Hopeless

Hopeless
Chapter 97



Darrel yang sudah melakukan perawatannya menunggu Luna dan Blenda keluar dari tempat itu, sementara Radith ijin untuk keluar dan membeli minuman untuk mereka berdua. Lelaki itu sibuk memainkan ponselnya sembari menunggu gadisnya.


Tiba – tiba ada panggilan masuk bertepatan dengan Luna yang selesai melakukan peratwannya. Darrel mengangkat panggilan itu dan memberi kode pada Luna untuk mendekat. Lelaki itu ingin dialah yang pertama menikmati bau wangi Luna yang memabukkan.


Namun niatnya terhenti mendengar apa yang disampaikan di telponnya, tangannya mengepal dan matanya langsung menajam. Luna yang melihat itu pun juga menjadi bingung dan duduk di sebelah Darrel, menunggu lelaki itu selesai bicara.


Cara bicara Darrel tampak berbeda, lelaki itu tampak murka dan mengepalkan tangannya dengan geram, Luna bahkan takut sendiri melihat kekasihnya seperti itu. Darrel tampak marah – marah dan berdiri lalu keluar dari tempat itu begitu saja.


Blenda memandang Luna seakan bertanya, namun Luna sendiri juga tidak tahu apa yang terjadi pada Darrel, gadis itu segera keluar untuk menyusul Darrel yang ternyata hanya keluar agar tidak menimbulkan kekacauan dan kebisingan di dalam sana.


“ Kalian harus bereskan dan temukan dia segera! Atau kalian harus menggantinya dengan nyawa kalian, temukan dia dalam keadaan selamat atau berikan kepala kalian sebagai gantinya.” Darrel mematikan sambungan telpon dengan sepihak.


“ Kak Darrel kenapa?” Tanya Luna yang memegang pundak Darrel dengan takut, melihat Darrel semarah dan sepanik itu, Luna bahkan tidak pernah berani untuk sekadar membayangkannya.


Tanpa disangka Darrel memeluk Luna dengan erat, Blenda yang melihat itu sontak menjadi bingung, terlebih Luna yang dipeluk dengan tiba – tiba, namaun gadis itu tetap diam dan menunggu Darrel selesai. Lelaki itu tampak menghirup napas panjang dan menghembuskannya dengan berat. Sebenarnya apa yang terjadi pada lelaki itu?


“ Kita pulang yuk,” ujar Darrel yang melonggarkan pelukannya. Luna mengangguk dan berpamitan dengan Blenda, gadis itu langsung mengikuti Darrel yang menariknya, meski tak enak pada Blenda, Luna tetap mengikuti langkah Darrel.


Lelaki itu menghidupkan mesin mobil dan memasang earphone pada telinganya. Lelaki itu tampak memencet beberapa kali pada layar ponselnya dan mulai menjalankan mobilnya.


“ Bang, abang posisi dimana?”


“ Saya sama Luna lagi perjalanan pulang, saya perlu bicara dan minta tolong ke abang.”


“ Abang udah tahu?”


“ Dog shit!!”


Luna sampai takut sendiri mendengar Darrel mengumpat, sebenarnya apa yang terjadi? Apakah yang di telponnya bang Jordan? Mengapa suasana menjadi panas sekali? Darrel bahkan tampak marah dan memerah dengan tangan mencengkram dan sesekali menyahuti panggilan.


“ KAK AWAS!!”


~ ciiitttt


Habis saja mobil Darrel melindas kucing yang sedang bersantai di tengah jalan itu, untung saja Luna melihatnya dan berteriak, meski sebagai gantinya dia harus merasakan pening karna kepalanya terbentur dashboard.


“ Kamu gakpapa?” Tanya Darrel yang khawatir dan mengangkat kepala Luna, gadis itu menggeleng sebagai jawaban agar suasana tak bertambah kacau.


“ Kak Darrel kenapa? Kalau gak konsen nyetir mending kita minta supir datang aja, bahaya kak,” ujar Luna selembut mungkin. Luna tak ingin Darrel malah marah padanya atau tersinggung dengan perkataannya.


“ Maafin aku ya, aku bakal hati hati kok,” ujar Darrel dengan lembut dan mengusap dahi Luna, seakan bisa meredakan sakit yang dirasakan oleh gadis itu.


“ Saya lagi di jalan bang, nanti aja kalau dah sampai rumah,” ujar Darrel yang kemudian mematikan sambungan telpon dan berkonsentrasi pada jalan.


Darrel segera memarkirkan mobilnya saat sampai dan turun begitu saja, bahkan meninggalkan Luna yang memilih mengalah dan menyusul Darrel dengan segala pikiran yang tercampur aduk.


“ Tuan rumah siapa coba? Main nyelonong masuk ninggalin gue,” ujar Luna dengan sedikit kesal dan membuka pintu utama rumah itu dimana pintu itu tertutup beberapa detik lalu karna Darrel yang menutupnya.


Luna melihat Darrel yang sudah sampai di ujung anak tangga lantai dua, sebegitu panikkah lelaki itu sampai lupa di rumah ini ada lift yang bisa mengantarkannya bahkan sampai ke lantai empat? Gadis itu memilih untuk menyusul karena menasaran apa yang terjadi pada lelaki itu, dana pa hubungannya dengan Jordan.


Gadis itu menguping karna takut akan terusir jika menanyakan secara gamplang, terdengar Darrel yang masih marah – marah sementara Jordan berusaha mencari jalan keluar dan pusing sendiri pada Darrel.


“ Bang, gue gak bisa diem aja disini smeentara gue tahu kembaran gue diculik entah sama siapa dan entah apa motifnya. Bahkan gak banyak yang tahu dia keluarga Atmaja,” ujar Darrel dengan frustasi.


“ Lo tenang dulu, kalau kita gegabah kita bahkan kehilangan lebih banayak tanpa mendapat adik kembar Lo kembali. Gue lagi berusaha nemuin adik Lo, semua orang gue juga udah gue kerashin kesana,” ujar Jordan dengan bijak.


Luna yang mendengar itu tentu tidak menyagka dan langsung membuka pintu, menatap kedua pria di depannya yang tampak kaget dengan kehadirannya.


“ Kamu ngapain disini? Balik gih ke kamar kamu, istirahat, pasti capek kan empat hari kemarin? Abang ada urusan bisnis sama tunangan kamu,” ujar Jordany nga mengambil alih keadaan dan tersenyum manis seolah semua baik – baik saja.


“ Kak Dara diculik?” Tanya Luna yang mengabaikan perintah Jordan, membuat raut wajah Jordan berubah seketika, tak menyangka Luna tahu.


“ Iya, ini kami juga lagi cari tahu keberadaannya dan siapa penculiknya,” ujar Darrel yang akhirnya membuka suara dan memberitahu Luna, tidak ada gunanya menutupi semua, toh Luna sudah tahu keadaannya.


“ Gak ada bayangan sama sekali?” Tanya Luna yang berubah menjadi serius, meski sebenarnya hatinya kesal karna sudah dibohongi oleh dua lelaki di depannya.


“ Kemungkinan musuh bisnis, tapi masih belum dapat bayangan karna orang ini ngincer aku sama bang Jordan,” ujar Darrel sambil mengurut batang hidungnya.


“ Kamu harus janji sama abang tidak bertindak gegabah atau ambil keputusan diluar ijin abang dan Darrel, abang gak mau semua tambah rumit dan kita kejebak sama rencana orang ini,” ujar Jordan menatap Luna dengan raut wajah serius. Luna mengangguk yakin dan mengerti.


“ Luna bakal tinggalin kalian, tapi kasih tahu Luna kabar terbarunya, Luna juga khawatir sama kak Dara,” ujar Luna yang kemudian berbalik dan memberi mereka berdua ruang untuk memebahas dan menyusun rencana. Kehadiran Luna mungkin akan menghambat karna Luna yakin mereka tak ingin Luna terlibat dan akhirnya dalam bahaya.


Luna berjalan menuju kamarnya dan merebahkan diri disana, tak lama ponselnya berbunyi dan menampakkan nomor Key yang meminta panggilan video. Luna mengangkatnya dan menampakkan wajah lesu tak tertahankan.


“ Lo udah selesai perawatan?” Tanya Key yang tampak meneliti, Luna hanya mengangguk lemah sebagai jawaban.


“ Kok masih kucel?” Tanya Key dengan heboh, membuat Luna mendesis karena suara gadis itu terdengar nyaring.


“ Tapi Lo telpon Lucy sama Adel, ogah repot gue,” ujar Key dengan galak, tampak gadis itu membereskan buku yang tampak berantakan di Kasur, kamar Key bahkan lebih buruk dari kapal pecah, tampak seperti baru saja diberantaki, kebiasaan yang dia lakukan saat sedang frustasi.


“ Oke, gue kabarin lagi ntar,” ujar Luna yang kemudian mematikan sambungan telpon. Luna langsung menelpon Adel yang tidak sedang melakukan apapun saat ini, sehingga gadis itu mau mau saja jika diminta untuk main atau menginap di rumah Luna.


Luna akhirnya menelpon Lucy dan memninta hal yang sama, gadis itu setuju dn akhirnya mereka memutuskan untuk sampai di rumah Luna sesegera mungkin. Tak disangka Adel datang paling awal, dimana biasanya gadis itu datang paling akhir dan terlambat.


“ Kok ada mobil asing di depan?” Tanya Adel yang sudah berbaring di Kasur Luna layaknya tuan rumah.


“ Kak Darrel ada di rumah ini,” ujar Luna membuka laptopnya untuk mencari film horror terbaru yang memang suka mereka tonton saat sedang berkumpul di rumah Luna. Adel yang mendengar nama Darrel langsung menegak, membuat Luna menatap Adel dengan heran.


“ Kenapa Lo?” Tanya Luna pada Adel sementara tangannya masih mengetikkan judul di web yang menyediakan streaming film bajakan. Adel terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menyengir lebar.


“ Ada babang tampan, masak gue malas – malasan, siapa tahu nanti kecantol,” ujar Adel sambil tersipu malu, membuat Luna menepuk mukanya dengan bantal yang ukup besar.


“ Tunangan gue njir, main cantol cantol aja,” ujar Luna dengan kesal, bahkan baru kali ini Luna membawa status saat membicarakan Darrel di depan mereka ( maksudnya untuk menunjukkan siapa Darrel bagi Luna dan sebaliknya)


“ Bukan salah gue juga, tunangan Lo tuh udah kayak sempurna, udah ganteng, badannya bentuk abs, udah tajir, putih, wajah mulus gak kayak pantat panci, astaga, kalau gue mah pasti juga mau Lun,” ujar Adel tanpa dosa dan tanpa memikirkan perasaan Lua, yah, itulah sahabat sejati.


“ Loh? Bukannya Lo udah punya pacar? Waketos itu? Dia juga ganteng kok kalau dilihat – lihat, good looking gitu lah,” ujar Luna yang malah teringat pada lelaki yang entah siapa namanya.


“ Njir, dia mah apa, sama kecoa juga ganteng kecoa, geli gue sama dia, apalagi karna gossip sama banayk tuh kakel cabe hits di sekolah gue yang jadi caper ke gue, eneg gue jadinya. Mending sama kak Darrel lah,” ujar Adel bergidik geli membayangkan sosok yang disebut cabe hits.


Luna mengangguk paham, jadi Key hanya salah paham pada Adel, Key melihat Adel yang memiliki teman baru, sedangkan faktanya Adel sendiri merasa tak nyaman dengan kehadiran ‘ teman baru’ itu.


“ Tetep aja kak Darrel pacar gue njir, enak aja main rebut aja,” ujar Luna ynag tak ingin membahas kesalah pahaman Key pada Adel.


“ Kalau Lo pacarnya tapi gue jodohnya, Lo bisa apa? Yang udah nikah aja bisa cerai, gimana yang masih tunangan? Lagian banyak noh yang gak dukung Lo sama Darrel, mereka lebih suka Lo sama Radith,” ujar Adel dengan ekspresi wajah lempengnya.


“ Lo lagi ngomongin siapa?” Tanya Luna dengan bingung.


“ Noh, tim Radith yang lagi baca ini, udah tahu Radith punya pacar dan Lo punya tunangan, masih aja ngarepin Lo sama Radith, Halu,” ujar Adel dengan pedas dan tanpa takut.


“ Ngawur Lo, kalau gak ada mereka gak akan sepanjang ini cerita gue! Hargai dong, apalagi kalau mereka jomblo, mereka spesies rapuh, harus dilindungi,” ujar Luna dengan jari telunjuk menempel pada birbirnya.


Adel dan Luna langsung tertawa bersama – sama menyadari kebodohan dan kekonyolan mereka. Adel akhirnya memilih untuk keluar dari kamar untuk mengambil camilan dan minuman karna Luna tidak mau melayaninya, lebih parahnya Luna tak mau pelayannya juga melayani Adel, dasar pelit.


Adel belum kembali sementara Key sudah datang membawa tas ranselnya, sepertinya gadis itu sungguhan ingin mengerjakan tugas di tempat ini, gadis itu langsung mengeluarkan laptop dan menyalakannya.


“ Gilak, kasih salam juga engga, langsung nyelonong masuk terus kuasain meja belajar gitu,” ujar Luna menggeleng takjub dengan tingkah Key.


“ Lo yang mint ague kesini buat ngerjain tugas njir, tunggu entar, tinggal lima halaman lagi selesai,” ujar Key yang pandnagannya tampak fokus pada buku dan laptop yang ada di depannya.


“ Iya in dah iya in yang mendadak jadi rajin waktu udah masuk SMA, Gue malah mulai berkarat karna kebanyakan jamkos,” ujar Luna sambil merebahkan diri di kasurnya.


“ Halah, Adel juga masuk SMA gak sesibuk ini, beruntung banget hidup tuh anak, bikin iri aja,” ujar Key yang sudah membalik halaman pada bukunya.


“ Kayaknya Lo salah paham sama Adel deh Key, kalau ada masalah mending diomongin daripada nantinya kita pecah karna hal yang sebenrnya gak perlu diperdebatin,” ujar Luna mencoba netral karna keduanya adalah sahabatnya. Entah ada masalah apa sebenarnya.


“ Key itu suka sama waketos yang ngejar ngejar gue, jadi dia suntuk banget kalau lihat gue sama waketos itu, padahal gue juga ogah sebenernya deket deket sama dia,” ujar Adel yang ternyata sudah masuk ke dalam kamar namun tak disadari oleh keduanya.


“ Anjir, ertnayat perkara cinta segitiga, gak ikut ikut gue mah kalau masalah ini,” ujar Luna mengangkat tangan dan enggan untuk ikut campur maslah keduanya. Adel tampak enggan meneruskan pemahasan sementara Key tampak enggan membahas masalah ini, akhirnya suasana menjadi hening dan canggung.


Tak butuh waktu lama Lucy masuk ke dalam kamar itu dan mendapati ada yang aneh dengan teman – temannya, namun gadis itu memilih diam dan enggan ikut campur Karen atkut memperkeruh situasi.


Luna mendapat panggilan dari Darrel. Gadis itu langsung menjawab panggilan dan mendengarkan info dari Darrel.


“ Udah ditemuin? Jadi kita kesana sekarang?” Tanya Luna dengan antusias seperti akan dibawa ke taman bermain.


“ Yah, yaudah deh kita tunggu info lebih lanjut, kak Darrel hati – hati,” ujar Luna yang kemudian menutup panggilan telpon dan memasang wajah lesu.


“ Kenapa Lun?” Tanya Adel dengan wajah penasarannya.


“ Kalian ingat kembarannya kak Darrel yang waktu itu datang ke ulang tahun gue kan? Dia sekarang diculik dan kabarnya sih udah ditemuin sama orangnya kak Darrel, kalau udah dipastiin kita mau kesana nyiduk tuh penculik, tapi harus dipastiin dulu paling juga besok infonya,” ujar Luna yang membuat mereka menatap Luna dengan miris.


“ Serem juga ya musuhnya,” ujar Lucy menggeleng takjub tak percaya.


“ Keren juga karna masalah bisnis sampai kayak gini,” celetuk Key yang membuat Luna memandangnya.


“ Gue gak bilang kalau ini maslah bisnis,” ujar Luna dengan polos dan memandang ke arah Key. Lucy dan Adel juga melihat kearah Key dengan wajah curiga.


“ Gak usah mikir macam – macam, kalau sekelas kak Darrel kena terror apalagi sampai kayak gini pasti karna urusan bisnis, kayak cerita novel yang sering gue baca, tapi nanti endingnya romantis kok, bisa kiss di adegan yang menegangkan.”


Mereka semua langsung melengos dan sibuk dengan urusan masing – masing karena enggan menanggapi Key yang mulai berkhayal dengan tokoh novel yang di baca.