Hopeless

Hopeless
chapter 81



Luna berjalan lesu menuju kelas dimana ujian akan berlangsung. Gadis itu tampak frustasi karena semalaman dia belajar, namun semua yang dia pelajari lenyap saat dia bangun di pagi hari.


Gadis itu berjalan menuju ruang 20, sebuah ruang yang bisa dibilang terisolasi dan jauh dari akses menuju tempat manapun, hal itu dikarenakan gedung ruang 20-28 memang baru selesai dibangun, sehingga tidak ada kantin berdiri di dekat sana.


Luna meletakkan laptopnya dan membuka kembali buku paket serta buku tulis PPkn, namun semakin dia membuka buku, semakin melepuh rasa kepalanya karena harus membaca dan mengingat setiap materi yang kebanyakan berisi pasal ( yang isinya pasti dan tidak dapat dinalar.)


“ Kenapa frustasi gitu sih?” Tanya Radith yang entah sejak kapan sudah duduk di sampingnya.


Satu lagi yang membuat Luna frustasi. Tempat duduk yang ditata sesuai absen membuatnya duduk paling depan dan di posisi tengah, posisi yang sangat tidak strategis untuk mencari bantuan dari teman lain karena mata pengawas pasti tertuju ke arahnya.


“ Menurut Lo aja gimana sih,” ujar Luna dengan kesal karena Radith masih bertanya. Radith sendiri hanya terkekeh mendengar respon Luna, lelaki itu melanjutkan langkah menuju mejanya yang terletak di paling belakang, pojok pula.


“ Lun, posisi gue enak nih, kalau Lo butuh bantuan panggil gue aja,” ujar Radith yang sengaja memamerkan posisinya, membuat Luna menjawabnya dengan acungan jari tengah tanpa mengatakan apapun. Radith langsung tertawa keras mengetahui Luna sangat kesal terhadapnya.


Radith tidak belajar, dia hanya bermodalkan pasrah dan mengharap bantuan dari Tuhan. Persetan dengan hasilnya, toh guru PPkn tidak pernah sebegitu tertariknya memberi remedial bagi siswa. Beliau lebih suka mengatrol nilai siswa agar menjadi baik ( Tuhan, berilah lebih banyak guru seperti ini)


Tak menunggu waktu lama, pengawas masuk dengan tampang seram dan hawa gelap. Ruangan ujian pun langsung menjadi sepi dan para siswa duduk di tempatnya masing masing. Pengawas itu mulai membacakan peraturan ujian dan apa saja yang harusnya dilakukan siswa.


Luna menyiapkan laptop beserta chargernya lalu menaruh tasnya ke depan kelas. Gadis itu tidak menyiapkan contekan dalam bentuk apapun, entahlah, dia lebih baik bertanya pada temannya dibanding membawa contekan karna jika ketahuan akan berbeda dampaknya.


Gadis itu tampak serius memilih jawaban yang dirasa benar. Yaps, hanya memilih, gadis itu menghitung kancing memakai namanya, Mamanya, Papanya, bang Jordan bahkan kepala pelayan yang ada di rumahnya untuk mendapat jawaban.


Untunglah setiap siswa mengerjakan di salah satu web untuk kelas belajar, dan dalam aplikasi itu hanya bisa mengupload pilihan ganda, sehingga tidak ada soal uraian. Luna hanya perlu mengandalkan keberuntungan untuk melewati tes pada kali ini.


Meski Luna sedikit pesimis karena teman – temannya memakai bantuan dengan mencari jawaban di situs web lain. Sesuatu yang tidak berani Luna lakukan. Gadis itu terbilang takut dan pengecut untuk melakukan hal seperti itu.


Luna selalu diajarkan oleh Jordan untuk bertindak jujur untuk urusan sekolah. Nilai memang penting untuk menentukan angka di ijazahmu. Hanya itu saja, apalagi selembar kertas tidak akan menentukan masa depanmu sepenuhnya. Tapi kejujuran, hal itu yang akan berpengaruh besar dalam kehidupanmu, hal itu yang akan menentukan masa depanmu.


Gadis itu selalu terniang pesan Jordan, sehingga dia sangat jarang menyontek, yah, meski beberapa kali khilaf dan memastikan jawaban ke teman sih. Tak apa kan? Namanya juga manusia.


Luna menyelesaikan tesnya dalam waktu 45 menit dari 90 menit yang diberikan. Gadis itu berniat mengecek ulang, namun dia tahu sebanyak apapun dia mengecek, dia tak akan tahu jawaban yang benar. Akhirnya Luna memilih untuk menaruh kepalanya di meja sembari menunggu waktu habis.


Dari arah belakang Radith berjalan dan langsung keluar dari ruangan itu, membuat Luna mendongak dan menatapnya heran. Lelaki itu sudah selesai? Hebat sekali, bahkan dia sudah berani men-submit jawabannya.


Dengan sedikit ragu akhirnya Luna menekan tombol submit yang membuat jawabannya langsung terkirim dan muncullah nilainya yang membuat Luna ingin menangis seketika.


Ujian Akhir Semester yang pertama kali Luna jalani di sekolah ini, mata pelajaran pertama, namun Luna harus mendapatkan nilai 72 yang bahkan belum tuntas kkm. Seumur hidup Luna, gadis itu tidak pernah mendapat nilai tes yang sampai dibawah kkm.


Gadis itu mendesah kecewa dan keluar dari ruang ujian, menyusul Radith yang entah ada dimana. Luna akhirnya mendapati Radith yang duduk bersantai di taman literasi.


“ Dith, nilai gue anjlok masa,” ujar Luna dengan sedih sambil duduk di depan Radith.


“ Sama, tapi gue nyantai. Gak lebay kayak Lo,” ujar Radith tanpa memandang Luna. Ingin rasanya Luna menyumpal mulut pedas Radith, atau memakaikan dua karet ke mulut itu.


“ Gak usah sengak dong, ini pertama kalinya gue dapat nilai di bawah KKM,” Ujar Luna yang masih keukeuh dirinya ngenes pada hari ini.


“ Nilai Lo berapa emang?” Tanya Radith yang akhirnya terganggu dengan keluhan Luna.


“ Cuma 72 masak, gak lulus KKM dith,” ujar Luna dengan wajah hebohnya, seakan hidupnya berakhir dengan nilai itu.


“ Gue Cuma 64 juga masih bisa santai, gak akan nada remedial dan Nilai Lo pasti tuntas, believe me lah,” ujar Radith meyakinkan Luna. Gadis itu tampak menatap Radith dari atas sampai bawah.


“ Kenapa Lo yakin banget nilai kita bakal tuntas di rapot?” Tanya Luna dengan wajah penasarannya.


“ Kelihatan lagi, beliau tipe gak mau repot buat koreksi, jadi percuma beliau kasih remedial, gak akan beliau koreksi, alhasil beliau akumulasi dengan nilai ulangan lain yang padahal juga enggak dikoreksi, pasti tuntas lah,” ujar Radith dengan santai dan yakin.


“ Oke lah, gue percaya kalau Lo yang ngomong,” ujar Luna sambil menunjukkan jempolnya. Kedua orang itu melanjutkan obrolan mereka sampai taman literasi menjadi ramai dan berisik karena mereka saling bertukar informasi mengenai materi ujian mata pelajaran selanjutnya.


Mata pelajaran selanjutnya tidak begitu sulit karena hanya mengandalkan nalar dan Logika. Yaps, mata pelajaran Bahasa Indonesia, tak perlu khawatir, karena bahsa keseharian pun memakai Bahasa Indonesia bukan?


Luna bisa menyelesaikan dalam waktu 30 menit dari 120 menit yang disediakan, membuat gadis itu langsung mensubmit dan membereskan barang – barangnya dengan senyum puas. Dia mendapati nilai 86 di mata pelajaran itu, not bad lah untuk Luna yang tidak belajar Bahasa Indonesia tadi malam.


“ Luna, Gue mau ngomong sama lo!” seru seseorang yang tiba – tiba menarik Luna saat gadis itu keluar dari ruang ujian.


“ eh, eh, eh, kamu siapa? Jangan tarik – tarik dong! Lepas gak!” seru Luna sambil berusaha melepaskan cengkraman di tangannya, namun malah membuat tangannya memerah dan terasa sakit.


Akhirnya Luna pasrah mengikuti langkah orang itu yang ternyata menuju taman belakang Sekolah. Rasanya seperti dejavu melihat tempat ini, bahkan jauh mengerikan karena ilalang mulai tumbuh dan garis polisi dibiarkan begitu saja.


Seseorang datang dan mendekat ke arah Luna, membuat gadis itu takut seketika. Dulu dia menjadi korban kekerasan di tempat ini, bahkan nyaris membuat Radith terbunuh di tempat ini. Hawanya tidak enak bagi Luna.


“ Gue udah bilang kan buat jauhin Darrel?” Tanya seseorang yang suaranya sangat Luna kenali. Gadis itu mendongak dan mendapati tante senang ( clue – sinonim) yang menatapnya tajam dan jengkel.


“ Saya udah berusaha jauhin dia kak,” jawab Luna dengan sopan sambil meronta, berharap cengkraman itu mengendur.


“ Yang gue lihat Lo masih nempel kayak cicak ke dia, bahkan masih berangkat pulang bareng, Lo tahu kan gue itu..”


“ Tunangan, iya saya tahu, jadi kakak bisa bilang sendiri ke tunangan kakak untuk gak repot – repot antar jemput saya ke sekolah ini,” ujar Luna tanpa takut sedikitpun.


Monica yang melihat itu kaget sekaligus geram, Luna tidak takut padanya sama sekali. Padahal banyak sekali penghuni sekolah ini yang tunduk padanya, sisanya tidak berani macam - macam.


“ Lo berani ya jawab gue,” ujar Monica geram sambil menarik kerah baju Luna, meski takut dan sedikit gemetar, Luna berusaha melepaskan cengkraman itu dan menghempaskan Monica sampai terjatuh.


Baik Monica maupun gadis yang selalu mengikutinya, keduanya kaget atas perlakuan dan keberanian Luna yang sampai seperti itu. Monica bangkit dan mengambil rambut Luna, membuat gadis itu meringis dan memegang tangan Monica agar tidak menarik rambutnya.


“ Saa..”


“ MONICA!!! LEPASKAN RAMBUT ANAK ITU!!” Suara yang sangat keras itu membuat Monica kaget dan langsung melepaskan cengkramannya.


Gadis itu mendapati pak Sabar yang menatapnya tajam, membuat nyalinya menciut seketika. Pak Sabar menghampiri mereka dan langsung menyeret Monica tanpa ampun.


Gadis itu mengikuti pak Sabar dan menatap Luna dengan kesal karena gagal untuk menyakiti gadis itu. Luna sendiri langsung mengusap kepalanya yang perih karena rambutnya ditarik cukup keras. Luna meringis dan menggeleng melihat kelakuan bar- bar kakak kelasnya itu.


Tak lama setelah pak Sadar hilang dari pandangannya, Radith muncul dengan heroik, tangan dimasukkan ke dalam kantong celana dan langkah yang dituntun cahaya ilahi di belakangnya.


“ Lagi – lagi gue harus selametin Lo, Lo itu celaka udah hobi atau memang mendarah daging?” Tanya Radith dengan heran, membuat Luna menggeleng lemah sebagai jawaban.


“ Gak tahu gue dith, gak ngerti, ada aja yang pengen gue celaka, padahal gue gak ada urusan sama mereka,” jawab Luna dengan sendu. Radith yang awalnya hanya bercanda pun langsung terdiam dan menggenggam tangan Luna untuk pergi bersama dari tempat itu.


Luna menatap tangan kanannya yang digenggam erat oleh Radith, tangan hangat Radith membuatnya merasa aman, seakan Radith berkata ‘ Lo gak akan celaka. Ada gue.’


“ Tunangan Lo tuh,” ujar Radith yang membuat Luna tersadar, bahkan gadis itu baru menyadari jika Radith sudah melepaskan tautan tangan mereka. Luna menatap enggan Darrel yang tampak menunggunya.


“ Kak, Luna pulang sendiri,” ujar Luna saat berdiri dihadapan lelaki itu.


“ Kamu pulang sama aku ya, please,” ujar Darrel dengan wajah melasnya. Biasanya Luna akan terbius oleh tatapan itu, namun kali ini Luna sedang tidak dalam mood yang baik.


“ Kak Darrel selesaikan dulu masalah dengan kak Monica. Barusan Luna diseret paksa dan nyaris disiksa sama dia. Luna mau kak Darrel selesaikan semua, Luna tidak mau kena masalah lagi kak,” ujar Luna dengan tersenyum dan langsung meninggalkan Darrel begitu saja.


Darrel masih berusaha mencerna kata – kata Luna. Apakah Monica sampai berani menyakiti gadis itu? Gawat sekali jika memang benar. Keisengan yang dia buat membuat gadisnya terluka tanpa ia sengaja. Darrel akhirnya hanya mampu diam dan membiarkan Luna pergi begitu saja.


Mungkin lebih baik seperti itu, sehingga Luna tidak tersakiti lagi oleh fans Darrel yang luar biasa ganasnya.


 



“ Yok naik,” ujar Radith yang menghentikan motornya disamping Luna yang berjalan sambil melamun, bahkan gadis itu tidak mengabari orang rumah untuk menjemputnya karena melamun.


“ Tapi gue kan gak bawa helm dith,” ujar Luna dengan ragu.


“ Santai, gue tahu jalan tikus tempat yang mau kita tuju,” ujar Radith sambil sedikit terkekeh.


“ Memang kita mau kemana?” Tanya Luna dengan heran dan was – was.


“ Ikut aja dulu, gak akan nafsu gue apa – apain Lo,” ujar Radith yang membuat Luna tak tahan untuk menabok helm lelaki itu. Luna akhirnya meurut dan naik ke atas motor, Radith langsung melajukan motornya selagi sekolah masih sepi karena memang waktu tes belum selesai.


Luna mengamati jalan yang dipilih Radith, sangat asing baginya namun Radith terlihat santai dan lihai menghindari lubang yang ada dimana mana. Sepertinya lelaki itu sudah terbiasa melewati jalan ini.


Radith menghentikan motornya di depan sebuah rumah yang tak berpenghuni, rumah itu tampak gelap dan sepi, membuat Luna enggan turun dari motor Radith.


“ Dith, Lo beneran gak mau apa apain gue? Gue gak mau loh ya wajah gue muncul di tuiter sama di web yang udah di blokir dengan judul ‘gadis SMK yang polos.’ Gakmau gue dith,” ujar Luna menggelengkan kepalanya berulang kali, ngeri membayangkan hal itu.


~pletak


“ Lo pikir gue cowok apaan? Gue juga ogah ya dinodain sama Lo,” ujar Radith menyilangkan tangannya di depan dada, membuat Luna jengkel dan memukul lelaki itu berulang kali.


“ Udah, yok masuk, Lo bakal kaget,” ujar Radith yang turun dari motor dan berjalan masuk menuju tempat itu, tak lupa meminta dua pengawal mereka ikut masuk agar tidak terjadi fitnah yang kejam.


Luna melongo kaget melihat isi tempat itu. Terdapat sebuah televisi, kulkas, sofa dan tak lupa lampu tumbrl yang masih dalam kondisi mati. Ada pula sebuah meja billyard. Rumah kosong ini jadi semacam basecamp di dalamnya.


“ Kita mau apa disini?” Tanya Luna yang duduk di sofa.


“ Tidur,” jawab Radith dengan singkat.


“ Ke tempat sebagus ini cuma buat tidur?” tanya Luna dengan wajah tak percaya, sia sia sekali dia datang ke tempat ini jika hanya untuk tidur di sebuah sofa yang tak seempuk di rumahnya.


“ Ya terus Lo mau nya apa? Gue tidurin?” Tanya Radith dengan asal sambil merebahkan dirinya.


“ Radith mesum!” seru Luna dengan kesal sambil memukul muka Radith dengan bantal


“ Memang, baru sadar Lo?” Tanya Radith yang menangkis pukulan Luna tanpa membuka matanya.


“ Radith jelek!!” seru Luna dengan asal karena Radith tidak merasa terganggu.


“ Makasih, gue emang ganteng,” jawab Radith santai tanpa mempedulikan Luna yang sudah setengah mati menahan rasa jengkel yang ada di dalam hatinya.


“ Radith Bau! Nyebelin! Mesum! Jelek kaya sapi!” seru Luna sambil memukul Radith bertubi- tubi.


“ Gakpapa kayak sapi, yang penting Lo sayang,” ujar Radith tanpa sadar yang membuat Luna kicep seketika.


.


.


.


. To be continued


PS dari Author : Team Radith Luna jangan lupa sungkem sama Authornya