Hopeless

Hopeless
Chapter 130



Blenda sudah tersadar dari tidurnya meski tatapan matanya mulai kosong, membuat bundanya merasa sedih, namun dia tetap merawat Blenda sepenuh hatinya.


Radith yang ada disitu pun juga tak henti menjaga Blenda dan bahkan tak memegang ponselnya sama sekali. Lelaki itu menyuapi Blenda makan dan minum sedangkan bunda menyibini gadis itu, tentu setelah Radith keluar dari ruangan.


"Bunda, sebenernya Dave mau ijin sama Bunda, cuma Dave juga gak enak sekaligue khawatir sama Blenda Bun," ujar Radith setelah Blenda menyelesaikan makannya. Bunda Blenda menatap Radith dengan bingung.


" Maksudnya? Memang kamu mau ijin kemana Dave? Kok kayaknya bakal jauh banget gitu?" Tanya Bunda dengan wajah bingungnya, tentu dia heran karna Radith terlihat gelisah dan ragu untuk mengatakan sesuatu.


" David kepilih buat ngewakilin sekolah ikut lomba bunda, tapi buat persiapannya harus memakan waktu lebih dari dua bulan, Dave ragu mau ikut kesana atau disini aja nemenin Blenda. Dave takut Blenda drop waktu Radith gak ada," ujar Radith yang akhirnya menyampaikan isi pikirannya.


" Atau Dave batalkan saja ya Bunda? Dave mau di sini aja jaga Blenda, kalau Lomba kan ada orang lain yang bisa gantiin Dave, menurut bunda gimana?" Tanya Radith yang memang sudah buntu dan tak tahu harus melakukan apa.


Awalnya Radith antusias mewakili sekolahnya untuk mengikuti lomba ini, apalagi Darrel yang menjadi tutornya, dia ingin membuktikan dirinya layak, apalagi di hadapan Luna, dia ingin Luna melihat bahwa dia lebih hebat dari Darrel.


Namun jika resikonya adalah Blenda, tentu Radith tak mau mengambil resiko itu. Bukan Radith pesimis, namun dia tahu kesempatannya bertemu Radith tinggal sebentar lagi, entah Blenda yang sebentar lagi akan akan berangkat ke luar negeri, atau kemungkinan terburuknya yang lain.


" Kamu berangkat aja, aku gak apa apa," ujar Blenda pelan sambil menatap ke arah Radith. Lelaki itu langsung menengok karna Blenda berusaha nampak dia baik baik saja. Radith tersenyum dan mengelus kepala Blenda dengan pelan.


" Tapi kamu janji loh kamu bakal terus membaik selama aku pergi, waktu aku pulang kamu harus udah pulih, jadi nanti kamu bisa main sama aku, nanti kita pergi dari rumah laknat ini terus main jauhh, oke?" Tanya Radith dengan riang, Blenda terkekeh dan mengangguk, menyetujui syarat yang diajukan Radith.


" Iya aku janji kalau kamu pulang aku udah pulih, kemarin cuma lagi kangen tuh kanker ke aku. Aku udah pernah pulih total, sekarang pasti gampang buat pulih total lagi," ujar Blenda dengan penuh semangat. Radith bertepuk tangan bahagia melihat Blenda yang semangat untuk meneruskan hidupnya.


" Oke deh, aku bisa berangkat dengan tenang kalau gini, abang berangkat, pulang bawa piala, buat eneng tersayang," ujar Radith yang keluar sifat jijiknya. Gadis yang ada dihadapannya tertawa melihat Radith yang dingin, kaku dan galak bersikap seperti itu pada dirinya.


" Kok geli bang? Biasanya aja kek anak anjing lahiran," ujar Blenda sengaja menyindir lelaki itu.


" Anak anjing mana bisa lahiran? Kamu tuh baru bisa, tapi nanti nanti aja ya, aku masih sekolah soalnya," ujar Radith tak termakan omongan Blenda dan malah balik menggoda gadis itu. Radith tahu mood Blenda sangat berperan untuk proses pemulihan gadis itu.


" Bundaaaa, Radith tuh," seru Blenda mengadu pada Bunda dengan wajah kesal karena malu, Bunda hanya terkekeh dan tak mau ikut campur urusan kedua anak itu, Bunda melanjutkan urusannya dengan ponselnya.


Selama Blenda sakit, Bunda lebih memilih menjalankan bisnisnya dengan online, selain menghemat waktu perjalanan, ternyata hasilnya jauh lebih menjamin dan tentu saja efektif karna Bunda tak harus melulu mengontrol jalannya bisnis itu.


" Tuh kan, Bunda udah setuju tentang kita, tunggu aja habis lulus langsung gas," ujar Radith yang langsung tertawa puas karna Blenda tampak memerah namun tak berani menjawabnya. Gadis itu memalingkan wajahnya dari Blenda.


*


*


*


" Radith, Lo beneran harus sama kak Darrel perginya? Kenapa gak Lo pergi sendiri sih dith? Biar kak Darrel gak usah ke luar kota, gue gak perlu LDR an sama dia dith," ujar Luna yang entah keberapa kalinya pada pagi ini.


Radith memijit pangkal hidungnya perlahan, dia tidak tahu harus mengatakan apalagi pada Luna, dalam sehari Luna sudah mengatakan hal ini lebih dari sepuluh kali, bahkan Luna tak berhenti membujuknya meski Radith tak menjawab atau merespon apapun.


" kan udah gue bilang Lun, bukan gue yang nentuin tapi pihak sekolah, yang bisa batalin semua ya Darrel sendiri, gue gak bisa minta pihak sekolah ganti tutor, itu mah namanya gak tahu diri," ujar Radith dengan sebal, meski nada bicaranya amsih santai karna dia tak mau Luna malah menangis karna dia kasar.


" Ya kan kalau gitu gue harus LDR an sama kak Darrel, gue gak mau dith," ujar Luna masih dengan nada merengek, jika Luna tidak cengengatau jika saja Luna seorang lelaki, Radith pasti sudah menggeplak kepalanya saking kesalnya.


" Lo gak bisa LDR an sama Darrel? Lo bisa LDR an sama gue gak? Kan Lo pernah suka sama gue, bisa gak Lo LDR an sama gue?" tanya Radith yang malah sengaja mencari masalah pada Luna. Gadis itu tampak terkejut dan tersentak dengan pertanyaan Radith, namun dia langsung mengubah ekspresi wajahnya.


" Apa sih? Kan Lo udah punya orang yang kangen sama Lo kalau LDR an, masak masih ngarep gue juga? Maruk itu mah namanya," ujar Luna dengan sewot, meski dari nada bicaranya tampak tak tenang, namun Luna bisa mengatakannya dengan baik.


" Ya kan kalau Lo juga kangen sama gue, gue jadi lebih seneng, gue jadi lebih semangat buat lomba dan menangin semua, mana tahu istri pertama sama istri kedua akur, kan suami jadi bahagia," ujar Radith yang memang sengaja memancing emosi Luna, menggoda gadis itu masih menjadi hobi yang wajib dilakukan.


" Apa apaan Lo, mana mau gue jadi istri kedua? Jadi Istri Lo aja gue ogah, males banget harus jadi istri Lo dith, makan hati gue tiap hari sama Lo," ujar Luna dengan malas dan langsung bangkit untuk pergi dari sana. Radith terkekeh karna akhirnya Luna pergi dan tak menganggunya lagi, jika tahu seperti itu Radith akan melakukannya lebih awal.


Luna mengambil ponselnya dan segera menghubungi Darrel melalui panggilan Video, namun lelaki itu tak menjawabnya, membuat Luna kesal dan akhirnya mematikan ponsel apel termakan yang memiliki tiga kamera itu. Gadis itu menidurkan kepalanya di atas tas dan tak mempedulikan sekitar lagi.


Nyatanya meski saat ini mereka sudah memasuki semester genap, kondisi di sekolah ini tetap sama, hanya da jam kosong, jam kosong dan jam kosong. Sebenarny Luna muak karna dia bahkan tak mengerti pelajaran apapun di sekolah ini, baik pelajarn jurusan atau pelajaran umum, ingin dia pindah dari sini segera.


Radith berjalan melewati Luna, lalu berhenti dari langkahnya saat Luna tak menegakkan tubuhya lagi, lelaki itu memegang dan menepuk ringan pundak itu, membuat Luna menegakkan tubuhnya dengan mata yang sudah sedikit berair.


" Astaga, Lo nangis karna jadi istri kedua gue? Kalau Lo keberatan Lo bisa jadi istri pertama gue, tapi tetap nanti pacar gue yang jadi istri kedua, gimana? Bahagia gak Lo?" tanya Radith dengaan asal, karna dia sendiri tak tahu apa yang terjadi apda Luna dan menebak saja jika itu masalah peristrian tadi.


" Lo tuh stres apa gimana? Darrel gak akan bisa hubungin Lo kalau ponsel Lo aja keadaannya mati kayak gini, duh, gue tahu Lo lemot Lun, tapi gue gak tahu kalau Lo ternyata bego juga, ish, nyebelin banget sih Lo demi apa, gue sama Darrel berangkat hari ini loh, kalau Lo kayak gini Lo malah gak bisa ketemu dia dan bakal nahan rindu buat waktu yang lama, Lo yakin Lo sanggup?" tanya Radith yang membuat Luna berpikir. Gadis itu bangun dari duduknya dan mengikuti Radith yang sudah keluar dari sana.


Keberangkatan Radith dan Darrel memang dipercepat karna suatu hal, yang tadinya amsih minggu depan dipercepat dan jadi berangkat hari ini. Untung saja Luna sudah berpamitan pada Blenda dan kondisi gadis itu sudah membaik saat mereka berpamitan, jika tidak Radith tak kan bisa berkonsentrasi selama di sana, bahkan lelaki itu sebenarnya memiliki keraguan apakah dia bisa bertemu atau berkomunikasi dnegan Blenda di lain waktu. Bisa saja Blenda sudah dibawa ke luar negeri, atau bahkan kemungkinan terburuk sudah terjadi.


Luna berjalan mengekori Radith dan mengikuti langkah lelaki itu yang ternyata menuju ruang kepala sekolah. Luna menghentikan langkahnya dan tak ikut masuk ke dalam sana, gadis itu merasa ditipu, namun dia sudah berjalan sejauh ini, lebih baik Luna duduk dan menunggu Radith atau Darrel keluar dari sana.


Sementara itu Radith yang masuk ke ruang kepala Sekolah menengok ke belakang dan sedikit geli karna Luna tak berani mengikutinya sampai kesini, sebenarnya sedikit kasihan pada Luna, namun dia tak mau Luna hanya menangis dan bersikap bodoh, lebih baik seperti ini, Luna menunggunya dan Darrel di luar.


" Permisi paak, mohon ijin masuk," ujar Radith di depan pintu dan membukanya saat dipersilakan. Lelaki itu langsung merasakaan hawa dingin yang snagat nyaman. Ah ruangan kepala sekolah sangat dingin, enaksekali untuk jiwa rebahannya yang terus meronta, apalagi disediakan ruang tidur untuk istirahat beliau ditengah kesibukannya sebagai kepala sekolah. Kurang enak apalagi?


" Terimakasih karna kalian bersedia untuk mewakili sekolah dalam emngikuti Lomba ini. Tidak usah berpikir kalah dan menang, yang penting kalian bisa selesaikan lomba ini sampai akhir dengan kemampuan terbaik kalian. Selamat berefresing dari hiruk piruk sekolah ini dan mengikuti pelatihan dengan baik," ujar Kepala sekolah saat Radith sudah berdiri di hadapan Darrel.


" Kalian akan di dapmpingi oleh pak Komang selama di sana, kalau ada hal yang kalian tanyakan atau hal yang kalian perlukan, kalian bisa minta ke pak Komang, jangan ragu buat bilang ya, pak Komang, tolong bimbing dan jaga anak – anak ya, semoga kalian semua bisa menyelesaikan semua tugas dan kembali dengan selamat," ujar kepala sekolah tu lagi sambil menatap ke arah pak komang dengan senyumnya.


" siap pak, saya akan jaga anak – anak dengan baik, terimakasih atas perhatian anda," ujar Pak Komang dengan logat Balinya yang khas. Mereka semua keluar dari ruang kepala sekolah dan bersiap untuk melakukan perjalanan jauh ke suatu tempat dimana training dan Lomba itu akan dilaksanakan.


Darrel terkejut saat mendapati seorang gadis duduk dilantai dengan kaki terjuntai ke bawah karna memang pelataran ruang kepala sekolah lebih tinggi dari sekitarnya. Lelaki itu memandang kesal ke arah Radith yang sudah pasti membuat semua ini terjadi.


" Awas ya Lo," ujar Darrel pelan sambil menunjuk ke arah hidung Radith, lelaki yang ditunjuk hanya memandang Darrel dengan sebelah alis yang terangkat seakan dia tak melakukan apapun. Namun dia tak menjawab ataupun membantah Darrel. Darrel meninggalkan Radith dan mohon ijin ke pak Komang karna mereka memang baru akan berangkat setelah istrihat kedua dilaksanakan.


" Kamu ngapain disini?" tanya Darrel yang sudah berjongkok di samping Luna. Gadis itu melihat ke arah Darrel dan tersenyum lebar, Darrel yang melihat itu terntu terkekeh dan akhirnya meminta Luna untuk bangun karna tak baik berpacaran di depan ruang kepala sekolah.


" aku tuh mau ke kelas kamu habis dari sini, kenapa kamu malah ada disini hmm?" tanya Darrel yang memegang kepala Luna sambil berjalan dari arah sana, meninggakan Radith yang sebenarnya merasa dongkol karna tak dianggap dan dibiarkan sendiri.


Luna dan Darrel berjalan menuju taman belakang sekolah karna Luna menolak untuk pergi ke kantin. Mereka duduk di salah satu bangku yang ada disana, tempat yang tak asing bagi Luna, tempat yang bahkan pernah membuatnya trauma karna perlakuan temannya yang gila.


" Kak Darrel harus pergi ya kak?" tanya Luna dengans edih tanpa menatap ke arah Darrel. Lelaki itu terkekeh karna Luna mengatakan hal itu seakan Darrel akan pergi untuk selamanya, padahal dia hanya pergi dari sana selama dua bulan.


" Kalau kamu minta aku gak pergi, sekarang juga aku bilang ke kepala sekolah kalau aku ngundurin diri," ujar Darrel yang memang tak pernah tega jika Luna sampai sedih karenanya. Cukup sekali Luna sampai depresi karna dirinya, dia tak akan menyia nyiakan kesempatan kedua ini.


" gak mau, Luna gak mau kak Darrel jadi orang yang gak bertanggung jawab kayak gitu, Luna mau kak Darrel terus kabarin Luna, gak kayak tadi pagi, vidcall Luna gak diangkat atau dibalas sama sekali," ujar Luna dengan bibir yang mengerucut.


" Hahaha, kan aku ada di ruang kepsek, masak aku malah vidcall sama kamu, maaf ya, maaf bikin kamu sedih. Selama disana pasti ku rajin kasih kabar ditambah vidcall sama calon istri aku," ujar Darrel menoel pipi Luna, membuat gadis itu tersipu dan memukul pelan lengan Darrel.


Mereka tertawa bersama dan menikmati sisa sisa waktu mereka bersama sebelum akhirnya terpisahkan oleh jarak untuk waktu yang lama.


*


*


*


Hello Pembaca Budiman, Terimakasih untuk apresasi Atas novel iniii, semoga niat author untuk menghibur bisa tersampaikan ke kalian semua.


Jangan Lupa mampir ke lapak author yang lain.


Adella


T(w)o Heart


Miss galak, Iove you


Ex lover


Soulmate


Thank you....


Love,


Eliz