
Setibanya di dalam kamar pengantin, Nezia kemudian duduk di depan meja rias untuk melepaskan semua aksesoris yang menempel di kepala.
Sang suami, dengan telaten membantu Nezia melepaskan satu persatu aksesoris tersebut, seperti tadi sore ketika mereka berdua selesai menjalani akad nikah.
Setelah semua terlepas, hijab pun telah dilepaskan oleh Nezia, istri Faris itu kemudian membersihkan make-up yang menempel di wajah dengan pembersihan make-up favoritnya.
Sang suami yang masih berdiri mematung di belakang Nezia, memperhatikan wanita cantik itu menghapus make-upnya dengan perlahan.
"Tanpa make-up pun, kamu sudah sangat cantik, Neng," puji Faris yang memang tidak menyukai wanita pesolek, seperti rekan-rekan kerjanya di kantor milik Yoga. Wanita-wanita dengan dandanan menor, yang mengejar Faris.
Nezia tersenyum, tersipu malu. "Akang pintar merayu ya, ternyata," balas istri Faris tersebut. "Cewek Kang Faris, pasti banyak," lanjutnya.
Faris tersenyum dan sedetik kemudian, menggeleng. "Aku pacaran hanya sekali ketika masih kuliah dulu dan itupun harus kandas karena dia memilih menikah dengan laki-laki yang lebih mapan," balas Faris, jujur.
Nezia yang memang belum mengetahui masa lalu Faris, mengerutkan dahi. "Tragis juga ya, kisah Akang. Kok, Kang Faris bisa santai banget menjalani hidup?" Nezia menatap sang suami melalui pantulan cermin di hadapannya.
"Dulu sempat sedih, Neng, tapi hanya sebentar," balas Faris. "Karena aku pikir, hidup harus terus berlanjut. Bukankah begitu, Neng?" tanya Faris, kemudian.
Nezia mengangguk, membenarkan.
"Maaf sebelumny, Neng. Kalau Neng Ganis sendiri, berapa lama, sih, kamu jalan sama dia? Sampai Neng Ganis malam itu terlihat kacau, banget?" tanya Faris, hati-hati.
Nezia tersenyum, masam. "Sejak pertama kali Inez masuk kuliah, Kang. Hampir empat tahu," balasnya.
"Jujur, Inez malu banget kalau ingat kejadian malam itu, Kang. Kayak orang yang enggak memiliki iman, enggak memiliki keluarga, main kabur-kaburan dan bodohnya percaya aja sama orang asing." Nezia menatap dalam netra sang suami.
"Beruntungnya Inez, Kang. Karena orang asing itu adalah orang yang baik, sholeh, dan bertanggung jawab," lanjutnya seraya tersenyum.
Faris pun ikut tersenyum. "Sudah menjadi takdir jalan kita, Neng. Bertemu dengan cara seperti itu," ucap Faris.
"Ya, Kang. Inez juga semakin percaya kini, bahwa rencana Allah pasti yang terbaik untuk hamba-Nya. Dia tunjukkan kebenaran, meskipun awalnya Inez rasakan begitu menyakitkan. Namun, tak lama kemudian, disusul dengan hikmah yang luar biasa membahagiakan untuk Inez." Wanita cantik itu kembali menatap dalam netra sang suami, tatapan yang penuh cinta, hingga membuat Faris tak tahan untuk tidak memeluk Nezia.
"Aku juga sangat beruntung, Neng. Allah telah menggerakkan hatiku untuk mengejar mobil kamu. Allah juga yang menuntunku, untuk menolong kamu dan menepikan hasratku sebagai laki-laki normal," bisik Faris, di telinga sang istri seraya memeluk istrinya dari belakang.
"Aku bukan laki-laki baik seperti yang kamu kira, jika bukan Dia yang menuntunku. Jadi, jangan memujiku berlebihan, Neng. Aku bisa besar kepala nanti," lanjut Faris, merendah.
Nezia semakin mengembangkan senyuman di bibirnya, merasa sangat bersyukur memiliki suami yang baik dan rendah hati seperti Faris.
Untuk sesaat, keduanya saling terdiam. Saling menikmati momen kebersamaan, dengan Faris masih memeluk sang istri.
"Kang, sudah semakin larut. Kita belum sholat isya', kan?" Suara merdu Nezia, mengurai keheningan yang sejenak tercipta.
"Iya, kamu benar, Neng." Faris kemudian melepaskan pelukan.
"Inez dulu ya, yang bersih-bersih," pinta wanita cantik tersebut seraya beranjak.
"Enggak pengin bareng, Neng?" Faris tersenyum menggoda pada sang istri, membuat pipi wanita cantik itu, merona.
"Jangan sekarang ya, Kang. Inez malu," balasnya sambil berlalu menuju kamar mandi.
Pemuda tersebut kemudian melepaskan jas, kemeja, dan celana panjang, hingga hanya menyisakan kaos singlet dan celana boxer saja.
Faris menunggu sang istri selesai membersihkan diri seraya memainkan ponsel. Dia melihat-lihat story dari sebuah aplikasi perpesanan milik saudara-saudara Nezia, yang kesemuanya mengunggah momen bahagia tersebut, disertai dengan do'a kebaikan untuk pasangan pengantin baru tersebut.
"Aamiin, Ya Rabb," gumam Faris seraya tersenyum, membaca salah satu caption unggahan foto dari Mirza.
'Samawa ya, adikku yang centil, Nezia Putri Alexander. Semoga kamu dikaruniai banyak anak, minimal sebelas, biar kita bisa berlomba membuat tim kesebelasan.' Disertai dengan emoticon tertawa ngakak.
"Kang, kok senyum-senyum?" Suara Nezia yang baru saja keluar dari kamar mandi, mengalihkan perhatian Faris.
"Eh, Neng. Sudah selesai?" tanya Faris seraya menatap sang istri yang hanya membalut tubuhnya dengan handuk kimono, tanpa berkedip.
Tatapan Nezia pun terpaku pada tubuh berotot sang suami, yang hanya mengenakan pakaian dalam tersebut.
Sejenak, keheningan tercipta. Masing-masing merasa berdebar, dengan pemandangan yang mereka lihat.
"Kang, chat sama siapa?" tanya Nezia kembali, mengurai keheningan.
"Oh, ini, Nang. Lihat story-nya Bang Mirza," balas Faris yang kini memanggil saudara-saudaranya sang istri, seperti Nezia memanggil mereka.
"Kenapa, memang? Ada yang lucu?" tanya Nezia dengan dahi berkerut. Dia kemudian berjalan mendekati sang suami yang masih duduk di tepi ranjang.
"Nih, lihat sendiri." Faris menyodorkan ponselnya, membebaskan sang istri untuk menguasai benda pipih miliknya tersebut.
Nezia geleng-geleng kepala setelah melihat story kakak sepupunya itu. "Gila memang Bang Mirza, masak sebelas?" protesnya.
"Kenapa, Neng? Enggak pengin ya, punya banyak anak?" tanya Faris.
"Em ... mau sih, Kang, tapi jangan sebelas juga kali," balas Nezia, tersipu.
"Berapa?" Faris menatap dalam netra sang istri yang masih berdiri di hadapan sang suami, membuat wanita cantik itu menjadi salah tingkah.
"Enam, boleh, deh. Kita bikin tim basket atau volly, gitu," balas Nezia.
"Sip, habis ini kita mulia bikin," ucap Faris yang langsung beranjak.
"Ha-harus malam ini juga ya, Kang?" tanya Nezia, ragu.
Faris tidak membalas pertanyaan Nezia, pemuda berwajah manis itu langsung berlalu menuju kamar mandi dan hanya memberikan isyarat dengan kedipan mata.
☕☕☕☕☕ bersambung ...
Ya iyalah, Neng... malam ini.
Memangnya, mau ditunda sampai kapan?
Bulan depan, yah ... 😄