
"Sayang, kita pindah, ya." Beni yang baru pulang bekerja mengutarakan hal itu. Ia memiliki alasan kenapa tidak ingin lagi tinggal di rumah orang tua Kinan. Akhir-akhir ini Kinan juga mulai berubah dalam arti lebih banyak diam. Diamnya Kinan membuat Beni terkadang tersulut emosi hanya saja tidak mungkin ia mempermasalahkan hal ini disaat ia tahu alasan di balik diamnya Kinan. Ya, tingkahnya yang semakin menjadi-jadi. Pergaulannya semakin luas dan semakin laknat.
"Terserah." Ucap Kinan. Ia juga sudah lama ingin pindah dari rumah keluarganya, khawatir jika sikap buruknya Beni mulai tercium oleh keluarga atau tetangganya.
Pernah satu waktu, Kinan menyarakan agar suaminya itu direhab saja mengingat Kinan tidak tahu kapan ia akan hamil. Ayolah, kehamilan adalah sebuah misteri. Saran tersebut ditolak mentah-mentah oleh Beni. Selain pusat rehabilitasi ada di luar kota, Beni menyebut beberapa nama orang yang pernah melakukan rehab dan hasilnya nihil alias nol. Beni mengatakan percuma.
Sebenarnya Kinan meyakini hal itu karena apa? Karena perubahan itu berasal dari hati, dari kemauan sendiri. Saran rehabilitasi tersebut hanya karena ia mulai jengah dengan sikap Beni yang semakin tidak waras menurutnya. Beni benar-benar terlihat seperti zombie.
"Abang sudah cari kontrakan. Dua hari lagi kita pindah, ya."
"Ya, Kinan akan ngomongin hal ini ke Bapak."
"Kamu gak apa-apa 'kan, Sayang?"
"Gak, memang sudah seharusnya kita pergi dari rumah ini."
Dua hari kemudian akhirnya mereka pindah rumah. Masih di daerah yang sama dengan orang tua Kinan hanya saja beda kelurahan. Rumah minimalis dengan dua kamar, ruang utama, dapur mini dan toilet yang juga mini.
Beni langsung melengkapi rumah mereka dengan perabotan. Kinan hanya tinggal menata letaknya.
"Bagaimana rumahnya, kamu suka?"
Kinan tersenyum tipis seraya menganggukkan kepala. Jujur, ia tidak peduli dengan rumah. Yang ia inginkan Beni kembali ke jalan yang lurus.
Akhir-akhir ini, ia mulai rajin berdoa, doa yang isinya tentang kebaikan suaminya. Kinan yang awalnya, sholatnya masih bolong mulai memperbaiki sholat. Biasanya, saat subuh, Kinan sering mengabaikan solat tersebut karena cuaca sedang dingin-dinginnya. Kinan enggan bangun dan harus mandi jika ingin sholat. Paham dong di sini maksudnya. Ya, harus mandi besar dulu karena habis memberi jatah pada suami.
Di tujuh bulan pernikahan, Kinan mulai memaksakan diri untuk sholat subuh. Dingin tidak jadi hambatan, ya walau kadang setan tetap berhasil mengelabuinya. Setidaknya sudah ada peningkatan. Mau berusaha walau dengan jalan terpaksa untuk melaksanakan sholat. Awalnya terpaksa, lama-lama akan terbiasa.
"Ya, Allah, ini sudah tujuh bulan pernikahan kami. Belum ada tanda-tanda kehamilan pada hamba. Jika memang kehamilan hamba bisa membuat suami hamba kembali ke jalan yang benar, hamba mohon ya Allah, limpahkan kepada hamba anugerah berupa keturunan. Hamba mohon."
Doa yang sama ia lakukan secara berulang kali di tengah solatnya yang masih bolong-bolong.
Sembilan bulan pernikahan, bukannya terkabul, suaminya justru semakin menjadi. Yang dulunya tidak ada orang yang datang bertamu ke rumah mereka, kini teman-teman Beni mulai sering muncul. Entah itu pagi, siang, malam bahkan tengah malam. Tidak pandang bulu sama sekali. Kinan benar-benar mulai merasa terusik.
Beni juga mulai terang-terang berbuat dosa di hadapan Kinan. Beni sering menggunakan narkobanya di dalam toilet bahkan di ruang utama. Alasannya, biar lebih aman. Tidakkah para pembuat dosa itu sadar bahwa ada Yang Maha Melihat? Kenapa mereka merasa aman saat ada dua malaikat yang senantiasa mengikuti dan mencatat setiap perbuatan?
"Jujur, aku benar-benar mulai gak nyaman ya, Bang dengan teman-temanmu yang datang kemari," Pasalnya, saat temannya datang, Kinan harus mengurung diri di kamar. Beni tidak memperbolehkannya keluar sama sekali sampai teman suaminya itu pergi. "Lagian ngapain sih mereka ke sini? Kamu bisnis apa sama mereka? Teman kamu gak ada yang benar."
"Ini hanya masalah pekerjaan. Udah, gak usah dipikirin."
"Tapi, aku gak suka!"
"Mengerti.... mengerti... kenapa harus selalu aku yang harus ngertiin kamu. Kamu pernah gak sih ngertiin perasaan aku. Gimana takutnya aku jika sesuatu yang buruk terjadi sama kamu. Kamu mikir gak sih, aku udah seperti bonekamu. Aku gak boleh ini itu, tapi kamu bebas mau melakukan apa pun. Aku seperti orang tolol tau gak? Kamu bahkan udah berani make narkoba di rumah ini. Mikir gak gimana hancurnya hatiku melihat peralatan harammu ini berantakan di sini! Ngotak gak kamu?!"
Akhirnya Kinan meluapkan apa yang ia pendam selama ini. Ia merasa kewarasannya juga sudah mulai terganggu. Otaknya mengebul memikirkan semuanya. Kenapa jadi bisa begini? Kenapa rumah tangganya sekacau ini? Beginikah yang dirasakan ibunya. Haruskah ia menggugat cerai sebelum semuanya terlambat? Ya, ia harus lepas dari ini semua sebelum dia sendiri ikut gila.
Bagaimana tidak ingin gila rasanya, Beni yang mengundang temannya datang ke rumah mereka, tapi saat temannya memperhatikan Kinan, Beni melayangkan tuduhan bahwa Kinan mulai cari-cari perhatian dengan pria lain.
"Pelankan suaramu, Kinan!" Beni mendesis dengan tatapan marah.
"Aku udah gak tahan lagi. Jika kamu memang gak bisa berubah, oke, gak masalah. Aku ingin cerai!"
Hening untuk waktu yang terasa cukup lama bagi Kinan.
"A-apa katamu?" suara Beni gugup dan pelan, tapi tidak dengan ekspresinya yang penuh dengan kemarahan.
"Aku tidak mengerti apa tujuan kita menikah. Kamu bukan Beni yang dulu. Aku seolah tidak mengenalimu lagi. Sikapmu ini menyakitiku, jadi untuk apa pernikahan ini? Aku tidak menemukan alasan kenapa aku harus bertahan. Aku mau cerai. Pulangkan aku."
"Katakan sekali lagi!" Napas Beni mulai tidak teratur.
"Aku ingin cera..."
Plak!
Satu tamparan mendarat di wajah Kinan. Kinan seketika shock mendapat perlakuan kasar dari Beni. Cap lima jari di pipinya yang putih terasa begitu sakit. Tapi rasa sakit itu seolah tidak ia rasakan karena ulu hatinya jauh lebih terasa sakit.
"Ka-kamu nampar aku?" Bibir Kinan gemetar karena terlalu shock. Seketika ia meluruh ke lantai, sebulir air mata yang hendak jatuh ia tepis dengan segera. "Ka-kamu sungguh nampar aku?" Ia mendongak, menatap suaminya dengan tatapan nanar. Hatinya benar-benar sudah hancur berkeping-keping.
"Sayang, maafkan aku..." Beni duduk dan berniat menarik Kinan ke dalam pelukannya.
Sebelum tangan Beni berhasil menyentuhnya, Kinan menepisnya dengan segera. "JANGAN MENYENTUHKU!" Kinan tidak peduli jika suaranya didengar oleh para tetangga.
"Kinan, Abang khilaf, Sayang..." Lagi, Beni mengulurkan tangannya untuk menyentuh Kinan.
Kinan yang belum kuat berdiri refleks mundur.
"Argghh..." Tiba-tiba ia memekik kesakitan sambil memegang perutnya. Rasa sakit yang luar biasa menyerangnya tepat di bawah pusarnya.
"Kinan, kenapa, ada apa?" Beni mulai panik.
"Perutku..."