Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 18



" Eh, kok kamu diam aja? Aku udah salah bicara ya? Maafin aku ya, aku gak sengaja, aduh, maafin aku ya," ujar Karin yang merasa tak enak karna Luna hanya diam saja setelah dia mengatakan pikirannya tentang Radith dan Darrel terhadap Luna. Luna sendiri hanya tersenyum canggung dan menggelengkan kepalanya pelan sebagai tanggapan, membuat Radith akhirnya bertindak.


" Kalian mau minum yang manis – manis gak? Aku mau ambil es kopi di depan, kalian mau?" tanya lelaki itu yang berusaha mengalihkan pembicaraan, namun tampaknya tak bisa membuat Luna lupa dengan apa yang diucapkan oleh Karin, kalimat itu terus berputar di telinganya, membuatnya menyalahkan dirinya sendiri dalam batinnya.


" Lo kenapa? Biasa juga kalau sama orang ngobrolnya gak berhenti kayak kereta, sekarang diam aja. Lo masuk angin?" tanya Radith yang langsung duduk di sebelah Luna dan merangkul gadis itu. Luna tak bergeming karna dia sudah biasa diperlakukan seperti ini oleh orang di sekitarnya. Dia lebih fokus pada pikirannya sendiri.


Namun berbeda dengan Karin yang seperti mendapat culture shock ( * Kondisi dimana seseorang kaget dengan kebiasaan / budaya yang dia temui di suatu tempat). Gadis itu tampak melihat tang Radith yang terus mengelus pundak Luna pelan sedangkan Luna hanya diam tak membantah sama sekali. Kapan dia bisa merasakan hal seperti itu juga?


" Eeem Karin, kayaknya aku harus antar Lunetta pulang. Kamu mau di sini atau ikut pulang sekalian? Aku antar gitu? Karna habis ini aku gak ke kantor lagi," ujar Radith yang membuat Karin tersentak dan memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Radith sendiri langsung heran saat Karin memutuskan untuk pulang.


Jika benar Karin adalah kepala kantor cabang yang baru, dia tak mungkin memiliki waktu istirahat di padatnya jam kantor. Tapi mengapa Karin tampaknya tak ada kerjaan lain selain belajar padanya? Apakah tujuan dia dipindahkan ke kota? Timbul banyak pertanyaan di benak Radith yang dia sendiri tak bisa pecahkan.


" Kamu pulang? Memang kamu gak dimarahin bos kamu kalau bolos di jam kerja?" tanya Luna yang sudah duduk tenang di kursinya sambil memakai sabuk pengaman. Radith sedikit tersentak karna Luna seakan bisa membaca pikirannya. Gadis itu menanyakan hal yang otaknya pikirkan. Apakah ini yang dinamakan jodoh? Cih, jodoh. Jodoh orang maksudnya.


" Hehehe, di sini kan aku bosnya, jadi gak masalah sih," jawab Karin dengan canggung, namun malah semakin membuat Luna merasa heran, bahkan dahi gadis itu sudah berkerut sambil menatap ke arah Karin. Yang ditatap pun seperti cemas dan takut kalau dia sudah salah bicara.


" Tapi bukannya kalau baru diangkat jadi kepala itu malah tambah sibuk ya? Perlu pendekatan sama karyawan, banyak rapat sama kolega, ngembangin bisnis, kok kamu boleh main ke sana kemari? Radith dulu gak bisa gitu, dia bisa santai waktu dia pegang perusahaan sendiri. Selama dia kerja sama bokap, dia gak pernah ada waktu luang."


Kini Karin tak bisa menjawab lagi perkataan Luna. Seakan Luna berhasil membuatnya kehabisan kata – kata, Radith tersenyum kecil mendengar Luna yang berusaha memojokkan Karin, karna dia sendiri sangat kesal melihat Luna yang dipojokkan. Luna tak sadar jika dia sedang membalas Karin, dia hanya menanyakan hal yang membuatnya bingung.


" Ah, sebenarnya aku gak jalan – jalan atau main ke sana kemari. Aku memang diminta sama Bos besar aku buat belajar sama Radith. Dia kan pengusaha muda yang berbakat, jadi aku disuruh belajar sama dia. Emang kelihatannya aku kayak main – main ya? Hahaha, aku bakal berusaha lagi ke depannya," ujar Karin yang berusaha untuk tak canggung.


" Radith? Wah, enak banget ya kerja sama bos kamu. Seandainya Lo dapat bos kayak gitu Dith, Lo gak harus bolak – balik ke luar negeri buat nyelesaiin masalah perusahaan Daddy. Lo bisa nyantai dan banyak belajar dulu, enak banget," ujar Luna dengan wajah kepingin. Dia sungguh tak menaruh dendam, dia hanya mengatakan apa yang ada di kepalanya.


" Kalau gue nyantai – nyantai, gue gak akan jadi kayak sekarang dong, gue bisa punya perusahaan sendiri juga ebrkat gojlokan dari bokap Lo. Seharusnya gue terima kasih sama beliau, apalagi beliau kasih suntikan dana yang gak sedikit, bahagia banget deh gue," ujar Radith yang tak segan membanggakan papa Luna.


Karin yang ada di kursi belakang tentu tambah merasa canggung. Dia tak kenal Mr. Wilkinson, dia hanya tahu bahwa beliau pebisnis sukses yang disegani nyaris semua pebisnis yang ada di Dunia. Selain itu Karin tak tahu apapun. Dia harus belajar dari bawah, dan yang bisa diraihnya adalah Radith, jadilah dia memutuskan untuk belajar dari Radith.


Radith berhenti di rumah Karin dan membiarkan gadis itu turun. Lelaki itu langsung pergi tanpa mampir terlbih dahulu. Luna sendiri sedari tadi sibuk dengan ponselnya, sehingga sama sekali tak mengoceh dan tak membuat kegaduhan di dalam mobil. Membuat Radith bisa berkonsentrasi dalam menyetir tanpa gangguan.


" Kyaaaaa!!!! Lo kenal sama teman gue yang namanya Key gak dith? Parah Dith parah! Dia mau nikah dong Dith, Astagaaa!!!" Baru saja Radith membatin, Luna sudah berteriak heboh sambil memeluk ponslenya sendiri. Radith yang tak bisa menutupi telinganya hanya memejamkan sebelah mata untuk meredam suara yang masuk ke telinganya.


" Ya terus kenapa gitu loh kalau dia mau nikah? Lo mau nikah juga? Nikah massal gitu ceritanya? Atau Lo mau langsung jadi istri kedua di hari yang sama?" tanya Radith dengan sinisnya. Luna langsung berdecak mendengar respon Radith, namun dia tak membantah hal itu, dia tak mau moodnya jadi jelek di hari yang bahagia ini.


" Dith, antar gue ke rumah Key aja deh, gak usah pulang. Ya? Ya? Makasih. Tapi sebelum itu antar ke minimarket dulu buat beli camilan, di rumah Key jarang ada makanan," ujar Luna yang diangguki saja oleh Radith. Lelaki itu menyingkir ke arah kanan dan mencari putar balik karna rumah Key berlawanan arah.


" Lo sama siapa aja di sana?" tanya Radith saat Luna sudah tenang. Luna menyebutkan bahwa dia akan di sana bersama Key, Lucy, Adel dan Agatha, yah seperti biasanya. Memang siapa lagi teman yang Luna miliki selain mereka?


" Lo tumbenan nanya – nanya kayak gitu? Tumben peduli? Lo udah ngerasa kayak jadi pacar gue sampai sebegitu pedulinya sama gue?" tanya Luna yang menirukan nada bicara Radith yang sontak membuat Radith menatap gadis itu dengan tajam dan kejam.


" Lo ngomong kayak gitu sekali lagi, gue turunin Lo sekarang juga," ujar Radith tak main – main, membuat Luna yang tadinya mau membantah jadi mengurungkan niatnya. Jika Radith benar menurunkannya di sini, dia akan mendapat masalah. Meski Radith tak mungkin tega meninggalkannya, namun dia tetap saja akan terlambat datang ke rumah Key.


" Teman Lo nikah cepat, udah nabung duluan atau gimana?" tanya Radith dengan curiga. Luna yang tak mengerti ucapan Radith awalnya tak menangkap. Namun setelah dia tahu maksud lelaki itu, Luna langsung memukul lengan Radith dengan pelan agar lelaki itu tak bicara sembarangan tentang sahabatnya.


" Yah, semoga semua dilancarkan sampai hari H deh," jawab Radith akhirnya. Toh apapun yang terjadi, itu bukan urusannya. Dia hanya perlu berdoa yang terbaik untuk mereka semua. Radith pun tak menanyakan apapun sampai mereka menghentikan mobil di depan rumah Key yang megah bak istana di sinetron Indonesia.


" Gue langsung balik aja ya ke kantor. Salam buat yang lain," ujar Radith dari dalam mobil saat Luna sudah turun dari mobil. Lelaki itu langsung meninggalkan rumah Key sementara Luna disambut oleh orang rumah Key saking seringnya dia main ke rumah ini. Luna langsung berjalan ke arah kamar Key di rumah itu.


Di sana sudah ada teman – temannya yang lain berkumpul dan membicarakan hal yang serius. Luna sendiri langsung bergabung dengan heboh dan memeluk satu persatu orang yang ada di sana. Luna langsung duduk di tengah – tengah mereka dan menatap bingung karna bukan wajah bahagia yang ada di sana.


" Kalian kok wajahnya tegang gitu sih? Harusnya kan kita bahagia karna Akhirnya Key nikah dan gak gonta ganti pacar. Lo jadinya nikah sama pacar yang mana Key?" tanya Luna dengan sumringah, namun dijawab helaan napas dari Adel dan Lucy serta Agatha. Luna langsung terdiam dan menunggu mereka menjelaskan kepada Luna situasi ini.


" Key hamil. Orang tuanya marah tahu Key hamil dan maksa George buat nikah sama dia. George terpaksa mau nikahin Key karna sebenernya mereka masih ngerasa muda dan belum siap nikah. Tapi karna udah ada anak di antara mereka, mereka harus nikah."


Seakan tersambar petir di siang bolong. Luna sama sekali tak menyangka Key sampai sejauh itu dengan kekasihnya. Luna tahu Key sering pergi ke prancis untuk menemui lelaki itu, namun dia tak menyangka jika Key sampai sejauh itu dan bahkan terdapat kehadiran bayi di tengah – tengah mereka. Keluarga Key keluarga yang gila hormat, mereka tentu marah karna kejadian ini.


" Gue emang ada cita – cita dan rencana nikah sama dia. Tapi kami gak nyangka kalau bakal nikah karna insiden kayak gini. Kami pinginnya semua murni dan tanpa paksaan kayak gini. Gue ngerasa jatuh banget Lun sekarang," ujar Key yang menutup matanya dengan tangan.


" Ya makanya kalau Lo mau berbuat itu mikir jauh ke depan. Gue tahu kalau di sana kayak gini tuh biasa aja. Tapi Lo itu masih orang Indonesia, harusnya bisa mikir selayaknya orang Indonesia. Kalau Lo udah gak bisa tahan, Lo harusnya pakai pengaman atau apapun itu biar gak kayak gini kejadiannya," ujar Adel dengan sengit, membuat Luna menatap Adel dengan kaget.


" Kita tuh harusnya support dia Del, bukan nyalahin dia kayak gitu, kasihan loh Key kalau nanti jadinya depresi, gak boleeh gitu," ujar Luna yang membuat Adel memejamkan matanya, berusaha mengontrol emosinya sendiri melihat sahabatnya jadi seperti ini.


" Masalahnya dia tuh anak niat buat aborsi Lun, makanya gue marah sama dia. Bayinya punya dosa apa coba? Kalau bukan gue gak bilang ke ortunya Adel, udah pasti dia milih buat ngegugurin nih anak. Udah lah dia dosa karna Zina, masih bikin dosa lagi karna negbunuh bayinya," ujar Adel dengan frustasi.


Key tak menjawab sama sekali, sementara Luna hanya diam dan menatap Key dengan kasihan.dia sama sekali tak menyangka temannya akan mengalami hal seperti ini. Bahkan Adel yang hidup dengan jauh lebih bebas pun tak sampai seperti ini. Tapi nasi sudah menjadi bubur, sia – sia saja menyesal, lebih baik menghadapi masa depan dan memperbaiki diri di kemudian hari.


" Ya udah, karna udah kejadian juga gak guna Lo kayak gini. Mending sekarang kita fun – fun aja karna akhirnya Key nikah dan gue bakal jadi aunty. Mending kita rayain ini semua, daripada Cuma nyalah –nyalahin kan, kasihan juga kalau Key sampai stres, kasihan babynya," ujar Luna yang mendadak jadi bijak, membuat Adel menatap Luna dengan ngeri.


" Jangan sampai habis ini Lo yang kayak begini Lun. Omongan Lo bijak banget kayak ibu – ibu yang baru nikah. Hii," ujar Adel yang merinding mendengar Luna. Luna langsung memutar bola matanya dan malas untuk menanggapi Adel, gadis itu beralih pada Key yang masih diam.


" Lo gak usah mikir yang seram – seram. Lo coba aja bayangin kalau nanti anak Lo lahir, anak Lo bakal jadi cakep banget karna bapak ibunya cakep. Dah gitu dia bakal jadi anak yang lucu gitu, pipinya merah tembem, Lucu banget kan?" tanya Luna yang membuat Key sedikit tersenyum.


Key menatap ke perutnya yang rata, benar juga. Bayi itu sudah terlanjur hadir ke dunia ini. Dia tak bisa membunuh bayi tak berdosa ini. Dia juga tak bisa membiarkan calon anaknya hidup dengan label anak yang tak diinginkan. Key ingin memiliki keluarga yang utuh dan penuh cinta. Mungkin inilah saatnya.


" Tapi benar George sebenarnya gak mau nikah? Dia terpaksa nikah karna nih baby? Lo gak takut nanti dia bakal jadi daddy yang buruk?" tanya Luna dengan hati – hati. Key mengangguk, membenarkan pertanyaan Luna karna memang itu yang terjadi.


" Sebenarnya bukan dia nolak dan gak ngakuin nih anak. Tapi kami sama - sama masih labil, masih sering bertengkar dan belum siap untuk pernikahan. Cuma karna udah ada babynya, dia bilang ke gue dia bakal berusaha jadi ayah yang baik, tapi gue gak boleh nuntut dia dulu, biar dia adaptasi dan belajar dengan sendirinya."


" Bagus kalau dia masih mikir kayak gitu, jangan mau enaknya doang, giliran suruh resmiin dia gak mau. Kalau gini kan setidaknya status calon anak Lo bakal jelas. Kalau smapai dia gak mau nikah sama Lo, gue bakal datengin dia dan patahin lehernya. Enak banget udah ambil untung terus dihempas gitu aja."


" Tapi dia gak ambil untung kok, kan sama - sama enak," ujar Key pelan, sangat pelan, namun cukup jelas didengar oleh Luna dan kawan – kawan. Mereka berpandangan satu sama lain sebelum akhirnya berkata


" KEYLA!!!"