
Di kediaman Ayah Alex, semua orang mulai sibuk untuk mempersiapkan pernikahan putri bungsu keluar Alexander JJ tersebut. Pernikahan yang akan dilaksanakan secara dadakan besok siang di sebuah hotel bintang lima, tempat Nezia diselamatkan oleh Faris.
Anggota keluarga besar Antonio semuanya terlihat sudah berada di sana. Keluarga Alamsyah juga semuanya sudah hadir, termasuk Opa Sultan dan Oma Sekar yang sudah berusia lanjut, beserta keluarga Bunda Fatima.
Satu-satunya adik kandung Ayah Alex _Alexandra JJ_ juga hadir, bersama keluarga kecilnya. Suami bule dan dua buah hatinya yang berwajah blasteran, tampan dan cantik.
"Keponakan aunty kenapa? Kok wajahnya ditekuk gitu?" tanya Tante Sandra ketika masuk ke dalam kamar Nezia dan mendapati gadis cantik itu sedang melamun dengan bibir mengerucut.
"Inez kayaknya belum siap kalau harus menikah besok, deh, Aunty," balas Nezia, jujur.
"Loh, bukannya kamu sendiri, Nez, yang menerima lamaran cowok itu?" tanya Tante Sandra dengan dahi berkerut dalam.
"Dia pemuda yang baik, kan?" lanjutnya bertanya.
Ya, adik kandung Ayah Alex itu memang belum pernah bertemu dengan Faris, dia hanya mendengar cerita tentang pemuda tersebut dari saudara-saudaranya.
Nezia mengangguk. "Faris memang baik Aunty, sangat baik, malah," balas Nezia seperti yang dia ketahui sendiri tentang Faris. Pemuda yang tidak mau mengambil kesempatan dalam kesulitan yang dia alami beberapa kali.
"Jujur, Inez merasa nyaman berada di dekatnya. Inez juga suka dengan gaya Kang Faris yang apa adanya dan suka bercanda," lanjut gadis cantik tersebut.
"Lantas, apa yang membuat kamu ragu dan belum siap, Sayang?" tanya Tante Sandra, penuh perhatian. Dia belai surai hitam, panjang nan lembut milik Nezia, dengan penuh kasih sayang.
Nezia kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan sang tante. "Entahlah, Aunty. Inez juga bingung," balas Nezia, gamang.
"Apa mungkin karena kalian belum lama saling mengenal, Nez?" tanya Tante Sandra.
"Mungkin saja," balas Nezia, tak bersemangat.
Wanita cantik yang sudah mulai mengenakan hijab dan menutup rambutnya yang diwarnai dengan warna keemasan itu, tersenyum. "Inez, Sayang. Dengerin aunty, ya," tuturnya lembut.
"Aunty memang nol besar masalah agama karena aunty baru akhir-akhir ini ikut berkumpul bersama keluarga ibumu, tetapi sejauh yang aunty tahu bukankah lebih baik jika kalian berdua belajar untuk saling mengenal setelah menikah?" Tante Sandra menatap sang keponakan dengan tatapan teduh.
"Yang penting kamu sudah tahu bahwa dia adalah pemuda yang baik dan bertanggung jawab. Kabarnya, keluarga Faris juga baik dan cukup terpandang, bukan?"
Nezia mengangguk.
"Kalian bisa saling mengenal dan saling belajar untuk mencintai, nanti setelah kalian menikah. Katanya, yang demikian itu jauh lebih indah daripada saling menjalin kedekatan sebelum resmi menikah."
"Aunty jadi ngebayangin, andai saat itu aunty sudah paham agama dan mengenal om kamu setelah dia menjadi seperti sekarang ini, pasti perjalanan cinta kami akan sangat menyenangkan." Wanita cantik itu tersenyum sendiri.
"Kamu tahu enggak, Nez. Om kamu itu lebih romantis setelah dia belajar dan mendalami ilmu agama, loh. Lebih perhatian, lebih bertanggung jawab dan lebih menghargai aunty sebagai istri," imbuhnya.
Nezia menatap tak percaya pada tantenya. "Benarkah, Aunty?"
Tante Sandra mengangguk. "Benar, Nez. Tante yakin, Faris pasti akan menjadi sosok suami yang sangat menyenangkan karena dia pemuda yang paham ilmu agama."
Nezia kemudian beringsut dan menegakkan tubuh, duduk di samping tantenya.
"Aunty yakin, Nez. Faris akan mampu mengobati kekecewaan yang kamu rasakan karena kegagalan pernikahan kamu kemarin dan membuat hidupmu menjadi lebih berwarna nantinya," tutur wanita cantik itu sambil menggenggam tangan sang keponakan.
"Semoga aja, ya, Aunty," balas Nezia, terselip sebuah pengharapan di sana.
"Kamu sudah yakin, kan, sekarang?" tanya Tante Sandra seraya menatap dalam netra sang keponakan.
"InsyaAllah, Aunty. Do'akan Inez, ya." Gadis cantik itu tersenyum dengan netra yang mulai berbinar, terang.
Di apartemen Dito.
"Aw ... !" Baru saja Abraham melerai pelukannya pada Dito, terdengar suara teriakan yang cukup keras dari arah kamar Dito.
"Rasti! Apalagi yang dia lakukan?" Dito bergegas menuju ke kamarnya dan mencoba untuk membuka pintu kamar, tetapi pintu tersebut ternyata di kunci dari dalam.
"Ras! Rasti! Buka, Ras!" seru Dito sambil menggedor keras pintu kamarnya.
Dito terus memanggil nama Rasti seraya menggedor pintu tersebut, tetapi tak ada jawaban dari dalam sana.
Mendengar Dito memanggil-manggil Rasti dan suara gedoran pintu yang cukup keras, membuat Abraham dan yang lainnya mendekat.
"Bagaimana, Dit?" tanya Akbar.
"Pintunya dikunci, Bro. Rasti juga tak menyahut," balas Dito, khawatir.
"Coba panggil lagi, Dit. Lebih keras manggilnya," saran Damian.
Dito kembali memanggil nama wanita yang telah dia nikahi, dengan suara yang lebih keras. Pemuda itu juga menggedor pintu dan sesekali menendang pintu tersebut dengan kakinya. Namun, setelah beberapa saat menanti, tetap tak ada jawaban dari dalam kamar.
"Kita dobrak saja pintunya," usul Abraham.
"Jangan, Bang! Panggil ๐ค๐ถ๐ด๐ต๐ฐ๐ฎ๐ฆ๐ณ ๐ด๐ฆ๐ณ๐ท๐ช๐ค๐ฆ saja, agar dibukakan pintunya," saran Faris. "Takutnya, Mbak Rasti di belakang pintu dan jika di dobrak maka akan mencelakai dia," lanjut pemuda berwajah manis tersebut.
Dito langsung menelepon pihak pihak layanan konsumen dan meminta bantuan mereka, untuk segera datang ke unitnya.
Tak berapa lama, datang dua petugas apartemen, lengkap dengan alat yang dibutuhkan.
Kedua petugas tersebut segera membuka pintu tersebut dengan mencongkel daun pintu karena pintu tersebut dikunci dari dalam dan tidak dapat dibuka dari luar, meskipun memakai kunci cadangan. Sebab di kamar utama, desain kuncinya memang otomatis dan hanya dapat dibuka dari dalam jika sudah dikunci dari dalam.
Baru saja pintu terbuka, Dito langsung menerobos masuk dan mencari-cari keberadaan Rasti.
"Ras, dimana kamu?" teriak Dito sambil mencari ke dalam kamar mandi.
Abraham, Faris, Akbar dan Damian juga ikut masuk ke dalam kamar. Sementara dua orang petugas apartemen berseragam khusus, menanti di ambang pintu.
"Balkon!" teriak Dito panik, begitu keluar dari kamar mandi dan langsung berlari ke arah pintu yang menuju balkon yang tertutup rapat.
Dito segera membuka pintunya dan kemudian melangkah keluar. Pemuda itu melongok ke bawah dan wajahnya langsung pias. "Rasti," gumam Dito, membeku.
Abraham dan yang lain segera ikut melihat ke bawah, tatapan mereka terpaku pada sosok tubuh wanita yang terlihat sangat kecil dari ketinggian dan sudah dikerumuni oleh banyak orang.
Ya, Rasti nekat meloncati pagar balkon untuk mengakhiri hidupnya yang dia rasa tak lagi berguna. Dia sia-siakan nyawa dan juga kesempatan untuk bernapas lebih lama, hanya dengan pikiran piciknya yang memandang hidup hanya demi kesenangan pribadi semata.
Dia telah memilih jalannya sendiri yang sesat, padahal masih banyak jalan lain yang lebih bermanfaat jika saja dia mau sedikit saja merendahkan ego dan berpikir sedikit lebih jernih.
Tak ada kesulitan yang tak dapat diatasi, tak ada hidup yang sia-sia jika mau membuka diri dan menerima masukan dari orang lain.
"Selamat jalan, Rasti. Semoga Tuhan mengampuni segala kesalahan kamu," ucap Dito, sangat lirih.
"Maafkan aku yang tak bisa menjadi seperti yang kamu inginkan, meski aku sudah berusaha untuk memenuhi segala keinginan kamu."
โโโโโ bersambung ...