
" Yaudah yaudah, iyaaa nanti aku bilang ke bang Jordan, nanti aku coba minta ijin ke dia, kamu pulang gih, aku masih harus nyelesaiin ini," ujar Darrel yang mengelus laptop nya.
Laptop itu langsung ditutup oleh Darrel saat Luna datang menghampiri pria itu, entah apa yang lelaki itu kerjakan karna tadi Luna harus meminta Sesuatu dari Darrel, dia tidak memyadari hal itu.
" Memang kak Darrel lagi ngerjain apa sih kak?" tanya Luna yang jadi penasaran dengan isi laptop itu.
" Cuma tugas kelompok, ini bagian aku. Mau ngerjain di rumah tapi takut males, jadi aku kerjain disini aja," ujar Darrel sambil terkekeh dan menggaruk dahinya.
" Kakak bohong ya? Itu kakak garuk garuk dahi," ujar Luna menunjuk ke arah Darrel, Luna mengetahui fakta jika Darrel memiliki sindrom pinokio, lelaki itu akan menggaruk dahinya saat berbohong.
" Gatel Lun, nih habis digigit nyamuk," ujar Darrel menunjukkan benjolan yang ada di dahinya, Luna mengangguk tanpa curiga dan bangkit dari duduknya.
" Oke kalau gitu Luna pulang dulu, kak Darrel nanti atau besok atau lusa terserahlah yang penting datamg ke rumah Luna ya kak," ujar Luna dengan otoriter,namun Darrel malah menjawabnya dengan anggukan penuh semangat.
" Siap tuan puteri, kamu hati hati dijalan, kalau ada apa apa telpon, kalah sampai rumah langsung Kabarin aku," ujar Darrel memberi wejangan layaknya kekasih pada umumnya. Luna mengangguk dan berjalan menjauhi Darrel.
Tampak lelaki itu langsung menghela napas sambil memandang laptopnya. Lelaki itu menunduk sejenak dan kembali membuka laptopnya untuk menyelesaikan urusan yang harus segera dia selesaikan.
" Aiihh, kapan kelar juga nih masalah," ujar Darrel risih sambil menggaruk kepalanya yang terasa gatal karena berkeringat.
Sudah beberapa minggu ini Darrel mulai mendapat teror, namun peneror itu mengincar usaha Darrel. Banyak cabang restorannya yang harus gulung tikar tanpa sebab yang jelas. Dia tidak ingin Luna tahu dan menjadi khawatir, apalagi gadis itu juga pernah mendapat teror.
" Shit! Kalau gue tahu siapa Lo, gue bakal gantung Lo posisi kepala di bawah, gilak!" desis Darrel dengan kesal namun pelan agar tak mengundang perhatian.
Darrel harus menyelesaikan masalah ini dan bergegas menuju rumah Luna agar gadis itu tidak curiga atau terlalu khawatir padanya.
**
Mobil yang dikendarai supir pribadi Darrel memasuki halaman rumah Luna yang megah, lelaki itu memilih untuk diantar supir karena badannya terasa lelah semua, dia tak yakin bisa menyetir mobil dengan baik dan benar.
Bahkan papanya sudah menelpon masalah bisnisnya yang ada di ambang kebangkrutan. Untuk seukuran anak berusia 17 tahun, bisnis ini sangat Darrel banggakan, tahu bahwa bisnisnya teramcam bangkrut tentu membuat Darrel frustasi.
Papanya bilang, jika bisnisnya gagal, dia harus mau meneruskan bisnis papanya da berhenti sekolah, tentu Darrel tak menginginkan hal itu, apalagi Dara jauh lebih minat da berbakat dalam bidang bisnis papanya, biarlah Dara yang meneruskan bisnis itu.
Darrel ingin mengembangkan bisnis kuliner dan setelah lulus nanti dia ingin membuka bisnis di bidang Elektronika, namun temtu orang tuanya tidak setuju, mereka lebih mendukung Darrel melanjutkan perusahaan mereka.
Lelaki itu harus membuktikan pada orang tuanya bahwa dia bisa mengembangkan bisnisnya sendiri, bahkan semua modal yang diberikan papanya sudah dia kembalikan.
Mobil yang ditumpangi Darrel memasuki halaman rumah Luna, namun sepertinya Jordan belum sampai di rumah itu, tidak ads mobil yang biasanya terparkir rapi di halaman depan.
Darrel turun dari dalam mobilnya dan berjalan menuju pintu utama. Layaknya tun rumah, pria itu membuka pintu utama dengan santai dan masuk begitu saja ke dalamnya.
Yah, rumah sebesar ini. Mana mungkin Darrel mengetuk pintu da mengucap salam agar dibukakan pintu? Toh keamanan di rumah ini sudah sangat ketat, bahkan tak sembarang orang bisa melewti gerbang depan rumah Luna.
Darrel mengambil ponselnya dan menghubungi Luna, namun gadis itu tidak menjawab panggilannya sama sekali. Dia ingin meminta pelayan mengecek Luna, namun tak seorang pelayanpun yang lewat di depannya.
Akhirnya lelaki itu hanya merebahkan diri di sofa, menunggu Jordan pulang dan menyampaikan maksud kedatangannya. Setidaknya rasa lelah dan kantuknya aka sedikit terobati dengan merebahkan diri.
Tanpa sadar lelaki itu mulai terlelap dalam tidurnya, meraih bintang dan segala mimpinya. Bahkan terdengar dengkuran halus tanda lelah dan ada sesuatu tidak beres dalam sistem tubuhnya.
" Heh, bangun Lo! Datang ke rumah orang cuma numpang tidur."
Darrel merasa tak nyaman karena gangguan suara itu, dia membuka matanya perlahan, menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.
Saat mengetahui yang membangunkannya adalah Jordan, lelaki itu segera bangun dari tidurnya.
" Bentar bang, give me a minute," ujar Darrel menunjukkan jari telunjuknya.
Lelaki itu mulai melakukan peregangan ringan dengan menarik otot lengan serta otot lehernya, lelaki itu menguap lebar meski ditutup oleh tangannya. Jordan yang melihat itu hanya menggeleng tak percaya karena memiliki calon ipar yang seperti itu.
" Udah?" tanya Jordan yang dengan sabar menunggu Darrel sampai berdiri tegak san siap memandangnya.
" Udah bang," jawab Darrel dengan sopan dan senyum lebar di wajahnya yang tampak lelah dan masih ada garis garis di wajahnya.
" Jadi, kenapa Lo kesini?" Tanya Jordan mengulangi pertanyaannya.
" Sebenernya saya kesini atas nama Luna, Luna mau minta ijin sama abang masalah ini," ujar Darrel yang mengambil tasnya dan merogohnya untuk mengambil kertas yang terlipat.
" Apa nih?" tanya Jordan menerima dan membuka lipatan itu lalu membacanya
" Gak, gak ada, gak boleh, " ujar Jordan megulurkan kembali kertas itu setelah membacanya dengan seksama, Darrel sudah tahu jawaban Jordan, dia sudah memikirkan cara membujuk lelaki itu.
" Kok gak boleh sih bang? Ini kan acara resmi sekolah, saya jamin deh Luna gak akan kenapa napa," ujar Darrel dengan wajah memelas.
" Terakhir kali Lo bilang gitu, adek gue nyaris mati masuk jurang, " ujar Jordan dengan wajah sinis yang menusuk.
Darrel terdiam karena kalah, dia terus berpikir. Benar juga ya, terakhir kali dia berjanji demikian, Luna malah celaka.
" Tapi nanti kan diawasinnya sama TNI bang bukan sama anak OSIS," ujar Darrel masih mencoba membujuk Jordan.
" Mau TNI, mau Polisi, mau presiden sekalipun, gue gak akan kasih peluang Luna dicelakain," ujar Jordan tak terbantahkan
" Tapi tujuan Om Smith kirim Luna ke STM Taruna kan buat itu bang, Luna biar belajar mandiri, lah kalau kegiatan kayak gini aja dia gak diijinin, terus nanti gimana dong kalau dia gak bisa mandiri?"
Jordan terdiam tak bisa membantah, Darrel sudah membawa nama papanya, lelaki itu ternyata licik dan banyak akal. Menyebalkan.
" Lo licik ya bawa bawa nama bokap gue, ngeselin banget. Tapi tetep aja, gue gak akan ijinin Luna, kecuali Lo mau lakuin satu hal," ujar Jordan tersenyum penuh arti, Darrel sendiri langsung harap harap cemas menunggu apa yang diperintahkan Jordan
" Masakin gue Lasagna, gue lagi ngidam itu."
Darrel melega seketika, dia kira Jordan akan menyuruhnya melakukan hal aneh atau ekstrim, rupanya hanya memintanya untuk memasak, meski dia tidak pernah memasak Lasagna sebelumnya.
" Kalau rasanya gak enak, gue gak akan ijinin Luna pergi, sekaligus Lo gue pecat sebagai calon adik ipar," ujar Jordan dengan wajah yang mengancam, namun Darrel hanya menjawabnya dengan anggukan kepala tanda dia memahami perintah.
Lelaki itu segera pamit untuk pergi ke Dapur dan mulai menyiapkan semua bahan yang diperlukan. Darrel berdecak karena dapur rumah ini sudah seperti minimarket, semua bahan tersedia.
Bakat memasaknya memang sudah terlihat sejak SD, maka dari itu dia terus mengasahnya secara diam diam dan akhirnya bisa memasak berbagai resep masakan atau sekadar mengimprovenya
Butuh waktu cukup lama untuk membuatnya karna memang Darrel tak berpengalaman hingga dia tidak bisa sembarangan memakai trick masak cepat.
Darrel memindahkan makanan dari oven ke sebuah nampan besar dan memakai troli untuk membawa tiga porsi lagsana dan makanan lain sebagai pelengkap meja, lelaki itu tersenyum puas karna hasilnya tidak mengecewakan.
Darrel mulai menyajikan makanan di atas meja dimana Jordan sudah duduk menunggu makanan datang, lelaki itu memejamkan mata dan menghirup aroma makanan yang masih panas itu.
" Telpon Luna gih, biar dia makan juga," ujar Jordan memberi perintah dan mengambil gelas untuk mencoba es buah yang Darrel buat.
Darrel langsung melakukan seuai perintah dan menelpon Luna, terdengar Luna di seberang sana menjawab dengan enggan, pasti gadis itu masih tidur. Setelah memastikan Luna mendengar dan akan segera turun, Darrel langsung mematikan panggilan.
" Lo rajin banget njir, disuruh masak Lasagna tapi malah masak segini banyak, astaga, Lo mau jadi adik ipar atau koki rumah ini?" tanya Jordan yang mulai mengunyah buah segar dalam mulutnya.
" Hahahaha, sekalian mengasah kemampuan bang," ujar Darrel terkekeh, ada rasa bangga dalam hatinya ketika orang lain menikmati makanan yang dia buat.
Kebanggaan setiap Chef adalah ketika mereka yang memakan merasa puas bahkan sampai menyampaikan pujian secara langsung, begitu pula Darrel, rasanya sangat puas.
" Pasti bisnis Restoran Lo maju terus ya, pemiliknya aja pinter masak gini," ujar Jordan yang mulai mengambil sedikit spaghetti karena tidak tahan dengan rasa lapar dalam perutnya.
" Hahaha, tadinya sih gitu bang," jawab Darrel yang masih mencoba santai, meski sadar dia salah bicara.
" Tadinya? Maksudnya? LO Bangkrut gitu?" tanya Jordan dengan wajah bingung, dia akhirnya bisa melihat sesuatu yang salah dengan perubahan wajah Darrel.
" Cerita sama gue, siapa tahu gue bisa bantu," ujar Jordan bersikap dewasa, mau sedewasa apapun Darrel dalam menghadapi masalah, dia tetapnya pria berusia 17 tahun yang pasti akan mengalami stress dakam urusan bisnis.
" Gak tau kenapa profitnya menurun terus bang, padahal cafe, resto sama Resort ramai terus, kayak ada penggelapan dana tapi saya gak tahu dan masih belum bisa pecahin siapa dalangnya."
Mau tidak mau akhirnya Darrel menceritakan semua pada Jordan, membuat Jordan menatapnya lekat sambil berpikir.
" Udah ada beberapa cabang yang gulung tikar karna ini, beberapa kebakaran dan beberapa lagi tiba tiba semua karyawannya mengundurkan diri, saya bingung harus gimana lagi," ujar Darrel dengan lesu.
Jordan tampak terkejut dengan cerita Darrel, bagaimana mungkin semua terjadi secara sebegitu kebetulannya?
" Ternyata orang itu juga teror Lo, gue kira cuma gue aja yang diteror," ujar Jordan setelah beberapa saat terdiam.
" Maksud abang?" tanya Darrel tak mengerti.
" Anak perusahaan yang ada Di Indonesia satu persatu mulai Pailit, karna ada yang menggelapkan uang perusahaan. Tapi sampai sekarang susah banget karna kayaknya orang itu pinter IT, Data perusahaan udah diretas dan bahkan Intel bokap gue gak bisa ungkap siapa pelakunya."
Kini Darrel yang terkejut karna ternyata sekelas Jordan dan Mr. Smith oun belum bisa menemukan siapa si peretas, apalagi Darrel yang hanya amatiran. Harusnya sejak lama dia komunikasika hal ini pada Jordan untuk menemukan titik terang.
" Gue kira dia cuma saingan bisnis yang pakai cara kotor buat bikin Wilkin's Coorp Bangkrut, tapi ternyata dia juga ngincer Lo, siapa yang ada dendam ke Lo sama gue secara bersamaan gini?"
Darrel masih tampak berpikir dan mencerna perkataan Jordan. Dia bahkan belum ada satu tahun mengenal Jordan, bagaimana mungkin dia memiliki musuh yang sama dengan musuh Jordan? Apa masalah orang itu?
" Kayaknya gak mungkin kita punya musuh yang sama deh kak, lingkungan kita pun beda, gimana ceritanya musuhnya sama?"
Jordan menganggukkan kepalanya, benar juga kata Darrel. Jika orang itu hanya berniat untuk menghancurkan atau mengambil alih harta kekayaan Wilkinson, orang itu tak mungkin mengusik Darrel.
Atau ini semua berhubungan dengan orang yang juga berhubungan dengan mereka berdua? Tapi siapa? Musuh Radith kah? Atau musuh Luna? Tapi jika benar musuh mereka, kenapa bisa se ekstrim itu?
Yang jelas orang itu pasti berbahaya dan akan menjadi bom waktu jika tidak segera ditemukan.
" Gak usah ngomong apa apa sama Luna, Lo tahu sendiri kan dia orangnya panikan. Kalau dia bertindak gegabah, kita semua dalam bahaya, gue yakin orang ini bukan orang sembarangan."
" Iya bang, saya ngerti, tapi kita harus..."
Ucapan Darrel terhenti saat melihat seseorang keluar dari lift dengan memakai tank top dan celana pendek, orang itu melakukan peregangan hingga lekuk tubuhnya terbentuk sempurna.
" Tutup mata lo bego! Mau gue bikin buta?" reflek Jordan langsung melempar Darrel dengan kacang saat lelaki itu menatap Luna tanpa berkedip.
" Hehehe, rejeki bang, masak ditolak," ujar Darrel yang sudah mengalihkan pandangannya.
" Kamu kenapa keluar kamar pake baju begitu sih?" tanya Jordan pada Luna.
" Gak keluar rumah juga, kan cuma mau makan bang," ujar Luna tampak tak peduli dan duduk di meja makan.
" Ini chef siapa yang masak bang? " tanya Luna dengan antusias. Bau makanan yang masuk ke hidungnya sangat menggugah selera.
" Noh di depan kamu," jawab Jordan dengan santai.
" Lhooo kak Darrel kok disini? Kok datang gak bilang bilang? Luna kan malu pakai baju gini ketemu kak Darrel, mana bangun tidur belum mandi."
Luna mulai meracau dan menyembuyikan tubuhnya ke bawah meja hingga hanya tampak kepalanya yang memandang Darrel.
" Gakpapa, suatu hari nanti juga tiap hari aku bakal lihat kamu kayak gini, anggap aja ini training biar besok gak kaget lagi."
" Tapi kan malu kak masak ketemu pacar sendiri gak ada sopan sopannya, gak ada cantik cantiknya ," jawab Luna yang masih enggan beranjak dari posisinya.
" Bahkan kalau suatu hari nanti kamu udah keriput dan gak cantik lagi, aku tetep bakal sayang dan cinta sama kamu, " ujar Darrel dengan tulus dan penuh senyum.
" BUCIN TEROS!!!" Seru Jordan yang sering melihat adegan telenovela jika Luna sudah bersama dengan Darrel
*
*
*
PS dari Author : Sharing yok pernah gak kalian dipaksa untuk melakukan sesuatu sama Orang tua padahal kalian gak suka? karna menurut orang tua itu yang terbaik untuk kalian