
“ Kemarin kita udah lakuin penyergapan, dan ternyata kita malah dijebak. Rencana kita udah bocor karna Luna cerita ke tiga sahabatnya. Lo nangkap maksud gue?” tanya Jordan yang menatap Darrel dengan serius. Jordan terpaksa mengulang cerita kejadian tempo hari karna Darrel benar – benar lupa.
“ Nangkap bang, salah satu teman Luna pengkhianat,” jawab Darrel sambil mentap Jordan, lelaki itu mengangguk dan membenarkan pernyataan Darrel.
“ Terus apa yang harus kita lakuin?” Tanya Darrel dengan wajah bingungnya, kepalanya sakit jika dia harus berpikir keras, mungkin efek dari cideranya.
“ Gue udah suruh orang buat telusur lagi villa itu buat cari petunjuk atau bukti, nah untuk mengulur waktu, gue udah ada rencana buat kita semua termasuk sahabat Luna liburan dulu. Terserah mau ke Bali atau Lombok, sekalian kita bisa lihat siapa yang paling mencurigakan.”
Darrel sebenarny bingung dengan ide Jordan, ini rencana penjebakan atau memang Jordan yang sedang ingin liburan? Namun apapun itu, Darrel akan setuju dan mengikuti rencana Jordan selagi dia tidak punya rencana yang lebih baik lagi.
“ Tapi kalau orang itu malah celakain kita waktu disana gimana bang?” tanya Darrel mempertimbangkan kemungkinan terburuk.
“ Tenang aja, kita harus terus bareng – bareng biar itu orang gak berani nyelakain. Gue rasa dia gak akan berani main terang, nyatanya dia sering nyuruh orang untuk celakain Luna.”
Darrel mengangguk paham dan setuju. Tinggal menunggu pemulihannya lelaki itu akan bertemu dengan Luna dan berlibur bersama gadis itu meski liburan kali ini tak akan terasa seperti liburan.
Satu minggu berlalu, waktu liburan Luna tinggal sepuluh hari lagi. Mungkin liburan semester kali ini menjadi liburan terburuk bagi Luna dan gadis itu berharap semua segera beakhir.
Luna sudah menyiapkan satu koper kecil berisi perlengkapannya selama seminggu di Pulau Dewata, surga pariwisata Indonesia bahkan mungkin bagi dunia. Berlibur di tempat ini akan sedikit merefresh pikiran Luna sebelum memasuki semester dua yang penuh ulangan dan ujian kenaikan.
“ Luna! Tumben banget bang Jordan ajakin kita liburan? Dia mau lamaran atau gimana? Excited banget gue ditelpon sama bang Jordan buat join, mana bisa nolak gue mah.”
Luna memandang Key dengan malas, Adel yang menyukai bang Jordan saja tidak sebegitu antusiasnya saat Jordan mengajak mereka ke Pulau itu.
“ Biasa aja kalik Kye, masih Bali, kita juga udah sering ke erop, kok Lo norak sih?” tanya Luna dengan heran dan wajah datarnya. Sebenarnya Luna takut berhadapan dengan tiga sahabatnya karna ada srigala yang siap menerkamnya.
Bisa jadi satu atau mungkin semuanya, Luna tidak bisa memastikan hal itu. Namun Jordan meminta Luna untuk bersikap biasa saja, bahkan Luna merahasiakan kejadian kemarin dari ketiga sahabatnya, jadi yang mereka tahu Luna memang murni mengajak mereka jalan – jalan.
“ Kita mau kemana sih?” tanya Lucy yang menggeret kopernya dan duduk diatas koper itu. Key, Adel dan Luna langsung meraup wajah mereka masing- masing. Haruskah Lucy mengalami lemah otak di saat seperti ini?
“ Demi apa loh Luc, walau gue males ikut nih liburan, gue masih tahu kalau kita bakal ke Bali. Lo yang udah banyak barang gini malah gak tahu mau kemana? Parah Lo,” ujar Adel dengan miris, gadis itu bahkan mengelus dadanya.
“ Lo diajak liburan kok males sih? Apalagi yang ajak cinta pertama Lo, atau Lo mau sibuk pacaran sama Waketos gitu?” tanya Key dengan sengit, sepertinya pertengkaran keduanya masih belum paham.
“ Lama lama mulut Lo tambah kurang ajar ya Key! Tahu apa Lo tentang gue sama Rafa? Makin lama makin tengil aja, kalau gak ingat Lo sahabat gue udah gue ceburin Lo ke kawah merapi!” tukas Adel dengan kesal dan penuh ancaman, namun Key malah tersenyum miring.
“ Ya kalau Lo sahabat harusnya Lo tahu dong! Gue suka duluan sama Rafa dan gue udah bilang itu ke Lo! Sahabat macam apa yang nikung sahabatnya sendiri?” tanya Key tak kalah galak, Adel tampak mengepalkan tangannya karena kesal, mana dia tahu Rafa akan menyukainya?
“ Ehh, udah dong, kita kan mau liburan, masak kalian malah berantem sih? Gak seru ah,” ujar Luna melerai keuda orang itu, sementara Lucy yang melihat itu tampak menghela napas karna sudah snagat biasa melihat kedua orang di depannya bertengkar karna maslaah yang bahkan tidak dia mengerti.
“ Tiap hari Lo ada diantara nih dua orang gak kerasa capek atau panas gitu Luc?” tanya Luna yang penasaran dan memandang ke arah Lucy. Gadis itu mengedikkan bahu dan menghela napasnya.
“ Tiap kali ketemu Lun, gue juga pusing mereka ngomongin apaan, jadi gue Cuma nonton aja,” jawab Lucy dengan pasrah, Luna yang tadi panic sampai terkekeh melihat ekspresi lucu Lucy.
“ Badmood parah gue, gue gak join, mau balik aja!” seru Adel yang berbalik begitu saja, namun langkah gadis itu terhenti saat di pintu utama menampakkan Jordan dan seorang gadis yang digandengnya menatap Adel dengan bingung.
“ Loh? Mau kemana? Bentar lagi kita berangkat loh, tinggal nunggu Darrel sama Dara,” ujar Jordan mencegat Adel, Adel langsung ciut dan merasa tak enak karna Jordan yang menegurnya, gadis itu menghela napas dan mengangguk.
“ Adel diapain sampai kayak gitu? Kalian temen loh, masak berantem kayak gitu?” tanya Jordan sambil merangkul Adel dan mengajak gadis itu kembali berkumpul dengan mereka sementara tangannya yang lain menggandeng tangan gadis seumurannya yang tampak cantik dan menawan.
“ Siapa nih bang? Kok gak dikenalin ke Luna?” tanya Luna yang tersenyum jahil dan menyapa gadis yang masuk bersama Jordan, Jordan mengedikkan bahu dan meminta orang itu untuk memperkenalkan dirinya sendiri, membuat gadis itu memandang Jordan dengan wajah datarnya.
“ Iya iya, kamu tuh, kenalin dia adik aku namanya Luna, yang ini temen temennya, Adel, Key sama Lucy.”
“ Key?” tanya gadis itu membeo dan menatap ke arah orang bernama Key berdasarkan yang ditunjuk oleh Jordan.
“ Iya, namanya Key, kenapa sih?” tanya Jordan dengan aneh karna gadis di depannya tampak Excited, namun sesaat kemudian memandang Jordan dengan datar, apakah menjadi CEO sangat memeras otak hingga kini lelaki itu sedikit konslet?
“ Kenalin, nama aku Keysha, sebenernya dipanggil Key, tapi karna udah ada Key disini, panggil aja aku ShaSha,” ujar gadis itu tersenyum manis, Luna langsung memandang kedua Key itu secara bergantian.
“ Kebetulan banget gitu ya? Keyla, Kak Keysha, kalian gak kembar gitu? Atau Saudara?” tanya Luna dengan antusias memandang keduanya bergantian. Keysha tampak terkekeh sementara Key tampak bingung dan tersenyum canggung.
“ Kamu kalau sama mereka kok cantik banget senyumnya? Kenapa sama aku gak bisa kayak gitu? Gak adil banget sih?” tanya Jordan dengan cemberut, membuat Keysha kembali memasang wajah datarnya. Haruskah lelaki itu membahas hal itu disaat seperti ini?
“ Hello guys, sorry telat ya, Dara susah dibangunin,” ujar Darrel yang tiba – tiba muncul di depan pintu dengan menggandeng Dara yang masih menggenggam tangan lelaki itu erat.
“ Hai kak Dara, sama Luna yuk,” ujar Luna riang berlari menghampiri kedua orang di depannya, membuat Darrel terkekeh dan memandang Dara yang meminta persetujuan dengan wajah takutnya. Darrel tersenyum dan mengangguk membuat Dara melepaskan tangannya dari lengan Darrel dan meraih tangan Luna.
“ Nanti kak Dara duduk dekat Luna aja ya, Luna bawa makanan enak kesukaan kak Dara. Mau kan kak?” tanya Luna dengan senyum riangnya. Bagaimanapun Luna merasa bersalah karna Dara harus mengalami semua hal ini karna dirinya, karna masalah orang itu dengan Luna. Dara mengangguk dan tersenyum tipis sebagai jawaban.
Dara bertubuh mungil smenetara Luna tinggi menjulang, membuat Luna seperti melindungi adiknya. Yah, meski Luna akan menjadi kakak Ipar Dara sih ( Kalau Tuhan dan Author mengijinkan). Meski saudara kembar, dari postur tubuh saja Darrel dan Dara sudah berbeda, tidak ada yang menyangka bahwa mereka saudara.
“ Kita naik dua mobil biar cukup naik semua, nanti atur sendiri lah tempat duduknya mau gimana,” ujar Jordan yang menempelkan ponselnya ke telinga hendak menelpon seseorang. Tak lama dua buah mobil Alpard datang dan mereka duduk satu persatu.
Pak Supir dengan pak Indra, Jordan dengan Keysha dan Luna dengan Dara di mobil pertama. Pak Supir dengan Boy ( pengawal pribadi Darrel), Darrel dengan Adel dan Lucy dengan Key di mobil kedua. Darrel harus mengalah dan memilih untuk duduk bersama Adel karna Luna bersikukuh ingin duduk dengan Dara.
Mereka segera berangkat menuju bandara dan sampai ke pulau Dewata dua jam penerbangan. Jordan langsung melakukan peregangan setelah sampai, badannya yang sudah pegal bertambah pegal karna harus duduk di dalam pesawat.
“ Beb, pijetin gue kek! Pegel banget nih,” ujar Jordan pada Keysha, membuat gadis itu berdecak namun juga memijat pundak lelaki itu, membuat Jordan mendesah keenakan sementara yang lain memandang Jordan dnegan aneh kecuali Luna, gadis itu bersyukur Jordan sudah bisa melepaskan Nayshilla dan memiliki hati yang baru.
“Hotel kita dekat pantai Kuta, jadi bisa bebas kesana, kalau nanti bosen atau mau pindah ya tinggal check in lagi, kita ke hotel dulu aja ya. Nanti Lucy sama Key, Adel sama Lua, Darrel sama Dara terus abang sama Keysha, adil kan?”
“ YEEEE!!! Modus aja bang Jordan!” seru mereka semua bergantian menanggapi Jordan yang sengaja menggoda Keysha di depan semua orang yang ada disitu.
“ Hahahaha, Bercanda kalik, udah urusan kamar pikir nanti aja, kita buruan ke hotel dulu aja.”
Jordan menyewa enam kamar VVIP dan banyak kamar regular karna bukan hanya mereka yang berlibur, tapi beberapa pengawal Jordan dan Darrel. Yah, memang sedikit pemborosan, namun mereka melakukan hal itu untuk mengamanan selama mereka ada di pulau ini.
Akhirnya Jordan satu kamar dengan Darrel, Keysha satu kamar dengan Dara, Luna satu kamar dengan Adel, Lucy satu kamar dengan Key dan dua kamar tersisa diisi oleh Pak Indra, Boy, dan kedua supir yang tadi membawa mereka ke bandara. Masih menanyakan seberapa kaya Jordan?
Luna meletakkan barangnya dan main ke kamar Keysha karna Adel pamit pada Luna untuk suatu keperluan yang entah apa, disana terdapat Dara dan Keysha sedang berbincang.
“ Asyik bener sih bercandaan gini gak ajak ajak Luna,” ujar Luna masuk begitu saja, membuat Keysha terkekeh dan memberi ruang pada Luna untuk duduk sementara Dara hanya tersenyum manis.
“ Dulu aku tuh pernah ada di posisi Dara sekarang dan rasanya gak enak banget, kamu harus ada dan Support Dara biar dia gak mikir yang macem – macem,” ujar Keysha mengelus kepala Dara dengan kasih, mengingat masa lalunya yang pahit dan gelap.
Mereka membincangkan banyak hal sampai akhirnya Luna menceritakan tentang teman – teman di kelasnya yang konyol dan aneh.
“ Cewek di kelas kamu ada 6? Banayk ya, kelas aku Cuma tiga,” ujar Dara yang tertarik dengan topik obrolan Luna, sementara Keysha hanya menjadi pendengar yang baik bagi kedua remaja di depannya.
“ Hahahah, iya, jadi persis kayak srikandi ditengah pandhawa gitu, nih aku tunjukin fotonya, cantik – cantik loh,” ujar Luna mengeluarkan ponselnya dan sedikit menggeser geser layar ponsl itu sebelum akhirnya menunjukkan tampilan galeri pada mereka berdua.
“ Ini namanya Sheila, dia cantik banget kan? Dia udah punya pacar sih, lucu anaknya,…” Luna mulai menceritakan Sheila sesuai dengan apa yang Luna tahu, lihat dan rasakan. Mulai dari hal biasa sampai hal konyol.
Luna menggulir foto demi foto, namun wajah Dara berubah saat Luna menampakkan sebuah fto bersama temannya, Dara memegang rambutnya dan meremasnya. Keysha yang melihat itu tentu terkejut dan memegang tangan Dara, memeluk gadis itu erat, Dara tampak ketakutan dan semua traumanya kembali menyerang.
“ Dia, dia jahat. Dia , dia yang udah ajak kau kesana, dia tutup mata aku, bius aku, dia, dia, aaaaaaaa.” Dara mulai berteriak tidak jelas dan meronta ronta, sementara Luna dan Keysha langsung memeluk Dara untuk meredam suara dan menenangkan gadis itu.
Luna menatap lagi ponselnya yang masih menampakkan fotonya bersama dengan salah satu teman kelasnya. Apakah dia bekerja sama dnegan salah satu sahabat Luna untuk melakukan semua ini? Namun apa motifnya? Mengapa gadis ini sampai mengincar Dara? Apa gadis ini tahu Dara dan Darrel saudara kembar?
“ Luna, singkirin ponsel kamu!” perintah Keysha yang menutup Dara dengan tubuhnya karna Dara terus melirik ke arah ponsel itu dan berteriak ketakutan setelah melihat apa yang ditampilkan ke layar. Luna menurut dan menyingkirkan ponselnya. Gadis itu segera menjauh dan menelpon Darrel untuk mengabari kondisi Dara.
Darrel mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamar itu bersama dengan Jordan, kondisi Dara sedikit stabil karna Keysha menanganinya dnegan baik, kulaih psikologi yang diambilnya cukup membantu untuk menenangkan Dara, apalagi pengalamannya membuatnya bisa mengendalikan keadaan.
Luna menceritakan kejadian yang membuat Dara histeris seperti ini, Darrel dan Jordan terdiam dan saling pandang, Jordan tampak mengamati kondisi Dara dan melihat sosok yang ada di foto Luna.
“ Dia?” tanya Jordan menggantung dan menghadapkan foto itu pada Luna, Luna mengangguk paham dengan apa yang Jordan masuk.
“ Resya, teman kelas Luna. Luna gak begitu kaget sih, karna emang belakangan ini Reysa kayak gak suka banget sama Luna dan itu kelihatan banget, tapi Luna gak nyangka Resya ngelakuin hal ini sama kak Dara, Luna gak nyangka banget,” ujar Luna memandang Dara yang tampak menggigit jarinya dan memandang ke arah Keysha yang memberinya motivasi.
“ Luna, kamu harus tahu satu hal. Abang udah suruh beberapa orang suruhan abang buat nelusurin lagi Villa itu dan mereka menemukan bukti baru yang bisa nunjukin siapa pelakunya, mungkin kamu tahu siapa pemiliknya,” ujar Jordan dengan wajah serius.
“ Karna baik aku sama bang Jordan gak tahu siapa pemiliknya, lagipula kami gak punya banyak sahabat dekat, jadi kemungkinan besar itu punya sahabat kamu,” ujar Darrel menambahi.
Jordan mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto pada Luna yang membuat Luna merenung dan berpikir pernah melihat benda itu, tapi dimana dan siapa pemiliknya? Tiba – tiba saja Luna merasa blank.
“ Gunting kuku? Luna kenal sama gantungannya, Luna pernah lihat dimana? Punya siapa?” tanya Luna pelan sambil melihat gambar gunting kuku dengan gantungan berbentuk tengkorak. Luna melotot saat ingat siapa pemilik gantungan kunci ini.
“ Kak, Bang. Ini punya Adel,” ujar Luna dengan lirih.