Hopeless

Hopeless
Chapter 84



Luna berjalan menuju kelasnya diiringi tatapan sinis yang Luna yakin dari fans Darrel. Mereka semua memandang Luna jengkel dan bergunjing satu sama lain


Yah, setidaknya mereka semua tak berani bicara langsung di depan Luna, jadi Luna bisa menganggap tidak mendengar apapun dan berpura - pura bodoh.


Mengenai Monica, entah apa yang akan gadis itu lakukan, sampai saat ini Luna belum mendapat gangguan lagi dari gadis itu, mungkin dia sudah terlalu malu untuk menganggu Luna lagi


" Dari awal gue udsh curiga Lo ada apa apa sama kak Darrel, tapi Lo ngeles mulu, Lo bikin kita patah hati Lun." baru saja Luna masuk ke dalam kelas, Ghea sudah menunggunya dengan tatapan terluka.


" Maaf, gue gak ada maksud, lagian si Monica itu yang mulai duluan kan, gue juga gak bisa bongkar kalau gue tunangan kak Darrel, gue mohon pengertian lo dan kalian semua," ujar Luna dengan wajah sedih, dia tak ingin memiliki musuh, tapi jika seseorang menjatuhkan harga dirinya, tentu dia akan melawan.


" Well, karna ternyata Lo beneran tunanganya, boleh kalik kita dinner bareng sekalian ajak kak Darrel, jarang - jarang kan kak Darrel bisa dilihst dari dekat, " ujar Ghea yang membuat Luna melongo seketika.


" nyesek gue ghe minta maaf sama Lo, eh tapi kalau Lo mau ya ayo aja, nanti bisa gue yang ngomong sama dia, dia pasti mau," ujar Luna dengan senyumnya.


" Kok Lo berani mastiin sih? Kalau nanti dia nolak gimana?" tanya Ghea dengan wajah bingungnya, pasalnya Ghea tahu Darrel bukan tipe gampangan seperti itu, lelaki itu pasti enggan untuk ikut, apalagi berurusan dengan fans gilanya.


" Yah, nsnti ada lah the power of cewek, dia pasti mau, tapi cuma Lo sama Resya aja, kalau ramai ya dia pasti gak mau lah," ujar Luna kemudian.


" Oke deal, gue langsung kabarin Resya, waktunya kapan?" tanya Ghea dengan antusias, kapan lagi dia bisa makan bareng Idolanya?


" kapan aja deh, yang penting jangan weekend, gue pasti sibuk kalau weekend, apalagi weekend besok, gue mau Quality time sama kak Darrel," ujar Luna yang dengan sombongnya memamerkan hubungannya dengan kak Darrel


" Mentang - mentang udah ketahuan, jsdi sombongnya gak ketulungan. Hati - hati Lo, banyak yang doain Lo putus soalnya," ujar Ghea sambil mencolek hidung Luna.


" Hah? Ngedoain putus? Siapa aja memang?" tanya Luns dengan alis ysng bertaut dan dahi yang berkerut.


" Banyak banget, fans kak Darrel seluruh jagat raya ini, sama para pembac yang ada di team Radith - Luna, mereka semua doain Lo putus, kuat kuat aja Lo, hahahaha," ujar Ghea yang senang hati mengompori Luna.


" Team Radith Luna? Maksudnya? Memang ada ya semacam itu? Gue sama Radith kan gak ada apa apa,  Radith juga gak pernah suka sama gue kok," jawab Luna dengan jari yang memegang dagunya.


" hahaha, cukup gue, author dan readers hang paham. Otak lo gak bakalan nyampe buat ngomongin beginian," jawab Ghea dengan teganya dan meninggalkan Luna yang masih kebingungan.


" Asem lah, malah gue ditinggalin, bukannya jelasin ke gue gitu," ujar Luna menggeleng dramatis melihat Ghea yang sudah kembali ke tempatnya. Luna sendiri memilih untuk kembali ke tempat duduknya.


" Urusan gue sama OSIS gimana ya? Mana gue belum ada satu semester jadi OSIS, masak gue nanti dipecat secara tidwk hormat? Gak elite banget," ujar Luna yang berpangku pada tangannya dan menerawang.


Luna tak ingin melepaskan OSIS, itulah sebabnya Luna merahasiakan hubungannya, namun jika sudah seperti kala itu, mau tidak mau Luna membongkar semuanya. Meski kini gadis itu menyesal karena bertambah pusing dengan masalah yang ada.


Gadis itu menggelengkan kepalanys untuk mengusir segala pikiran buruk yang saat ini medominasi otaknya. Biarlah masalah itu mengalir dan solusi muncul saat rapat nanti,  meski kemungkinan besar dia harus melepaskan OSIS.


Luna merasakan ponselnya bergetar dan didapatinya panggilan dari Darrel. Lelaki itu menjadi berani menghubungi Luna karena hubungan mereka terbongkar.


" Kenapa kak?" tanya Luna tanpa mengucapkan salam, kebiasaan dari dulu, meski sudah mulai berubah saat dia tumbuh dewasa.


" Nanti kamu gak usah ikut kumpul OSIS yah, nanti aku biar urus semuanya dulu baru kamu join di next rapat," ujar Darrel dari seberang sana yang membuat Luna mengerutkan alisnya.


Apakah Darrel berniat untuk melindunginya hingga melarangmya hadir? Namun Luna tak ingin dukungan orang dalam untuk hal ini, mereka akan makin membenci Luna bila itu terjadi.


" Oke kak," jawab Luna singkat, membuatnya mendengar Darrel yang bernapas lega, sepertinya lelaki itu menjadi tenang karna Luna menuruti perkataannya.


" Great, kamu nanti pulang sama Radith atau pak Jono?" tanya lelaki itu kemudian.


" Sama pak Jono aja lah, kenapa juga sama Radith? " tanya Luna yang tak paham dengan maksud pembicaraan Darrel.


" Oke deh kalau gitu, kalau pulang nanti kabarin ya."


" Oke kak," jawab Luna yang langsung menutup panggilan telponnya.


Luna memndang ponselnya dan menerka maksud Darrel, gadis itu khawatir yang dilakukan Darrel untuk menyelamatkan Luna merupkan jalan yang berbahaya dan beresiko.


" Woy Lun, Lo tahu gak? Kak Monica mau pindah sekolah coy!" Seru Resya yang tiba tiba muncul entah dari mana, memberitakan hal yang tentu mengejutkan bagi Luna.


" Kok bisa? Lo dapat info dari mana? Jangan jangan cuma hoax kali," jawab Luna dengan wajah bingungnya. Meski sebenarnya bagus saja jika gadis itu pergi, hidup Luna akan jauh lebih tentram dan nyaman.


" Beneran njir, soalnya heboh di grub Ghibah Darrel, disana semua ngomongin Lo sama Monica," ujar Resya dengan semangat 45 yang membara


" Masih aktif aja tuh grub? Gue kirain udah bubar waktu tahu fakta Darrel udah punya tunangan, " jawab Luna dengan santai aja dsn tanpa beban.


" Weiitts, jangan salah Lo, Kita tuh tim pecinta Darrel dengan atau tanpa dia punya pasangan. Selama janur kuning belum melengkung, pantang kami mundur, siapa tahu bisa ditikung," ujar Resya dengan senyum lebarnya.


" Lo ngomong kayak gitu seakan gue gak ada disini njir, orang yang mau Lo tikung da dihadapan Lo sendiri, " ujar Luna dengan terkekeh dan menjitak kepala Resya pelan.


" Hahaha, harusnya Lo yang hati hati karna udah menganggu kak Darrelnya kami, bisa aja hidup Lo gak tenang habis ini," ujar Resya yang membuat Luna memandangnya heran. Apa maksud perkataan Resya? Apakah ada yang berniat menyakiti Luna?


Kepala gadis itu penuh dengan terkaan dan memandang Resya dengan curiga, Resya yang melihat itu pun menjadi gelagapan sendiri dan menggaruk pelipisnya karena sadar sudsh salah bicara.


" Gue bercanda kalik Lun, gak usah tegang gitu ah wajah Lo, jadi gak enak kan gue jadinya," ujar Resya menggaruk kepala bagian belakangnya.


" Hehehehe, Lo juga santai aja kalik, gue cuma mikir aja, emang siapa yang berani nyakitin gue, cari mati tuh orang," jawab Luna dengan bercanda untuk mencairkan suasana.


Ekspresi wajah Resya berubah, gadis itu tersenyum, namun tak ada yang paham senyum apa yang gadis itu tunjukkan. Resya mengangguk dan berjalan menuju ke tempat duduknya, namun anehnya, saat dia tepat berada di sebelah Luna, gadis itu berhenti dan menepuk ringan pundak Luna barulah melanjutkan jalannya, entah apa maksudnya.




Hari kesekian untuk ujian kali ini, Luna merasa tak sanggup lagi melanjutkan semua. Luna merasa semua yang dia pelajari meluap seketika dan entah pergi kemana.


Jika biasanya saat SMP dia mengerjakan soal ujian dengan percaya diri dan yakin akan memdapat nilai bagus, kini Luna malah merasa jika nilai bisa tuntas KKM adalah suatu harapan. Miris sekali.


" Lo langsung pulang Lun?" Tanya Radith yang tiba tiba ada di Sebelah Luna tanpa memberi aba - aba, membuat gadis itu berjingkat kaget karena kehadirannya.


" Enggak, gue mau kumpulan OSIS, bahas masalah hansek sih kayaknya," jawab Luna yang juga tak yakin, namun acara terdekat adalah hansek, pasti tidak akan jauh dari topik pembahasan itu.


" Ohhh, oke deh kalau gitu, gue bali duluan, jangan rindu ye," ujar Radith menepuk pundak Luna dan berlalu begitu saja.


" Cih, Dasar aneh, gak jelas," ujar Luna saat Radith sudah tak tampak lagi, meski demikian, Luna masih bisa tertawa ringam karena kelakuan absurd Radith.


Gadis itu akhirnya keluar dari kelas dan menuju ruang OSIS untuk rapat, meski dia harus menyiapkan mental baja karena yakin akan dibuat habis oleh mereka semua.


" Masih berani loh dia datang kesini, dia gak punya malu kah?" Luna masih bisa mendengar gunjingan itu. Persetan lah dengan mereka, Luna hanya ingin tahu kelanjutan nasibnya di organisasi ini yang kemungkinan besar memang akan kandas.


" Lo kok masih berani beraninya kesini sih?" Tanya seorang senior dengan kejamnya.


Luna nyaris ketawa karenanya, mereka sudah disumpah untuk menjadi keluarga. Inikah keluarga yang mereka maksud? Bahkan Luna langsung dihempas karena masalah ini. Muka dua sekali.


" Pastilah bertahan, backingannya kuat beb," sindir yang lain sambil tertawa samoai sikut menyikut. Luna menulikan telinganya seakan tak mendengar apapun. Gadis itu duduk tenang menunggu rapat dimulai.


Tak lama Darrel masuk ke ruang itu dan terpaku menatap Luna yang juga menatapnya. Gadisnya tidak menuruti perkataannya, hebatnya lagi gadis itu berbohong.


Darrel memiliki alasan sendiri melarang Luna datang, lelaki itu ingin melindungi Luna dan gadis itu tak perlu tahu apa yang akn Darrel lakukan. Namun jika sudah sampai sini, Darrel tidak bisa melakukan apapun lagi.


" well, gue tahu banyak yang kalian pikir atau tanyakan. Setidaknya gue tahu beberapa hal itu," ujar Darrel yang yang mengawli rapat dengan Informal, membuat Darrel ditatap kaget oleh seluruh penghuni ruang itu.


" Sesuai aturan yang udah ada turun temurun. Gak ada yang boleh pacaran satu ekstra, hebatnya lagi gue sebagai ketua OSIS malah punya tunangan disini. Gue tahu itu menganggu kalian, pasti." Darrel berbicara hal itu dengan Lugas dan tenang seolah itu semua bukanlah hal yang besar.


" Jadi, karena aturan gak bisa diubah, gue harus lakukan apa yang mungkin kalian inginkan." Darrel tampak diam dan memandang mereka satu persatu. Yang ditatap pun menunggu apa yang Darrel akan katakan.


" Gue bakal ngundurin diri sebagai ketua OSIS, Gue harap gak ada keributan atau deskriminasi apapun lagi setelah ini."


Semua orang disitu sampai menegak dan memastikan telinga mereka tak salah mendengar. Tidak mungkin Darrel mengatakan hal itu. Jabatan ketua OSIS yang diperjuangan susah payah dia lepas begitu saja demi seorang gadis? Apakah pria itu sudah tidak waras lagi?


" Saya gak akan terima pernyataan tidak setuju dari kalian, saya anggap masalah ini clear, dan mari kita semua mulai rapat pada hari ini. " Darrel mulai berbicara dengan formal dan pandangan tenang, seolah dia tidak sedang mengambil keputusan besar.


Luna sendiri nyaris menangis mendengar keputusan Darrel. Lelaki itu sampai berkorban ke titik ini untuk melindunginya, melindungi gadis yang bahkan masih ragu tentang perasaannya. Pantaskah Darrel menerima semua itu?


" Untuk pembahasan kali ini adalah Hansek, ini akan menjadi program kerja terakhir saya. Mohon kerja sama kalian semua aar kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar, silakan sampaikan sudah sejauh mana persiapan kegiatan ini."


Suasana berubah menjadi sendu meski mereka semua tetap melaksanakan raoat seperti biasa. Namun pernyataan Darrel sungguh mengubah atmosfir ruang tersebut.


" Gilak, gue penasaran se spesial apa sih tuh anak, sampai ketos kita ngundurin diri dari jabatannya. Pasti tuh anak bukan orang sembarangan deh."


Luna yang mendengar gunjingan itu tak marah. Gadis itu justru sedih karna dia tahu Darrel sangat bangga dan berkompeten untuk jabatan ini, namun lelaki itu harus melepaskannya demi gadis yang bahkan tak se spesial itu.


" Gue harus apa? Gue harus apa?" Luna meremas roknya dan menunduk, menahan aliran air yang akan membasahi matanya. Gadis itu harus bertindak profesional jika di dalam forum. Alhasil Luna hanya bisa menghirup udara dalam dan melepaskannya perlahan untuk menenagkan batinnya.




" Hey, kamu marah lagi sama aku? Kenpa jalannya cepat cepat sih? Tungguin sih," ujar Darrel yang berusaha menyusul Luna karena gadis itu berjalan cepat. Darrel mengerti Luna akan marah bila tahu keputusanya, itulah sebabnya Darrel tak ingin Luna hadir dalam rapat kali ini.


" Kak Darrel Kenapa lakuin itu semua sih? Jadi ketos itu kan gak gampang prosesnya, kok kak Darrel mau lepasin gitu aja?" tanya Luna dengan kesal tanpa melihat ke arah lelaki itu meski kakinya melambat agar Darrel berjalan di sampingnya.


" gak ada yang lebih berharga dibanding kamu, lagian memang periode aku tinggal beberapa bulan lagi, gak akan ngaruh aku mundur sekarang atau nanti. Kalau kamu? Kamu bakal jadi anggota untuk dua tahun ke depan, aku gak mau kamu kenapa napa disana," ujar Darrel tersenyum tulus sambil merangkul Luna menuju mobilnya.


Kini Darrel tak lagi khawatir orang lain akan memergoki mereka, toh semua sudah terbongkar. Jika tahu rasanya sebebas ini, Darrel akan melakukannya sejak lama, sunguh.


" Kak, nanti malam kita dinner ya, tapi ajak dua teman kakak, soalnya aku ajak dua temen cewek aku," ujar Luna yang tiba tiba enggan membahas masalah tadi.


" Kenapa gak kita berdua aja?" tanya Darrek yang bingung dengan jalan pikiran Luna.


" Orang aku udah janji sama mereka bakal dinner bareng kak Darrel, ya gimana lagi. Lagian cuma sekali ini kok, dan Luna gak terima penolakan, jadi harus mau," ujar Luna menunjuk dan meletakkan jarinya di dagu Darrel.


" Oke sip, tapi weekend full time sama aku ya," ujar Darrel sambil mengacak rambut Luna dan menghirup aroma rambut itu lamat - lamat.


" Duh, jadi candu kan," lirih Darrel memandang rambut Luna yang kecoklatan namun sangat berkilau.