Hopeless

Hopeless
Aku Lelah



Kian hari hubungan rumah tangga Kinan semakin kacau dan berantakan. Beni semakin menjadi-jadi. Memangnya apa lagi yang mesti pria itu segani saat ayah mertuanya sendiri memiliki sikap dan sifat yang hampir sama buruk. Setiap hari, Beni selalu membawa teman-temannya ke rumah. Terkadang, Kinan hanya memilih diam dengan sumpah serapah yang menumpuk di benaknya. Paling yang ia lakukan hanya berdiam diri di sudut kamar merenungi nasibnya. Mengapa, mengapa dan mengapa?


Namun terkadang, ia tidak bisa diam begitu saja. Kinan akan ribut, histeris seperti orang gila. Memaki dan mengutuk suaminya dan sialnya Beni selalu terpancing. Pertengkaran mereka akan berakhir dengan kekerasan.


Seperti malam ini, sungguh Kinan tidak bisa menahan amarah mendengar suara Beni dan teman-temannya yang bersuara dengan bisikan.


Meski tidak mendengar dengan jelas apa sebenarnya yang sedang mereka bicarakan di luar sana, tetap saja telinga Kinan berdenging seakan ingin meledak.


Kinan tiba-tiba berdiri, mengikat rambut panjangnya yang kusut secara asal. Ia tarik pintu kamar dengan keras. Sengaja ia lakukan untuk menarik perhatian semuanya.


Dengan tatapan bengis, ia layangkan pandangan kepada Beni dan tiga temanya. Keempat pria itu duduk membentuk lingkaran. Di hadapan mereka berderet kartu dan di tengah lingkaran tersebut berserak alat-alat laknat mereka. Narkoba.


"Mau kemana kamu?" Beni bertanya tatkala ia melanjutkan langkah dan membuka pintu.


"Keluar dari rumah yang penuh dengan maksiat ini. Gerah!"


"Berhenti kamu, Kinan!"


Kinan mengabaikan ucapan Beni dengan terus membuka engsel pintu satu persatu.


"Oh, kamu tidak mau mendengar kata-kataku lagi?"


Kinan berbalik menatap wajah suami yang membuat hidupnya berantakan dalam sekejap.


"Kenapa? Kamu mau ngancam aku lagi? Mau mukul lagi di hadapan teman-teman kamu? Silakan! Tubuhku sudah terbiasa menerima pukulanmu yang tiada ampun." Kina berbalik lagi, wajah Beni sudah berubah merah. Pun ia menarik daun pintu dan segera berlari.


"KINAN!!"


Kinan semakin melajukan lari begitu melihat Beni mengejarnya. Ia benar-benar semakin muak dengan jalan hidupnya.


"Berhenti kamu, Kinan!"


Kinan terus berlari di tengah gelapnya malam. Tidak peduli dengan kerikil yang melukai kakinya. Ya, keluar rumah tanpa menggunakan alas kaki.


"Kinan, jangan bikin malu kamu!" Beni berhasil menyusul dan menarik tangannya.


"Lepaskan aku!!" Ditampik tangan Beni dengan kasar. Pria itu kembali mencekal dengan lebih kuat. Kinan tidak mau kalah, ia gigit tangan Beni hingga suaminya itu melepaskan cekalannya. Pun Kinan kembali berlari. Kini mereka sudah berada di jalan raya. Kinan terus berlari dan Beni juga terus mengejar.


Saat Beni hendak menahan tangannya kembali, Kinan menyebarang tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan. Hampir saja sebuah mobil menabraknya jika Beni tidak cepat menariknya. Makian dan umpatan mereka dapatkan dari si pengemudi mobil.


"Kamu apa-apaan sih?!" Beni menyeret tangannya, menyingkir dari jalan raya. "Kamu mau mati?!"


"Iya! Aku mau mati! Lepas!!"


"Jangan banyak tingkah kamu, Kinan. Sengaja kamu ribut-ribut mau bikin malu?"


"Kamu yang bikin malu, sialan! Lepaskan aku, aku mau pergi. Aku udah gak kuat hidup denganmu!"


"Jangan sembarangan ngomong kamu!"


"Lepas!" Kinan kembali berusaha menggigit tangan Beni, tapi pria itu mendorong kepala Kinan dengan kuat.


"Jangan macam-macam kamu!" Beni menatapnya dengan bengis. "Kamu kira aku takut sama kamu! Aku tidak peduli mau pisah atau bagaimana. Tapi tidak begini caranya!"


"Pokoknya aku mau pergi!!"


Plak!!


"Tidak bisa tenang kalau ngomong. Heboh seperti kesurupan."


"Aarggghhh!!!" Kinan mendorong Beni hingga terjatuh. Beni semakin marah, ia berdiri dan langsung menjambak rambut Kinan.


"Benar-benar ya kamu mulai gila. Jangan buat aku semakin marah dan kamu semakin terluka. Sekarang, kita pulang dan kita bicarakan di rumah."


Kinan yang hampir kehabisan tenaga akhirnya hanya bisa pasrah dibawa pulang. Sampai di rumah, Beni langsung mendorong Kinan hingga terjatuh di hadapan teman-temannya. .


Pertengkaran pun berlanjut. Teman-teman Beni mulai melerai tapi Beni tidak peduli. Akhirnya, ketiga temannya memilih meninggalkan mereka.


"Kamu mengira aku takut kamu tinggalkan, hah? Ancamanmu selalu pergi, silakan kamu pergi!!"


Kinan berdiri, berniat hendak pergi lagi. Yang terjadi Beni justru memukul kakinya hingga meninggalkan lebam di sana. Pertengkaran mereka berakhir karena sudah sama-sama lelah.


"Ya Allah, aku lelah. Sudah sangat lelah." Kinan tertidur sambil menangis.