
" Abang kapan balik lagi ke Indonesia? Luna mau susulin kalian aja ke UK, boleh ya bang?"
Luna merengek dan tampak sedih saat melakukan panggilan Video dengan Jordan, di sebelah lelaki itu ada seorang gadis berwajah sama dengannya, hanya saja wajah itu jauh lebih cantik dan terawat.
" Ya kamu selesaiin sekolah kamu, Cumlaude aja deh biar cepet, nanti nyusul abang ke sini, nih sama Nesya juga," ujar Jordan yang malah sengaja memancing Emosi Luna. Gadis itu merengut karna sadar sengaja dibuat kesal oleh Jordan.
" Mana Ada SMK cumlaude? nyebelin banget sih abang. Pokoknya Luna marah dan gak mau kawan lagi sama Abang, GAK MAU TAHU!" Pekik Luna dengan keras, bahkan Nesya dan Jordan sampai menutup telinganya karna kerasnya suara Luna
" Berisik, pantes aja bang Jordan gak betah sama Lo," ujar Danesya dari arah belakang membuat Luna mendengus tak suka.
" Nesya!" tegur bang Jordan pada gadis berparas serupa dengan Luna itu. Nesya tampak memutar bola matanya dan kembali memainkan ponselnya, namun hal itu masih belum cukup bagi Luna.
" Harusnya Lo tuh malu! Karna Lo kak Nay jadi meninggal, karna Lo juga semua orang pergi dari hidup gue, Lo bangga tentang hal itu? Cih, harusnya Lo sadar kalau Lo itu Cuma bisa ngerepotin," ujar Luna dengan keras membuat Nesya berbalik dan menatap Luna dengan kaget.
Jordan pun kaget karna Luna yang sudah memendam kebencian akhirnya meledak dan meluapkan semuanya di depan Danesya, sementara Nesya masih diam dan syok atas perkataan Luna yang sama sekali tak salah. Ya, semua yang dikatakan Luna dalah kenyataan yang tak bisa dia bantah.
" Udah dong, kalian kok malah berantem sih? Yaudah, bulan depan abang mau pindah ke US aja kalau kayak gini, adil kan buat kalian?" usul Jordan pada kedua adiknya. Dia tahu betul tak adil bagi Luna karna dia harus melanjutkan kuliah serta perusahaannya di tempat ini, namun Mr. Wilkinson sendiri yang memintanya, sehingga dia tak bisa membantah sama sekali.
" Abang tutup dulu ya Lun, ntar malem abang VC lagi," ujar Jordan yang diangguki oleh Luna, gadis itu menutup panggilan telpon dan menendang laptopnya begitu saja, meski tak sampai terjatuh, namun bila laptop itu bisa berbicara, pasti dia akan kesakitan.
" Bang Jordan pergi, kak Darrel hilang, mati aja gue lama – lama, lagian kenapa sih semua oranag jahat ke gue? Gue salah apa coba?" tanya Luna pada boneka yang ada di sebelahnya.
~ Ting
Luna melihat ponselnya dan langsung mematung seketika. Nama yang selama ini dia cari, nama yang selama ini menghilang dan dia rindukan, kini terpampang nyata di depannya, akhirnya lelaki itu memberinya kabar setelah hampir, atau mungkin lebih dari satu bulan menghilang dari pandangannya. Dengan ragu Luna melihat isi pesan tersebut
Darrel : Hai Luna, kamu pasti sedih ya ak gak ada kabar selama ini? Aku minta maaf ya, jangan sedih lagi, aku mau ketemu kamu sekarang, aku ke rumah kamu ya see you soon.
Luna mencubit pipinya untuk memasatikan semua yang dia lihat bukanlah mimpi. Saat menyadari semuanya nyata, Luna langsung berlari ke kamar mandi dan membilas tubuhnya yang seharian ini hanya menempel di kasur.
Banyak pertanyaan di benak Luna, namun apakah gadis itu berani menanyakannya ke Darrel? Apakah Luna siap mendengar jawaban Darrel? Apakah gadis itu akan menerima kenyataan terburuk? Bagaiman Jika Darrel melakukan itu untuk persiapan meninggalkannya? Bagaimana jika Darrel memiliki kekasih lain seperti waktu itu? Mengapa pikiran buruk itu selalu menghantui Luna?
" Lo gak usah mikir kayak gitu, kak Darrel pasti punya alasan sendiri buat lakuin itu semua, Lo harus positif thinking, iya, pasti dia nanti cerita kenapa dia kayak gitu, semangat Luna," ujar Luna menyemangati dirinya sendiri.
Luna keluar dari kamarnya dan langsung diserbu olh pelukan Darrel. Luna bahkan sudah tahu kalau itu adalah parfume Darrel meski belum melihat siapa yang memeluknya. Gadis itu diam saja, perasaannya mulai bergemuruh, dia tak dapat lagi menahan sesak yang selama ini coba dia hilangkan, namun karna marah, dia masih enggan membalas pelukan Darrel.
" Maaf ya aku baru datang dan ngabarin kamu, maaf banget, aku gak sengaja, maaf udah buat kamu sedih, maaf udah buat kamu nangis lagi, maafin aku karna aku gak bisa datang ke perta yang kamu siapin ke aku, maaf," ujar Darrel tanpa jeda sambil mengeratkan pelukannya.
" Hiks, hiks, kalau kak Darrel tahu Luna udah siapin itu semua, kenapa kak Darrel gak datang? Kenapa kak Darrel gak kabarin Luna? Bahkan kak Darrel gak balas satupun pesan Luna, kenapa kak?" tanya Luna yang akhirnya merasa lega karna semua pertanyaan yang ada di benaknya dapat dia sampaikan.
" Maaf, maaf aku udah bikin kamu sedih, maaf ya, aku sayang kamu Lun, aku sayang kamu, aku juga sama terlukanya sama kamu, aku, aku juga sesak gak ketemu sama kamu, tapi aku gak sengaja lakuin itu semua, maafin aku," ujar Darrel sambil mengendus wangi rambut Luna yang sangat dia rindukan.
Perlahan tangan Luna terulur dan membalas pelukan Darrel. Badan kekar dan wangi yang dia rindukan, hagatnya dada bidang itu, serta terasa di rambutnya napas Darrel yang terus menciumi kepalanya. Rasa beban di pundak Luna hilang seketika, rasanya sudah lama sekali dia tak seperti ini dengan Darrel. Sungguh, Luna merindukan lelaki itu, perasaan yang entah sejak kapan mulai menguat, dan terasa sakit saat Darrel tak ada di sisinya.
" Luna gak akan paksa kak Darrel buat Cerita, Luna Cuma minta kak Darrel buat jaga diri, dan sebisa mungkin kasih kabar ke Luna, entah kabar atau apapun itu, setidaknya Luna tahu kak Darrel masih ada dan baik – baik aja di dunia ini. Luna mohon ya kak," ujar Luna mengendorkan pelukannya dan menatap Darrel yang juga menatapnya.
Luna terkejut melihat mata yang berkaca – kaca itu, seakan benar jika Darrel juga sama terlukanya. Namun apa yang membuat Darrel menghilang dan membuat mereka terluka? Mengapa Darrel tak mau menceritakannya pada Luna? Apakah hal itu akan lebih menyakiti Luna hingga Darrel menahannya?
" Kak, main ayunan yuk, Luna pingin santai aja sama kak Darrel, sekalian makan di taman," ujar Luna melepaskan pelukan mereka dan menarik tangan Darrel pergi dari kamarnya menuju lift rumahnya. Darrel tak menjawab, lelaki itu hanya mengikuti Luna. Pandangannya tak lepas dari Luna yang terluhat mengusap wajahnya.
" Mau Barbeque an? Biar disiapin?" tanya Darrel yang sudah kembali ke dunianya. Luna menggeleng sebagai jawaban.
" Luna gak mau, Luna Cuma mau berdua sama kak Darrel, udah gitu aja, Luna mau santai santai aja sama kak Darrel," ujar Luna tanpa menghentikan jalannya. Mereka pergi ke taman belakang dan duduk di ayunan, Darrel mempertahankan senyumnya meski tampak sekali wajahnya menanggung beban.
" Kak Darrel kecapekan banget ya? Wajah kak Darrel pucat sekali," ujar Luna mengelus wajah Darrel sambil menahan agar ayunan itu tidak mengayun. Darrel memegang tangan Luna yang ada di wajahnya.
" Iya, capek banget rasnaya, makanya aku ke sini, udah gak kuat nahan capek, mau ketemu obat capek aku dulu," ujar Darrel mencubit pipi Luna membuat gadis itu tersenyum tipis dan mulai mengayunkan ayunan yang dia naiki, sementara Darrel hanya diam memandangi gadisnya yang tampak lega melihatnya.
" Maafin aku ya udah buat kamu khawatir, aku belum bisa cerita semua ke kamu, tapi nanti pasti kamu tahu kok," ujar Darrel dengan wajah seriusnysa. Luna tak menengok, gadis itu mengayunkan ayunan itu lebih kencang dan menikmati angin yang menerpa wajahnya. Rasa sejuk langsung membuat Luna merasa nyaman.
" tumben kam romantis? Diajarin siapa? Radith ya? Dia jagain kamu kan? Dia gak iseng sama kamu kan? Aku harus nahan cemburu karna nitipin kamu ke dia," ujar Darrel dengan wajah lesunya, namun dia langsung tersenyum saat mengayunkan ayunan yang sedari tadi dia tahan agar tidak bergerak.
" Ya habisnya, ngapain juga kak Darrel nitipin Luna ke Radith? Kalau Luna jatuh cinta lagi ke Radith gimana dong? " Tanya Luna dengan nada yang sengaja di imut – imutkan. Gadis itu menengok untuk melihat respon Darrel.
" Ya aku buat kamu jatuh cinta lagi sama aku dengan peesona aku, nyatanya kamu bakal tahu sendiri kalau aku tulus dan bener – bener sayang sama kamu. Lagi pula siapa sih yang gak luluh sama pesona babang Darrel yang tmpan ini?" tanya Darrel sambil menarik rambutnya ke belakang. Potongan cepak ala TNI yang tidak berpengaruh meski di tarik ke belakang.
" Kalau gitu ganteng ya kak? Kok Luna mual ya lihatnya?" tanya Luna dengan nada tertawa, gadis itu menatap Darrel sambil menahan tawanya, namun Darrel tak merasa kesal sedikitpun, lelaki itu justru mendekat ke arah Luna, membuat gadis itu memundurkan kepalanya dengan takut.
" Ma… mau ngapain?" tanya Luna dengan gugup, matanya menatap was – was wajah Darrel yang terlalu dekat dengan wajahnya, bahkan Luna bisa merasakan panasnya napas Darrel menerpa wajahnya.
" Mau bikin kamu sadar kalau aku ganteng, siapa tahu selama ini kamu kurang jelas lihat aku, jadi kamu mikir kalau aku gak ganteng, ya gak ? ya gak?" tanya Darrel memainkan alisnya. Luna yang mendengar hal itu langsung meniup mata Darreel, membuat lelaki itu menutup matanya dengan reflek.
" Dasar ganjen," ujar Luna dengan ketus sambil mendorong wajah Darrel untuk menjauh, lelaki itu terkekeh dan kembali ke posisinya karna puas bisa menggoda Luna. Gadis itu juga ikut terkekeh dan turun dari ayunan untuk mengajak Darrel pergi dari sana.
" Mau kemana?" tanya Darrel dengan bingung, meski dia juga pasrah saja ditarik seperti peliharaan oleh Luna. Peliharaan? Hm, sepertinya kata yang tidak pantas untuk disebutkan, haha.
" Mau bikin milk shake, Luna pengen Milk shake buatan kak Darrel," ujar Luna tanpa menoleh ataupun menghentikan langkahnya. Darrel mengerutkan dahinya dan menatap Luna dengan bingung,, menghentikan langkahnya sekaligus menarik Luna untuk berhenti.
" Kamu kan udah punya milk, mau aku shake?" tanya Darrel dengan wajah polosnya. Luna yang masih belum nyambung malah ganti menatap Darrel dengan bingung. Gadis itu melotot garang saat tahu apa maksud dari perkataan Darrel.
" Tuman!" ujar Luna dengan galak sambil menggetok kepala Darrel cukup keras. Lelaki itu kembali bingung akrna dia tak tahu apa yang dikatakan oleh Luna.
" Tuman itu apa?" tanya Darrel dengan wajah bertanya.
" Gak tahu, Luna nemu di aplikasi Pentagram, kayaknya sih artinya kebiasaan," ujar Luna mengedikkan bahu dan kembali menarik tangan Darrel untuk pergi dari sana. Luna sudah lama merindukan rasa milk shake buatan Darrel yang lezat, menggugah selera serta membuat ketagihan.
Kaum kaum penikmat susu kocok pasti bisa membayangkan sensasi nikmatnya, apalagi ditambah krim hazelnut atau toping sesuai selera, hmmmm yummy.
" Aku udah lama banget gak masak, apalagi bikin milkshake, kalau rasanya lain bukan salah aku loh," ujar Darrel memberi peringatan pada Luna, bahkan sudah lama dia tidak mengontrol restorannya, kesibukannya belakangan ini membuat semua bisnisnya terbengkalai
" Kalau kak Darrel gak masak, terus kak Darrel berarti gak ke reto? Jadi, selama aini kak Darrel kemana?" tanya Luna dengan pnarasan. Darrel tampak mematung dan terdiam, namun dia memilih untuk tak menjawab pertanyaan Luna.
" Habis bikin milkshake balik ke taman lagi ya, enakan di sana suasananya," jawab Darrel yang langsung mengalihkan perhatiannya dan berjalan mendahului Luna yang menghela napas kan menyusul Darrel yang sudah masuk ke dapur.
Mereka kembali dengan dua gelas besar milkshake di tangaan masing – masing, dengan topping krim Hazelnut untuk Luna, serta float vanila untuk Darrel. Mereka berjalan kembali menuju taman dan duduk di gazebo yang ada di sana. Luna menyeruput milkshake miliknya dengan nikmat.
" kalau minum tuh pelan pelan, kamu kayak gak dikaih air bertahun – tahun aja, nih sampai krimnya kena ke muka semua," ujar Darrel yang mengomeli Luna sambil membersihkan wajah gadis itu dengan tangannya. Luna terkekeh dan kembali meminum minumannya sambil menatap langit yang mendung.
" Kayaknya bentar lagi hujan deh kak," ujar Luna yang masih memandangi awan abu – abu yang ada di langit. Darrel ikut mendongak mengikuti arah pandang Luna.
" Gak papa hujan, malah aku bisa anget – anget an sama kamu, kan enak tuh, mana sepi lagi," ujar Darrel dengan asal yang membuat Luna menempelkan gelas dinginnya ke wajah Darrel.
" Pikirannya panas mulu, sini Luna dinginnin," ujar Luna dengan gemas. Tak lama setelah itu hujan sungguh turun, teringat terakhir kali Luna terjebak hujan, gadis itu menangis kecewa karna hilangnya seseorang.
Kini saat dia kembali terjebak hujan, hatinya menghangat karna seseorang itu telah kembali, mungkin memang dia sudah sungguh jatuh hati ada lelaki yang ada di sampingnya. Apakah dia sudah siap menanggung semua resikonya? Apakah itu berarti dia sudah siap melepas Radith dari hidupnya? Semua pikiran itu membuat Luna merasa tak nyaman.
" Kamu mau main hujan – hujanan gak? Hujan – hujanan yuk," ajak Darrel sambil menarik tangan Luna ke tengah taman dimana air hujan langsung mengucur di atas kepala mereka.
" Kalau nanti demam gimana kak?" tanya Luna cukup keras karna hujan yang deras membuat suara sulit terdengar.
" kalau hujannya deras gak papa, yang penting habis ini langsung mandi, terus keramas," jawab Darrel memejamkan matanya dan menikmati tetesan hujan di wajahnya.
Lelaki itu menundukkan kepalanya dan memegang kepalanya, Luna langsung melihat ke arahnya karna penasaran, tiba tiba Darrel mengelap hidungnya menggunakan tangan dan tampaknya warna merah di tangan itu. Luna mendelik kaget melihat hal itu, dipandanginya Darrel yang menatap Luna dengan tatapan polos.
" Kak Darrel itu sebenarnya kenapa? Kak Darrel sembunyiin apa dari Luna?" Tanya Luna dengan nada suara yang khawatir.
Darrel terdiam dan menunduk, membiarkan cairan merah itu keluar dari dalam hidungnya, mungkin Darrel enggan membahas hal ini dengan Luna.