
Paginya, Daneysa bersikap biasa saja seperti tak ada yang terjadi. Sementara Radith tampak menghindarinya, sepertinya lelaki itu malu terhadap apa yang dia katakan dan dia lakukan tadi malam. Mereka bersikap dingin satu sama lain. Tenang, bukan berarti ini adalah awal kisah cinta mereka, yah mungkin bisa jadi, tapi tidak di kisah ini.
Mereka sarapan dengan tenang dan tanpa percakapan yang berarti. Luna yang paling menikmati sarapan hari ini. Bahkan sampai yang lain menatap Luna dengan senyum yang melebar. Suasana yang tak sama dengan tadi malam membuat Jordan jadi curiga dan merasa ada yang aneh. Pagi ini jauh lebih hening dari malam tadi.
" Papa kenapa diam aja?" tanya Jordan yang akhirnya menanyakan kebingungannya. Mr. Wilkinson hanya memandang Jordan dengan penuh kode, Jordan langsung tahu kali ini adalah maslaah pekerjaan yang tak mungkin beliau bahas di depan Luna karna akan menganggu liburan mereka, beliau tahu Luna tak akan terima beliau tetap bekerja meski sedang liburan.
" Darrel kenapa diam aja?" tanya Jordan yang mulai menanyai Darrel yang tampaknya melamun sambil menatap ke arah Luna yang sedang makan. Gadis itu langsung mendongak dan menatap Darrel yang tampak gelagapan karna kepergok menatapnya begitu dalam. Darrel menggeleng ke arah Jordan untuk memastikan dirinya baik – baik saja.
" Saya Cuma mengagumi ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna, kenapa kok saya gak pernah bosan menatap dia ya bang?" tanya Darrel yang membuat Jordan memalingkan kepalanya tanpa menjawab lelaki itu. Kini pandangan Jordan teralihkan dan menatap Danesya yang memainkan ponselnya, entah game apa yang gadis itu mainkan sampai mengabaikan makanannya.
" Radith kenapa diam aja?" tanya Jordan sambil menatap Danesya, gadis itu langsung mendongak dan menatap ke arah Radith, membuat Jordan tertawa geli dengan pelan sambil menatap ke arah Radith setelah puas mengetahui fakta itu dengan matanya sendiri. Radith pun sampai tersedak makanannya karna ditanya tiba – tiba oleh Jordan. Lelaki itu menatap ke arah Danesya, kenapa malah bertanya padanya.
" Gak papa bang, lagi pengen diam aja," jawab Radith dengan sopan setelah membasahi tenggorokannya yang kering sampai tersedak itu dengan air. Jordan mengangguk puas dan kembali pada makanannya, sepertinya semua orang sibuk dengan pikiran mereka untuk saat ini. Bahkan Jordan bisa melihat pandangan mata khawatir pada Darrel, namun lelaki itu bersikap baik – baik saja saat dia tanya.
" Luna, vitamin yang dikasih dokter kamu bawa kan?" tanya Jordan yang membuat Luna tersentak dan menatap lelaki itu. Luna mengingat – ingat dan mengangguk, dia mengeluarkan obat dari dalam tasnya dan menghitung dosis vitamin yang dia bawa.
" Sebanyak itu vitamin yang harus Lo minum Lun?" Tanya Radith dengan reflek. Tak ada yang menjawab pertanyaan itu, Darrel dan Jordan saling berpandangan dan melihat Luna yang juga bingung harus menjawab apa, gadis itu pun tak tahu kenapa vitamin yang diberikan oleh dokter sangat banyak, bahkan dia baru dikabari ada beberapa vitamin yang dosisnya ditambah.
" Gue juga gak ngerti sih sebenernya, tapi selama itu buat kebaikan dan kesehatan gue, ya gue terima terima ja," ujar Luna mengedikkan bahunya dan meminum satu persatu vitamin itu karna makannya telah selesai. Radith menganggukkan kepalanya karna mendapat respon tak mengenakkan dari Darrel dan Jordan, bahkan Danesya juga menatapnya dalam diam.
*
*
*
" Tungu, Lo pasti tahu kan Luna kenapa? Kalau dia gak sakit, kenapa dia minum obat sebanayk itu? Lo pasti tahu kan penyebabnya? Lo bilang sama gue sekarang, Lo udah tahu perasaan gue ke Luna, Lo gak ada niat buat bantu gue? Setidaknya kalau gue tahu, gue bisa lindungin dia," ujar Radith yang sedari tadi menganggu Danesya.
Gadis itu mengerang dan menghembuskan napasnya dengan berat. Dia sangat benci diganggu, dan sialnya Radith selalu menganggunya tentang masalah Luna. Lelaki itu tahu akan percuma jika bertanya pada Darrel atau Jordan karna mereka tak akan pernah memberitahukan kepada Radith, apapun itu.
" Lo mau tahu tentang Lunetta? Oke! Gue kasih tahu Lo sekarang, jadi please jangan ganggu gue, jangan usik gue, gue muak lihat Lo ada di sekitar gue, sebenernya Luna itu…"
" Danesya, dipanggil sama bang Jordan."
Danesya tak dapat menyelesaikan perkataannya, Darrel muncul tiba – tiba dan langsung memintanya menemui Jordan. Gadis itu mengangguk dan pergi dari sana, menyisakan Darrel dan Radith dalam suasana angin sepoi – sepoi ala drama titanic.
" Lo sengaja minta dia pergi karna gue tanya tentang Luna kan kak? Sebenernya apa yang Lo sembunyiin dari gue kak? Lo kayak gini malah bikin gue tambah curiga," ujar Radith memicingkan matanya. Darrel terkekeh dan berpegangan pada pembatas kapal itu. Hari ini adlaah hari terakhir mereka, setelah ini mereka akan kembali ke darat dan melanjutkan perjalanan mereka sesuai kehendak Luna.
" Iya, gue sengaja. Semakin Lo memaksakan diri untuk tahu sesuatu, Lo gak akan mendapat info atau hal apapun, Lo harus biarin semua ngalir dan Lo akan tahu sendiri kalau waktu dan takdirnya tepat. Se simple itu Dith, gue yakin Lo juga paham akan hal itu," ujar Darrel dengan tenang sambil memejamkan matanya.
" Lo berharap gue bakal diam aja di saat gue tahu ada yang gak beres? Gue rasa Lo sengaja sembunyiin itu, kenapa kak? Kalau ada yang gak beres sama Luna, harusnya Lo kasih tahu Luna, Lo gak bisa bikin dia terlihat bodoh kayak gitu di hadapan semua orang. Gue yakin, Cuma gue dan Luna gak tahu apapun di sini. Apa gue salah?" tanya Radith yang tampak sekali sedang menahan emosinya.
" Lo bakal tahu hal yang Lo perlu tahu, begitu juga Luna, untuk saat ini, kalian gak perlu tahu apapun," ujar Darrel dengan dingin, sangat dingin bahkan sampai membuat Radith merinding karnanya.
Radith berniat mengintimidasi Darrel dengan tatapannya, namun lelaki itu yang justru mengintimidasi dirinya dengan nada bicaranya. Harus Radith akui dia kalah untuk kali ini. Radith hendak menjawab, namun dia melihat Luna keluar dari ruangan, membuatnya mengurungkan niatnya dan langsung pergi dari sana tanpa diminta.
" Kak Darrel," ujar Luna pelan sambil memegang tangan Darrel, karna posisi Darrel membelakangi Luna, lelaki itu tak tahu Jika Luna menghampirinya dan langsung memegang tangannya, hal itu membuat Darrel sedikit terkejut, namun lelaki itu langsung menggenggam tangan Luna tanpa diminta, menautkan jari – jari mereka menjadi satu ikatan, Luna tersenyum manis melihat perlakuan Darrel kepanaya.
" Kak Darrel, Luna boleh jujur? Luna ngerasa ada yang gak beres sama sekitar Luna, entah itu Daddy, bang Jordan, Danesya, Radith bahkan kak Darrel. Entah kenapa Luna ngerasa kalian perang dingin di belakang Luna. Apa yang Luna rasain itu bener gak kak?" tanya Luna dengan wajah sedihnya, Darrel tersenyum dan mengusap kepala Luna untuk menenangkan gadis itu.
" Gak ada yang kayak gitu, aku gak tahu sama mereka, tapi kalau aku sendiri, aku diam karna aku ngerasa capek, aku gak pernah ada di kapal selama ini, rasnaya kayak pusing gitu sama ombak, aku pengen buru – buru sampai rumah," ujar Darrel yang diangguki oleh Luna. Rupanya semua perasaan buruknya hanyalah halusinasi belaka, Luna lega mengetahui hal itu.
" Luna mau tanya sama kak Darrel boleh? Luna penasaran, kenapa Kak Darrel bisa bertahan sama Luna sampai sejauh ini? Bahkan kak Darrel rela buang waktu buat ikut liburan ini di saat kak Darrel tahu kak Darrel punya banyak pekerjaan, kenapa kak?" tanya Luna yang entah kenapa terbawa suasana.
" Kamu jauh lebih penting dari itu semua, harus berapa kali aku bilang? Aku siap kehilangan itu semua, tapi aku gak bisa kehilangan kamu, aku gak bisa kalau kamu gak ada di sisi aku. janji sama aku, kamu gak akan ninggalin aku, janji?" tanya Darrel mengulurkan kelingkingnya di hadapan Luna.
" Kalau suatu hari nanti Luna pergi duluan dibanding kak Darrel, kak Darrel gak boleh kayak bang Jordan ya kak, gak bisa move on selama bertahun – tahun. Kak Darrel harus langsung move on, kan kak Darrel ganteng, pasti langsung bisa nemu yang gantiin Luna, oke kak?" tanya Luna sambil menunjukkan kelingkingnya juga.
Luna dapat merasakan Darrel menanggung beban yang sangat berat, bahkan lelaki itu sampai menghela napasnya berkali – kali dengan oenuh tekanan. Luna ingin bertanya beban apa yag ditanggung oleh Darrel sampai lelaki itu tak bisa menceritakan pada Luna, namun rasanya bukan waktu yang tepat, biarlah seperti ini dulu, toh Luna juga bisa menikmati wangi tubuh Darrel.
" Duh, anginnya sepoi – sepoi, sampai ada yang anget – angetan kayak gini, beuhh, enak kali ya." Suara itu membuat Luna dan Darrel melepaskan pelukan mereka. Mereka menatap Jordan yang tanpa dosa melewati mereka dan pergi begitu saja. Ingin Luna melempar lelaki itu dengan sepatu, namun dia masih ingat tentang sopan santun, dia akhirnya mengurungkan niatnya dan menatap Darrel yang senantiasa menatapnya.
" Kak, kalau kita kayak gini terus nanti pembaca pada ngamuk. Banyak yang gak suka kalau kak Darrel berakhir sama Luna, mereka kayak gak terima gitu kak, awalnya kan Luna sam Radith, masak malah endingnya sama kak Darrel?" tanya Luna dengan wajah sedihnya. Darrel terkekeh dan mengacak rambut Luna sebagai respon.
" Biar aja mereka kepanasan sama kita, toh kita bahagia aja tuh. Authornya sengaja bikin mereka kesal dan penasaran. Harusnya mah mereka gak salahin aku, tapi salahin authornya, tapi ya gakpapa deh mereka salahin aku, malah aku bisa bikin mereka tambah kesel, contohnya gini," ujar Darrel sambil mendekatkan kepalanya dan mengecup Dahi Luna cukup lama.
" Kak Darrel mah," ujar Luna yang langsung memalingkan mukanya karna malu. Darrel tertawa lepas karna Luna tak menyangka apa yang akan dia lakukan. Tanpa mereka sadari, seseorang memandang mereka dengan tangan yang terkepal, dlam hatinya dia mengumpat pada keputusannya dulu, keputusan yang membuat dirinya berada di posisi sulit untuk saat ini.
*
*
*
Mereka kembali ke daratan dengan perasaan dan fisik yang lelah. Radith menghela napasnya dan masuk ke dalam mobil untuk merebahkan dirinya. Kepalanya pusing bukan main, ini pertama kali dalam hidupnya berada di atas kapal untuk waktu yang lama dan melakukan kegiatan di atas sana. Ponsel yang berdering membuatnya mengurut kepala, tidak bisakah dia ebristirahat dengan tenag barang sejenak?
Radith menyipitkan matanya saat mendapati nomor asing yang menelponnya, tak hanya nomor asing, bahkan nomor itu memiliki kode negara yang berbeda. Radith yang mengangkat panggilan itu karna takut ini adalah motif untuk pencurian data atau penipuan, Radith tak bisa mengambil resiko itu.
" Kenapa gak diangkat?" tanya Jordan yang memperhatikan Radith.
" Nomor asing, kode negaranya juga +1, mungkin Cuma penipuan, biarin aja," ujar Radith dengan cuek, namun cukup membuat semua orang yang ada di mobil itu memandang Radith dengan bingung, mereka turut berpikir siapa kiranya yang menelpon Radith.
" Ej, +1 itu kan kode negara US, siapa tahu Blenda yang hubungin Lo, angkat aja dith," ujar Luna dengan heboh. Dia menghafal kode negara US karna dia ingin sekali bisa tinggal di negeri itu, namun apa daya, dia malah terjebak di sini dengan takdir yang seperti ini.
" Bener tuh, angkat aja, siapa tahu berita penting juga," ujar Darrel menanggapi perkataan Luna. Radith mengangguk dan mengangkat panggilan yang belum berakhir itu, sepertiny memang penting sampai orang itu mmepertahankan panggilan masuk meski tak diangkat oleh Radith.
" Kenapa lama ngangkatnya?" tanya suara yang ada di sbeerang sana. Radith dapat mengenali suara itu, secara otomatis senyumnya terangkat, membuat mereka yang melihat Radith langsung yakin dugaan mereka tepat, mereka turut bahagia akrna mendapat kabar dari Blenda.
" Kamu gimana keadaannya? Kenapa baru n gabarin sekarang? Aku kira kamu udah lupa sama jnji kamu," ujar Radith yang tak menanggapi pertanyaan gadis itu.
" Maaf, aku harus cukup sembuh duu baru berani ngabarin kamu, sekarang aku mulai sembuh dan rambut aku mulai tumbuh, makanya aku berani hubungin kamu," ujar Blenda dengan suara riangnya.
" Oh ya? Coba vidcall, aku gak percaya kalau belum lihat sendiri," ujar Radith yang terdengar antusias, Luna yang dua hari ini tak melihat senyum Radith yng begitu lepas dan tulus secara otomatis tertarik dengan apa yang mereka bicarakan.
" Jangan sekarang, aku belum mandi hehehe, next time aja aku hubungin kamu lagi, ekalian bikin akun chat baru biar gak boros pulsa," ujar Blenda yang membuat Radith mengangguk meski dia menyadari Blenda tak bisa melihat wajahnya.
" Kalau gitu kamu hati – hati, nurut kata dokter, obat diminum teratur, pasti gak enak ya minum obat terus?" tanya Radith yang mengubah air mukanya.
" Engga lah Dave, mana ada obat yang neak, tapi kalau memang hal ini yang bikin aku sembuh ya pasti aku minum semua. Walau di sini enak, tapi aku mau balik ke Indonesia segera, doain aku ya," ujar Blenda dengan suara bergetar.
" Kamu nangis? Kenapa kamu nangis?" tanya Radith dengan wajah paniknya. Mereka yang berada di dalam mobil ikut menengok karna Radith berbicara cukup keras.
" Blenda, kamu kenapa nangis?" tanya Radith mengulangi perkataannya karna Blenda tak menjawab.
" Aku seneng banget akhirnya bisa dnegar suara kamu, aku kangen banget sama kamu Dave," ujar Blenda yang membuat Radith mendesah lega.
" Yaudah, kamu makanya cepat sembuh, ketemu lagi sama aku, aku udah kangen loh ini."
Radith mengangkat alisnya saat mereka memberikan kode kepada Radith. Lelaki itu mengangguk untuk menyampaikan pesan mereka pada Blenda.
" Kmau juga dapat salam kangen nih Dari Luna, Darrel, bang Jordan, Danesya sama Mr. Wilkinson," ujar Radith yang diacungi jempol oleh mereka semua.
Perjalanan mereka akhirnya diisi dengan topik seputar Blenda setelah panggilan selesai.