Hopeless

Hopeless
Chapter 195



" Luna! Luna! Kamu kenapa hei? Kok malah nangis sih? Luna?" suara itu membuat Luna tersadar dan menatap sekitar dengan bingung. Dia berada di dalam mobil, bukan di rumah sakit. Gadis itu masih tidak menyadari apa yang sudah terjadi, dia bahkan menggerakkan tangan dan kakinya, lalu memegang dadanya sendiri, kemudian memeriksa apakah terdapat alat bantu dengar di telinganya.


" Kamu kenapa?" Luna beralih menatap Darrel, masih dengan wajah linglung seakan dia baru bangkit dari kematian. Gadis itu memegang wajah mulus Darrel perlahan, memastikan alam mana yang merupakan mimpi dan mana yang nyata. Gadis itu bahkan sampai menarik telinga Darrel dengan keras untuk memastikan bahwa Darrel yang di depannya adalah nyata.


" Luna, Luna tadi ada di rumah sakit. Luna, Luna udah gak bisa apa – apa, penyakit Luna udah parah, dan Luna, Luna, Luna pamit sama kak Darrel, Luna meninggal kak tadi." Luna mengatakan hal itu secara acak, membuat Darrel semakin bingung dengan Luna, mengapa Luna tiba – tiba mengatakan hal itu?


" Siapa yang meninggal? Kamu di rumah sakit? Kapan? Dari tadi kita di mobil ini Lun, kita barusan pulang dari panti asuhan, ingat?" tanya Darrel sambil menyingkirkan rambut Luna yang menutupi wajah. Wajah Luna sudah sangat berantakan dengan air mata dan ingus serta keringat yang memenuhi wajah gadis itu.


Luna menggelengkan kepalanya dengan cepat berkali – kali, dia merasa sangat nyata, bahkan sakit pada jantungnya tadi juga terasa sangat nyata, namun mengapa kini semua baik – baik saja? Mengapa Luna masih berada di dalam mobil bersama dengan Darrel? Memang apa yang terjadi? Luna sungguh tak dapat mengerti, namun dia tetap yakin bahwa yang dia alami adalah nyata.


" Kok geleng – geleng? Dari tadi kita masih di mobil Lun, kamu tadi nyender di jendela, aku kira kamu tidur, tapi kok tiba – tiba aja kamu nangis sampai kayak gitu, ya aku panik lah, ternyata kamu gak tidur tapi ngelamun, kamu mikirin apa?" tanya Darrel yang membuat Luna semakin linglung.


" Ki.. kita belum ke restoran? Kita belum ngerayain ulang tahun Luna? Kaki Luna belum lumpuh total? Telinga Luna? Telinga Luna masih berfungsi baik? Tapi, tadi Luna yakin, Luna bahkan udah gak bisa apa – apa, Luna gak bisa dnegar, Luna gak bisa jalan dan bahkan Luna udah susah napas." Gadis itu tambah berkeringat sangat menceritakan hal itu.


" Sttt, udah, udah, itu Cuma halusinasi kamu aja, ini masih satu minggu sebelum ulang tahun kamu, kamu baik – baik aja, kaki kamu baik – baik aja, gak ada yang lumpuh gak ada yang meninggal. Kamu tenang dulu ya," ujar Darrel sambil mengelus kepala Luna.


" Tapi, kenapa kita masish ada di jalan? Kalau sampai semua halusinasi berarti Luna halusinasinya lama banget dong, sampai berhari – hari gitu," ujar Luna yang tampaknya masih tidak terima dengan halusinasi yang dia alami, Darrel sampai tak tega melihat Luna yang sebegitu ketakutannya.


" Kita masih di jalan, di sini macet udah hampir empat jam, kayaknya ada kecelakaan sih di depan sana. Maknya waktu kamu nyender aku biarin aja, bagus kalau kamu tidur biar gak bosan, eh kok lama – lama sesenggukan, aku panik lah Lun. Ternyata kamu lagi ngebayangin yang enggak – enggak sampai jadi halusinasi gitu."


Darrel tersenyum hangat dan manis, mengelus kepala Luna dan merapikan rambut gadis itu, menyilakan rambutnya ke belakang telinga. Lelaki itu juga sedikit bangun untuk membuka dashboard dan mengambil tissue kering untuk membersihkan ingus, air mata dan keringat yang memenuhi wajah gadis itu. Luna tak bereaksi sama sekali, dia menerima saja apa yang Darrel lakukan.


" Makanya Lun, kamu jangan mikir yang enggak – enggak, jangan mengkhayal yang gak baik, jadi kayak gini kan? Kamu harus terus berpikiran positif, apalagi kamu itu udah ditangani dokter terbaik dari rumah sakit Wilkinson, kamu dikasih pengobatan yang terbaik dan bahkan dokter bilang kondisi kamu membaik walau memang bakal sesekali kambuh."


" Luna gak tahu kenapa Luna bisa bayangin itu semua kak, Luna bahkan gak tahu kalau semua itu Cuma halusinasi. Luna takut kak, semua terasa seperti nyata, kalau misal itu firasat buruk gimana? Kalau misal itu pertanda dari Tuhan gimana? Luna takut banget kak."


" Tuh kan, baru aku bilang jangan mikir yang gak baik, ini yang bikin kamu jadi halusinasi, udah ah, aku gak suka kamu mikir yaang enggak enggak gitu, aku gak mau kamu malah jadi drop karna mikirin hal yang belum tentu bakal terjadi. Mending sekarang kamu search tempat makan dekat sini, kita belum makan dari pemakanan tadi."


Luna menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, seakan takut jika dia sungguh mencari tempat makan, kakinya benar – benar akan lumpuh dan semua yaang tadi dia bayangkan sungguh terjadi, Luna tak mau hal itu sampai terjadi. Darrel sendiri malah bingung karna Luna menggeleng takut, apakah bayangan buruk Luna sebegitu mengerikannya?


" Kamu beneran tadi ngerasa kalau kamu menginggal? Kejadiaannya gimana? Berapa hari dari sekarang?" tanya Darrel yang mulai terbawa serius. Lelaki itu harus menemukan cara agar Luna tidak ketakutan lagi, agar Luna yakin bahwa itu semua hanya ketakutan yang tak berdasar.


Luna menceritakan apa yang dia lihat dan rasakan dengan wajah yang serius, namun dia menghilangkan beberapa bagian yang dia rasa tak begitu penting.


" Tunggu dulu, bahkan kamu belum ngajuin permintaan ke tiga, kok udah sampai ke permintaan ke lima sih?" tanya Darrel yang merasa aneh dengan penjelasan Luna. Apakah ini ada hubungannya dengan Luna yang takut diajak makan olehnya?


Luna tampak diam dan berpikir serta mengingat – ingat, tiba – tiba gadis itu menutup mulutnya yang terbuka lebar. Jika sudah sejauh itu dia berhalusinasi, itu artinya kejadian bersama Darrel di pantai, kejadian di pasar malam bersama Radith, itu semua, hanya mimpi?


" Luna?" tanya Darrel laagi karna Luna tidak menjawab pertanyaannya, namun Luna menatapnya dengan kaget. Apa lagi yang dibayangkan atau dipikirkan oleh gadis itu? Darrel sungguh tak mengerti. Darrel berusaha masuk ke pikiran luna, namun nihil, dia tak bisa membayangkan appaun. Sepertinya Luna berhalusinasi terlalu jauh.


" Gak papa kak, Luna udah ngerti kalau semua itu gak nyata. Kita makan di rumah aja ya kak, Luna takut kalau makan di luar, Luna takut kalau…." Darrel langsung mengacak rambut Luna dan menyetujuinya, apapun itu Darrel akan melakukannya, yang penting Luna tidak memikirkan hal itu lagi.


" Oh iya, ngomong – ngomong, permintaan ketiga kamu apa? Masih banyak loh, padahal ini kan udah last part Lun," ujar Darrel yang membuat Luna sedikit tersentak, dia masih sedikit bingung dengan apa yang sudah dilalui, apalagi dia sedikit sedih karna pernyataan radith merupakan bagian dari halusinasinya.


" Luna mau syukuran buat ulang tahun Luna aja kak, bareng sama Danesya juga, kalau maaf – maafan sama Roy itu nyata kan kak?" tanya Luna yang malah merasa sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak. Darrel menghela napasnya, dia merasa kasihan pada Luna yang linglung, di satu sisi dia juga ingn tertawa karna wajah polos Luna sangat menggemaskan.


" Kalau yang itu nyata Lun, itu kan satu malam sebelum kita dapat kabar Blenda meninggal, dua hari yang lalu, kita syukuran buat rumah sakit khusus kanker, terus Danesya datang sama Roy dan kita semua maaf – maafan, ingat?" tanya Darrel dengan intonasi yang pelan. Luna mengangguk mengerti.


" Ya udah kalau gitu permintaan ke tiga, Luna minta kak Darrel siapin acara ulang tahun Luna sama Danesya, tapi sebelum itu Luna minta kak Darrel siapin hal yang romantis buat Luna, apapun itu, kan besok ulang tahun Luna yang ke 17 kak, Luna mau yang spesial." Darrel langsung berpikir apa yang akan dia berikan untuk Luna.


" Kamu mau apa? Rumah? Apartemen? Kapal pesiarr? Atau pulau pribadi?" tanya lelaki itu dengan wajah yang serius. Luna tentu terkejut dengan penawaran Darrel, memang usaha Darrel sudah sesukses itu untuk bisa membelikan Luna semuanya?


" Aku bakal cashbond ke papa kamu dulu, ya kalik aku udah cukup kaya buat beli pulau pribadi, gak usah bereskpetasi terlalu tinggi Lun," ujar Darrel tanpa dosa yang membuat Luna melengos.


Luna langsung makan dan meminum obatnya sementara Darrel langsung pamit untuk urusan perusahaan yang mendadak dan tak bisa dibatalkan. Luna berharap semua mimpi buruk itu tak sungguh terjadi, dan dia akan memastikan hal itu saat ulang tahunnya nanti.


*


*


*


Luna memastikan sekali lagi penampilannya. Dia tak ingin ada yang kurang untuk malam ini, apalagi hari ini adalah ulang tahun terpenting dalam hidupnya. Tahun dimana dia bertransisi dari remaja menuju dewasa. Setelah dirasa sudah sempurna, Luna keluar dari kamarnya dan menemukan Darrel dengan kedua tangan dia letakkan di belakang.


" Diumpetin juga kelihatan itu boneka kak, gede banget gitu bonekanya," ujar Luna yang menyindir tingkah Darrel. Lelaki itu tertawa riang dan mengeluarkan boneka yang dia 'sembunyikan', memberikan boneka itu pada Luna, membuat gadis itu kesusahan karna boneka yang diberikan Darrel sangat besar, bahkan nyaris menyamai tingginya.


" Coba kamu pencet hidungnya." Luna melakukan hal yang diminta oleh Darrel


" I want to grow old with you."


" I Want to die lying in your arms."


" I want to grow up with you."


" I want to be looking in your eyes."


" I want to be there for you, sharing everything you do."


" I want to grow old with you." ( I Wanna Grow Old With You – Westlife)


" Hai Lunetta Azura Wilkinson, Stay Healthy , Stay Happy, and always stay with me. I Love you so much my soul sister, half of my life, always be mine, okay?"


Luna langsung memandang Darrel dengan mata yang berkaca – kaca. Dia kira Darrel memberikannya boneka super besar, namun tak sampai di situ, boneka itu memiliki pesan yang dalam. Bahkan suara Darrel yang lembut terdengar sangat tulus dan menyentuh lubuk hatinya. Lelaki itu menyanyi diiringi petikan gitar yang membuat pendengarnya terbuai.


" Kamu suka?" tanya Darrel yang membuat Luna menyenderkan bonekanya di tembok dan langsung menyerbu Darrel dengan pelukan. Darrel sudah tahu jawabannya dari cara Luna yang memeluknya. Luna melepaskan pelukannya dengan mata yang berkaca – kaca. Darrel langsung memegang pipi Luna yang menghangat.


" Jangan nangis, nanti bedaknya luntur, bonekanya taruh dalam dulu gih, kita ke ruang kaca di lantai empat, semua udah nunggu di sana." Luna menuruti apa yang Darrel katakan lalu berjalan melewati tangga ke lantai 4.


Langkah mereka terhenti dan membuka pintu yang menghubungkan ruang tamu lantai empat dengan ruang yang beratap kaca dimana syukuran tersebut berada. Mereka disambut oleh para tamu undangan yang tak banyak. Seperti biasa, hanya terdapat Adel, Key, Lucy, Agatha, Radith, Jordan, Keysha, Mr. Wilkinson dan tamu baru Luna, Roy.


" Lama banget sih kalian. Ini perta ulang tahun gue juga, tapi gue gak bikin yang lain nunggu sampai kayak gini."


" Danesya, udah, gak usah ribut. Nanti malah makin lama dimulainya. Luna, ayo sini, kita nyanyi buat kamu sama Danesya, terus tiup lilin sama – sama." Jordan langsung menengahi agar tidak terjadi perdebatan diantara anak kembar itu.


Mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun serta lagu untuk tiup lilin. Mereka diminta untuk mengucapkan harapannya. Luna menatap mereka semua satu persatu sebelum akhirnya berkata.


" Luna harap kita semua selalu sehat, kita semua selalu bahagia dan menjadi berkat bagi orang lain. Luna harap kita selalu dekat untuk tahun – tahun berikutnya dan untuk waktu yang lama. Semoga apa yang sudah lalu semakin membaik, dan apa yanag ada di depan selalu membuat kita semua bahagia. Amin."


Danesya dan Luna menitup lilin bersama – sama dan dari luar langsung menyala kembang api selayaknya tahun baru, kembang api yang bersahut – sahutan tanpa henti membuat ulang tahun Luna terasa sangat meriah.


" Semoga kamu dan Danesya selalu bahagia sebagai saudara kembar, semoga kalian bertambah dewasa dan semoga kalian berumur panjang. Selamat Ulang tahun Danesya, Selamat ulang tahun Lunetta."


Mereka menikmati sisa malam ini dengan penuh kehangatan dan kebahagiaan. Kehangatan yang diharap tak pernah luntur sepanjang masa, mereka berharap dalam saling melengkapi dan saling mendukung di masa depan. Semoga akhir yang bahagia selalu menunggu mereka dan kita semua di depan sana.


\- T. A. M. A. T \-