mahal, Luna sampai menggeleng dramatis saat Darrel bahkan biasa saja membayar sebanyak itu.
" Orang kaya," ujar Luna dengan pelan.
Mereka memakai pakaian baru itu dan keluar dari toko tersebut, tak lupa mengucapkan terimakasih.
Mereka masuk ke cafe terdekat dan memesan minuman hangat karena hawa semakin menusuk kulit.
" Silakan duduk tuan Puteri," ujar Darrel tersenyum manis pada Luna, membuat gadis itu Blushing dan duduk manis di kursinya.
" Silakan duduk nona cantik," ujar Rafa meniru apa yang Darrel lakukan. Namun respon Adel tidak terduga. Gadis itu memilih duduk manis di kursi lain yang dia tarik sendiri, membuat Rafa menghela nafas dan akhirnya duduk di kursinya.
Mereka berbincang sembari menyeruput pelan minuman yang mereka pesan, cukuplah untuk menghangatkan tubuh mereka setelah mandi bersama di sungai.
" Babe, kamu kalau minum yang bersih dong," ujar Darrel dengan lembut sambil mengelap bibir Luna yang belepotan krim. Gadis itu terkekeh dengan perlakuan Darrel.
" Del, Lo gak mau gue gituin juga?" tanya Rafa dengan iseng sambil memainkan alisnya bergantian.
" Ogah, najis gue sama Lo. Kalau kak Darrel ya gue gak nolak, gak mau gue bucinan sama sambel kacang kayak Lo," ujar Adel pedas tanpa berpikir perasaan Rafa.
Luna dan Darrel tentu terkekeh melihat respon Adel yang memang galak karena sudah pembawaan, sementara Rafa tampak sedikit murung karena Adel tidak seperti gadis kebanyakan, Adel berbeda.
" Semangat Rafa," ujar Luna menggoda Rafa sambil terkekeh, membuat Rafa semakin cemberut karena diejek.
" Poor Rafa," timpal Darrel sambil terkekeh dan sengaja merangkul Luna untuk memanasi lelaki itu.