
" Kalian udah balik? Blenda ngerasa capek atau sakit? Kok tumben cepat baliknya? Biasanya Blenda tuh suka lama – lama Loh kalau sekali keluar," Heran Bunda saat melihat kedua orang itu kembali ke kamar inap. Radith tak menjawab, begitu pula Blenda. Suasana yang seperti ini membuat Bunda yakin terjadi sesuatu yang tak beres antara mereka.
" Kalian butuh waktu berdua ya? Kalau gitu Bunda tinggal dulu aja, mau ke kantor ayah buat ngurus sisa persyaratannya, kalian Bunda tinggal gak papa kan ya?" tanya Bunda yang sadar jika mereka perlu waktu karna dia pun pernah muda, sepertinya ada yang perlu mereka luruskan dan bicarakan berdua.
" David mau pamit pulang dulu bunda, ada beberapa hal yang harus David kerjakan, besok Radith bakal ke sini lagi buat ambil berkas persyaratan sekalian nanya kapan tepatnya Blenda harus berangkat. Saran David, tante siapin keperluan untuk pindah dulu tante, takutnya kalau mendadak malah nanti banyak yang kelupaan, David pamit ya tante," ujar Radith cepat dan langsung menyalimi Bunda tanpa melihat ke arah Blenda.
Pintu tertutup, Blenda yang awalnya tegar langsung menundukkan kepalanya, sedari tadi dia menahan pusing yang luar biasa, namun mulai saat ini dia bertekad untuk tidak merepotkan Radith dan membuat Radith khawatir dengan kondisinya, dia memilih untuk menyembunyikan dan merasakan semuanya sendiri hingga Radith tak perlu merasa bersalah dan tetap mempertahankan hubungan mereka.
" Kamu mau istirahat lagi atau mau kemana? Bunda gak perlu pergi ke ayah sekarang juga, kamu mau Bunda antar ke kolam ikan? Biasnaya kamu suka ke sana," tawar Bunda yang juga merasa kasihan pada Blenda, tampak sekali Radith marah pada putrinya, entah apa yang membuat mereka bertengkar.
" Dalam suatu hubugnan itu pasti ada bertengkarnya, kalau adem – adem aja tiap hari malah bikin cepat bosen. Bunda gak akan tanya apa masalah kalian, Bunda Cuma gak mau kamu malah jadi sakit karna kepikiran itu, besok juga Dave udah jadi baik lagi, kamu gak usah mikirn yang aneh – aneh ya," ujar Bunda menasehati Blenda.
" Sebenenrya Blenda sengaja bunda, malah jusstru bagus kalau Dave marah atau kesal sama Blenda, dia bisa gampang lepasin Blenda, Bunda kan tahu kita sebentar lagi bakal pergi untu kwaktu yang lama, bahkan gak tahu bakal balik ke sini lagi atau enggak. Nah, Blenda gak mau Dave ngerasa da ikatan sama Blenda dan malah buat dia gak bisa bahagia di sini, Blenda mau lepasin Dave Bunda," ujar Blenda yang menjelaskan duduk persoalan yang ada.
" hmm, kayak gitu ya, Bunda bangga sama kamu, kamu gak pernah egois sama keputusan kamu, bahkans ekarang kamu relain hati kamu pergi? Kamu memang bsia jamin kamu bakal baik – baik aja kalau Dave pergi? Bunda gak mau ambil resiko itu," ujar Bunda menggeleng lemah.
" Bunda gak boelh tersugesti kalau sembuhnya Blenda Cuma karna Dave. Tadinya Blenda juga mikir gitu Bun, tapi sekarang udah enggak, Blenda udah sadar kalau memang Blenda sembuh atas kemauan Blenda sendiri, bukan karna Dave. Blenda gak mau nahan Dave lebih lama lagi buat ada di samping Blenda, itu egoid banget Bun," ujar Blenda sambil menggeleng pelan.
" kalau memang itu keputusan kamu, Bunda pasti dukung kamu, asal kamu janji kamu gak akan sedih atau menyesal nantinya. Kamu harus dengan senang hati tinggalin Indonesia dan fokus untuk kesembuhan kamu, nanti waktu kita pulang ke Indonesia, kita bisa kembali jadi keluarga sama keluarga David, iya kan?" tanya Budna yang mencoba menghibur Blenda. Gadis itu mengangguk setuju dan kembali ke kasurnya dibantu oleh Bunda.
*
*
*
" Kamu kenapa loh dari tadi kok diem aja? Kamu sariawan? Atau gimana?" tanya Darrel yang sedari tadi hanya melihat Luna diam dan mengaduk jus nya tanpa minat. Luna menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, enggan membahas hal ini dengan Darrel, Darrel cukup paham dan membiarkan Luna dengan pikirannya sendiri.
Cukup lama mereka hanya saling diam, akhirnya pintu rumah Luna terbuka dan menampakkan Radith yang langsung menatap lurus ke arah mereka berdua. Radith langsung amsuk begitu saja dan duduk di sofa yang ada di hadapan Luna. Gadis itu menatap Radith dengan bingung.
" Lo masuk ke rumah orang gak ketok, gak mencet Bel, gak salam atau gimana, nyelonong aja kayak maling kesetanan," omel Luna yang membuat Darrel menengok, Luna yang sedari tadi hanya diam langsung berubah cerewet saat Radith menginjakkan kaki di rumah ini. Apa memang akhirnya harus seperti ini? Haruskah dia yang mengalah untuk kebahagiaan Luna?
" Kayak biasanya gimana aja sih, lagian biasnaya gue mencet bel gak akan ada yang bukin, rumah segede ini dengan pengamanan seketat ini, gak akan ada maling Lun, malingnya malah nyasar kalau masuk ke rumah ini," jawab Radith dengan cuek sambil mengeluarkan amplop berisi persyaratan yang kemarin diminta oleh petugas itu.
" Gue Cuma mau antar ini ke Lo, gue langsung balik ya, nih Lo cek dulu kurangnya apa," ujar Radith dengan dingin dan menaruh amplop itu di atas meja. Luna menatap Radith yang dingin dengan aneh, namun dia mencoba untuk menghiraukan semua dan memilih untuk membuka isi amplop dan mengeceknya.
" Ini apa?" Tanya Darrel dengan bingung sambil mengambil surat untuk ikut dia baca, lelaki itu langsung memasang wajah bingung dan minta penjelasan Luna.
" Ini surat kelengkapan buat program berobat kanker gratis buat Blenda kak, ini udah lengkap kok Dith, mungkin seminggu lagi Blenda sama orang tuanya bisa bisa berangkat, kayaknya sih bakal ke Jerman atau ke US, gak tahu juga deh," ujar Luna yang diangguki saja oleh Radith, sementara Darrel masih setia dengan wajah bingungnya.
" Kalau gitu gue balik dulu ya, kalau ada apa – apa kabarin gue aja, makasih banyak Lo udah bantu gue sampai kayak gini, gue gak tahu lagi harus ngapain kalau gak ada Lo, sekali lagi makasih ya," ujar Radith yang langsungberanjak dari sana, Darrel hendak mengeluarkan suara, namun lelaki itu mengurungkan niatnya saat melihat Luna mengisyaratkan dirinya untuk diam.
" Maksudnya ini apa? Sejak kapan Rumah Sakit Wilkinson adain program kayak gini? Gak pernah ada program kayak gini sbeleumnya, aku juga yakin Ini bukan program baru, ini apa?" tanya Darrel mengangkat beberapa lembar itu dengan satu genggaman.
" memang gak ada kak, aku Cuma mau bantu keluarga Blenda buat berobat, aku minta ke Daddy buat bantuin mereka, aku gak tega lihat Radith yang udah kebingungan nyari uang buat pengoabatn Blenda, makanya aku pakai alasan program yang memang gak ada ini, soalnya kalau aku kasih langsung pasti dia gak mau kak," ujar Luna yang membuat Darrel paham dan mengangguk puas.
" Bersyukur banget sih aku punya pacar bidadari, udah cantik, baik, lembut, duh, kamu tuh bener – bener my love, my favorit," ujar Darrel yang membuat Luna menggidikkan kepalanya dengan geli. Gadis itu menjauh dari Darrel yang makin lama makin alay dan aneh, kadang bahkan membuatnya risih sendiri karna hal itu.
" Aku tuh Cuma mau mesra – mesra an sama kamu, bentar lagi kan aku pergi, kita gak akan ketemu lagi loh," ujar Darrel yang membuat Luna mengernyitkan alisnya dengan heran.
" Ya.. ya kan, satu hari gak ketemu kamu rasanya kayak satu tahun, coba deh kamu hitung kalau tiga tahun jadinya berapa? Kan banyak Lun, aku gak betah," ujar Darrel yang membuat Luna kembali memutar bola matanya atas tingkah Darrel yang kekanak – kanakan.
" Aku gak mau berangkat Lun, kamu bujukin bang Jordan dong biar aku gak usah berangkat, ya, ya, kamu kan pacar aku yang paling baik," ujar Darrel sedikit emmohon pada Luna, gadis itu menaikkan alisnya dan menatap Darrel dengan tatapn tidak enak.
" Pacar kakak yang paling baik? Pacar kak Darrel bukan Cuma aku dong? Ngaku, punya pacar berapa?" tanya Luna menunjuk persis ke arah hidung mancung lelaki di hadapannya. Darrel mendongakkan kepalanya dan berpikir.
" Bentar, aku hitung dulu," ujar Darrel yang membuat Luna mendengus tak suka, apa maksudnya? Lelaki itu sungguh memiliki banyak kekasih?
" Chelsea Islan, Lisa Blackpink, Casandra Lee, Natasha Wilona, aduh lupa, banyak banget. Tapi tenang aja, tetep kamu yang paling istimewa, yang paling aku cinta," ujar Darrel dengan genit, Luna mendengus geli mendengar nama nama yang disebutkan Darrel.
" Dasar Halu," ujar gadis itu menggelengkan kepalanya dan kini menyeruput minumannya untuk melegakan dahaga yang sebenarnya sudah sedari tadi dia rasakan, namun dia tahan karna rasa tak enak mengingat apa yang dia lihat di rumah sakit menguasai pikirannya dan membuatnya mager seketika.
" Gak kerasa bentar lagi kita udah satu tahun Lun, aku bahagia banget satu tahun ini, walau di saat sat tertentu aku sedih waktu aku lihat kamu sedih, aku sedih karna aku alasan kamu nangis, ke depannya, kamu jangan pernah nangis karna aku ya Lun? Apapun yang terjadi sama aku, apapun yang aku lakuin, kamu gak boleh nangis, kamu boleh benci sama aku, kamu boleh pukul aku, kamu bahkan boleh bunuh aku, tapi jangan pernah kamu nangis karna aku, kamu mau kan janji sama aku?"
Luna merasa aneh dengan perubahan sikap Darrel, apakah lelaki itu berencana untuk mlakukan sesuatu yang berpotensi melukai hatinya lagi dan lagi? Tapi kenapa Darrel nampak sangat terluka? Bahkan Luna bisa merasakan lelaki itu tiba – tiba saja ada berada di titik paling lemahnya. Entah mengapa Luna langsung merasakan sakit di hatinya melihat Darrel serapuh ini, Luna tak bisa.
" Kak Darrel jangan ngomong yang aneh – aneh, Luna takut kak. Kak Darrel harus janji, kemana pun kak Darrel pergi, kak Darrel harus balik lagi, temuin Luna, Luna gak mau nunggu terlalu lama, pokoknya tiga tahun aja udah yang paling lama. Kali ini kak Darrel yang harus janji sama Luna," ujar Luna dengan nada yang mengancam, membuat Darrel tertawa karna tingkah lucu Luna.
" Aku pasti balik lagi, bagaimanapun keadaannya, aku gak mau kamu sendirian terlalu lama. Aku janji aku pasti balik lagi, kamu percaya kan sama aku? tapi kamu juga ahrus janji, bakal baik – baik aja, sehat dan bahagia selama aku pergi, biar di Jepang juga aku gak kepikiran, janji?" Darrel mengulurkan lekingkingnya di hadapan Luna. Gadis itu memandang kelingking Darrel tanpa reaksi.
Namun tiba – tiba saja Luna berdiri dan memluk lelaki itu dengan erat, seakan enggan melepaskan lelaki itu, tapi karna semua merupakan bagian proses mencapai masa depan yang diinginkan Darrel, Luna harus sedikit mengorbankan egonya, toh mereka akan kembali bersama pada akhirnya.
" Aku perginya masih beberapa bulan lagi, kok mellow nya udah sekarang aja sih? Kamu jelek banget kalau lagi sedih gini," ujar Darrel yang mengusap air mata Luna dan berdiri lalu menarik gadis itu untuk ikut dengannya.
" Mau kemana sih?" tanya Luna yang heran, namun dia menurut saja mengikuti Darrel yang terkesan menyeretnya karna dia malas untuk berjalan.
" Bikin Pancake, terus habis itu kita main PS bareng, atau mau nonton film juga boleh, apapun lah, aku laper banget ini, tapi aku gak mau masak sendirian," ujar Darrel yang membuat Luna berdecak, lelaki itu selalu menyusahkan diri untuk urusan memasak.
" Kan bisa minta Chef di rumah ini, chef nya tuh udah kayak pegawai katering, Cuma bikin makan buat pelayan yang ada di sini. Kali kali kek dikasih kerjaan bikin masakan enak buat tuan rumah," ujar Luna yang kini sungguh tak mau ditarik oleh Darrel.
" Ya udah iya, sana gih kamu panggil terus minta chefnya bikin pancake keju, ada lelesan susunya, terus rasanya gak usah kemanisan, kan pakai keju bisa sedikit ngurangin manisnya, pokoknya bilang ke chef harus enak dan perfect, oke?"
" Baik tuan muda, saya akan sampaikan ke Chef," ujar Luna setelah beberapa saat hanya melongo dan membiarkan Darrel menyelesaikan Instruksinya. Luna berjalan ke arah Dapur sementara Darrel langsung menuju ke ruang bermain.
" Chef, minta tolong bikinin pancake keju ya, atasnya kasih susu, makasih chef," ujar Luna yang langsung menutup sambungan telpon saat chef yang ada di seberang sana mengiyakan permintaannya. Untuk apa Luna susah paayah berjalan ke dapur sementara di rumah ini terdapat telpon yang terhubung ke seluruh rumah.
" Kok cepet? Kamu udah bilang sesuai yang aku minta?" tanya Darrel yang hanya diangguki oleh Luna. Gadis itu tidak suka bermain PS, biasanya dia hanya menonton ketika bang Jordan main bersama Dararel ataupun Radith, bahkan fungsi dari stick yang terhubung ke PS itu saja Luna tak tahu apa fungsinya.
" Kamu gak mau jadi lawan aku?" tanya Darrel menengok ke belakang karna Luna malah duduk di sofa tanpa menghampirinya dulu.
" Enggak ah, Luna gak ngerti cara mainnya," ujar Luna sambil mengeluarkan ponselnya dan membuka satu persatu pesan yang menumpuk.
" Ya udah sini aku ajarin, sebagai nyonya Atmaja, kamu harus bisa main begini, jadi nanti kamu bisa tanding lawan aku. sini aku ajarin," ujar Darrel yang mendudukkan Luna di depannya. Posisi seperti ini tentu membuat Luna merasa gugup dan grogi, gadis itu hanya menatap layar tv yang besar yang ada di hadapannya.
" Gak usah gugup, aku bisa ngerasain detak jantung kamu tanpa menyentuh," ujar Darrel yang diselingi oleh kekehan. Luna merengut dan menampol kepala lelaki itu, lalu kembali fokus pada stick serta layar yang ada di hadapaannya.