
Luna menunggu satu jam sementara dokter bekerja di dalam sana untuk menyelamatkan Darrel. Luna terus berdoa agar semua berjalan lancar, dia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada calon suaminya itu. Sementara Radith yang ikut menunggu hanya menundukkan kepala dan berdoa yang terbaik untuk dua orang di hadapannya. Setelah itu Radith merasa blank dan hanya melihat ke arah Luna. Entah pa yang ada di pikirannya.
" Dith, Lo lihat kak Darrel ada di rumah sakit, Lo ikutin dia dan dia kecelakaan?" tanya Luna dengan air mata yang sudah menetes dari matanya. Radith hanya mengangguk mendengar pertanyaan itu. Melihat Luna sesedih ini saat Darrel kecelakaan, entah mengapa muncul rasa tak enak di hati Radith. Meski lelaki itu sadar tak boleh melakukannya.
" Lo tanya gak dia ngapain di rumah sakit? Karna dia pamit ke gue tuh mau pulang, dia udah pucet banget tadi dari rumah gue, katanya mau istirahat di rumah aja, tapi kenapa dia malah ke rumah sakit?" Radith tak langsung menjawab pertanyaan itu, dia memikirkannya sendiri. Jika keadaannya seperti yang Luna katakan, berarti Darrel sudah berbohong.
' Kenapa dia bohong? Atau sebenernya dia gak Cuma mau kontrol kesehatan? Atau..' Radith dan Luna mendongak saat lampu di ruang operasi mati. Luna langsung berdiri dan menatap ke arah pintu dengan cemas, begitu juga dengan Radith yang tadi masih menerka maksud Darrel membohongi mereka.
" Kalian anggota keluarga pasien?" tanya dokter yang keluar dari dalam ruang operasi sambil melepas masker yang menutupi wajahnya. Jika saja Lunaa tak sedang panik, dia pasti akan memilih untuk mengagumi wajah dokter itu. Meski sudah tak muda lagi, aura tampan tetap terpancar dari wajahnya.
" Saya temannya dok, dan dia tunangannya. Bagaimana kondisi pasien dok?" tanya Radith yang memotong meski Luna sudah membuka mulutnya. Dokter itu mengangguk samar dan melihat ke arah Luna dengan tatapan sedih. Luna yang ditatap pun semakin bertambah cemas dan berpikiran yang tidak tidak.
" Saya harap kamu mencintai pasien dengan tulus dan memberikan pasien dukungan moril agar pasien memiliki rasa percaya diri untuk melanjutkan hidupnya." Perkataan dokter yang sama sekali tak Luna mengerti membuat gadis itu tak sabar dan mendesak dokter untuk mengatakan kondisi Darrel. Dokter tersebut menarik napasnya dan kemudian menjawab.
" Saya kira kondisi kaki pasien tidak parah, namun ternyata pasien mengalami keadaan dimana saraf di kakinya terluka parah. Kami sudah berusaha, namun tetap saja kaki pasien tidak dapat dipulihkan seperti semua," ujar dokter yang tampak menggantungkan kata – katanya. Luna menunggu dengan tak sabar, sementara Radith hanya diam dan menyimak keduanya.
" Pasien mengalami kelumpuhan total pada kedua kakinya. Setelah ini, pasien tidak dapat menggerakkan kakinya lagi. Pasien kemungkinan besar akan sulit menerima kondisi ini, maka dari itu saya harap pihak keluarga pasien bisa memberikan dukungan lebih agar pasien semangat untuk melanjutkan hidupnya terlepas dari kondisinya saat ini."
Luna langsung terduduk dan menatap lantai dengan pandangan yang kosong. Tetes demi tetes air mata mulai jatuh, namun dia tak terisak atau bahkan bergerak sedikitpun, seakan jiwanya sudah pergi entah kemana. Radith pun merasakan hal yang sama. Membayangkan Darrel si pekerja keras tak bisa berjalan lagi di sisa hidupnya, entah bagaimana hancurnya lelaki itu.
" Pasien akan dipindahkan di ruang rawat biasa, setelah ini kalian bisa menjenguk pasien, saya harap kalian bisa mengerti perasaan pasien dan tidak membahas hal ini berlebihan, serta tidak menunjukkan wajah kasihan karna itu akan sangat berpengaruh dengan kondisi mental pasien. Saya permisi dulu." Dokter itu pergi begitu saja, sementara Luna memandang Radith dengan tatapan yang tak bisa diartikan lagi.
" Ingat kata dokter, Lo gak boleh kelihatan hancur di depan dia, Lo harus kasih semangat buat dia, hapus air mata Lo," ujar Radith yang membuat Luna mengangguk samar. Gadis itu masih belum bangun dari duduknya, dia mengelap air matanya dengan lengan bajunya, padahal biasanya dia akan jijik jika melihat orang lain melakukan itu.
" Kenapa dith? Kak Darrel orang baik, dia bahkan sangat baik. Dia gak pernah mau orang di sekitarnya terluka, bahkan dia sempat mau balikan sama mantannya karna gak mau mantannya sakit hati, Lo ingat kan peristiwa itu? Kak Darrel selalu tulus Dith, bahkan dia selalu tunggu ggue di saat dia tahu gue Cuma suka sama Lo, tapi, tapi kenapa dia harus jadi kayak gini?" tanya Luna dengan lemas.
Radith tak tahu harus menajwab apa. Lelaki itu juga tak menyangka semua terjadi begitu saja. Jika tahu Darrel akan jadi seperti ini, dia akan memaksa Darrel masuk ke mobilnya dan tak membiarkan lelaki itu menyetir sendiri. Ada rasa bersalah yang begitu besar saat Radith menyadari hal itu. Namun semua sudah terlambat, dia tak bisa terus menyesali apa yang sudah terjadi.
Pintu operasi terbuka. Menampakkan Darrel yang belum bangun dari 'tidurnya' dibawa oleh beberapa perawat yang ada di dalam ruangan itu. Luna langsung bangun dari duduknya dan membantu Radith, mereka berjalan mengikuti Darrel dari belakang menuju salah satu kamar inap yang ada di sana. Kamar inap yang tadi sudah dipesan oleh Radith.
Baik Radith maupun Luna hanya duduk dan membiarkan suster melakukan tugasnya. Mereka menunggu Darrel untuk bangun setelah suster ijin untuk keluar dari dalam ruangan. Tak ada yang membuka suara. Keadaan menjadi sangat hening karna mereka kacau dengan pikiran mereka masing – masing, bahkan mereka tak menyadari Darrel mengerang dan mulai sadar.
" Radith? Luna? Kenapa Gue ada di rumah sakit? Bukannya gue tadi udah .." Darrel langsung ingat jika Luna dan Radith tak tahu tentang kondisinya. Untung saja dia bisa mengerem apa yang hendak dia katakan dengan tepat waktu. Radith langsung menengok sementara Luna bahkan tak menyadari Darrel sudah bersuara, gadis itu terlalu kalut dan takut akan banyak hal.
" Darrel usah sadar Lun," ujar Radith yang menggoyangkan tubuh Luna, membuat gadis itu menggelengkan kepalanya dan langsung menatap ke arah Darrel yang juga menatap ke arahnya. Gadis itu langsung berdiri dan sedikit berlari ke arah Darrel, mengelus kepala lelaki itu dengan penuh kasih sayang. Tentu Darrel bingung dengan sikap Luna.
" Kenapa kamu nangis sampai kayak gitu? Kamu takut aku kenapa – napa ya? Aku gak papa kok Lun, aku sehat, Cuma tadi kecelakaan kecil aja. Eh? Radith? Jangan – jangan Lo yang tolongin gue dari kecelakaan tadi ya? Makasih ya, maaf udah ngerepotin Lo," ujar Darrel dengan senyum samar di bibir yang pucat itu.
" Kak Darrel, Luna bakal selalu ada di sisi kak Darrel, Luna gak mau kak Darrel nyerah, Luna bakal selalu ada buat kak Darrel, kak Darrel tahu itu kan?" tanya Luna sedikit terisak. Darrel melihat itu tentu semakin bingung, apakah Luna sudah tahu tentang kondisinya?
" Maksud kamu ini Lun?" tanya Darrel yang langsung memasang wajah sedih. Luna mengangguk sambil terisak hebat. Gadis itu langsung memeluk Darrel dengan erat. Darrel terdiam dan menghela napasnya berkali – kali. Lelaki itu menatap ke arah Radith yang hanya diam sambil menatap ke arah mereka.
" Gue keluar dulu, kalian butuh waktu berdua. Kalau butuh apa – apa jangan telpon gue, gue kesusahan nih jalannya," ujar Radith dengan nada bercanda, lelaki itu berdiri dan mendekat ke arah Darrel dari sisi yang bersebrangan dengan Luna. Lelaki itu langsung membisikkan sesuatu yang membuat Darrel sedikit tersenyum.
" Gue yakin Lo kuat. Kayak gini gak akan bisa menghentikan Lo jadi penguasa. Gue tahu Lo bakal terpuruk, tapi jangan lama – lama, nanti gue ambil alih perusahan Wilkinson kalau kelamaan." Itu lah yang dibisikkan oleh Radith. Luna sendiri bisa mendengar apa yang dibisikkan oleh Radith, namun dia diam saja.
Radith langsung keluar dari dalam kamar inap itu segera. Meninggalkan Darrel yang masih terkejut dan Luna yang tetap menangis. Padahal gadis itu sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menjadi kuat agar Darrel juga kuat, namun nyatanya dia tak bisa melakukannya, hatinya terlalu sedih melihat Darrel jadi seperti ini.
" Aku menyedihkan banget Ya Lun? Kamu ngerasa kasihan sama aku Lun?" tanya Darrel yang membuat Luna menggeleng beberapa kali. Bukan kasihan, kata itu tak tepat untuk menggambarkan perasaan Luna. Gadis itu merasa hancur dan seakan bisa merasakan apa yang Darrel rasakan. Gadis itu hanya merasa sedih melihat kondisi Darrel.
" Kalau kamu gak kasihan sama aku, kamu gak usah nangis. Kata dokternya gimana?" tanya Darrel dengan pandangan mata yang menerawang. Luna langsung menjelaskan apa yang dia dengar dari dokter dengan berbata – bata, namun Darrel masih bisa mengerti apa yang Luna katakan. Lelaki itu mengangguk paham dan menutup matanya.
" Permanen ya? Berarti aku udah gak bisa apa – apa Lun setelah ini. Bahkan ketika aku sehat, aku gak bisa jagain kamu dengan becus. Sekarang aku cacat Lun, aku bakal lebih gak bisa jagain kamu. Sekarang aku gak akan nahan kamu buat tetep ada di sini. Kamu boleh pergi dari aku, kamu boleh putusin aku," ujar Darrel dengan air mata yang sudah ada di pucuk matanya.
" Kak Darrel itu ngomong apa? Luna gak akan tinggalin kak Darrel. Luna udah sayang sama kak Darrel, Luna gak akan nyerah karna masalah ini aja. Tadi kak Darrel bialng kak Darrel gak bisa apa – apa? Kak, kak Darrel Cuma gak bisa gerakin kaki kak Darrel, bukan otak kak Darrel, kak Darrel gak boleh pesimis gitu, Luna yakin kak Darrel masih bisa mlakukan banyak hal kak," ujar Luna setelah mengelap air matanya.
" Kamu mikirnya gitu ya? Tapi ini bukan karna kamu ngerasa utang budi sama aku kan Lun? Aku gak mau kalau kamu Cuma kasihan atau mau balas budi ke aku. lebih baik kita selesai sekarang, dibanding kamu menyesal esok hari, aku Cuma mau kamu bahagia," ujar Darrel pelan sambil sedikit terisak. Mungkin ini pertama kali dalam hidupnya dia terisak di hadapan Luna, membuat Luna yakin Darrel sedang tertekan.
" Aku gak pernah ngerasa punya hutang budi sama kak Darrel. Memang ada ya kak?" tanya Luna yang ingin mencairkan suasana agar Darrel mau tersenyum. Namun lelaki itu hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah datar dan memalingkan wajahnya dari hadapan Luna, membuat gadis itu kembali merasa sedih melihat kondisi Darrel.
" Luna tahu kak Darrel butuh waktu buat terima semua, tapi kak Darrel harus yakin kalau kak Darrel bisa bangkit dan bisa taklukkan dunia gimana pun keadaannya. Kak Darrel harus yakin kalau selamanya Luna bakal selalu ada buat kak Darrel, Luna bakal ada di samping kak Darrel dan kak Darrel.."
" Kita putus aja ya Lun, Aku malu dan aku gak mau bikin kamu malu punya pacar yang cacat," ujar Darrel pelan tanpa melihat ke arah Luna. Luna bahkan sampai tak bisa menutup mulutnya yang terbuka, gadis itu sudah berusaha namun Darrel tampak sangat frustasi. Luna langsung terduduk di kursinya dan terdiam.
" Luna bahkan mau terima kak Darrel bagaimanapun keadaannya, tapi kenapa kak Darrel malah nyerah sama keadaan ini? Kak Darrel gak ingat kah perjuangan kak Darrel buat bisa sejauh ini sama Luna? Kak Darrel mau menyerah gitu aja sih kak? Luna sedih lihat kak Darrel kayak gini kak.."
" Aku mau kita putus Luna, aku gak bisa hadapin kamu kayak sekarang. Kamu terlalu sempurna buat aku Lun, aku berusaha keras kerja dan berhasil biar aku bisa setara sama kamu, biar kamu gak merasa aku kurang dan bisa bangga sama aku. Tapi dengan keadaanku sekarang, aku yakin aku gak akan bisa."
" Oke, berarti sekarang waktunya Luna sebutin permintaan Luna yang ke empat. Permintaan Luna yang ke lima, gak ada yang bisa bilang kata pisah, dan kak Darrel harus punya semangat hidup, bareng – bareng sama Luna, apapun keadaannya, kita harus terus bareng – bareng kak," ujar Luna yang membuat Darrel menggelengkan kepalanya.
" Maaf Lun, kalau itu aku gak bisa janji, kamu boleh bminta hal yang lain, apapun itu, selain permintaan kamu yang barusan, aku gak bisa menjanjikan hal itu ke kamu," ujar Darrel dengan dingin tanpa melihat ke arah Luna. Bahkan tanpa adanya kecelakaan ini, Darrel tak bisa menjanjikan hal itu pada Luna.
" Enggak, Luna gak mau punya permintaan lain, Luna Cuma mau itu dan kak Darrel harus mau turutin karna kak Darrel udah pernah janji waktu itu. Luna gak mau kak Darrel jadi cowok yang suka ingkar janji. Luna mau pergi dulu aja, kak Darrel bisa tenangin diri dulu, tapi enggak untuk menimang permintaan Luna, karna itu paten."
Luna langsung berdiri dan meninggalkan Darrel yang masih tak mau memandangnya. Darrel memandang Luna yang keluar melewati pintu dan menghela napasnya saat gadis itu benar – benar pergi. Darrel memandang ke arah kakinya yang tertutup selimut.
" Maaf Lun," ujar Darrel pelan dan menarik selimutnya sampai menutup badannya, menyisakan kepalanya saja. Lelaki itu sudah merasa sangat lemas dan pusing, lebih baik dia beristirahat daripada kondisinya memburuk lebih cepat.