
Darrel dan Radith dipaksa untuk berlutut. Mereka melakukannya tanpa perlawanan, apalagi Darrel yang merasa tak memiliki tenaga lagi. Sudah waktunya lelaki itu meminum obatnya, namun dia tak bisa melakukan hal itu. jika mereka tahu Darrel sakit, mereka akan menggunakannya untuk mengancam tuan Wilkinson, Darrel tak mau hal seperti itu sampai terjadi.
" Geledah mereka, pastikan tak ada barang yang bisa menyelamatkan mreka, ujar Pak Indra yang langsung masuk ke dalam rumah itu. Mereka menemukan pistol yang dibawa oleh Darrel, lelaki itu hanya pasrah, bahkan mungkin dia akan mati di tempat ini, dia sudah bersiap untuk hal itu. diperburuk dengan kondisinya, rasanya kecil kemungkinan dia bisa selamat.
" Bawa mereka masuk," perintah salah satu orang yang dituruti oleh orang – orang itu. Radith dan Darrel diangkat paksa dan sedikit diseret menuju tengah ruangan itu. mereka ditali dengan kencang di sebuah tiang. Darrel menatap Radith dengan sayu, membuat Radith menjadi khawatir dengan lelaki itu, dia tak bisa melakukan apapun saat ini.
" Kalian pasti sudah merindukan seseorang untuk saat ini," ujar pak Indra yang memecah keheningan di antara mereka. Radith dan Darrel saling pandang untuk sejenak, lalu kemebali menatap pak Indra yang tertawa. Pria itu memberi tanda kepada salah satu orangnya untuk membuka sebuah benda besar yang ditutup kain, mereka menyaksikan dalam diam apa yang akan ditunjukkan pak Indra.
Mata Darrel dan Radith langsung melotot, benda besar itu rupanya sebuah akuarium yang berukuran cukup besar, tak sampai di situ, mereka sangat terkejut dengan seseorang yang ada di dalam akuarium tersebut. Seluruh tubuhnya bakal dirantai, mulai dari leher, badan, tangan dan kaki. Melihat hal itu Darrel langsung meronta karna murka.
" Bang*at! Lo apain Lunetta? Lepasin dia! Bang*at! Lo jangan berani lukai dia dikit aja," ujar Darrel yang berusaha melepaskan dirinya, namun tali yang mengekangnya sangat kuat hingga dia hanya melakukan hal yang sia – sia. Pak Indra menggelengkan kepalanya dramatis melihat aksi Darrel yang heboh.
" Anak muda, apa yang diajarkan oleh gurumu tentang tata krama? Sepertinya kau harus diberi sedikit hukuman untuk mulutmu yang kasar itu," ujar Pak Indra yang meminta orang – orangnya dengan lirikan mata. Orang – orang itu mengangguk dan mengambil sebuah tongkat baseball, Radith sendiri tampak kaget mereka memiliki tongkat besi itu.
" Gilak, ternyata orang jahat mau di film atau dunia nyata sama aja, semua punya tongkat baseball yang gak tahu diambil dari mana," ujar Radith tanpa sadar. Darrel langsung menyenggol lelaki itu, Radith tampak norak, apalagi situasinya sedang tidak pas untuk membicarakan hal itu. Darrel sendiri kembali melihat ke arah orang – orang yang tersenyum liar ke arahnya.
" Halo anak muda. Kau sudah membuat teman – teman kami tewas sia – sia, kau harus diberi sedikit pelajaran," ujar orang itu sambil menyeringai lebar. Darrel cukup khawatir karna orang – orang itu brjalan ke arahnya dan tanpa aba – aba langsung mengayunkan tongkat baseball itu ke perut Darrel.
~ bukk bukk bukkk
Darrel langsung memuntahkan banyak darah karna perutnya dipukul dengan sangat keras bebrapa kali sampai pak Indra menghentikan mereka. Darrel langsung mengerang kesakitan. Bahka tanpa dipukul dia bisa saja mati karna terlambat meminum obatnya, kini mereka malah semakin mempersingkat kemungkinan hidupnya.
" Hentikan, Kalian memukulnya terlalu keras, harusnya kalian tak sekasar itu, kalian tidak boleh membunuhnya sekarang. Aku masih membutuhkannya, kalian boleh lakukan apapun setelah semua yang aku butuhkan ada di tanganku," ujar Pak Indra yang membuat mereka mundur dan meletakkan tongkat baseball itu ke tempatnya.
" Kak Darrel, kak Darrel, Lo gak papa?" tanya Radith yang berbisik dengan khawatir. Darrel menggelengkan kepalanya dan menendang – nendang pelan, badannya sakit, namun dia harus tetap bertahan demi menyelamatkan Luna, apalagi dia melihat Luna dirantai dengan sangat kejam. Persis seperti pertunjukan sulap yang pernah dia tonton, bedanya, Luna tak berpengalaman.
" Pala Lo gak papa. Lo gak bisa lihat Gue udah muntah darah gini? Basa – basa Lo gak bermutu banget," celetuk Darrel sambil terbatuk, setiap dia terbatuk, mulutnya memuncratkan darah kental ke bajunya. Radith langsung memutar bola matanya, namun dia segera mendekatkan kepalanya ke arah Darrel.
" Gue kan mau kayak film – film action, harusnya Lo jawab Lo baik – baik aja biar keren," ujar Radith yang tak dijawab oleh Darrel. Jika kondisinya sehat, dia akan menggeplak kepala Radith dan mengajaknya berkelahi saat ini juga. Bisa – bisanya lelaki itu bergurau di saat seperti ini, bahkan di hadapan Luna yang masih memejamkan mata.
" Kau sudah sangat lemah, namun kau masih melihat ke arah akuarium ini. Apa kau khawatir padanya? Kau tenang saja, dia belum mati, namun mungkin kalian mau melihat sedikit aksi yang kami suguhkan, kau tak akan membangunkannya dengan hal itu karna aku sudah membiusnya dengan dosis yang tinggi, kau harus melakukan ini untuk membangunkannya.
Pak Indra berjalan menjauh dari mereka, mata Darrel tak lepas dari pergerakan pria itu, dia keluar dari ruangan itu, lima menit kemudian dia kembali dengan sebuah ember yang berisi air. Dengan kejam, pak Indra menyiramkan air itu ke wajah Luna, membuat gadis itu terkejut dari tidurnya dan perlahan tersadar.
Luna merasakan pusing luar biasa menyerang kepalanya, dia hendak memegang kepalanya, namun dia menyadari tangannya tak bisa digerakkan. Saat dia menyadari dimana dirinya, gadis itu langsung bergerak ketakutan dengan bibir yang kelu, bahkan dia tak bisa berteriak atau mengatakan sesuatu, gadis itu hanya bergerak sembarang berharap rantai yang mengikatnya lepas.
" Kamu gak usah terlalu bergerak, rantai itu bisa menyakiti kamu. Kamu gak mau kan kulit kamu yang cantik itu terluka?" tanya orang yang membuat Luna menengok, gadis itu langsung menganga, dan sesaat kemudian air mata turun dari wajahnya tanpa disuruh, dia tak dapat berkata – kata, bahkan dia tak bisa percaya dengan apa yang dilihatnya.
" Pak.. Pak Indra? Pak Indra kenapa? Pak Indra lepasin Luna pak, pak Indra tolong Luna pak," ujar Luna dengan tergagap, pria itu langsung terdiam sesaat, namun setelah itu dia segera memalingkan wajahnya dan mengatur napasnya sebentar. Lalu menatap lagi ke arah Luna.
" Melepaskan kamu? Apa gunanya aku menangkap kamu kalau akhirnya aku harus melepaskan kamu? Apa kau sedang bergurau nona kecil?" tanya pak Indra yang membuat Luna terpaku, Luna langsung menggelengkan kepalanya pelan, dia masih tak mau percaya dengan apa yang ada di hadapannya ini.
" Pak Indra pasti bercanda kan? Pak Indra, ini semua bohong kan? Ini pasti disuruh sama kak Darrel kan? Kak Darrel? Kak Darrel mau kasih kejutan lagi buat Luna? Kak Darrel mau kasih kejutan halloween? Iya kan pak? Pak Indra, Luna takut, jangan kayak gini," ujar Luna dengan lirih, namun pak Indra tak bergeming sedikitpun.
" Maafkan saya nona, sepertinya anda harus berada di dalam sana sampai ayah anda datang dan membawakan apa yang saya inginkan. Saya sedih karna harus melibatkan nona, namun saya juga bersyukur sudah merawat nona bahkans aat nona masih sngat kecil, saya jadi tahu seluk beluk keluarga ini dan mengambil kesempatan seperti sekarang."
" Ayah kamu sangat bodoh. Bisa – bisanya dia mempercayakan anaknya pada orang lain? Dia itu hanya gila harta dan tak pernah peduli dengan orang lain, bahkan dengan anaknya sendiri. Seharusnya kau membenci ayahmu itu. Dia terlalu mempercayakan keluarganya pada orang lain, biar dia rasakan sendiri akibatnya."
Luna bisa melihat tangan pak Indra terkepal kuat, dia tahu pak Indra mengalami kepahitan yang besar terhadap papanya, bahkan pak Indra meminta Luna untuk memebenci papa kandungnya sendiri. Apa itu mungkin? Namun apa yang terjadi sampai pak Indra jadi sejahat ini? Luna tahu pak Indra tak mungkin sengaja melakukan hal ini.
" Nona, nona jangan berpikir naif dan mengira saya melakukan hal ini karna ayah Nona menyinggung saya. Saya sudah merencanakan hal ini matang – matang bahkan setelah saya baru bergabung dengan keluarga Wilkinson. Saya memiliki ambisi yang besar, namun ayah nona tidak prnah menganggap saya lebih dari bawahan," ujar pak Indra dengan lantang.
" Aku pikir aku bisa mendapatkan semua dengan setia pada si serakah yang arogan itu, namun nayatanya dia hanya menganggapku sebagai anjing penjaga anaknya yang tak berharga. Dia hanya memberiku kasus kecil yang tak bermutu, kau pikir aku bisa menerima hal itu?" tanya pak Indra yang tak dijawab oleh Luna, gadis itu bahkan tak mengerti apa yang dibicarakan oleh pak Indra.
" Pak Indra, Luna bisa bilang ke Daddy untuk masalah ini, tapi tolong, jangan lakukan hal jahat kayak gini, Luna tahu pak Indra gak jahat, Luna tahu pak Indra juga sayang sama Luna seperti anak sendiri," ujar Luna dengan nada bicara yang bergetar, gadis itu tak bisa menahan sara sedih yang meenghinggapi hatinya.
" Pak Indra ingat gak setiap ada rapat orang tua, pak Indra selalu datang ngegantiin Daddy, pak Indr ayang udah bikin luna gak kehilangan sosok orang tua selama Daddy sibuk, pak Indra yang ajarin Luna banyak hal dan pak Indra yang selalu bimbing Luna untuk jadi lebih baik."
" Pak Indra ingat gak waktu daftar di SMK Taruna, pak Indra jadi idaman tante – tante di sana? Itu karna pak Indra punya kharisma yang baik sebagai seorang ayah. Pak Indra mau urus Luna dan bahkan pak Indra mau bantu Luna untuk masuk ke STM Taruna, pak Indra ingat hal itu kan?"
" Luna gak akan pernah lupa atas semua yang pak Indra udah lakuin ke Luna. Luna bahkan sangat berterima kasih karna akebaikan pak Indra, Luna bisa sampai seperti ini. Luna, Luna gak tahu Luna akan jadi seperti apa kalau bukan pak Indra yang rawat Luna. Jadi tolong, hentikan ini pak."
" DIAM! Kau pikir kau bisa mempengaruhi aku dengan semua cerita sedih itu? kau pikir untuk apa aku bersikap baik pada anak nakal dan manja sepertimu? Aku hanya meencari muka agar ayahmu yang bodoh itu percaya padaku, dan lengah pada anaknya sendiri."
" Seharusnya yang ku urus adalah saudara kembarmu. Dia jauh lebih berguna dan lebih mandiri, tak membuatku repot dengan tingkahnya. Kau pikir aku peduli padamu? Aku sayang padamu? Cih, bahkan jika aku menuruti inginku, aku ingin membuangmu ke tengah laut agar tak melihatmu lagi," ujar pak Indra degan cepat.
Luna kembali menatap pak Indra dalam diam dan mata yang berlinang. Mungkin orang lain akan merasa terkhianati saat kekasih hatinya pergi dengan cinta yang lain, namun Luna merasakan sakit saat tahu orang yang sangat dia percaya, orang yang menjadi ayah keduanya ternyata merupakan duri dalam daging.
" yang aku butuhkan hanya dokumen semua saham yang dimiliki oleh Wilkinson, jika ayahmu yang gila harta itu memberikannya, aku akan membiarkan kalian hidup, namun jika dia tak memberikannya, aku akan membuat kalian mati dalam kesakitan yang tak pernah kalian bayangkan sama sekali," ujar pak Indra yang langsung pergi dari sana.
Luna menunduk dan menangis, dia tak menyangka pak Indra yang melakukan semua ini. Dia bahkan akan lebih menerima jika itu orang lain, namun pak Indra tak pernah nampak jahat di hadapannya. Lagi – lagi Luna merasa terkhianati oleh orang yang dia percaya.
" Kenapa gue selalu ngerasain hal kayak gini? Kenapa bukan gue yang mati? Kenapa gue gak mati sekarang? Kenapa semua orang jahat sama gue?" tanya Luna pada dirinya sendiri. Gadis itu tak mengatakannya dengan keras kaarna dia tahu ada Darrel dan Radith di tempat ini, gadis itu menangi sejadi – jadinya sampai akhirnya dia berhasil berhenti menangis.
" Ka.. kalian sama Luna tertangkapnya duluan siapa?" tanya Luna dengan nad ayang terbata karna ingus masih menguasahi hidungnya, dia tak bisa mengelap ingusnya. Darrel tak menjawab lagi, lelaki itu terlalu lemas dan dia tak bisa menunjukkan pada Luna kondisinya saat ini.
" Duluan Lo, kami ke sini mau nyusul dan lihat keadaan, tapi kami malah tertangkap. Kenapa Lo gak ikut kata Lira sih? Kenapa Lo selalu bertindak seenaknya dan bikin orang di sekitar Lo khawatir Lun?" tanya Radith dengan nada bicara yang lemah, dia tak mau membuat gaduh dan membuatnya mendapat apa yang Darrel dapatkan.
" Gue kira dengan gue pergi, gue gak akan nyusahin orang lain Dith, gue Cuma mau belajar mandiri, gue mau jadi lebih berguna dan berdiri dengan kaki gue sendiri," ujar Luna yang membuat Radith menggelengkan kepalanya.
" Lo pergi karna Lo mau kabur dari kenyataan, Lo marah sama semua orang. Lo pergi tanpa mikir kalau nyawa Lo itu penting karna Lo anak dari keluarga Wilkinson. Gue udah berusaha diam dan biarin Lo lakuin itu dengan ngirim Lira buat bantu Lo. Tapi Lo ternyata juga gak bisa nurut sama dia," ujar Radith yang membuat Luna terdiam.
Luna tak menyangka Radith kenal dengan Lira, dia juga tak menyangka Lira bukan hanya bertugas sebagai penerjemah, namun juga pejaganya. Gadis itu merasa sangat bersalah, mereka semua ada di tempatt ini, itu semua karna dia yang memaksa ke ayahnya untuk pergi ke negeri itu, dia yang membuat semua berantakan.
" Dith, Lo, Gak, Usah, salahin. Luna. Dia, gak, uhuk uhuk, dia gak salah," ujar Darrel lirih dengan sisa tenaga yang dia punya. Radith langsung berdecih dan memejamkan matanya, dia tahu menyalahkan Luna tak akan memperbaiki keadaan, dia harus memikirkan cara untuk kabur.
" Kak Darrel? Kak Darrel kenapa? Baju, baju kak Darrel. Da.. darah.. itu darah," ujar Luna yang terkejut setelah sadar kondisi Darrel yang mengenaskan. Darrel sendiri hanya menggelengkan kepalanya. Lelaki itu mengangkat kepalanya dan menatap Luna dengan senyum yang manis, meski sama sekali tak terlihat manis karna kondisinya.
" Aku… Aku gak papa…."
" Kak!!" Pekik Luna dan Radith bebarengan karna Darrel langsung tak sadarkan diri setelah mengatakan hal itu.
*
*
*
*
Halo Gaes, Vote Novel ini yuk agar bisa jadi lebih baik dan mendapat promosi dari Mangatoon
Isi Form di bawah ini yaaaaaaa, terima kasiihh
https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSdAKzUHFSOOZUVrERAKj5W5N5SnBlSzNXWXOGX17e\_LRGXypQ/viewform?usp\=sf\_link