Hopeless

Hopeless
chapter 75



“ Selamat ulang tahun Lunetta.”


Luna menatap cengo Mr. Wilkinson yang mengatakan hal itu dengan senyum yang terkembang di wajahnya. Luna masih belum menangkap maksud dari Daddynya.


“ Selamat ulang tahun princess nya abang.”


“ HUAAAA!!!”


PLAAKKK!! DUGH!!


“ Aduuh!!!”


Siapa yang tidak terkejut jika seorang mayat tiba – tiba mengajak bicara? Luna yang terkejut secara reflek memukul kepala Jordan keras – keras, membuat kepala lelaki itu terbentur peti jenazah cukup kuat.


“ Ma… maksudnya apa?” Tanya Luna dengan terbata – bata. Beberapa orang disitu pun menatap bingung adegan di depan mereka, termasuk Radith.


“ Abang kamu sehat walafiat, dia sengaja bikin skenario kejutan untuk kamu,” ujar Mr. Wilkinson membuat Luna menggeleng takjub sekaligus tidaka percaya.


“ Kalian lakuin semua ini untuk ngasih kejutan Luna? Keterlaluan sekali! Luna bahkan hampir bunuh diri waktu tahu bang Jordan meninggal.” Luna masih tidak menyangka semua hanya tipuan belaka.


“ Lebih parahnya lagi, hampir semua komentar di postingan sebelumnya nangis bombai karna mengira bang Jordan meninggal, kalian nipu semua reader aku tercinta?” Tanya Luna yang masih takjub dengan ide konyol Jordan.


“ Abang bukan mau menipu, abang Cuma mau Luna belajar kalau di dunia ini gak ada yang abadi, terutama umur manusia, abang pingin Luna lebih bersyukur dan gak terus foya – foya,” ujar Jordan menjelaskan maksudnya kepada Luna.


“ Ya terus kalau tadi malam Luna beneran bunuh diri gimana?” Tanya Luna dengan sewot, sungguh, tadi malam dia sudah sangat depresi dan nyaris sajaa memilih untuk mengakhiri hidupnya.


“ Abang sudah memperhitungkan semua, termasuk cctv dan pengawal yang stand by di depan kamar. Mereka siap menggagalkan rencana bunuh diri kamu,” ujar Jordan tersenyum bangga


“ Terus ini apa?” Tanya Luna menunjuk badan Jordan yang terbungkus kain cukup tebal.


“ Ini? Ini kain biar abang gak kelihatan kalau masih bernapas,” jawab Jordan enteng sambil melepas kain pembungkus yang membuatnya terasa pengap.


“ Abang beneran gakpapa? Luka ini? Make up kah?” Tanya Luna memencet Luka yang terbungkus kassa dan plester di kepala Jordan.


“ Aiiisshh, ini luka jahit beneran. Abang beneran kecelakaan disana, makanya abang ada ide buat ngerjain kamu hari ini,” ujar Jordan tanpa dosa sambil menyengir lebar.


Ingin rasanya Luna meyobek mulut itu dan mengacak wajah tampan Jordan.


“ Abang mau setiap Luna bertambah umur, disitu Luna semakin belajar banyak hal. Luna udah belajar apa beberapa hari ini?” Tanya Jordan dengan lembut tanpa berniat keluar dari peti itu. Jordan duduk di dalam peti yang disangga sebuah meja besar.


“ Banyak, dimarahin wali kelas Luna tanpa jelas, diselingkuhin, nyaris demam karna kehujanan, terus dikibulin sama keluarga sendiri,” ujar Luna menyebutkan apa yang di alaminya belakangan ini.


“ Lunetta, Ibu minta maaf yah udah marah marah sama kamu di depan kelas, itu murni permintaan kakak kamu, Ibu udah nolak, tapi kakak kamu minta ibu buat ngajarin kamu tanggung jawab, sebagai guru, Ibu gak bisa nolak,” ujar wali kelas Luna yang membuat Luna melega, ternyata kenakalannya di sekolah tidak seburuk itu.


“ Anak papa udah besar ternyata,” ujar Mr. Wilkinson yang menatap Luna penuh haru, pria itu kembali memeluk Luna dengan bahagia, bersyukur bisa merayakan ulang tahun puterinya bersama.


“ Luna, pakai ini deh.”


Luna menengok dan mendapati ketiga sahabatnya membawakannya mahkota kecil, sepatu hak tinggi dan sebuah selempang bertuliskan ‘ I’m the Queen.’


“ Kalian juga terlibat?” Tanya Luna dengan wajah tak percaya, membuat ketiga oran gitu menyengir dan mengangkat tangannya membentuk huruf V.


“ Kita gak tahu Lun awalnya, beneran deh, terus tadi kita nguping ada pelayan yang ngomongin pesta ultah, padahal tadi kita udah sedih banget Lo ultah tapi bang Jordan malah meninggal, eh ternyata Cuma bohongan, yaudah kita ikutan biar ramai,” ujar Key panjang lebar menjelaskan ke Luna.


Gadis itu masih cemberut, tampak tak terima dijadikan lelucon dan bahan prank oleh orang sekitarnya. Namun melihat niat baik mereka, bagaimana mungkin Luna bisa marah? Apalagi niat abangnya untuk membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih baik.


“ Apa Cuma gue disini yang gak tahu apa apa?” Tanya Radith yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan mereka.


“ Lo dan banyak asisten di rumah ini, Cuma beberapa orang aja kok yang tahu, semakin dikit yang tahu pasti semakin sukses.”


“ Sukses bikin Adiknya nangis – nangis dan frustasi sampai nyaris gila,” potong Luna dengan ketus keada Jordan, membuat lelaki itu tertawa terbahak – bahak.


“ Tapi kan berkat itu abang bisa bawa Daddy ke Indonesia dan ngerayain ulang tahun kalian,” ujar Jordan dengan santai


namun sesaat kemudian Jordan menyadari sesuatu dan cepat – cepat meralatnya.


“ Ulang tahun kamu, bersama kalian,” ujar Jordan dengan tenang meski dia sedikit takut saat melihat tatapan membunuh papanya.


“ Mari kita semua ke halaman belakang, sudah ada sedikit pesta syukur untuk ulang tahun Lunetta, silakan silakan,” ujar Mr. Smith mempersilakan para tamu yang tadinya ingin melayat tapi malah jadi menghadiri ulang tahun Lunetta.


Tak banyak tamu yang diundang oleh Jordan, hanya wali kelas, teman kelas dan teman di Organisasi OSIS, Serta ketiga sahabat Lunetta. Dia tidak ingin pusing memikirkan tamu undangan karena fokus pada kejutan yang dia berikan.


Bila ada sekelompok orang yang ingin Luna undang, biarlah gadis itu mengadakan pestanya sendiri di lain waktu.


Mereka semua berjalan dari ruang utara menuju halaman belakang yang ada di selatan.


Mereka mulai berbisik – bisik mengenai Lunetta yang sungguh kaya raya, bahkan setiap pekerjaan ada penanggung jawabnya sendiri.


Ketakjuban mereka memuncak saat melihat dekorasi ulang tahun Lunetta. Jordan memilih desain seperti pesta musim panas, atau mungkin piknik?


Entahlah, yang jelas banyak makanan enak tersaji diatas meja yang tersebar di seluruh taman ini.


Terdapat satu buah kue ulang tahun besar dua tingkat dengan lilin berangka enam belas yang menyala, Luna bahkan tak menyangka mereka menyiapkan semua ini dengan cepat, entah berapa rupiah yang harus Jordan keluarkan untuk acara ini.


“ Silakan nikmati hidangan sederhana yang tersaji, namun sebelum itu, saya mengucapkan kepada Lunetta, Putri saya tercinta, selamat ulang tahun, semua yang terbaik akan dilimpahkan bagimu di masa depan, sukses selalu putri kesayangan Daddy,” ujar Mr. Smith dengan lantang membuat semua orang yang ada di situ bertepuk tangan dengan riuh.


“ Happy birthday To You!!” Seru Key menyanyi lagu ulang tahun dengan keras, membuat tamu undangan mengikutinya dan bernyanyi untuk Lunetta.


Luna sendiri diminta oleh Jordan untuk mendekat kea rah kue ulang tahun yang ada disana.


Mereka juga menyanyikan lagu tiup lilin, meminta Luna mengucapkan permintaannya dan kemudian dilanjutkan dengan caranya potong kue, disini Luna diminta untuk memberikan tiga potongan special untuk orang special.


Luna mulai memotong kue pertama dan berjalan kearah Daddy nya. Gadis itu menyuapi Mr. Wilkinson dan Bang Jordan yang ada di sebelah pria itu. Jordan langsung merebut kue tersebut dan memakannya, membuat Mr. Wilkinson menepuk pundaknya keras agar lelaki itu sadar.


Perawakan Mr. Wilkinson yang tegap, tegas dan menyeramkan tentu meninggalkan kesan buruk bagi teman – teman Luna, namun ternyata beliau orang yang ramah dan baik hati, membuat pandangan buruk itu perlahan sirna.


“ Kue kedua dong,” ujar Lucy yang berharap akan mendapat kue lezat yang menggiurkan tersebut, kue yang diminta secara khusus oleh ahli dessert ternama di Indonesia, tak perlu membahas harga bukan?


Luna terkekeh dan kembali untuk memotong kue, dia membawa kue kedua itu dan mulai menyapi Lucy, Key dan Adel secara bergantian, lalu membiarkan mereka berbagi kue tersebut.


“ Kue terakhir, Kue terakhir,” sorak beberapa orang yang ada disana, mereka yakin kue terakhir akan Luna serahkan untuk lelaki spesial.


Luna memotong kue tersebut dan mulai menengok ke kanan dan kiri, apa lelaki itu tidak datang? Apa dia sungguh marah pada Luna? Atau dia sungguh bahagia bersama wanita lain itu?


Banyak pikiran buruk menghantui Luna, membuat gadis itu menggelengkan kepala dan berjalan pada seseorang yang ada disana. Luna menyendok sepotong roti menjadi bagian kecil dan mengarahkannya ke mulut orang itu.


“ CIYEEE!!!” Seru semua orang yang ada disana melihat kemesraan yang Luna tunjukkan ( Meski aslinya biasa saja sih, mereka saja yang lebay.)


“ Lo kenapa harus nyuapin gue sih? Malu Lun,” ujar orang itu dengan enggan


“ Makan aja sih dith, yang lain jug ague suapin, nih makan terus pegang sendiri,” ujar Luna pelan karena mereka masih menjadi pusat perhatian, akhirnya Radith mengalah dan memakan potongan kue tersebut lalu mengambil alih sisanya dari tangan Luna.


“ Ah iya, ada satu kue lagi,” ujar Luna yang teringat sesuatu dan sedikit berlari menuju tempat kue. Gadis itu memeotong kue tersebut dan membawanya pada wali kelasnya


( Sebenarnya Luna enggan melakukan itu, tapi dia merasa tidak enak bila tidak memberi guru itu potongan kue, terlihat sekali Luna tak menganggap orang itu ada. HAHAHA)


“ Terimakasih sudah mengajari Luna hal hal baik ya Bu, maaf tempo hari Luna kasar dan terkesan kurang ajar pada Ibu,” ujar Luna dengan sopan setelah menyuapi wali kelasnya sepotong kecil kue miliknya.


“ Ibu jua minta maaf karena membuat kamu marah tempo hari, ibu tidak serius melukannya,” ujar wali kelas itu dengan tersenyum.


“ Baiklah, silakan nikmati acara ini, silakan nikmati hidangan yang tersedia, maaf bila kurang memuaskan teman – teman semua,” ujar Joran dengan senyum di wajahnya, membuat teman – teman perempuan Luna memekik kegirangan.


“ Lun, gue minta nomor kakak Lo yah, please, gue beliin tas keluaran terbaru deh,” ujar Ghea yang mendekat kearah Luna, membuat gadis itu menggeleng heran melihat tingkahnya.


“ Kasih ke gue aja, bakal gue traktir bakso selama seminggu,” sahut Sheila dengan wajah penuh harap.


“ Kalian minta sendiri aja yah, gue gak mau ikut – ikutan,” ujar Luna sambil mengangkat tangannya dan meninggalkan mereka yang berdebat dan mengerucutksn bibir mereka karena Luna enggan membantu mereka.


Luna berjalan menuju Radith yang mengambil minuman bersoda warna merah, lelaki itu berkumpul dengan Arka, Satria dan Firman, entah apa yang mereka bicarakan.


“ Eh Lun, gue tah Lo kaya raya, tapi gue gak nyangka Lo sekaya ini,” ujar Arka tanpa filter di mulutnya.


“ Hahaha, bokap gue kalik yang tajir, gue mah Cuma bisa minta, kalian kalau mau sering – sering aja main kesini, Radith aja betah karna makanan Chef disini enak enak,” ujar Luna dengan santai menangggapi perkataan Arka.


“ Wah, Lo kalau yang enak – enak gak mau bagi bagi ya dith, curang Lo,” ujar Firman sambil mendorong ringan Radith yang sedang minum, membuat lelakai itu tersedak dan kaget.


“ Kampret Lo!” seru Radith sambil membersihkan tangannya dari cairan merah itu.


“ Eh Lun, Lo beneran ada apa – apa sama Radith ya? Tadi Lo suapin dia gitu?” Tanya Satria yang tiba – tiba kepikiran hal itu.


“ Enggak juga, gue lihatya Radith y ague kasih ke Radith lah, kecuali kalau gue lihat nya Elo,” ujar Luna sambil mengedikkan bahunya


“ Lo bakal kasih rotinya ke gue?” Tanya Satria dengan wajah berbinar


“ Ya enggak, gue bakal cari Radith dan kasih ke dia,” ujar Luna dengan tengil dan tertawa, membuat Satria mengerucutkan bibirnya karena kesal.


“ Serius nanya deh, hubungan kalian itu apa sih?” Tanya Firman dengan wajah penasarannya


“ Teman, tapi gue suka, dianya enggak, hahahah,” ujar Luna dengan nada bercanda, padahal itu yang sebenarnya terjadi.


“ Radith? Loh dia kan…..” Firman tampak menggantungan perkataannya karena dia melihat Radith yang menatapnya tajam


“ Jelek, mana pantes dia disukain sama o, mending juga sama gue Lun,” ujar Firman sambil terkekeh membuatnya disoraki oleh Arka dan Satria. Jelas – jelas Radith jauh lebih tampan dari Firman jika dilihat dari segi manapun.


“ Hahaha, udah Luna sama gue aja daripada kalian rebutan gak jelas,” ujar Arka menimpali guyonan mereka.


“ Sama aja lah bego, Lo juga rebutan dia,” sahut satria sambil melempari arka remahan kue kering yang dia pegang.


“ Udah ah, gue mau keliling cobain makanan satu satu, kapan lagi gue bisa makan enak kayak gini,” ujar Firman yang meninggalkan mereka.


“ Tungguin woy, Lo pada ikut gak?” Tanya Satria yang menengok ke arah mereka, hanya Arka yang mengangguk hingga akhirnya dua orang itu berjalan mengikuti Firman yang mencoba makanan ala ala kritikus makanan.


“ Gue tahu Lo gak bercanda sama pernyataan Lo tadi,” ujar Radith sambil mengesap sodanya.


“ Yaps, lo bener,” jawab Luna dengan santai.


“ Lo harus lupain gue, secepatnya,” ujar Radith tanpa melihat Luna dan berjalan menjauh.


“ Semoga ya dith,” lirih Luna sambil tersenyum miris.



Acara selesai saat hari sudah petang, karena Luna mengundang semua tetangga dan teman teman di sekolahnya melalui aplikasi pesan, sehingga orang bertadangan silih berganti, undangan yang menyertakan kalimat ‘ tidak perlu membawaa kado.’ Membuat mereka dengan tenang datang ke acara tersebut.


Luna berjalan masuk untuk membilas tuuhnya yang terasa pegal dan lelah, semoga air hangat bisa membuat tubuh fit nya kembali.


“ Setelah mandi langsung keluar yah, kita mau bakar bakar ayam sama ikan,” ujar Jordan setengah berteriak yang dijawab Luna dnegan acungan jempolnya.


Gadis itu memerlukan waktu tiga puluh menit untuk mandi dan berendam di air hangat, dan memakai baju santainya lalu keluar dari kamarnya.


Luna langsung dikejutkan oleh seseorang yang sedari tadi dia cari keberadaannya, dan kini lelaki itu berdiri di depan ruangan yang tak jauh dari kamarnya.


“ Hai Lunetta, masih marah sama aku?” ujar orang itu dengan tersenyum manis.