
Darrel pergi dari tempat itu dengan frustasi, dia akhirnya memilih untuk mendatangi rumah Luna, ya, rumah kekasihnya, oh maaf, kini sudah menjadi mantan kekasihnya. Luna harus tahu bahwa Darrel sungguh menaruh hati sepenuhnya pada Luna, Luna tempat Darrel bergantung, dan Darrel baru menyadari hal itu sekarang
Lelaki itu memasuki halaman rumah Luna setelah memberi salam pada petugas keamanan yang sudah mengenal Darrel dengan baik. Lelaki itu berjalan menuju pintu utama dan membukanya, rumah sebesar ini, dia akan kesulitan jika harus mengetuk, dan memang siapa yang sudah diijinkan masuk ke halaman, dia bebas masuk ke rumah Mr. Wilkinson.
" Mau ngapain Lo ke rumah gue?" tanya seseorang dari arah belakang saat Darrel hendak menuju Lift, lelaki itu menarik Darrel dengan keras sampai terjatuh. Luka yang belum kering itu langsung menjadi tumpuan agar kepala Darrel tak terbentur dinginnya lantai. Otomatis luka yang mulai mengering itu langsung terasa perih.
" Masih ada nyali Lo datang ke sini? Muka muka berapa Lo? Atau Lo gak butuh muka? Hah?!" tanya orang itu dengan nada galaknya, dia sungguh benci melihat Darrel, lelaki itu sudah berkali – kali memberi Darrel kesempatan, namun tetap saja tak bisa membuat peri kecilnya bahagia, bukan salahnya jika kini dia murka.
" Tolong ijinkan saya bertemu Luna, saya harus menjelaskan banyak hal sama Luna, saya mohon bang, mungkin ini kesempatan terakhir saya untuk menjelaskan semuanya sama dia," ujar Darrel berlutut dan mengatupkan tangan, bahkan sosok pria yang berdiri dan memandang rendah Darrel tampak terkejut dengan tingkah Darrel yang sudah seperti orang frustasi.
~ dugh
Tanpa ampun lelaki yang berdiri itu menendang pundak Darrel hingga lelaki itu terjatuh lagi, orang yang berdiri itu hendak meninggalkan Darrel sendiri, namun Darrel langsung memegang kakinya, membuatnya memelototkan mata karna tak menyangka Darrel sampai mau melakukan ini semua, tapi apa tujuan lelaki itu? Nyataya dia sudah benar – benar melukai Luna sampai ke dasar.
" Lo udah gila? Lo mau mati hah?! Mending Lo pulang daripada Lo bener – bener gue bunuh di sini," ancam lelaki itu sambil sedikit membungkuk untuk melepaskan Darrel dari kakinya, Darrel menggeleng kuat dan teguh memegang kaki itu. Hebat sekali Luna bisa membuat hidupnya sehancur ini dalam sekejap bahkan saat gadis itu tak melakukan apapun.
" Gue ijinin Lo ketemu sama Luna, tapi Lo gak boleh paksa dia buat nurutin apa yang jadi mau Lo, dan kalau sampai Lo bikin adek gue sakit lagi, Lo bakal gue bikin perkedel," ujar lelaki itu dengan ketus dan melepaskan Darrel dari kakinya lalu membantu lelaki itu berdiri, yaps, dia adalah Jordan. Jordan memandang Darrel yang sangat menyedihkan, lelaki itu ingin bertanya pada Darrel, namun Darrel malah sudah pergi meninggalkannya.
Jordan hanya menggelengkan kepalanya dengan heran. Bahkan dulu seingatnya dia tidak pernah hidup sampai sedepresi itu saat putus cinta, yah, kecuali saat meninggalnya Shilla, sungguh hidupnya langsung hancur berantakan.
Darrel sampai ke lantai empat dan berusaha memanggil Luna sampai menggedor – gedor kamar gadis itu. Tampak suara kunci pintu yang dibuka dan seorang gadis keluar dari kamar itu dan memandang Darrel dengan kaget, hal itu juga terjadi pada Darrel, dia terkaget melihat perubahan Luna yang sangat mencolok, rambut panjang nan indah itu kini telah berganti menjadi rambut pendek, membuat Luna tampak dewasa.
" Kak Darrel ngapain kesini?" tanya Luna dengan tenang meski jantungnya bedebar kencang.
" aku, aku mau jelasin semua ke kamu, semua dari awal sampai akhir, aku mohon kasih aku waktu buat jelasin semua ke kamu, kasih aku kesempatan itu Lun," ujar Darrel memohon pada Luna, namun nampaknya Luna masih sangat terluka, Luna menghela napas dan tersenyum sopan.
" gak ada yang perlu dijelasin kok kak, Luna ngerti, Luna juga udah iklas jalan apapun yang akan diambil sama kak Darrel, Luna udah bisa lepasin kak Darrel, Luna mau lihat kak Darrel bahagia, dan Luna mau cari kebahagiaan Luna sendiri," ujar Luna dengan tenang, meski matanya sedikit berkilat setelah mengatakan hal itu.
" Aku tahu kamu gak bahagia, aku juga gak bahagia Lun, aku, aku terlanjur sayangnya sama kamu, aku, aku mau nya kamu yang ada disisi aku, maafin aku please maafin aku, aku bakal jelasin semua biar kamu gak salah paham lagi, setelah itu keputusan ada di tangan kamu," ujar Darrel berusaha membujuk Luna, namun Luna tersenyum lagi dan menggeleng.
" Maaf kak, Luna harus istirahat, Luna masuk dulu, kak Darrel pulang aja yah," ujar Luna yang langsung menutup pintunya tanpa mendengarkan jawaban Darrel. Lelaki itu terkejut dengan sikap Luna, namun dia harus segera memakluminya.
Darrel duduk di lantai dan bersandar pada pintu, berharap Luna mendengar penjelasannya. Darrel mulai menghela napasnya dan menyiapkan diri untuk mengakui kesalahannya dan menjelaskan semua pada Luna.
" Waktu pertama kali kita ketemu sama Fera, aku memang bohong Lun, aku gak lupa sama dia, tapi aku gak mau ada urusan lagi sama dia, karna aku sadar aku punya kamu, tapi ternyata dia gak stop sampai disitu aja, dia minta papanya buat ngomongin urusan saham sama aku, aku terima aja Lun, karna bag aku bisnis ya bisnis."
" Tapi ternyata kamu lihat aku sama Fera waktu di kafe, itu kedua kalinya aku ketemu sampai yang ngomongin masalah bisnis sama dia, maaf aku gak cerita sama kamu, aku takut kamu cemburu dan sakit hati sendiri. Tapi ternyata aku salah Lun, kamu malah lihat aku berdua sama Fera, aku bener – bener bingung dan takut kamu salah paham, dan ternyata bener kan? Kamu salah paham. Waktu itu aku bener – bener lagi stres dan kita berantem, maaf aku sampai buat kamu ngomong putus."
" Maaf juga karna aku terima aja keputusan buat putur itu. Sebenernya aku gak mau Lun, tapi aku kebawa emosi, aku bener – bener nyesel waktu itu. Kebodohanku yang lain, aku malah terlena sama Fera yang notabene memang cinta masa kecil aku. fera yang bener – bener perhatian dan sebagainya itu. Aku jadi ragu Lun, aku pengen perjuangin kamu lagi, tapi aku juga susah buat ngelepas Fera. Memang itu murni kesalahan aku, bahkan aku buat kamu salah paham waktu kamu datang ke rumahku. Saat itu kamu lihat Fera nembak aku kan Lun? Waktu itu aku nolak dia Lun, tapi kamu mungkin gak dengar sampai akhirnya kamu nangis dipinggir jalan ditemani hujan."
" Aku ngerasa bersalah banget Lun, dan rasa bersalah itu membuka lagi pikiran aku, tiap hari aku makin kangen kamu, bahkan aku udah susah tidur karna kepikiran kamu, aku bener – bener hancur tanpa kamu Lun. Saat itu aku sadar kalau yang aku bener – bener sayang, aku bener – bener cinta itu kamu dan bukan Fera, tapi saat aku sadar itu, semua udah terlambat Lun."
" Aku gak nyangka aku terlalu bodoh menganggap Fera sebagai gadis polos seperti aku terakhir kali ketemu dia sebelum dia menghilang, tenryata dia licik dan maksa ayahnya buat minta papaku biar ngejodohin aku sama Fera. Hahahha, Lucu kan Lun? Emang ini jaman siti nurbaya pakai dijodohkan segala? Tapi nyatanya papa setuju dan rencanain semua itu tanpa diskusi sama aku dan aku dipaksa untuk mengiyakan rencana mereka."
" pertunangan sama Fera bukan aku yang minta Lun, bener bener bukan aku, tapi murni dari Fera dan keluarga, bahkan aku curiga papa dijebak karna papa bilang gak bisa hentikan perjodohan ini walau papa ingin. Aku harus gimana Lun? Aku gak bisa tunangan sama dia disaat orang yang aku sayang itu kamu."
Luna tiba – tiba membuka pintu kamarnya dan membuat Darrel mendongak, gadis itu tak mengatakan apapun dan membongkar kotak P3K yang dia pegang. Gadis itu mengambil tangan Darrel dan mengelusnya perlahan, rasa sedih langsung menjalar dalam hati Luna melihat Darrel seperti ini.
Darrel hanya diam dan pasrah memberikan tangannya untuk Luna, pria itu hanya diam dan memandang wajah Luna, wajah yang selama ini memang dia rindukan. Wajah yang membuat hatinya menghangat dan semua beban yang dia rasakan langsung terangkat.
Luna kembali masuk ke dalam kamar, namun Darrel menahan tangannya dan menatap Luna dengan gelisah.
" Luna mau ambil handuk sama air hangat, Luna gak akan ninggalin kak Darrel," ujar Luna berdiri dan berjalan masuk ke dalam kamar. Tak perlu waktu lama bagi Luna untuk kembali dengan sebuah wadah berisi air dengan handuk kecil yang terselampir di pundaknya.
" Kenapa tangannya sampai luka begini?" tanya Luna pelan sambil duduk bersila di depan Darrel. Gadis itu kembali mengambil tangan Darrel dan mulai mengelap tangan itu menggunakan handuk hangat, dia merasa tidak boleh egois untuk masalah ini. Setelah berperang hebat dengan batinnya, Luna akhirnya memutuskan untuk memaafkan Darrel dan memperbaiki semua kesalah pahaman ini.
" ponsel aku pecah terus kena tangan," jawab Darrel tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Luna, pria itu takut semua hanya ilusi dan Luna akan menghilang jika dia berpaling barang satu menit saja. Luna pun hanya membiarkan Darrel bertindak sebahagia lelaki itu.
" Kalau ini mimpi, aku memilih gak bangun lagi dan terus ada di mimpi ini, kalau dengan bermimpi aku bisa ketemu kamu terus, aku bakal habisin sisa hidupku untuk tidur biar kamu ada di sini terus," ujar Darrel dengan wajah tegangnya, Luna kembali tersenyum mendengar pengakuan Darrel. Beberapa hari ini memang terasa sulit, namun tak akan menjadi lebih baik dengan menghindarinya.
" Ini bukan mimpi, Luna benar di sini dan kak Darrel beneran datang ke rumah Luna. Kak Darrel mecahin ponsel pakai tangan ya?" tebak Luna sambil mengusap luka itu dengan handuk hangat, membuat darah yang ada di tangan itu berpindah ke handuk tersebut.
" Enggak kok," bantah Darrel menggeleng kecil beberapa kali seperti anak kecil yang menyangkal ketika dituduh oleh ibunya. Luna terkekeh karna hal itu, dia mengelus elus tangan Darrel, membuat Darrel merasa nyaman dibuatnya.
" Ini apa?"
" ssshhhh." Darrel langsung mendesah pelan meringis saat Luna menekan lukanya, gadis itu hanya terkekeh dan menikmati ekspresi wajah Darrel.
" Masak ponselnya kebanting tapi kena di tangan bisa bentuk huruf L?" tanya Luna sengaja membuat Darrel mengakui sendiri kebodohan dan kenekatannya, Darrel terkekeh dan mengigit bibir bawahnya setelah itu, dia takut Luna akan marah atau jiik padanya saat emosinya tak terkendali.
Darrel memang tipe orang yang sangat sabar dan tenang, namun saat lelaki itu berada di titik paling rendah, dia akan menyakiti diri sendiri dan meluapkan emosinya dengan cara apapun. Darrel takut Luna tak bisa menerima itu dan malah menjadi takut karenanya, Darrel tak siap kehilangan Luna lagi.
" Kak Darrel cerita aja, Luna gak akan menghindar atau marah, lebih baik Luna dengar dari kak Darrel dibanding orang lain. Kak Darrel gak akan lupa kan awal dari semua masalah ini karna apa?" tanya Luna sambil meneteskan obat merah ke luka Darrel. Darrel tak ragu lagi saat mendengar perkataan Luna.
Darrel menghela napasnya dan bercerita semua hal yang terjadi pada dirinya, emosi tak terkendali yang bahkan mungkin bisa disebut kelainan mental. Luna menyimak semua yang dikatakan Darrel tanpa memotong, lelaki itu menceritakan semua tanpa ada yang ditutup tutupi.
" Kamu ilfeel kan sama aku? kamu nyesel pernah jadi pacar aku bahkan tunangan aku? Maafin aku ya Lun," ujar Darrel dengan tulus di akhir ceritanya. Luna menggeleng pelan dan mengusap pipi Darrel dengan lembut.
" Luna akan terima apapun itu asal bukan kebohongan, Luna bakal ada di samping kak Darrel selagi kak Darrel memang membutuhkan Luna. Maaf kemarin Luna egois dan membuat semua ini terjadi, maafin Luna ya kak," ujar Luna dengan tulus.
Darrel tersenyum dan mengangguk, kini Darrel percaya, kundi cari semua masalah adalah komunikasi. Baik Darrel maupun Luna memilih bungkam dan sibuk dengan spekulasi masing – masing, nabis baik mereka menyadari hal itu lebih awal sebelum semua terlambat.
" Selesai," ucap Luna setelah berhasil memperban semua luka di tangan Darrel, memperban tagan Darrel sampai semua jarinya dijadikan satu. Darrel tertawa melihat hasil karya Luna yang membuatnya menjadi patrick dengan tangan yang hanya memiliki jari jempol.
" Terus aku makannya gimana?" tanya Darrel menggerakkan jempolnya di depan wajah Luna.
" Ya aku yang nyuapin," ujar Luna menangkap tangan itu dan menurunkannya.
" Kalau punggung aku gatel?" tanya Darrel lagi dengan iseng. Luna sedikit tak mengerti namun dia menjawab.
" Ya aku garukin," jawab Luna menaikkan dagunya.
" Kalau aku mau ngerapihin rambut?" tanya Darrel lagi.
" Ya aku yang sisirin, aku yang kasih pomade, aku yang beresin semua pokoknya," ujar Luna mengangkat tangannya ke atas dan menggerakkannya melingkar saat mengatakan 'semua'.
" Emm kalau aku mau mandi?" tanya Darrel cepat setelah Luna menyelesaikan perkataannya.
" Ya nanti aku man…"
" KAK DARREL!" Darrel tertawa terbahak bahak karna Luna masuk ke dalam jebakannya. Luna memukuli Darrel pelan karna kesal dengan tingkah lelaki itu