Hopeless

Hopeless
Chapter 164



Luna menggigit bibirnya dan tak menggerakkan kakinya sama sekali. Melihat hal itu, Darrel langsung memiliki inisiatif untuk menggendong gadis itu dan membawanya pergi dari kantin. Lelaki itu bergegas membawa Luna ke UKS untuk segera diobati sementara dirinya menelpon supir untuk menjemput mereka.


Dalam gendongan Darrel lah akhirnya Luna menangis sejadi – jadinya, meski tanpa suara, gadis itu seakan menahan beban yang dalam, dia sampai sesenggukan dan *** segaram Darrel. Menyembunyikan wajahnya di dada bidang Darrel. Hal itu membuat Darrel sedikit berlari untuk membawa Luna ke UKS, memanggil petugas PMR untuk mengecek keadaan Luna sementara dia menunggu di luar, dan meminta supirnya untuk segera datang.


" Luna sebenernya gak papa kak, Cuma emang pahanya agak kebakar karna air panas itu, ada baiknya emang di bawa ke rumah sakit biar segera dikasih obat yang tepat, obat di sini gak lengkap kak," ujar petugas UKS itu dengan wajah khawatir. Darrel mengangguk paham dan langsung masuk ke ruang itu untuk membawa Luna ke rumah sakit.


Beberapa orang memakai baju serba hitam mendekat ke arah mereka dan mengawal Darrel keluar dari sekolah itu karna beberapa siswa mencoba untuk mengerubungi Darrel. Bahkan tak sedikit dari mereka yang menggunakan kesempatan ini untuk bahan gosip mereka, mereka mengambil gambar Darrel yang sedang menggendong Luna.


Mengetahui hal itu, pengawal pribadi Darrel tentu tak tinggal diam. Mereka merebut salah satu ponsel yang ada di sana dan membantingnya dengan keras, lalu mengeluarkan selembar kertas cek kosong yang sudah di tanda tangani untuk gadis itu.


" Ini adalah cek kosong, kamu bisa menggunakannya untuk mencairkan uang sampai batas limit yang tertera di kertas itu. Uangnya bisa kamu gunakan untuk membeli ponsel yang baru. Untuk kalian semua yang mengambil gambar tuan muda, silakan hapus sebelum kalian menyesal. Jika ada satu gambar saja terekspos, hidup kalian tak akan nyaman lagi," ujar pengawal itu yang membuat mereka takut dan memasukkan ponsel mereka masing – masing.


Mereka langsung pergi dari tempat itu dan menyusul Darrel yang sudah pergi terlebih dahulu. Tak perlu waktu lama Darrel udah membawa Luna ke rumah sakit Wilkinson karna untuk kondisi seperti ini, Darrel hanya percaya pada rumah sakit Wilkinson. Rumah sakit itu tak akan berani melakukan kesalahan jika tahu pasiennya adalah puteri pemilik rumah sakit.


" Dokter, kaki Luna tersiram kuah panas, tolong periksa kondisinya karna Luna terlihat sangat kesakitan, dia nangis terus dari tadi," ujar Darrel dengan panik dan meletakkan Luna di kasur yang ada di sana. Dokter mengangguk paham dan meninggalkan ruangan itu agar dokter dapat memeriksa kondisinya.


" Tuan muda, kami sudah menghubungi tuan Jordan sesuai instruksi yang tuan muda berikan. Tuan besar sedang mengurus masalah ini, tuan Jordan dan tuan muda tinggal menunggu hasil dan keputusan Tuan besar," ujar salah seorang pengawal yang membuat tanangan Darrel terkepal. Orang itu h\=bukan hanya menyakiti Luna, tapi juga membuat Luna menangis, jangan harap Mr. Wilkinson akan melepaskannya.


" Darrel, saya harus bicara sama kamu," ujar dokter yang entah sejak kapan keluar dari dalam ruang UGD itu dengan wajah yang serius. Darrel mengangguk dan mengikuti dokter itu menuju ke ruangannya, dengan cemas Darrel mengikuti dokter itu dan berharap semua berjalan dengan baik dan lancar.


*


*


*


" Kamu harus minum obat kamu biar kaki kamu cepet pulih. Ini ada obat dalam sama obat salep, kamu harus rutin minum dan habisin semua loh," ujar Darrel sambil mengelus kepala Luna dengan penuh kasih sayang. Luna menatap obat – obat itu dengan tatapan bingung.


" Emang kesiram air panas obatnya harus sebanyak ini kak? Salep aja gak boleh? Kok obat dalamnya banyak kak?" tanya Luna memegang dan engecek satu persatu obat yang dia pegang. Darrel terdiam dan berpikir, lalu tersenyum tanpa menjawab apapun, dia hanya takut salah bicara.


" Kak, sebenerny Luna tadi nangis bukan karna kesakitan kesiram air panas. Tapi tadi tiba – tiba kaki Luna mati rasa, Luna gak bisa gerakin kaki Luna sama sekali, Luna takut karna itu kak, makanya Luna nangis. Luna takut karna kesiram air panas, Luna jadi gak bisa jalan lagi," ujar Luna dengan jujur tanpa ada yang ditutupi.


" Kaki kmu gak bisa digerakin? Kok bisa kayak gitu? Kalau sekarang nyoba jalan mau gak? Aku papah pelan – pelan," ujar Darrel mengulurkan tangannya pada Luna. Gadis itu mengangguk dan menerima tangan Darrel dan turun dari kasur. Luna terdiam dengan pandangan mata kaget.


" Kenapa? Masih susah buat jalan?" tanya Darrel dengan wajah khawatirnya. Luna menggeleng dan melangkahkan kakinya, lalu melepas tangan Darrel dan berjalans eperti biasa. Aneh, karna tadi dia tak dapat merasakan kakinya, namun kini semua terasa normal dan biasa saja. Bagaimana bisa seperti itt? Kenapa kondisinya bisa berubah dalam waktu yang cepat.


" Kalau menurut aku, tadi kamu tuh kaget, panik juga, ada beberapa kasus saat orang kaget atau takut yang berlebihan, orang itu malah kayak mematung gitu, mungki tadi kamu kayak gitu, jadi bukan kaki kamu yang gak bisa digerakin, tapi pikiran kamu yang bikin kamu stuck," ujar Darrel dengan tenang sambil tetap menjaga Luna dari belakang.


" Tapi, tapi Luna yakin kalau tadi Luna gak bisa ngerasain kaki Luna kak," ujar Luna berbalik dan menatap Darrel yang ada di belakangnya persis. Lelaki itu menautkan alisnya dan tampak berpikir, lalu melihat ke arah kaki Luna yang memakai seragam pasien.


" Ini buktinya kaki kamu gak papa, sehat – sehat aja, bisa jalan normal," ujar Darrel memegang kaki Luna pelan agar tak menyakiti gadis itu. Darrel menyentil kaki bawah Luna, membuat gadis itu mengaduh kaget karna Darrel memang tak menyentil lukanya, hanya membuat Luna kaget saja karna perlakuannya.


" Maih kerasa kan waktu aku nyentil? Berarti kamu gak apa – apa, udah, kamu gak usah mikir yang aneh – aneh dulu, itu obat sama salep dipakai terus biar kamu cepet sembuh dan gak kenapa – napa," ujar Darrel yang diangguki saja oleh Luna. Gadis itu kembali ke kasurnya dan merasa kakinya sendiri lalu mengelus dadanya dengan lega.


" Luna lega karna ternyata gak terjadi sesuatu yang buruk. Oh ya, buat yang udah ngelakuin ini ke Luna, jangan terlalu jahat ya kak, Luna setuju kasih dia pelajaran, Luna gak salah apa – apa kok disiram kuah bakso. Tapi Luna gak setuju kalau dia dapat perlakuan kejam, Luna gak setuju," ujar Luna yang diangguki oleh Darrel.


" Aku mah manut sama kamu Lun, tapi yang kasih hukuman papa kamu bukan aku, jadi ya aku gak bisa ngelakuin apa – apa," ujar Darrel dengan santai yang membuat Luna melongo seketika.


" Kenapa kak Darrel ngadu ke papa? Duh, kalau gini kan urusannya jadi tambah panjang," ujar Luna dengan paniknya. Darrel langsung memegang kepala gadis itu dan menghadapkan muka Luna ke mukanya.


" Kamu percaya apapun yang dilakukan sama papa kamu, ini demi kebaikan kamu, papa kamu gak mungkin berlaku gak adil, papa kamu pasti tahu apa hukuman yang pas buat anak itu, kamu mending nurut dan percaya aja ya?"


" Iya Luna percaya, lagian kalau gak percaya Luna gak dikasih uang jajan lagi dong, hahaha. Kalau papa keterlaluan pun Luna bisa lakuin hal yang Luna lakuin ke Lucy, akhirnya Lucy sekarang bisa temenan lagi sama Luna, home schooling, hidup enak, Luna bahagia," ujar Luna dengan wajah yang bersemi.


" Memang Luna harus cerita sama kak Darrel ya? Buat apa cerita sama kak Darrel? Kan gak ada hubungannya sama kak Darrel, ngapain juga cerita? Gaya pacaran kita tuh gak sesepi itu kak sampe harus cerita hal yang gitu, hahaha," ujar Luna meledek Darrel yang sok berperan menjadi pacar posesif, sangat tidak sesuai dengan karakter asli Darrel.


" Eh, kak Darrel masih belum cerita kenapa kak Darrel bisa sampai ngebatalin bea siswa ke Jepangnya loh kak," ujar Luna yang teringat dengan pokok permasalahan mereka hari ini, mereka harus menunda pembahasan karna bakso panas, kini mereka harus menuntaskan pembicaraan ini.


Luna sangat mengenal Darrel, lelaki itu tak mungkin melepaskan impiannya untuk hal yang tak penting. Bahkan perusahaan papanya yang harusnya jadi prioritasnya pun kalah dengan impiannya yang ingin memiliki kompetensi keahlian di bidang elektronika dan bisnis kuliner. Papa yang sudah mengancam bahkan mengusirnya tak membuat niatnya itu berubah. Kini dia mendapat kesempatan emas untuk meraih impiannya, dia malah menyia – nyiakan kesempatan itu.


" Aku mau di Indonesia aja, aku cukup menyadari gak semua tentang aku dan impianku. Aku juga punya tanggung jawab sama perusahaan papa, aku punya tanggung jawab sama usaha aku, aku juga punya tanggung jawab sama kamu, aku gak mau egois dan korbanin semua itu," ujar Darrel dengan nada pelannya.


" Korbanin? Jadi maksud kak Darrel, selama ini kak Darrel itu anggap Luna sebagai pengorbanan, kak Darrel gak menjalaninya dengan suka ya? Kok jahat ya," ujar Luna yang langsung menatap Darrel dengan sinis membuang muka tak lama kemudian. Darrel langsung *** kepala Luna dengan gemas.


" Kamu padahal tahu itu bukan maksud aku, tapi kamu malah kayak gitu, gemas sekali rasanya. Cepet selesai ya sensinya, biar gak ngomel – ngomel mulu," ujar lelaki itu yang membuat Luna terkekeh. Padahal tadi dia sungguh kesal, namun respon Darrel berhasil membuatnya kembali pada mood baiknya.


" Ponsel kamu bunyi tuh, angkat gih," ujar Darrel yang berjalan ke arah rok seragam Luna dan mengambil ponsel gadis itu lalu menyerahkannya pada Luna.


" Dari Radith," ujar Luna dengan tenang sambil mengangkat panggilan itu.


" Gue di rumah sakit."


" Gak usah bawel anjir, gue sama kak Darrel kok. Tadi gue disiram air panas, gak usah banyak tanya dulu, besok kalau ketemu gue ceritain semua sampai Lo puas." Luna langsung mematikan sambungan setelah mendengarkan beberapa kalimat dari Radith, entah apa yang dikatakan lelaki itu.


" Gak mau nanya Radith telpon ngomongin apa aja?" tanya Luna dengan alis yang terangkat. Darrel menggelengkan kepalanya dengan santai, membuat Luna jadi bingung dengan lelaki itu. Masalah Luna dan Lucy saja lelaki itu sangat heboh, mengapa masalah Radith malah tidak kepo?


" Paling Radith Cuma nanyain kamu dimana, kan tadi waktu kita pergi dia lagi tidur, terus waktu kamu bilang lagi di rumah sakit dia kaget terus nanya kenapa bisa sampai sini, paling gitu gitu doang Lun, ngapain aku kepoin?" tanya Darrel dengan nada santainya yang membuat Luna terkekeh karna apa yang dikatakan Darrel benar.


" Kamu makan gih, habis itu obatnya diminum, nanti salepnya biar dibenerin sam suster, aku gak berani pegng pegang are atas, takut khilaf," ujar Darrel kelewat jujur yang membuat Luna memanadangnya dengan malas.


" Luna masih heran loh, masak kena luka bakar obatnya sampai sebanyak ini sih kak? Ini banyak banget loh kak, ada satu, dua, tiga, empat, lima macam kak, astaga, ini Luna Cuma kena luka bakar tidak disertai demam dan batuk pilek," ujar Luna panjang lebar yang membuat Darrel menatap Luna dengan geli.


" itu obat dalam Lun, biar nanti gak berbekas luka bakarnya, kalau gak percaya aku panggil dokter Violin sekarang, biar dia yang ngomong sama kamu," ujar Darrel yang diangguki oleh Luna, gadis itu sungguh penasaran, dan jujur saja, dia tak percaya pada Darrel.


" Ya udah kamu tunggu bentar, aku panggilin dokter Violin dulu," ujar Darrel menghela napasnya dan berjalan keluar dari ruangan itu. Tak butuh waktu lama untuk Darrel kembali ke dalam ruang itu bersama dengan dokter Violin, dokter kepercayaan keluarga Luna.


" Dokter, masak luka bakar obatnya sebanyak ini sih dok?" tanya Luna yang lebih mirip seperti mengadu, gadis itu mengulurkan obatnya dengan wajah cemberut, namun dokter itu tersenyum manis dan mendorong obat itu lagi dengan pelan ke arah Luna.


" Beberapa itu i\=obat dalam, takutnya terjadi sesuatu sama sel kulit kamu, kamu kan anak pemilik rumah sakit ini, kami harus memberikan yang terbaik. Kalau untuk sisanya itu vitamin karna kami lihat kamu memang tambah kurus, mungkin kamu sedang banyak kegiatan dan banyak pikiran, vitamin itu harus kamu minum setiap hari, kalau sudah habis kami akan memberikan lagi."


" Luna gak pernah minum vitamin dok sebelumnya, kenapa sekarang harus? Sebelumnya juga gak kenapa – napa kok Dok," ujar Luna yang masih merasa janggal, namun dokter itu malah terkekeh seakan jawaban Luna adalah hal yang lucu.


" dulu kan kamu belum jadi siswi STM, dulu kamu belum sesibuk sekarang kan? Vitamin ini memang diminta sendiri oleh Mr. Wilkinson buat diminum sama kamu, jangan nunggu keadaan kamu drop baru diobatin, mencegah kan lebih baik daripada mengobati, iya kan?"


Luna mengangguk paham dan menurut, sementara itu dokter Violin pamit untuk mengecek kondisi pasien lain. Darrel mengambilkan makan untuk Luna yang tadi dia beli melalui orang suruhannya. Lelaki itu menyuapi Luna akrna gadis itu mengancam tak mau meminum obat jika tak disuapi.


" Obat, seandainya kamu permen, makan tiga hari sekali juga aku gak papa deh," ujar Luna menelan satu persatu obat yang ada di sebuah wadah. Darrel yang sudah menyiapkan semua obat dan vitamin itu agar Luna tak perlu repot lagi.


" Ya kalau kamu mau minum semua juga gakpapa, paling nanti overdosis," sahut Darrel yang membuat Luna mendesis dan memukul lelaki itu dengan bantal.


" babang Darrel mau nyari suster dulu buat obat olesnya, neng Luna tunggu ya, babang gak akan biarin kaki neng Luna bopeng karna air panas, yuhuuuuu."


Luna terkekeh karna sikap konyol Darrel. Lelaki itu selalu bisa menjadi moodboosternya di saat seperti ini. Bahagia sekali Luna bisa menemukan Darrel diantara milyaran manusia di dunia ini.