
Sebuah ballrom yang ada di hotel ternama di Indonesia kini sudah di desain mewah dengan tema rosegold, warna yang cantik untuk sebuah moment yang tak cantik, begitulah yang dipikirkan oleh Darrel. Lelaki itu memakai jas hitam dipadukan oleh kemeja berwarna pink soft, dengan sepatu mengkilap dan rambut yang tidak berubah karna berpotongan model tentara.
" Papa senang akhirnya kamu mengambil keputusan, meski kamu terpaksa, papa harap kamu bisa menerima semua dengan iklas, papa yakin ada jalan terbaik untuk kamu," ujar tuan Atmaja sambil menepuk pundak putranya. Darrel tersenyum masam karna memang dia tak pernah ingin tunangan dengan Fera.
Tampak gadis bergaun indah turun dari lantai atas dengan indahnya, semua mata tertuju pada gadis itu dn menatap kagum, hanya Darrel yang bahkan enggan mendekat dan memilih untuk pergi dari tempat itu menuju balkon untuk mencari udara segar. Ternyata di balkon ada Angga dan Dara sedang mengobrol, dengan iseng Darrel datang dari belakang dan merangkul kedua orang itu bersamaan.
" Ngapain kalian berduaan disini, ntar yang ketiga setan loh," ujar Darrel menggoda mereka dengan wajah tengilnya, mereka tampak kaget dan kesal, bahkan Dara langsung menabok pipi Darrel dan Angga langsung menyikut perut lelaki itu.
" Lo setannya njir, ganggu aja L orang lagi pedekate juga," ujar Angga dengan kesal karna dia merasa terganggu dengan kehadiran Darrel, lelaki itu sungguh tak tahu situasi dan tak bisa mengerti niat Rafa yang sudah ngebet untuk menjadi kekasaih Dara, astaga lelaki itu.
" Kalian tuh gak boleh berdua duaan disini, hibur gue kek, males gue lihat mak lampir itu," ujar Darrel dengan ucapan sedih, Angga dan Dara langsung terdiam dan melirik Darrel dengan tajam, memebuat Darrel meringis dan langsung mundur perlahan dari kedua orang itu.
" Hehehhe, ampun deh gue ampun, kalian lanjut aja deh gue mau masuk aja, syalala kalian gak usah aneh – aneh, ntar malah jadinya Dara ngelangkahin gue kawinnya," ujar Darrel yang tak gentar meledek Angga dan Fera, kedua orang itu langsung melempar Darrel dengan appaun yang mereka bawa, membuat Darrel tertawa puas dan masuk ke dalam ruangan lagi.
" Kakak Lo tuh?" tanya Angga dengan wajah mirisnya, kasihan sekali Dara harus menghadapi lelaki seperti Darrel setiap hari mulai saat ini dan seterusnya.
" Sayangnya sih iya," jawab Dara santai sambil mengedikkan bahunya, Angga menjentikkan jarinya dan menatap Dara dengan wajah seriusnya, Dara menatap Darrel dengan bingung dan menaikkan alisnya tanda bertanya.
" Tiap hari gue bakal ke rumah Lo dan main biar Lo ada temennya dan gak harus ketemu sama Darrel, bagus kan ide gue?" usul Angga dengan wajah girangnya, Dara menatap Angga dengan tatapan ngeri dan menggeleng cepat beberapa kali membuat Angga merengut seperti anak kecil yang permintaannya tidak terpenuhi.
" Yaudah lama – lama juga mau sama babang Angga yang ganteng ini, abang Cuma suka sama neng Dara kok sementara ini, dan seterusnya deh ya, hehehe."
Dara hanya mengangguk dan membiarkan Angga bertingkah sesukanya, jika nanti dia tertarik dan Angga adalah Jodohnya, pasti ada jalan untuk bertemu dan bersama dengan lelaki itu, hahaha.
*
*
*
" Lun, Lo yakin mau datang? Kalau Lo gak mau datang gue gak akan maksa Lun." Sedari tadi Radith terus menunggui Luna di pintu sementara Luna berias, gadis itu ingin terlihat sempurna di acara Darrel tersebut, bahkan Luna cukup terkejut ternyata pertunangan itu sungguh di selenggarakan. Luna kira Darrel membatalkan pertunangan itu.
" Kan kak Darrel yang minta gue dateng dith, masak gue udah diundang malah gak datang? Gak sopan dong," ujar Luna sambil terkekeh dan memoles liptint yang sedikit berwarna merah meski tak terlalu menyala. Gadis itu sudah menata rambutnya, yah meski dengan bantuan penata rambut sih.
" Tapi kan dia sengaja bikin Lo sakit hati Lun, masak Lo mau aja sih?" tanya Radith dengan gusar, lelaki itu tetap merasa tak tenang karna masalah ini, bagaimana mungkin ada lelaki semacam Darrel di dunia ini? Bahkan lelaki itu tak merasa bersalah sedikitpun saat mengundang Luna lewat dirinya.
" Gak papa, gue percaya sama dia dith, gue yakin dia gak sebegitu jahatnya sama gue, kalaupun dia jahat, gue yakin pasti ada alasannya karna kemarin dia udah bilang gitu ke gue," ujar Luna dengan tenang sambil menengok ke kiri dan kanan memastikan tak ada yang kurang dengan penampilannya.
Luna memakai gaun selutut berwarna biru gelap yang gemerlap, nampak cantik dan seksi namun tidak terbuka, bahkan Radith sendiri sampai terkejut karna Luna begitu berbeda dengan pakaian dewasa ini, biasanya Radith hanya melihat sisi manja Luna, kini dnegan matanya sendiri dia melihat Luna secantik itu.
" ck, sayang banget yang beginian di bagi bagi," ujar Radith tanpa sadar saat Luna berdiri dan mengibaskan gaunnya untuk melihat gaun itu saat dia bergerak, Luna tentu menengok dan menatap Radith dengan tatapan bingung.
" apanya dith?" tanya Luna dengan bingung dan melihat dirinya sendiri, apakah ada yang salah atau membuat Radith tak nyaman? Atau menampilannya berlebihan?
" Gak, nih gue lihat orang dapat undian, tapi malah dibagi – bagiin kan sayang," ujar Radith mengangkat ponselnya yang bahkan dalam mode mati, namun Luna tak mengetahui itu. Luna mengangguk dan membentuk mulutnya dengan huruf O.
" owalah, kirain lagi komentarin gue, udah baper juga guenya," ujar Luna yang tidak dijawab oleh Radith, lelaki itu menghela napas lega karna Luna tidak menyadari ucapannya. Ada untungnya juga menghadapi Luna yang oon, dia bisa bertindak atau berbicara sesukanya dan mengalihkan pembicaraan saat Luna mulai menyadarinya.
" Lo udah belum sih? Gak usah banyak dandan, Lo tuh Cuma tamu undangan, di kondangannya mantan, malah pingsan susah Lo," ujar Radith dengan pedas tanpa penyaring sedikitpun. Luna langsung merengut dan merasa sebal karna ucapan jujur dari Radith, lelaki yang memang tak memiliki hati atau belas kasihan sedikitpun.
" Yaudah ayo berangkat, orang gue udah siap dari tadi kok," ujar Luna yang mengambil tas berwarna serupa dan sepatu dengan hak 2 senti berwarna hitam dengan hiasan yang elegan. Gadis itu kembali melihat cermin untuk memastikan penampilannya dan akhirnya Luna berjalan ke arah Radith yang tampak super bosan menunggu Luna.
" Selesai juga Lo? Sampai sana acaranya udah selesai Lun," ujar Radith dengan kesal setelah melihat jam tangan di tangannya, Luna terkekeh sebagai jawaban dan menggeleng karna sebenarnya yang salah disini adalah Radith.
" Lo datang kesini satu jam sebelum acar mulai, dan bahakn sekarang acaranya belum Mulai bego, Lo nya aja yang terlalu semangat buat ketemu gue, ye kan?" tanya Luna dengan centilnya, Radith langsung memasang wajah dingin sebagai jawaban.
" Eh kok tahu sih? Habis ini langsung mangkal gue, lumayan buat uang jajan," jawab Luna asal sambil berjalan setelah mengunci pintunya. Radith tertawa karna pengakuan ngawur Luna, gadis itu banyak berubah dan lebih santai dibanding saat mereka pertama bertemu, bahkan Luna jauh lebih dewasa, yah, itu sih yang dirasakan Radith.
" Dith, gue jauh lebih cantik dari Fera gak ya? Gue pingin kelitahan lebih wah dari dia," ujar Luna yang ta henti melihat ke arah cermin yang ada di dalam mobil. Oke, Radith menarik kata – katanya. Luna memang tidak manja, namun sikap childish ( kekanak kanakan) sepertinya sudah mendarah daging di jiwa anak itu.
" Lo datang ke pertunanagan itu Cuma mau adu kecantikan? Kenapa gak ikut Miss Indonesia aja kalau gitu?" tanya Radith yang sempat melirik ke arah Luna, gadis itu mengangguk emangat tanpa malu karna memang itu kenyataannya.
" Biar Fera minder terus batalin petunangannya deh, hahahha," jawab Luna dengan asal dan bahagia, namun tidak dengan Radith, lelaki itu hanya melirik Luna dengan tatapan tak suka, sungguh niat yang buruk, namun entah mengapa ada secuil rasa setuju dengan Luna dan merasa gadis itu perlu melakukannya.
" Udah, Lo tuh udah asli cantik, Mau di gimana gimana in juga cantik, kalau berlebihan malah kayak bule cabe cabean, bego. Lo natural aja biar cantik," ujar Radith mengeluarkan opini yang sebenarnya dari lubuk hatinya, namun Radith mengatakannya dengan ketus seakan dia tak suka dengan apa yang dilakukan oleh Luna saat ini.
" Dith? Lo beneran ngakuin kalau gue cantik? Kok Lo nolak gue berkali – kali? Kayak gini gak berlebihan kan dith? Gue gak mau kayak cabe cabean, ayo pulang aja gue hapus semua make up nya," ujar Luna sedikit panik dan memegang wajahnya untuk melihat kekurangan dari wajahnya.
" Gila Lo! Gak ada! Gak berlebihan kok, asal tingkah Lo gak centil kek tadi, jijik tauk. Lagian gue gak mau antar Lo balik lagi, buang buang waktu," ujar Radith dengan wajah sinisnya. Tunggu dulu, lelaki itu kan selalu berwajah sinis? Ah entahlah, yang jelas Luna kini merasa percaya diri karna Radith mengakui kecantikannya.
Mereka sampai di tempat yang sudah mulai ramai itu. Radith memarkirkan mobilnya tanpa menurunkan Lunaterlebih dahulu, lelaki itu tak akan mungkin tega Luna berjalan sendirian di dalam sana, apalagi sampai Luna digoda oleh lelaki yang ada disana, Radith mana mungkin tega Luna mendapat perlakuan seperti itu?
" Halah! Ngomong aja Lo gak terima kalau gue digodain sama orang lain, Lo cemburu kan? Iya kan? Ngaku gak Lo? Gue jilat nih kalau gak ngaku," ujar Luna menanggapi alasan Radith yang membuatnya harus berjalan lebih jauh. Gadis itu memasang wajah serius yang membuat Radith gemas dan meraup wajah gadis itu dengan tangannya yang cukup besar bagi Luna.
" Make up gue ancur bego!" seru Luna menyingkirkan tangan Radith dari wajahnya, lelaki itu terkekeh karna berhasil membuat Luna kesal dan melupakan sikapnya yang tadi memojokkan Radith, lelaki itu sebenarnya juga bingung mau menajwab apa, jadilah dia bertingkah untuk mengalihkan pembicaraan
" sekali lagi dan terakhir kali gue tanya ke Lo, Lo beneran mau masuk ke dalam sana, kalau Lo beneran mau masuk kita harus ada disana sampai acaranya selesai, kalau Lo ragu kita pulang sekarang," ujar Radith yang tentu masih mempedulikan Luna dan hatinya, Radith tak mau kejadian yang sama menimpa Luna kala Luna merasa sakit padanya.
" Gue yakin dith,, Lo gak usah nanya gitu terus ntar gue baper lagi sama Lo," ujar Luna dengans antai sambil merapikan rambutnya lagi, sebenarnya Luna sedikit kesal dengan rambut pendeknya, membuatnya sulit menemukan riasan yang sesuai, untung saja hair stylies yang profesional membuatnya tampak lebih cantik.
" Emang Lo udah gak baper sama gue?" tanya Radith dengan tatapan menyelidik meski tak begitu nampak, Lunamengedikkan bahunya sebagai jawaban, jawaban yang ambigu yang tidak bisa memuaskan Radith. Memuaskan? Hmmmm.
" Gue gak tahu gue masih bingung sendiri, tapi gue sih udah gak begitu mikirin Lo, malah lebih sering mikirin kak Darrel, kalau kayak gitu berarti gue udah gak baper kan sama Lo?" tanya Luna secara blak – blakan membuat Radith cukup terkejut dengan pengakuan itu. Ada rasa tak suka? Ya, Radith merasakan hal itu entah karena apa,
" Yok turun keburu acaranya mulai," ujar Radith mematikan mesin mobil dan langsung turun dari sana, membukakan pintu untuk Luna dan berjalan beriringan dengan gadis itu. Mereka yang melihat mungkin mengira Radith dan luna dalah pasangan yang serasi dengan Radith yang memakai kemeja biru gelap. Yah, bukan ingin bercouple ria dengan Luna, karna Radith menyukai warna biru saja, Luna yang mungkin ikut – ikut Radith,
" Lo gak usah jauh jauh dari gue, ntar kalau nangis susah ngdieminnya," ujar Radith berbisik di telinga Luna yang mendapat hadiah cubitan di perut Radith.
Tak lama acara pun dimulai dan pembawa acara membawakan acara dengan apik, serangkaian acara pembuka sudah dilaksanakan, kini tinggal menunggu Darrel yang entah ada dimana untuk keluar dan menemui Fera yang sedari tadi berdiri dengan senyum lebarnya.
Sebelum acara Darrel mengatakan dia akan memberikan kejutan yang tak terlupakan untuk Fera, makanya gadis itu tak henti tersenyum, akhirnya Darrel menerima perjodohan ini dengan senang hati, begitulah pikirnya. Tak lama Darrel muncul entah dari mana dengan membawa microphone yang menempel di pipinya.
" Hari ini saya akan mengikat seorang gadis, dengan sepenuh hati saya akan menjalani sisa hidup saya bersamanya."
Mendengar itu hati Luna mencelos. Dia *** gaunnya untuk menahan tangis, tak menyangka Darrel mengatakan hal itu, kata kata yang mirip saat Darrel mengajaknya bertunangan kala itu, namun kini lelaki itu melamar gadis lain, di depan matanya sendiri, bagaimana bisa Luna menggambarkan semua ini?
" Lun?" tanya Radith yang khawaitr pada Luna karna gadis itu muali bergetar. Luna emnggeleng dan bertekad untuk menghadiri acara ini sampai akhir, biarlah dia tahu apa maksud Darrel sebenarnya karna Luna sungguh sudah percaya pada Darrel dan pasrah saja jika akhirnya dia akan disakiti untuk kesekian kalinya.
Darrel mulai berjalan dan mengeluarkan sebatang mawar putih yang indah, Fera bahkan mulai berkaca – kaca karna terharu. Lelaki itu mulai mendekat ke arah Fera dengan langkah perlahan, semua itu bisa disaksikan oleh Lunetta, namun Luna tetap tegar dan melihat semua itu dnegan jelas, merekam setiap apa yang dia lihat ke dalam otaknya.
" Fera Sadilla, Makasih karna kamu udah adain acara pertunangan ini, acara ini membantu banget buat aku ngelamar orang yang aku sayang, makasih udah mau jadi cinta masa kecil aku dan tetap cinta sama aku sampai sekarang."
Fera mengangguk dan mengulurkan tangannya untuk menerima mawar yang ada di tangan Darrel, namun Darrel tiba – tiba menarik tangannya dan tersenyum miring, berjalan ke arah samping dan menghampiri seseorang yang ada disana.
" Makasih Fer, karna kamu udah bantu aku buat ngelamar dia, Lunetta Azura, dihadapan papa dan kalian semua. Gadis cantik yang aku cintai, gadis manis yang tulus dan tak pernah menyimpan benci, Lunetta Azura Wilkinson, maukah kamu kembali menjadi tunanganku? Mengikatku dalam hatimu?"
Seketika semua mata yang ada disana melotot memandang Darrel dengan kaget