
" Hai Lunetta, masih marah sama aku?" tanya Darrel yang tersenyum manis di depan pintu taman indoor di lantai 3.
" Masih, ngapain kakak disini?" tanya Luna dengan ketus.
Darrel hanya tersenyum dan mengeluarkan ponselnya, lelaki itu seperti mengetikkan sesuatu dan tersenyum lalu memasukkan lagi ponsel itu.
" Follow me yuk," ujar Darrel yang ingin meraih tangan Luna, namun ditepis oleh gadis itu.
" mau kemana? Luna ngantuk," ujar Luna dengan malas. Darrel pun menjadi geli karena Luna masih saja merajuk padanya.
Darrel langsung menarik Luna tanpa persetujuan gadis itu dan membawa gadis itu menuju tangga. Luna heran dengan desain tangga yang sudah berubah, banyak bunga yang tertempel di pegangan tangga. Luna sampai terpesona dengan tangga yang cantik ini.
Lelaki itu tidak membiarkan Luna menikmati semerbak bunga itu lama lama. Darrel menarik Luna masuk ke dalam ruangan yang Luna tahu kosong, hanya terdapat ruangan dengan atap kaca yang lebih luas dibanding lantai lainnya.
" Mau ngapain disini kak? Kak Darrel bukan mau macam macam kan?" tanya Luna demgan curiga, membuat Darrel menatapnya malas.
" Aku ada tampan pervert kah bagi kamu?" tanya lelaki itu dengan sebal. Tidak bisakah Luna hanya diam dan tidak merusak moment romantis yang berusaha dia buat?
" Ayo masuk," ujar Darrek dengan lembut dan membuka pintu yang menjadi penghalang ruang itu.
Luna melongo dan menganga seketika. Ruangan kosong yang membosankan sudah disulap jadi ruangan yang sangat indah.
Lampu tumbrl yang dibentuk tulisan Happy birthday, beberaoa balon dengan lampu dan banyak sekali foto polaroid yang menggantung di dinding.

( gambar visual diambil dari Google, bila ada yang merasa berhak atas hak cipta silakan sampaikan di kolom komentar, akan saya edit untuk dicantumkan)
Luna melangkah pelan menuji balon balon yang berdiri dengan Indahnya, bahkan tanpa sadar gadis itu mulai menangis karena bahagia melihat keindahan itu.
" Kak Darrel bikin ini sendiri?" tanya Luna menengok ke arah Darrel dengan tetap memegangi balon balon itu.
" Yaps, makanya aku gak bisa ikut party di bawah, maaf ya," ujar Darrel yang tak henti tersenyum karena Luna merasa bahagia.
" Aku udah siapin lagu dansa, dansa bareng aku mau gak?" tanya Darrel sambil mendekat ke arah Luna. Tampak gadis itu kaget dan bimbang, membuat Darrel menjadi bingung mendapati ekspresi itu.
" Aku gak bisa dansa kak, gak pernah coba juga," ujar Luna sambil menggaruk lehernya, merasa tak enak pada Darrel.
" Aku ajarin," ujar Darrel tersenyum dan mengeluarkan remote kecil dari dalam sakunya. Lelaki itu memencet salah satu tombol disana dan mengalunlah musik dansa yang indah dan merdu.
( Sound on : thinking out Lous - Ed sheeran)
Darrel mendekat pada Luna yang hanya diam dan gugup, dia memandang Darrel yang mengikis jarak diantara mereka.
Lelaki itu tersenyum dan mengambil tangan Luna untuk diletakkan di pundaknya, sementara dia memegang pinggang ramping Luna.
Beruntung Luna memiliki postur tubuh yang tinggi, sehingga tidak sulit bagi Darrel untuk memegang pinggang Luna.
" Kiri maju," ujar Darrel memberi Instruksi dan diikuti oleh Luna. Gadis itu memajukan kaki kirinya sementara Darrel memundurkan kaki kanannya.
" Kanan maju," sambungnya yang langsung diikuti oleh Luna.
Darrel terus memberikan Instruksi sampai Luna terbiasa dengan langkahya. Lelaki itu merasa bangga memiliki Luna karna gadis itu cepat belajar sehingga tak sulit mengajarinya
Darrel tak henti tersenyum mandang paras Luna yang membuatnya candu, bahkan lelaki itu mendekatkan wajahnya dan menempelkan dahinya ke kepala Luna.
" Aku kangen banget sama kamu," ujar Darrel dengan lirih, lelaki itu menghela napas dengan berat, seakan semua beban dalam dirinya terhempas seketika.
" Maaf kalau aku udah bikin kamu marah atau sedih karna sikap aku belakangan ini," ujar Darrel pelan tepat di telinga Luna.
" Kamu harus tahu, aku gak kalah sedih dan tersiksa harus sekasar itu sama kamu, maafin aku yah?" tanya Darrel dengan lembut.
Perlakuan Darrel yang lembut membuat Luna terhipnotis, gadis itu hanya mampu menganggukkan kepalanya dengan mata terpejam.
Gadis itu menghirup udara dengan tarikan panjang, menikmati wangi tubuh Darrel yang tanpa sadar sangat dia rindukan.
Luna melangkah mendekat dan mengikis jarak yang tersisa, gadis itu memeluk Darrel dengan erat, menyalurkan semua sesak dan rindu yang selama ini bergemuruh di hatinya.
" hiks hiks hiks," Luna mulai terisak dan meletakkan kepalanya dengsn nyaman di pundak Darrel. Darrel yang dipeluk pun dengan senang hati mengelus pelan rambut gadis itu.
" Kok nangis, maaf ya," ujar Darrel menciumi puncak kepala Luna yang sangat dia rindukan aromanya, hangat tubuh Luna membuat lelaki itu merasa nyaman.
" Maafin Luna udah buat kak Darrel gak nyaman kalau Luna dekat sama cowok lain, jangan diemin Luna lagi kak, " ujar Luna dengan sedih, gadis itu masih tidak bisa memandang Darrel, takut melihat ekspresi lelaki itu.
" Aku memang merasa sakit kalau lihat kamu sama yang lain, tapi aku gak akan sampai hati buat diemin kamu, kemarin aku sengaja lakuin semua buat ulang tahun kamu."
" Bentar, lepasin dulu," ujar Darrel sambil melepaskan pelukan Luna. Lelaki itu berjalan dan mengambil jaketma lalu merogoh kantong di jaket itu.
Tampak Darrel mengeluarkan sebuah kotak dan berjalan lagi ke arah Luna. Gadis itu penasaran dengan apa yang akan Darrel berikan untuknya.
" Ini kado buat kamu," ujar Darrel megulurkan kotak tersebut dan diterima oleh Luna dengan senang hati.
Luna membuka kotak tersebut dan termenung seketika. Ditatapnya enggan isi kotak tersebut, membuat Darrel menjadi bingung karena Luna tidak menunjukkan wajah gembira.
" Kak Darrel sengaja beli kembaran atau gimana?" tanya Luna dengan wajah enggannya.
" Hah? Itu desain khusus buat kamu, bahkan aku minta desain ke orang yang ahli dan cuma ada satu di dunia ini," ujar Darrel dengan polosnya, membuat Luna semakin kesal dan malas.
" Aku gak bisa terima, ini kan udah dipakai sama tunangannya kak Darrel," ujar Luna mengulurkan kembali kotak yang sudah dibuka tutupnya. Darrel semakin bingung dengan alasan penolakan Luna.
" Sejak kapan loh aku ada tunangan?" tanya Darrel dengan bingung, dia tidak merasa memiliki tunangan sebelumnya.
" Aku lihat sendiri kak Darrel datang ke toko perihasan dan tukar cincin sama kakak OSIS yang seangkatan sama kak Darrel," ujar Luna menjelaskan apa yang dia lihat.
Luna ingin menaha agar tak membahas hal itu, namun bibirnya sudah gatal dan tak taha sehingga kelepasan mengatakan hal itu.
" Aku pakein dulu ya kalungnya," ujar Darrel mengambil alih kalung dalam kotak tersebut dan berjalan ke belakang tubuh Luna.
Gadis itu mengangkat rambutnya agar Darrel dengan mudah memasangkan kalung tersebut, Luna memegang liontin yang menjadi aksesoris kalung itu.
Saat itu Luna melihat dari jauh, dan memang tampak indah. Tapi sekarang Luna melihat dari dekat, dan kalung ini terlihat sempurna. Sangat indah, elegan, dan tentunya mahal. Taburan Permata yang membentuk sebuah hati di dalam liontin itu, foto dirinya dan Darrel yang terbuat dari lempengan emas yang diukir serta taburan berlian di sisi luar liontin itu.
" Kak, indah banget," ujar Luna dengan bahagia, gadis itu tak menyangka mendapat kado ulang tahun seindah itu, dan orang yang memberikan pun tak kalah Indahnya.
" kamu suka?" tanya Darrel yang menyandarkan kepalanya di pundak Luna dan memsluk gadis itu dari belakang, tangannya bertengger tenang di perut Luna.
" suka banget, pasti mahal ya kak?" tanya Luna dengan penuh haru.
" gak ada yang lebih mahal di dunia ini dibanding kamu. Gak ada yang jauh lebih berharga dari kamu," ujar Darrel dengan lembut, membuat Luna memejamkan mata dan terseyum tulus. Lelaki itu selalu bisa membuat hatinya menghangat.
" Luna gak pantas dapat itu semua dari kak Darrel, Luna bahkan selalu bikin kak Darrel repot bahkan sakit hati, Luna gak layak kak," ujar Luna dengan jujur dan sepenuh hati
Darrel tak suka mendengar Luna yang terlalu merendahkan dirinya, gadis itu sempurna, namun dia tidak pernah menyadari hal itu.
Lelaki itu berjalan ke depan Luna dan mengalungkan tangannya ke leher gadis itu, membuat Luna mendongak dan menatap wajah rupawan Darrel. Paras halus seperti kulit bayi, putih bersih dan tanpa bulu, astaga, kenapa Luna baru menyadari Darrel setampan ini?
" Gak ada yang lebih pantas untuk aku cintai di dunia ini selain kamu, jangan pernah merasa kamu gak layak, karna pilihanku selalu layak dan menjadi yang terbaik, okay?"
Luna mengangguk dan tersenyum bahagia, mungkin memang lelaki ini yang dikirim Tuhan untuk melegkapinya, menemaninya dan menjaga gadis itu.
" kamu cantik," Ujar Darrel sambil menempelkan kepalanya ke dahi Luna.
" Kakak pun ganteng," ujar Luna memberanikan diri menjawab gombalan Darrel, meski dirinya gugup setengah mati.
Darrel menahan tawanya dalam hati agar tidak merusak suasana yang sudah seromantis ini, pria itu mengunci pandangan Luna dan menatap netra itu lama.
Netra indah yang menghipnotis dirinya, maafkan Darrel yang terdengar lebay, karna dia memang sudah menganggap Luna candunya, apa yang ada dalam gadis itu sungguh membuat hatinya berbunga dan jatuh cinta.
" I love you 2500 Lunetta Azura Wilkison," ujar Darrel dengan lembut, namun cukup membuat Luna mengerutkan keningnya.
" Kok bukan 3000?" tanya Luna dengan bingung.
" Karna yang 500 cash back buat beli permen, hehehe," ujar Darrel yang tak tahan mengeluarkan sisi konyolnya.
Luna mendesis dan tak menyangka Darrel melakukan itu di moment langka seperti ini, lelaki itu merusak suasana yang sedari tadi membuat Luna merinding.
Darrel berada di dekatnya, bahkan wajah lelaki itu terclose up di depannya, bagaimana mungkin Luna biasa saja melihat hal itu?
" Maaf kalau aku belum bisa jadi sempurna, maaf kurangku yang belum bisa membuat kamu sepenuhnya mencinta, aku cinta sama kamu, aku bakal tunggu kamu," ujar Darrel kembali menjadi romantis.
" Maaf aku yang masih bimbang kak, aku harap kak Darrel bisa sabar sedikit lagi, tetap menemani Luna dalam setiap langkah Luna, ya kak?" ujar Luna dengan wajah cemas.
Darrel tak menjawab, namun dia mengeratkan pegangannya di leher Luna, membuat gadis itu mendekat padanya.
Darrel mulai mencium kedua mata Luna, lalu kembali ke kening dan puncak kepala gadis itu. Luna membuka mata dan menatap Darrel dalam.
Lelaki itu tersenyum dan menaikkan alisnya seakan meminta persetujuan, Luna yang mengerti hanya mengangguk dan tersenyum, membuat lelaki itu kembali mendekatkan wajahnya.
Pandangan lelaki itu menuju ke arah bibir ranum Luna yang merah alami, diusapnya bibir itu membuat Luna memejamkan matanya, menikmati setiap usapan yang Darrel berikan.
Darrel menutup mata dan mulai mendekat ke arah Luna, deru napas keduanya mulai terasa berat, bahkan mereka bisa merasakan hembusan napas masing - masing dari mereka.
Jarak semakin terkikis, bahkan tersisa lima senti lagi bibir mereka akan bertemu, Luna gugup, namun mencoba rileks dengan mengalungkan tangannya ke pinggang Darrel.
~ Kruukk kruukkk
Darrel dan Luna membuka mata mereka serentak, bahkan disaat suasana mendukung, Perut Luna tidak bisa diajak kompromi. Sedari tadi Luna menahan lapar karena merasa aka merusak suasana.
Benar saja, perutnya berbunyi saat wajah Darrel hanya sejauh dua senti dari wajahnya. Bahkan Hidung Mancung lelaki itu sudah menempel pada hidungnya.
" kamu laper ya?" tanya Darrel tanpa menjauhkan wajahnya, Luna menggeleng sebagai jawaban, gadis itu sudah merasa sangat malu pada Darrel
~ Kruuukk kruuukkk
" Itu bunyi lagi," ujar Darrel dengan senyum jahilnya, membuat Luna melihatnya sedikit jengkel dan merasa sedang diledek.
" Ganggu banget, padahal dikit lagi, " ujar Luna tanpa sadar. Meski suaranya pelan, dengan jarak Darrel yang sedekat itu tentu lelaki itu bisa mendengar dengan jelas.
Wajah Darrel tampak mulai memerah karena menahan tawa, namun dia tak tega bila harus menertawai Luna di depan gadis itu.
" Ketawa aja gakpapa sih kak," ujar Luna dengan suara rendah agar tidak berisik.
Darrel menganguk dan menjauhkan wajahnya dari Luna, dia tertawa seketika melihat wajah kesal Luna yang melihatnya tanpa suara.
" sebegitu pengennya dicium sama aku hmm?" tanya Darrel menggoda Luna. Gadis itu semakin kesal karena Darrel tak pernah jengah menggodanya.
" Enggak juga, daritadi juga cuma kak Darrel yang nyosor dan cium cium Luna, mana ada Luna yang kepingin, kak Darrel kalik tuh," ujar Luna dengan sewot.
" Yaudah atuh neng, gak usah nyolot gitu ngomongnya, abang kan cuma tanya sam neng cantik, " ujar Darrel sambil terkekeh.
Darrel kembali mendekat dan mencium kening Luna singkat, lalu mencium pipi gadis itu dan kembsli menjauh.
" Iya kamu bener, aku yang kepingin cium kamu terus, kamu udah bikin aku kecanduan, kamu harus tanggung jawab, " ujar Darrel dengan wajah serius.
" kamu harus selalu ada di dekat aku, kalau gak nanti aku bisa kambuh dan gak terobati lagi," ujar Darrel masih dengan wajah serius meski perkataannya ngawur.
" Janji sama aku bakal selalu ada yah, aku bakal tunggu kamu, aku gak akan maksa kamu, tapi aku pastiin kamu pasti bisa cinta sama aku," ujar lelaki itu dengan percaya diri, membuat Luna terkekeh karenanya.
" Oke, Luna bakal tunggu apa yang akan kak Darrel lakukan biar Luna luluh," ujar Luna dengan wajah menantangnya.
Darrel megacak gemas rambut Luna dan meraih tangan gadis itu.
" Kita turun yuk, di bawah lagi pada pesta bakar bakaran, sekalian kamu makan," ujar Darrel yang membuat Luna mengangguk.
Mereka berjalan beriringan dengan tangan saling menggenggam ke arah lift untuk pergi ke halaman dimana 'pesta' diselenggarakan