Hopeless

Hopeless
Chapt 117



" Darrel, kamu tahu gak, aku udah lama banget pengen kayak gini sama kamu, gak kerasa udah hampir tiga tahun kita pisah," ujar Fera memandang indahnya taman dimana beberapa orang menjaga anaknya sembari tertawa bersama – sama.


" Iya, selama hampir tiga tahun juga aku depresi dan gak mau berhubungan sama cewek, tapi giliran aku udah buka hati dan menemukan cinta yang baru, kenapa kamu datang tiba – tiba kayak gini?" tanya Darrel dengan tatapan terluka, masih dia ingat dengan jelas hari dimana hidupnya mulai kelam, hari dimana Darrel menjadi depresi bahkan enggan berbicara dengan siapapun beberapa hari. Hal yang menakjubkan dilakukan oleh anak SMP, namun itulah kenyataannya.


" Aku udah jelasin semua ke kamu, aku tahu kamu marah, tapi aku yakin itu gak akan mengubah cinta kamu untuk aku, iya kan Rel? kamu masih cinta sama aku kan?" tanya Fera dengan penuh harap, dia mengambil tangan Darrel dan memaksa Darrel melihat ke arahnya.


Fera mengakui adanya perubahan besar dari dalam diri Darrel, lelaki yang dulu memandangnya hangat dan penuh cinta, kini hanya memandangnya dengan dingin dan penuh akan kehampaan, namun Fera tak ingin menyerah, dia tahu Darrel hanya kesal padanya, tidak mungkin lelaki itu benar benar kelihangan cinta untuknya.


" Ya, aku tahu, tapi kamu juga ahrus tahu, tiga tahun bukan waktu yang sebentar dan bukan menjadi tidak m ungkin seseorang akan lelah menunggu dan mengubah arah hatinya, aku harap kamu bisa memaklumi itu Fer," ujar Darrel dengan senyum kecutnya. Dia tak tega menyakiti Frea, namun dia juga harus mengungkapkan isi hatinya. Hati yang kala itu bergetar setiap melihat Fera entah mengapa kini telah sirna, letupan letupan kecil itu tak lagi terasa.


" A… Aku maklum kok Rel, ta.. tapi kamu harus kasih aku kesempatan untuk menganghatkan hati itu lagi, aku yakin gak butuh waktu lama untuk lakuin itu semua, aku yakin kamu Cuma bingung kan? Kamu Cuma kesal kan? Aku bakal buat kamu cinta lagi sama aku," ujar Fera penuh percaya diri meski dia tergagap dalam menyampaikannya.


" Ya, semoga aja kayak gitu ya, tapi tolong kamu jangan terlalu bergantung sama aku, aku gak mau kalau ternyata aku bakal kecewain kamu dan buat kamu jatuh sampai ke dasar yang paling dalam, kamu paham kan maksud aku?" tanya Darrel yang membuat Fera tertegun, namun gadis itu segera mengangguk cepat beberapa kali agar Darrel percaya cintanya selalu sama.


" Kamu ingat gak pertama kali kita main? Waktu itu masih malu – malu banget ya? Kita kasih makanburung dara disana, rasanya baru sebentar deh kita ngalamin itu semua, waktu ternyata cepat sekali berlalu," ujar Fera mengalihkan pembicaraan. Darrel mengangguk setuju dan melihat ke arah yang di lihat Fera.


Biarlah senja yang menemani hari mereka, biarkan awan jingga yang menjadi saksi kebimbangan hati yang dirasakan keduanya. Bahkan tanpa mereka sadari dua orang menatap mereka dengan tatapan yang tak bisa diartikan lagi. Dua orang itu hanya memandang, tak berniat menegur atau bahkan menghampiri, karna dua orang itu pun tahu, semua sudah berlalu.


*


*


*


" Dith, kok jalan Lo gak imbang gini sih? Kayak pincang – pincang gitu," ujar Luna dengan curiga dan menatap ke arah kaki Radith, lelaki itu berdecak dan membenarkan posisi Luna dalam gendongannya. Sudah besar beban yang dia pikul, tak tahu diri pula beban itu.


" Udah gue bilang Lo tuh diam aja gitu loh, Lo tu berat Lun, astaga, kalau Lo nengok nengok atau gerak gerak mulu lama lama gue pasti oleng juga lah," ujar Radith dengan lelah dan tetap berjalan, sementara Luna langsung diam karna Radith sepertinya sungguh lelah menggendong dirinya.


Meminta Radith menurunkannya? Ah tidak, Luna tak akan pernah melakukan hal itu meski sudah memikirkannya ribuan kali, karna Radith akan dengan senang hati mengabulkannya, sementara Luna yang sungguh kesusahan berjalan akan repot sendiri, lebih baik dia diam dan menuruti apa yang diinginkan oleh Radith, yang penting dia tidak kerepotan.


" Ada Apotek, kita mampir dulu bentar," ujar Radith memberitahu Luna yang membuat Luna mengangkat kepalanya dan melihat tak jauh dari mereka ada Apotek dua puluh empat jam.


" Mau beli apa?" tanya Luna dengan polosnya. Ingin Radith melempar gadis itu ke selokan atau melemparnya ke tengah jalan agar dilindas oleh kendaraan yang lewat.


" Mau beli nasi rames sama Obat Nyamuk cair buat minumnya," jawab Radith dengan tingkat ketus yang sudah maksimal. Kakinya sakit, punggungnya pegal dan tentu dia sudah lelah, namun Luna tetap berusaha membuatnya amrah dan kehilangan kendali.


" Ya kan gue nanya beneran," ujar Luna dengan pelan karna tak terima dikatai seperti itu oleh Radith.


" Ya kalau annaya tuh yang masuk akal, Lo kalau pergi sama gue bawa otak gak sih?" tanya Radith cukup kasar, bahkan Luna tak berani menajwabnya, gadis itu hanya menggigit bibirnya dengan takut, dilihatnya luka di kakinya yang darahnya mulai mengering, jika saja tidak sakit, pasti Luna akan memaksa untuk turun.


Radith menyadari dia terlalu kasar pada Luna, bahkan dia juga merasa tak enak hati karna hal ini. Namun dia tak bisa menarik kata – katanya atau Luna akan menganggap enteng dirinya. Radith hanya ingin Luna menjadi manusia yang sedikiiitt saja lebih cerdan dan bermutu, susah sekali kah?


Lelaki itu menurunkan Luna di pelataran Apotek dan mauk dengan terpincang – pincang. Luna mengamati kaki Radith yang tampak baik – baik saja, tapi mengapa lelaki itu sampai terpincang? Patah tulangkah? Jika ya, Luna akan merasa menjadi teman yang durhaka karna meminta Radith menggendongnya.


Radith keluar dari dalam tempat itu membawa bungkusan yang Luna yakin berisi obat untuk lukanya, tingkah radith sekarang sudah mudah ditebak oleh Luna, meski demikian rasanya tetap saja berbedar mengalami perlakuan semanis itu oleh lelaki sedingin Radith.


" Gak usah banyak ngeluh ya, gue tahu ini sakit, gue bakal pelan –pelan, tapi jangan rewel, tahan aja," ujar Radith berjongkok dan memperingati Luna agar gadis itu tak terkejut dengan rasa sakit yang akan dia terima. Radith mengambil antiseptik berwarna kuning dan kassa, lalu menuangkan antiseptik itu ke kaki Luna.


Radith mulai menempelkan kassa itu pelan pelan untuk membersihkan darah kering yang ada di kaki Luna. Luna mulai merasakan dingin pada kaiknya, namun dia ingat setelah memakai benda ini, memang awalnya akan terasa dingin, namun setelah itu….


" Aduh dith, perih, iisshhh shhhh," ujar Luna pelan sambil mendesis dan mencengkram pundak Radith untuk mengalirkan rasa sakit yang dia rasakan. Radith diam saja meski bahunya terasa perih, setidaknya gadis itu tak berteriak dan membuat kehebohan di Apotek ini, sungguh, itu sudah cukup bagi Radith.


Radith selesai dengan keperjaannya dan membalut kaki Luna dengan Kassa secara memutar, gadis itu akhirnya berani membuka mata meski rasa perih di kakinya belum hilang. Luna cukup bangga dengan dirinya sendiri karna tak perlu berteriak seperti biasanya, yah, meski karna diancam oleh Radith sih.


" Kaki Lo juga sakit kan? Diobatin dulu," ujar Luna menunjuk kaki kanan Radith yang sedari tadi pincang. Radith mengangguk dan melepas sandal kodoknya. Iya sandal kodok, sandal yang bagian depannya tertutup dan menggembung seperti kodok.


" Astaga, kok sampai kayak gitu sih jempolnya?" tanya Luna heran melihat jempol kaki Radith yang tampak menyeramkan. Kukunya seperti terkelupas dengan darah yang masih tetap mengalir dari kuku tersebut. Mau lihat seperti apa? Cek foto dibawah.


Gak jadi deh, kata Radith gak usah di share, takutnya kalian lagi makan, atau melihat novel ini bersama orang tersayang, tentu nanti akan menjadi masalah baru kan? Hahaha.


Radith tampak mendesis dan menggigit bibir bawahnya, tampak sekali lelaki itu menahan sakit, Luna sampai merasa iba karenanya. Namun itu semua masih lebih baik dibanding patah tulang, Luna jadi tak merasa berdosa karna meminta Radith menggendongnya sampai ke tempat ini.


Jika dipikir – pikir, ini kesekian kalinya Radith terluka saat berada di dekat Luna, apa Luna memang membawa petaka bagi Radith? Atau Radith yang sebenarnya memang dikirim Tuhan untuk menjaga Luna? Entahlah, yang jelas Luna bersyukur Radith ada di saat Luna terluka seperti ini.


" Emmm dith, gue telpon orang rumah aja ya bawain mobil biar Lo gak usah gendong gue lagi, lagian kita kan maih harus beli gula kapas," ujar Luna sambil mengambil ponselnya, Luna baru ingat jika dia bisa melakukan hal itu dari awal. Luna bisa menebak tatapan Radith saat ini hingga gadis itu tak berani menengok ke arah Radith.


" Kenapa gak dari awal Lo lakuin itu?" tanya Radith dengan intonasi yang pelan dan penuh penekanan. Susah payah dia menggendong karung beras sampai ke tempat ini, bodohnya dia juga tidak memikirkan hal itu dari awal. Ah, siapa yang sebenarnya bodoh disini? Author kah?


" Gak boleh nyalahin author dith, nanti kita gak dibuat bahagia Loh," ujar Luna yang seakan bisa mendengar kata hati Radith.


" Lah? Siapa juga yang mau bahagia sam aLo? Udah bego, nyusahin pula," jawab Radith tanpa segan sedikitpun, bahkan tak ada keraguan di wajahnya. Luna langsung cemberut meski tak protes karna memang itulah kenyataannya.


Luna segera menghubungi orang rumah dan meminta mereka mengirimkan satu mobil kecil untuk mereka naiki. Luna langsung mematikan sambungan telpon dan menatap kaki jenjangnya yang kini tertutup kassa.


" Habis sudah kaki mulus gue, kalau Daddy tahu pasti gue dalam masalah lagi," ujar Luna pelan sambil mengelus kakinya, Radith hendak membuka suara untuk menyalahkan Luna, karna memang dari awal kan Luna yang menyebabkan hal ini terjadi. Namun akhirnya Radith memilih bungkam karna tahu semua tidak akan tepat, malah bisa saja Luna menjadi baper karna teringat pada Darrel, semua runyam dan Radith sendiri yang akan kerepotan.


" Itu mobilnya dith," ujar Luna menunjuk sebuah mobil bermuatan empat yang cukup minimalis, setelah menunggu lima belas menit dalam keheningan dengan pikiran masing masing. Radith segera bangkit dan membantu Luna masuk ke dalam mobil dan dia masuk ke bagian kemudi.


" Nona, Nona yakin tidak perlu supir? Saya khawatir dengan keadaan kalian berdua," tanya pak Indra yang menengok ke Jendela untuk melihat mereka berdua. Luna mengangguk yakin dan tersenyum lebar, mengisyaratkan pada pak Indra agar tak perlu khawatir karna semua akan baik – baik saja.


" tenang aja pak, Luna sama Radith Cuma mau ke alun – alun beli gula kapas, gak akan luka atau dalam bahaya, jadi pak Indra tenang aja, kalau mau pak Indra bisa kirim orang buat kawal Luna, tapi agak jauh ya, Luna risih soalnya," ujar Luna memberi usul jalan tengah.


" Baik nona, saya akan utus orang untuk menjaga kalian, dengan begitu saya akan merasa jauh lebih tenang. Maaf karna saya tidak bisa mengantar, saya harus bersama dengan tuan muda Jordan mengurus keberangkatannya ke luar kota nanti malam.


" Abang mau ke luar kota lagi? Yaahh," ujar Luna sedih karna semakin hari semakin sulit untuk bertemu Jordan. Yah meski sepuluh tahun tak pernah bertemu lelaki itu sih, hahahha.


" Mau balik ke rumah aja? Masak abang Lo mau ke luar kota Lo malah main," usul Radith yang sedari tadi menyimak, namun Luna menggeleng sebagai jawaban.


" Abang paling gak pulang rumah, lagian gue pengen banget gula kapasnya, jadi gue pilih gula kapas. Nanti juga gue bisa Vidcall sama bang Jordan," ujar Luna dengan semangat. Radith bahkan tak menyangka ada anak, adik dan teman sedurhaka Luna, apakah gadis itu tak bisa memikirkan hal lain selain kebahagiaannya sendiri?


Namun Radith segera sadar itu adalah cara Luna mengalihkan perhatiaannya untuk apa yang menimpa gadis itu sepertinya lelaki bernama Darrel memang memberi pengaruh besar bagi Luna. Apakah Luna juga merasakan hal yang sama saat bersama dengannya dulu?


" Lo mikir apa sih dith? Kok jadi geleng geleng sendiri gitu?" tanya Luna dengan heran, bahkan Radith tak kunjung menyalakan mesin mobil. Radith tersentak karna panggilan Luna dan menggeleng sebagai jawaban.


" Gak papa gue mikir aja gimana jadinya kalau Lo punya anak, bisa bisa anak Lo nangis minta susu Lo malah sibuk dandan di salon, kan kasihan anaknya," jawab Radith asal yang membuat Luna jadi berpikir.


" Kenapa Lo udah mikirin anak gue? Emang Lo mau jadi bapaknya?" tanya Luna yang malah sengaja memperkeruh keadaan dengan ucapannya yang lebih asal. Luna memainkan alisnya bergantian dan tersenyum lebar, semoga saja Radith tahu itu bercanda. Meski sebenarnya terselip ' amin' dari para pembaca, hahaha.


" Mau aja, asal sekarang nabungnya. Katanya kalau di mobil tuh enak," ujar Radith tersenyum nakal dan mendekat ke arah Luna. Lelaki itu mengunci pintu secara otomatis dan melepas seatbeltnya, Luna yang melihat itu langsung memejamkan mata dan meringkuk mundur seketika.


Radith tak gentar, dia semakin mendekat pada Luna dan memegang pipi gadis itu, Luna emngambil napas dalam yang membuat Radith terheran dan menatap Luna dengan bingung.


" HUAAAAA!!! PERGI LO, JIJIK GUE!!" seru Luna tiba tiba sambil menampol Radith keras, membuat lelaki itu terpelanting dan tertatap kaca pengemudi karna tak siap dengan 'serangan' Luna.