
Radith sudah bersiap dengan Kemejanya yang rapi. Dia hendak berangkat ke kantornya, namun seseorang malah menelponnya dan memintanya untuk datang ke sebuah tempat dimana hanya orang tertentu yang tahu tempat itu. Tempat itu adalah 'markas' utama keluarga Wilkinson yang juga menjadi gudang barang – barang semi ilegal yang mereka beli seperti pistol, senjata tajam dan lainnya.
" Ngapain harus ke tempat itu? Bahkan gue Cuma sekali ke sana dan ngeri banget rasanya. Gue gak mau ke sana lagi," ujar Radith yang keukeuh dengan keputusannya. Namun orang itu meminta Radith untuk datang karna di tempat itu sudah ada Jordan dan Mr. Wilkinson sendiri. Tentu saja Radith tak berani membantah lagi, dia memilih bergegas menuju tempat itu.
Radith memerlukan waktu lima belas menit untuk sampai ke tempat yang agak terpencil itu. Hanya sebuah rumah sederhana, namun terdapat ruang bawah rahasia yang hanya bisa diakses oleh seseorang yang sidik jari, wajah serta sample DNA nya sudah terdaftar. Rumit? Yah, begitulah keadaannya, hal ini dilakukan agar sistem keamanan yang ada di sana tetap ketat.
Setelah memastikan tak ada yang mengikutinya, Radith segera turun dari mobil dan meminta orang – orangnya bergabung dengan pengawal lain untuk menjaga tempat ini diam – diam. Radith pun melangkah masuk ke pintu utama. Di sana dia menempelkan ibu jarinya dan pintu pun terbuka lebar dengan sendirinya.
Lelaki itu melangkah masuk ke ruangan yang ada di sana dengan was – was. Pasalnya, jika identitasnya tidak terdeteksi, laser tersembunyi akan segera menembak dan sudah pasti akan membuat tubuhnya terpotong – potong. ( ah maaf, tolong jangan dibayangkan karna akan snagat mengganggu pikiran dan kesehatan mental)
Radith membaca intruksi dan langsung mendekatkan wajahnya ke kamera. Untungnya wajahnya masih bisa terdeteksi meski sudah bertahun – tahun tidak datang ke tempat ini. Pintu kedua pun terbuka. Membuat Radith masuk dan melihat ke sekeliling, mencari sebuah lemari dimana lemari tersebut terdapat tombol Rahasia yang akan membawanya ke ruang bawah tanah.
Setlah menemukan lemari yang dia cari. Dia segera menekan tombol yang tersembunyi dan lemari itupun bergeser, pintu rahasia yang terkunci dan terdapat perintah sampel rambut membuat Radith harus menahan sakit karna mencabut rambutnya sendiri. Jika setiap hari dia datang ke rumah ini, sudah pasti dia akan botak mulus di hari tua nanti.
Radith masuk ke ruang bawah tanah dan pintu langsung tertutup. Dia menyalakan tombol lampu yang ada di sana dengan password khusus yang sudah didaftarkan atas namanya. Lmpu pun menyala dan dia berjalan turun dengan hati – hati agar tidak tergelincir.
Hawa di ruang bawah tanah ini sangat pengap karna tidak ada sirkulasi udara sama sekali. Radith jadi heran kenapa orang – orang kaya lebih suka membuat ruang bawah tanah untuk tempt persembunyian. Padahal mereka bisa saja mati sesak atau pengap di ruangan ini. Menyadari hal itu membuat Radith menggelengkan kepalanya pelan.
" Ini nih yang gue gak suka," desis Radith pelan saat dia sampai di tahap terakhir. Tahap yang mengharuskannya menempelkan sample darah ke alat yang tersedia. Di sana juga disediakan jarum yang masih steril, alkohol, serta cutter kecil. Radith tentu saja mengambil jarum dan melumuri jarum itu dengan alkohol agar tetap steril.
" Susah banget mau ketemu calon mertua. Eh astaga mulut Lo dith. Calon mertua orang dith," ujar Radith pelan sambil melakukan tugasnya. Lelaki itu mengomel pelan agar rasa sakit di tangannya sedikit berkurang. Meski hanya sedikit, tetap saja rasanya perih. Sampai akhirnya proses selesai dan pintu terakhir itu terbuka.
Radith langsung masuk ke dalam sana dan pintu langsung tertutup. Di dalam sana terdapat tiga orang dengan wajah serius. Ketiganya melihat ke arah LCD yang menampakkan sebuah peta rahasia. Kedatangan Radith tentu mengalihkan perhatian mereka. Mereka meminta Radith untuk duduk dan ikut bergabung. Radith lansung mendudukkan dirinya di sebelah Darrel. Mereka kembali fokus pada layar.
" Radith, sebaiknya kita tunda dulu pembahasan jalur perdagangan Reinan Coorp. Lebih baik kamu jelaskan bagaimana kamu bisa kenal dengan gadis bernama Karin itu," ujar Mr. Wilkinson dengan nada yang dingin nan menyeramkan. Astaga, bagaimana mungkin pria seseram ini memiliki anak yang semanis Luna dan sereceh Jordan?
" Saya bertemu dengan dia saat gatering, kbetulan kami satu tim jadi saya banyak membantunya. Saya tidak tahu bagaimana dia bisa sampai ke kota ini dan menjadi direktur di perusahaan Om Smith. Saya juga berusaha menyelidiki dia, tapi saya belum menemukan petunjuk apapun selain orang yang memerintahkannya," ujar Radith yang membuat Mr. Wilkinson mengangguk – anggukan kepala.
" Yah, ku kira kau sudah menemukan petunjuk. Bahkan aku pun sulit menemukan identitas orang itu saat Darrel memberitahukan tentangnya padaku. Seakan dia turun dari langit dan langsung bekerja di kota itu. Bahkan riwayat kelahirannya pun tidak jelas. Semua data yang dia gunakan seperti dipalsukan."
Suasana berubah tegang saat Mr. Wilkinson melepas kacamata yang dia gunakan dan mngusap wajah lelahnya itu. Mereka semua memperhatikan apapun yang dilakukan oleh Mr. Wilkinson. Membuat pria tua itu berdecak karna merasa tak nyaman ditatap seperti itu oleh tiga orang muda yang ada di ruangan ini.
"Aku tidak sebegitu menarik dan aku sedang tidak mencari menantu untuk anakku. Berhenti meneatapku seperti itu," ujar Mr. Wilkinson tanpa menatap balik mereka. Tentu saja perkataan Mr. Wilkinson membuat Darrel dan Radith langsung memalingkan wajahnya. Mereka tidak perlu menunggu untuk disebut nama atau ditegur dua kali. Namun Jordan masih menatap beliau dengan intens.
" Kau, kenapa kau menatap papa seperti itu?" Tanya Mr. Wilkinson karna tegurannya tak diindahkan oleh Jordan. Lelaki itu tampak gelagapan dan langsung menunjukkan wajah cengonya. Dia seperti sedang melamun meski wajahnya menatap papanya. Tingkahnya tersebut membuat Mr. Wilkinson menggelengkan kepalanya pelan.
" Papa cuma bilang tidak mencari menantu, itu artinya bukan Jordan yang papa maksud, bukan salah Jordan dong," ujar Jordan mengedikkan bahunya. Mr. Wilkinson tentu sedikit tersentak karna jawaban Jordan yang tidak masuk akal. Sepertinya isi kepala anaknya itu sedikit menua dan berkarat sejak menikah. Entah apa yang dia lakukan dan dia pikirkan selama menikah.
" Sebenarnya Jordan takut kalau Karin itu akan menjadi ancaman bagi Luna dan Keysha. Apalagi Luna sudah bertemu dengan Karin. Luna itu bodoh, dia bakal percaya dan simpati berlebihan ke Karin, hal itu akan menjadi boomerang sendiri untuk Luna," ujar Jordan denegan serius. Rupanya hal itu yang sedari tadi menganggu pikirannya.
" Yah, Kau tidak perlu menyebut anakku dengan ungkapan bodoh seperti itu. Apa kau tidak ingat kau bahkan lebih bodoh dan lebih memalukan dibanding Luna?" tanya Mr. Wilkinson yang membuat Radith dan Darrel tersenyum karna menahan tawanya. Jordan langsung menatap tajam ke arah keduanya, membuat kedua orang itu mengalihkan pandangannya dan berhenti tersenyum.
" Jordan pun anak Papa, dan buah tak pernah jatuh jauh dari pohonnya," ujar Jordan pelan sambil menatap ke arah lain. Mendengar itu Mr. Wilkinson langsung menyentil dahi Jordan cukup keras. Membuat Jordan mengelus dahinya yang tampan itu pelan. Jika masalah Lunetta atau Danesya, papanya akan menganggap dirinya sebagai anak tiri. Bahkan mungkin tak dianggap anak sama sekali.
" Jangan melantur dari topik. Saat ini kita mendapat banyak sekali masalah dan bahaya. Apalagi yang Papa dengar ketiga gank besar sudah bersatu dan berencana untuk menghancurkan Wilkin's Coorp. Kalian harus tetap waspada dan jangan sampai lengah. Terutama kau Darrel," ujar Mr. Wilkinson yang membuat Radith menengok kaget.
' Ah, lucu Lo dith. Lo berharap apa sih di sini? Bahkan bapaknya Luna udah sayang banget sama Darrel. Terutama Darrel'? Lo gak ada apa – apanya dibanding dia bagi Mr. Wilkinson.' Batin Radith tanpa tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. sementara itu Darrel menganggukan kepalanya dengan patuh mendengar instruksi itu.
" Tunggu, bagaimana Kak Darrel bisa sampai ke tempat ini? Kak Darrel bukannya cacat permanen? Bagaimana kak Darrel bisa melewati tangga untuk sampai ke tempat ini?" tanya Radith yang membuat Darrel memeandang ke arah jordan dan memajukan dagunya seakan menunjuk Jordan sebagai jawaban, Radith tentu tak paham dengan gestur tersebut.
" Gue yang gendong dia sampai ke sini," jawab Jordan dengan tenang dan santai, namun wajahnya sama sekali tak santai, tubuh Darrel tidak kurus, tentu saja bebannya juga tak ringan. Darrel langsung menyengir, sementara Radith menganggukan kepalanya tanda paham. Sementara itu, Mr. Wilkinson berdehem untuk meminta perhatian mereka kembali.
" Untuk Keysha, lebih baik kirim dia kembali ke Inggris, akan jauh lebih aman jika dia tinggal di rumah utama bersama Danesya. Luna, kalian bisa meminta Luna untuk pergi juga bersama Keysha, tapi Papa juga tidak yakin Luna mau karna dulu dia menolak, yang jelas kalian tidak boleh memberitahukan tentang hal ini pada Luna."
" Kenapa kami tidak boleh memberitahu Luna Om? Bukankah lebih baik Luna tahu dan bisa lebih berhati – hati?" tanya Radith yang akhirnya menyampaikan isi pikirannya. Dia juga merasa kasihan pada Luna yang seperti orang bodoh yang tidak tahu apapun. Luna berhak tahu agar dia bisa bersiap dan melindungi dirinya sendiri.
" Kau tahu apa yang terakhir terjadi saat Luna tahu sesuatu? Kunci utama, orang yang menyelinap diantara pengawal kabur, dan terakhir aku menemukannya dalam kondisi tewas. Mereka semua lebih mengawasi Luna dan merasa mudah mendapat informasi karna gadis itu sangat ceroboh. Akan lebih aman jika dia tidak tahu apapun," ujar Mr. Wilkinson yang membuat mereka semua mengangguk paham.
" Sebenarnya gak Cuma satu atau dua orang yang jadi pengkhianat. Tapi kita juga gak bisa langsung tangkap mereka semua. Karna kita gak tahu mereka diutus siapa dan apa tujuannya, makanya gue kaget Luna bisa terlibat sama salah satu pengkhianat itu. Dugaan gue sih mobil yang dipakai Luna waktu itu ada alat penyadapnya," ujar Darrel pelan.
" Waktu itu? Kapan?" tanya Radith bingung. Jordan langsung menjelaskan saat Radith kecelakaan dan Jordan memintanya untuk bicara, Luna pergi dan mendapat informasi itu dari salah satu pengawal yang kini langsung di take down dari tugasnya dan dikirim ke salah satu pulau terpencil yang ada di Afrika sebagai hukumannya.
" Sekarang masalah yang ada di LCD ini. Saya mau kalian semua mempelajari rute perdagangan yang biasa mereka lakukan. Mereka ini sering menjual barang secara ilegal dan bahkan pelan – pelan mengambil saham yang seharusnya untuk perusahaan Wilkinson, mereka akan menjadi batu sandungan yang besar suatu hari nanti," ujar Mr. Wilkinson denag serius.
" Anggap saja karma untuk papa. Papa juga sering beli barang ilegal juga kan untuk keperluan keamanan? Yah, anggap saja ini balasannya," ujar Jordan dengan santai. Jordan langsung mengangkat tangannya dan melakukan gerakan mengunci mulut saat wajah Mr. Wilkinson berubah menjadi lebih garang dari sebelumnya.
" Tutup mulutmu atau salah satu alat keamanan ilegal itu menembus kepalamu dan memperbaiki isi otakmu," ujar Mr. Wilkinson dengan nasa sinis yang dibuat – buat. Jordan tak takut, tidak juga merasa marah. Lelaki itu sudah terlalu biasa dnegan ancaman seperti itu, namun nyatanya papanya tetap sayang padanya meski tak pernah ditunjukkan.
" Om, semisal Luna tetap tidak mau untuk pergi ke luar negeri bagaimana? Bukannya terlalu bahaya dia stay di Indonesia?" tanya Darrel yang tentu saja khawatir dengan kondisi gadisnya. Dia bahkan sudah tak bisa menjaga Luna dengan maksimal, tak mungkin dia meletakkan Luna pada posisi yang sulit.
" Yah, kau harus tanyakan alasan gadis itu menolak pergi. Jika masuk akal, Saya akan mengganti semua pengawa pelan – pelan agar tidak mencolok, walau tidak menghilangkan rsiko, setidaknya sudah cukup untuk mengurangi," ujar Mr. Wilkinson yang membuat Darrel menghela napas, tetap saja dia merasa tak senang.
" Om, saya heran. Kenapa Om tidak konsisten sekali?" tanya Radith yang sangat melenceng dari topik. Jordan dan Darrel tentu terkejut dengan Radith yang lancang. Bahkan Darrel pun tak berani melakukan itu padanya meski sudah jelas restu untuk Darrel dan Luna terbuka lebar. Tapi Radith?
" Berani benar kamu mengatakan itu? Apa maksud kamu?" tanya Mr. Wilkinson dengan galak. Radith langsung mminta Mr. Wilkinson untuk tenang, lelaki itu menghela napas dan bersiap menjelaskan maksudnya.
" Om gak konsisten. Tadi membahasakan diri pakai 'Aku' lalu 'Papa' lalu 'saya'. Kan dibacanya jadi tidak enak, kasihan tuh sama yang baca," ujar Radith tanpa dosanya. Mr. Wilkinson langsung meraup wajahnya sendiri dengan tangan.
" Karma apa lagi ini? Tak cukup Jordan yang sedikit gila di keluarga Wilkinson. Kini bertambah satu lagi orang yang gila dan tak punya takut seperti anak yang satu ini." Baik Radith, Jordan maupun Darrel tak ada yang berani menjawab perkataan Mr. Wilkinson yang terdengar pasrah dan mengadu pada Sang Pencipta.
" Baiklah. Saya harus segera pergi, lekas kosongkan tempat ini," ujar Mr. Wilkinson yang memebuat Jordan ikut berdiri.
" Bagaimana dengan Darrel?" tanya Radith yang melihat Darrel kesusahan dengan mendorong kursi rodanya.
" Apa kau berbicara padaku tuan muda Radith? Aku sudah membantunya untuk sampai ke tempat ini. Apa aku harus membantunya untuk keluar dari sini juga?" tanya Jordan dengan santai namun terdengar sengit. Radith bahkan langsung melongo dan menatap ke arah Mr. Wilkinson.
" Kau tak ada niat untuk memerintahku kan?" tanya pria itu dengan alis mata yang diangkat satu. Radith langsung mengalah dan berjongkok di depan Darrel. Jordan langsung tertawa dan bertepuk tangan. Radith tak bisa melihat Jordan karna lelaki itu ada di belakangnya.
" Makasih ya Dith. Lo emang sahabat terbaik gue," ujar Darrel sambil memeluk erat leher Radith.
" Heh! Heh! Jaga adab! Jaga tangan, jaga kelakuan. Gue masih lurus weh, gue gak tertarik sama Lo kak," ujar Radith yang menggeliat geli karna tangan Darrel mendekap lehernya erat. Darrel pun langsung melepaskan tangannya dan tertawa mendengar jawaban Radith.