
Nezia mengerutkan dahi dengan dalam, belum mengerti kemana arah pembicaraan sang calon suami yang penuh teka-teki.
"Berbagi peluh dan saliva, Neng," lanjut Faris, pelan.
"Dasar, mesum! Belum juga akad, udah mikir jauh!" tegur seseorang sambil menyentil telinga Faris.
"Ck ..., Om!" Faris berdecak seraya menyapa orang yang baru saja datang tersebut. "Namanya juga lagi usaha, Om," lanjutnya terkekeh.
"Sudah Neng Inez, tinggalkan saja Mas Faris yang pikirannya lagi ngeres ini," titah Pak Tarigan kemudian, yang sudah mendudukkan diri di samping Faris.
"Faris jadi begini 'kan gara-gara Om juga, sama Mas Duta dan Mas Yoga!" protes pemuda berwajah manis tersebut seraya melirik Pak Tarigan.
"Tiap ketemu pembahasan kalian seputar itu, melulu! Gimana enggak terkontaminasi coba, otak Faris yang masih polos dan suci!" lanjutnya dengan mimik kesal.
Pak Tarigan terkekeh. Duta dan Yoga yang ikut mendekat dan bisa mendengar protes dari Faris, ikut terkekeh.
"Halah, otak polos dan suci dari Hongkong!" cibir Duta masih dengan tawanya. Ayah satu anak tersebut langsung duduk di hadapan Faris.
"Lagian kamu, bukannya menyingkir pergi, tetapi malah mendekat dan kepo," timpal Yoga di sela-sela tawanya.
"Mending kalau cuma kepo, Ga. Lah dia, keponya tingkat dewa," imbuh Duta, membuat pipi Faris memanas pasalnya masih ada sang calon istri di sana.
"Silahkan, Neng, kalau mau perawatan dulu. Takutnya ibu sudah nungguin kamu," ucap Faris mengingatkan sang calon istri.
Sengaja mengusir dengan cara halus agar calon istrinya itu tidak mendengar dirinya dibully oleh para senior.
"Oh, iya, Kang. Kalau gitu, Inez permisi dulu, Om, Mas," pamit Nezia seraya tersenyum ramah pada senior-senior Faris.
"Assem kalian! Masak di depan Neng Ganis Faris dibantai!" Pemuda tersebut kembali protes setelah Nezia menjauh dari mejanya.
"Kapan lagi, Ris. Nanti, kalau kamu sudah menjadi ๐ต๐ฉ๐ฆ ๐ณ๐ฆ๐ข๐ญ Sultan, kami 'kan enggak mungkin melakukannya. Pasti sungkanlah," balas Duta.
"Jangan gitulah, Mas. Faris akan tetap menjadi diri Faris yang kalian kenal," sanggah Faris. "Faris yang ganteng, ๐ฉ๐ถ๐ฎ๐ฃ๐ญ๐ฆ, baik hati, penuh pengertian, ringan tangan dan suka menolong, serta rajin menabung," lanjutnya, terkekeh.
"Cih, ngelantur aja, nih, bocah!" cibir Yoga sambil melemparkan sedotan bekas Nezia ke arah Faris.
"Benar, Mas, Om. Faris tetaplah Faris yang sama karena bagi Faris, enggak ada istilah ๐ต๐ฉ๐ฆ ๐ณ๐ฆ๐ข๐ญ Sultan. Pada dasarnya kita semua ini 'kan sama di mata Allah, hanya amal baik yang membedakan derajat kita," lanjutnya kemudian.
Pak Tarigan mengangguk, membenarkan. "MasyaAllah, om senang bisa mengenal Mas Faris dan Mbak Tia. Semenjak mengenal kalian berdua, kami jadi belajar banyak ilmu agama," ucap Pak Tarigan seraya menatap Faris dengan penuh kekaguman.
Bagi Pak Tarigan, Duta dan Yoga, Faris dan kakaknya ibarat oase yang mereka temukan di padang tandus. Menyejukkan hati dan menyegarkan jiwa yang sebelumnya gersang akan iman.
Mereka bertiga masih terus melanjutkan obrolan, hingga pihak WO datang kembali untuk melanjutkan tugasnya mendekorasi ruangan setelah tadi sempat terjeda karena ada acara makan siang bersama antara dua keluarga besar.
๐น๐น๐น
Di kamar khusus untuk perawatan calon pengantin, gadis cantik tersebut tengah menjalani serangkaian perawatan dari pihak MUA yang telah disewa oleh Bu Nisa untuk merias sang putri tercinta.
Perawatan yang menjadi satu paket dengan rias pengantin, yang dilakukan oleh terapis professional ibukota yang sudah memiliki jam terbang tinggi.
Nezia saat ini tengah ๐ฅ๐ช-๐ฎ๐ข๐ด๐ด๐ข๐จ๐ฆ setelah terlebih dahulu seluruh tubuhnya diluluri dengan lulur rempah yang telah dicampur dengan madu dan minyak zaitun. Kuku kaki dan tangan juga sudah dipotong rapi.
Gadis itu nampak sangat menikmati pijatan lembut dari tangan halus sang terapis. Nezia bahkan sampai ketiduran.
Nezia terbangun, ketika sang terapis memintanya untuk membalikkan badan menjadi berbaring karena akan diaplikasikan masker di wajahnya.
"Tidak mengapa, Mbak. Hampir semua ๐ค๐ถ๐ด๐ต๐ฐ๐ฎ๐ฆ๐ณ saya juga seperti itu, enak katanya," balas sang terapis seraya tersenyum puas karena kliennya nyaman dengan servis yang dia berikan.
Nezia kembali tertidur ketika rambutnya di creambath oleh terapis khusus rambut. Pijatan lembut di kepala Nezia, membuat gadis itu merasa rileks dan sejenak melupakan ketegangan menghadapi pernikahan dadakannya.
"Nduk, Nez," panggil Bu Nisa yang baru saja masuk ke dalam kamar. "Kamu ketiduran? Enak banget, ya?" tanya wanita paruh baya tersebut, seraya tersenyum menatap sang putri yang baru saja membuka matanya.
"Hehe ... iya, Bu," balas Nezia seraya tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang putih bersih.
"Ayah tanya, Dito mau dikabari, tidak?" tanya Bu Nisa.
Nezia menghela napas panjang. "Terserah gimana baiknya menurut Ibu dan ayah saja," balas Nezia, pasrah. "Ada dia atau tidak, tidak berpengaruh apa-apa buat Inez," lanjutnya yang sudah menganggap Dito tidak penting lagi keberadaannya.
"Ya sudah, ibu hanya mau menanyakan itu," tutur Bu Nisa. "Sudah, jangan tidur lagi. Sudah hampir ashar, buruan mandi, sholat, karena kamu harus segera dirias." Wanita anggun itu mengingatkan sang putri, sebelum meninggalkan kamar tempat Nezia menjalani perawatan.
๐น๐น๐น
Bakda ashar, Nezia sudah tampil sangat cantik dan manglingi. Calon pengantin wanita itu mengenakan kebaya putih, dipadukan dengan kain jarik batik motif sido mukti.
Ada makna yang tersirat dari kain pemilihan batik tersebut, diharapkan sang pengantin memiliki kepribadian yang luhur. Mereka juga diharapkan untuk bisa lebih bijaksana saat hidup bersama, sehingga berbagai permasalahan dapat dilewati dengan tabah dan lancar. __unknown__
"Sudah siap?" tanya Lila dan Lili yang akan mengawal sahabatnya itu menuju ๐ฃ๐ข๐ญ๐ญ๐ณ๐ฐ๐ฐ๐ฎ hotel, tempat akad nikah akan dilangsungkan.
"InsyaAllah, siap," balas Nezia seraya tersenyum.
Kedua putri kembar Om Devan tersebut segera menuntun Nezia menuju ๐ฃ๐ข๐ญ๐ญ๐ณ๐ฐ๐ฐ๐ฎ dan kemudian mendudukkan sahabatnya itu di samping Faris yang telah bersiap di sana sejak beberapa saat yang lalu.
Faris terpukau dan tak berkedip melihat kedatangan sang calon istri. Pemuda tersebut bahkan sampai lupa bernapas.
"Woy, awas ada lalat!" Duta yang duduk di deretan bangku belakang Faris, menepuk pundak pemuda ganteng tersebut, hingga membuat Faris gelagapan.
Yang lain tertawa melihat tingkah pemuda tersebut, sementara Nezia tersenyum simpul.
Faris segera menghirup udara sebanyak-banyaknya, untuk mengisi penuh rongga paru-paru yang hampir kosong karena lupa bernapas tadi.
"Neng, kamu cantik sekali," bisik Faris kemudian, membuat pipi Nezia semakin merona merah.
Penghulu yang sudah datang semenjak tadi segera menempatkan diri karena acara ijab qabul akan segera dilaksanakan.
Faris nampak sangat percaya diri, bibirnya terus menyunggingkan sebuah senyuman yang menawan.
Terdengar MC yang sore ini memandu acara mulai bersuara. Acara demi acara pun berjalan dengan lancar, hingga tiba pada inti acara yaitu ijab qabul yang akan dilaksanakan sendiri oleh Ayah Alex selaku wali dari pengantin wanita.
Ayah Alex menggenggam erat tangan Faris seraya menatap dalam calon menantu di keluarga Alexander Jonathan, membuat Faris menelan saliva dengan susah payah.
Tiba-tiba saja pemuda tersebut merasa sangat grogi, bulir keringat sebesar biji jagung nampak memenuhi dahinya.
Om Ilham sigap mengulurkan kotak tissue pada Nezia. "Nez, lap dulu keringat calon suami kamu," titahnya.
"Bang Alex dari dulu memang menyeramkan, Ris, wajar kalau kamu takut," ucap Om Ilham seraya terkekeh, yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari kakak iparnya tersebut.
โโโโโ bersambung ...