Hopeless

Hopeless
Chapter 91



" Cukup, waktu makan habis, silakan letakkan alat makan masing - masing, kita berdoa setelah makan," ujar tentara itu ysng membuat Luna diam dan mengunyah makanan di mulutnya dengan perlahan.


Mulutnya penuh dengan semangka yang harus dia makan buru buru agar habis, bahkan ada teman satu mejanya yang tidak menyukai semangka hingga dia harus berkorban menghabiskan semangka itu.


" Setelah ini kalian silakan kembali ke Aula untuk mengikuti sesi berikutnya, " ujar tentara itu yang tadi mengawasi makan mereka, para siswa duduk tenang menunggu tentara itu meminta mereka bangkit.


" SIKAP BERDIRI!"


" SIYAP."


" LAKSANAKAN!"


" BELA NEGARA!"


Semua siswa berjalan beriringan keluar dari ruangan itu menuju Aula, Luna sendiri sebenarnya mengantuk mengingat hari sudah malam, kenapa masih saja ada sesi? Tidak bisa kah dilanjutkan besok pagi?


" SELAMAT MALAM SEMUA?"


" MALAM MALAM MALAM LUAR BIASA TETAP SEMANGAT!!!"


" Baik, hari ini kita akan memasuki Sesi Bela Negara, pembicara kali ini adalah..."


Baru masuk ke awal sesi saja Luna sudah berhasrat untuk memejamkan matanya. Demi Dewi manapun yang ada di dunia ini, Luna tidak suka harus duduk tenang dan mendengarkan orang berbicara.


" stt sttt, Lunetta ya?" tanya seseorang dari peleton dua. Luna mengangguk dan berpikir, sepertinya dia pernah mengenal orang itu.


" Masih ingat gak? Devara, adiknya kak Darrel," ujar orang itu yang membuat Luna menegakkan kepalanya, ah ya, orang itu yang Luna temui di taman TKR sebelum dia akhirnya  makan malam romantis bersama Darrel.


" Lo adik kandungnya?" tanya Luna dengan pelan, dia takut terciduk oleh tentara yang entah membicarakan apa di depan sana.


Ayolah, bukan hanya Luna kan yang malas dengan sesi seperti ini? Pasti kalian pun pernah dan bahkan masih suka mengabaikan pembicara pada sebuah sesi entah apapun itu, contohnya amanat pembina upacara.


" Bukan, gue adik angkatnya, gue anak tantenya Kak Darrel, tapi orang tua gue tewas, jadi gue diangkat anak sama ortunya dia," ujar Devara tanpa beban, Luna bahkan sempat terkejut namun dia mengubah air mukanya.


" Lo bosen gak?" tanya Devara sambil melirik tentara, aman. Tentara itu masih sibuk berbicara pada Kompi dua, dan bahkan tidak melirik sam sekali ke arah sini.


" Banget. Ngantuk gue," ujar Luna yang tampak gusar, bahkan sedari tadi hanya memainkan sepatunya.


Devara tersenyum melihat Luna yang sama seperti dirinya, tidak menikmati dan tidak memperhatikan sesi ini. Pria itu membuka buku bagian belakangnya dan mulai menggambar kotak kotak disana.


Luna melirik Devara yang sibuk sendiri, gadis itu tidak bisa menengok secara langsung karna pembicara sedang melihat ke arah mereka. Devara tak kunjung usai dengan pekerjaannya.


" Hey Kamu! "


Luna kaget dan menegak seketika, gadis itu memandang wajah tentara yang juga menatapnya, apakah Luna terciduk tidak mendengarkan beliau?


" Iya Kamu! Peleton 4! Kenapa ngantuk gitu? Sana basahi pantat kamu pakai air kolam yang tidak dikuras selama dua puluh tahun biar melek mata kamu!"


Luna sedikit melega karna ternyata yang dimaksud tentara itu adalah orang di sebelahnya, beruntung sekali nasibnya. Kalau tidak dia harus merasakan air kolam yang tidak dikuras selama dua puluh tahun.


Sebuah aset dan kolam ' ceria' yang di miliki oleh Kodim ini, dimana para peserta akan diberi tanda kasih sayang jika melakukan kesalahan. Mendekat saja rasanya enggan, apalagi harus menyelupkan pantat ke kolam itu.


Orang yang ada di sebelah Luna menurut dan langsung berdiri meninggalkan ruangan, sementara Luna duduk tegak karena takut menjadi sasaran berikutnya. Gadis itu akhirnya bernapas lega saat Tentara itu melanjutkan isi materi yang beliau bawakan.


" Stttt stt."


Luna menengok ke arah Devara dan mendapati lelaki itu sudah selesai dengan pekerjaannya tadi, lelaki itu terkekeh karena Luna masih tidak mengerti apa yang mau dilakukan Devara.


" Kita main SOS, Daripada Lo pusing mikirin tuh tentara," Ujar Devara dengan pelan dan memulai permainan dengan menulis huruf S pada salah satu kotak disana.


Luna menggeleng tak percaya dengan tingkah Devara, bagaimana bisa Darrel yang memiliki sifat disiplin memiliki adik seperti Devara yang nyeleneh? Meski hanya saudara angkat, tapi mereka masih satu garis keturunan.


Namun meski heran dan tak habis pikir, jujur saja Devara lah yang menyelamatkannya dari rasa bosan, lelaki itu tahu saja membuat permainan dengan alat yang super seadanya. Akhirnya Luna menuruti perkataan Devara dan ikut memainkan permainan itu.


Gadis itu tetap waspada dan melihat ke arah tentara, siapa tahu mereka diawasi. Permainan selesai dibarengi dengan selesainya materi sesi satu dan siswa siswi diberi waktu istirahat sepuluh menit sebelum masuk ke Sesi berikutnya.


" Gilak masih ada sesi lagi ternyata," ujar Luna pada diri sendiri sambil menggeleng dramatis. Satu sesi saja sudah membuat lelah, kini masih ada satu sesi lagi, mana sudah gelap dan hawanya dingin pula.


" Tenang aja, nanti kita main SOS lagi, kalau bosen nanti gue pikirin mainan lain," ujar Devara sambil terkekeh geli. Pantas saja Darrek tergila gila pada Luna. Gadis itu memiliki pesona dan kepolosan yang membuat orang tertarik padanya.


Devara yang tidak mengenal Luna saja sampai mengagumi gadis itu, apalagi Darrel yang sudah mengenakan cincin? Yah, ingin menikung pun Devara tak akan bisa, kelasnya jauh dibawah Darrel dari segi manapun, cukup tahu diri saja.


Lagipula, jika Devara berhasil menghibur Luna di tempat ini, lelaki itu bisa memalak kakaknya karna hal ini, dia bisa meminta apapun pada Darrel menggunakan nama Luna.


Mereka yang masih terlampau kecil berpisah tanpa pamit, bahkan Darrel sempat sedih beberapa minggu sebelum memutuskan untuk melajang selama bertahun tahun, hingga tiba tiba saja lelaki itu sudah bertunangan.


" Eemm, gue juga gak tahu sih, tapi waktu itu hari ulang tahun gue, kak Darrel ngasih banyak banget kejutan dan gue samai spechless berkali kali, terus tiba - tiba dia minta gue jadi tunangannya, di hari ulang tahun gue, so sweet gak sih?" Luna menceritakan hal itu kepada Devars seolah lelaki itu bukan orang asing.


" Dia ngajak tunangan di hari Ulang tahun Lo? Itu sih dia gak mau rugi Lun, dia gak mau bikin pesta untuk acara tunangan kalian, kan sekalian tuh acaranya makan makan di rumah Lo, dia gak erlu mikir hal lainnya, " ujar Devara yang memang sengaja mengompori Luna.


" Iya juga ya, kok gue gak kepikiran sih? Kok Lo bisa kepikiran gitu?" tanya Luna yang dengan polosnya percaya pada perkataan Devara. Tolonglah Luna, uang yang dikeluarkan Darrel untuk kado dan dekor jika ditotal jauh lebih banyak dari acara makan makan yang diselenggarakan.


" Hahaha, biar gimanapun, Darrel tetep abang gue, gue kenal dia udah dari lama banget. Dia tuh tipe orang yang gak mau rugi, pasti dia tetap ambil peluang bisnis dimanapun dan kapanpun, " ujar Devara yang malah ketagihan untuk menjadi kompor.


Luna terdiam dan menatap Devara seakan percaya semua yang di katakan lelaki itu adalah benar. Luna pun malah jadi kesal sendiri dan berniat untuk menagih pesta itu setelah pulang dari sini.


" Ini masih lama kah? Gue ngantuk banget yakin, nyebelin banget sih bikin acara jam segini belum kelar," ujar Luna yang memilih untuk tiduran di lantai.


" Yaudah sih cuma sebentar, ini udah jam sembilan malam, paling kita tidur jam 10 nanti," ujar Devara yang mulai bosan mendengar Luna mengeluh. Devara tipe pria yang tidak suka melihat gadis terlal manja, merepotkan, dan setahu Deva, Darrel pun membenci tipe itu, mungkin kini karma untuk Darrel yang dulu sering membuat wanita seperti Luna menangis dan memohon cinta Darrel.


Tak lama sesi dua pun dimulai, entah apa yang dibicarakan karna Luna sudah mengurangi sistem pendengarannya meski mata masih sanggup untuk melihat, gadis itu mengedip edipkan mata agar tidak tertidur.


" Baiklah, sesi dua sudah selesai, kalian bisa segera kembali ke kamar kalian untuk beristirahat, untuk yang tugas jaga serambi, berhati hati dan tetap waspada, saya tunggu laporannya," ujar Tentara itu yang membuat Luna terkejut dan bingung.


Jaga serambi? Laporan? Apanya? Sepertinya Luna melewatkan banyak hal. Gadis itu harus bertanya dan memastikan sendiri ke teman temannya.


Mereka semua bubar, dan kembali ke kamar masing masing. Suasana kamar tampak lebih menyeramkan di malam hari, atau mungkin Luna yang belum terbiasa?


Gadis itu bahkan Lupa dengan niatnya yang ingin bertanya pada temannya mengenai jaga serambi dan laporan, rasanya lelah dan mengantuk, dia ingin segera menjemput mimpinya.


" Luna, gue takut tidur sendirian," ujar Ghea yang tidur di kasur paling pojok dan hanya sendirian, memang lampu seperti tidak menjangkau kasur milik Ghea sehingga jauh lebih gelap di banding tempat Luna.


" Yaudah tidur bertiga aja yok di kasur sini, kan mepet nih bisa buat bertiga," ujar Farisa yang memberi usul, akhirnya Luna mengangguk setuju dan Ghea pun berpindah tempat. Mereka langsung merebahkan diri dan mencari posisi nyaman untuk tidur.


Luna berusaha memejamkan matanya, namun posisinya yang ada di tengah membuatnya sulit untuk bergerak. Terbiasa berada di tempat yang luas saat tidur membuat Luna merasa aneh jika harus tidur di tempat seperti ini.


" aiih, punggung gue," ujar Luna mendesis sangat pelan karna takut membangunkan Ghea ataupun Farisa, posisinya sangat tidak menguntungkan, karna mereka tidur di dua kasur yang disatukan, Luna berada diantara dua kasur itu, dan tempat itu merupakan dua besi penyangga kasur yang bersatu, tentu rasanya keras dan sakit.


Namun akhirnya meski merasa tak nyaman, Luna memaksa untuk memejamkan matanya dan memikirkan semua hal baik agar dia tidak teringat bahwa dia tidur beralaskan besi.


" Luna, bangun."


Luna merasa terusik dengan suara yang membangunkannya, dia masih ingin terlelap karna rasa kantuk yang memang mendominasi dirinya, rasanya enggan mengikuti sesi berikutnya.


Lama kelamaan Luna tetap bangun karna tak nyaman dengan suara bising yang mendominasi kamar ini, gadis itu membuka matanya dan menatap sekitar dimana ada beberapa siswu yang sudah mulai berdandan, ada pula yang masih memakai baju tidur mereka, ada yang rambutnya masih memakai handuk, dan lain sebagainya.


" Mandi yok," ujar Ghea yang ternyata sedari tadi menunggu Luna untuk bangun, lagipula dia juga merasa malas untuk mandi pagi, biasanya Ghea hanya mandi saat sore jika tidak bersekolah, bahkan gadis itu pernah tiga hari tidak mandi saat liburan, entah ada dendam apa gadis itu pada air.


" Mager banget gue Ghe, Farisa mana?" tanya Luna yang masih memilih untuk berguling guling di kasur ini, astaga, rasanya lebih enak jika dua kasur ini disatukan dan Luna memakainya sendiri. Lebarnya persis seperti kasur di rumah Luna meski tingkat keempukannya berbeda jauh.


" Farisa udah mandi sih kayaknya, tadi dia ambil handuk duluan, gak tahu deh, mungkin lagi kumpul sama yang lain juga," ujar Ghea yang bangkit dari kasurnya dan mengambil handuk untuk mandi.


Luna ikut bangkit dan mengambil handuk, pakaian serta kresek besar untuk tempat pakaian kotor, gadis itu berjalan beriringan dengan Ghea menuju kamar mandi. Luna penasaran seperti apa kamar mandi yang ada disini.


" Gila!" Luna tanpa sadar mengumpat dan mematung melihat lahan yang tadinya kosong kini penuh dengan pakaian yang sesang dijemur. Apakah mereka mandi sekalian mencuci baju? Astaga, bahkan mereka juga menjemur pakaian dalam disini, Luna saja malu jika pakaian dalamnya dijemur di tempat umum, Luna selalu memakai mesin cuci pengering 100% untuk pakaian dalamnya.


" Hahaha, kayak surga daleman ye Lun, yok ah buruan keburu dipanggil malah kita yang susah," ujar Ghea tertawa dan menggelengkan kepala, namun kakinya tetap melangkah menuju kamar mandi.


Luna terkejut untuk kesekian kalinya saat melihat kamar mandi yang harus mereka gunakan untuk mandi. Apakah tidak ada tempat lain? Situasinya sangat tidak layak disebut kamar mandi.


Kamar mandi tersebut berupa bilik yang tersekat satu sama lain, dengan pintu yang menutup dan lantai yang sudah banjir. Mereka mandi atau perang air?


Luna memilih untuk mengabaikan hal itu dan melangkah pelan untuk mencari kamar mandi yang kosong, namun saat dia menengok dia kembali dikejutkan karna disana ada ruangan besar dengan bak mandi dari semen cor yang besar pula.


Namu bukan itu yang membuat Luna terkejut, gadis itu terkejut karna di dalam sana para gadis beramai ramai mandi bersama, bahkan mereka harus berebut gayung untuk menyiramkan air ke tubuh mereka. Meski beberapa masih memakai kaos dan sisanya memakai pakaian dalam, tetap saja, apakah nyaman mandi seperti itu?


Yah, Luna pun menjadi tahu alasan ruangan ini banjir seketika, itu karena mereka berebut air dan air itu akhirnya tumpah kemana mana. Luna tak ingin berlama lama disana dan segera memalingkan wajahnya sebelum hasrat mandinya hilang.


" Lun, Lo mau mandi disitu?" tanya Ghea menunjuk rombongan gadis itu dengsn dagunya.


" Gak, gak, gak. Mending gue gak mandi Ghe. Gue mau antri yang di bilik ini aja deh," ujar Luna bergidik geli membayangkan apa yang dia lihat sebelumnya.


Lagi lagi gadis itu melihat apa yang seharusnya tak pernah dia lihat. Melihat hal baru dalam hidupnya, yaitu rombongan orang mandi beramai ramai. Hal itu akan tercatat rapi dalam pikirannya.