Hopeless

Hopeless
Chapter 142



Suara ayam hutan yang nyaring mebuat Darrel membuka matanya, apalagi hawa dingin yang menerpa kulitnya membuatnya tak betah untuk menutup mata lebih lama lagi. Darrel bangun dan berjalan ke arah Radith untuk membangunkan lelaki itu, namun ternyata Radith tak meresponnya sama sekali, lelaki itu meringkuk kedinginan dengan memeluk badannya sendiri.


" Lo demam dith? Kaki Lo mulai infeksi ya?" tanya Darrel dengan panik karna merasa dahi Radith mulai panas dan demam, Radith menggeliat tak nyaman tanpa berusaha membuka matanya. Darrel yang melihat itu tentu sedikit panik, namun dia tak mau membuang waktu dengan tindakan gegabah, lebih baik dia tenang dan mencari jalan keluar.


" Lo tunggu sini ya, gue cari air sama bantuan. Lo gak usah kemana – mana, Lo tahan ya rasa sakitnya, gue bakal cepat balik, gue janj," ujar Darrel dengan tegas dan langsung meninggalkan Radith yang hanya mengangguk, Darrel cukup tenang untuk mennggalkan Radith karna lelaki itu masih sadar dan bahkan dapat merespon apa yang Radith katakan.


Darrel langsung keluar dari bangunan itu dan berjalan entah kemana, bahkan lelaki itu menyisir jalaan baru karna tak ada setapak yang ada di sekitarnya, seperti tempat ini tak pernah dikunjungi oleh orang lain, namun mengapa ada sebuah bangunan di tempat seperti ini? Tentu sangat mencurigakan bagi Darrel.


" Anjir, mikir apa lah gue, mending gue cari air deh buat Radith, kasihan amat tuh bocah sampai kayak gitu, ya Tuhan, semoga aja pengawal gue bisa lacak keberadaan gue di sini dan jemput gue segera, lelah gue," ujar Darrel sambil menyingkirkan belukar yang ada di depannya. Lelaki itu memicingkan telinganya dan mendengar suara aliran air yang membuatnya mengikuti arah suara itu.


" akhirnya gue nemu sungai, gak papalah minum air sungai juga, daripada gue mati dehidrasi. Apa gue ajak Radith ke sini aja kalik ya? Biar lukanya dibersihin di sini? Anjir, kalau tahu sungainya dekat mah gue langsung bawa tuh tengil satu," ujar Darrel pada dirinya sendiri. Lelaki itu membuka tutup botol dan mengisi penuh botol tersebut. Darrel juga membilas tubuhnya agar terasa lebih segar.


Lelaki itu keluar dari air dan langsung mengigil seketika, betapa segar rasa tubuhnya saat air membilas tubuhnya. Lelaki itu keluar dari air dan langsung berjalan menuju Radith untuk membawa lelaki itu ke tempat ini dan membilas tubuh serta lukanya. Sementara itu di tempat lain ….


Radith tampak menggigil karna hawa yang ada di dalam ruangan ini, apalagi tubuhnya terasa sangat tak enak karna demam yang tadi dikatakan oleh Darrel. Sepertinya memang benar jika lukanya infeksi dan dia merasa tak akan kuat pergi kemanapun lagi meski dia sudah memaksa untuk menggerakkan tubuhnya.


Tiba – tiba pintu terbuka, membuat Radith menengok tanpa mengangkat tubuhnya untuk memastikan jika Darrel yang membuka pintu itu. Namun Radith terkejut karna ternyata yang masuk adalah seorang gadis dengan kemben di tubuhnya dan sebuah bakul dari rotan yang ada di gendongannya. Radith langsung mendudukkan dirinya karna terkejut meski pusing langsung menyerang kepalanya.


" Kamu siapa?" tanya Radith dengan wajah panik dan ketakutan, orang itu tampak memiringkan kepalanya dan memandang Radith dengan alis tertaut, seperti baru saja melihat fenomena aneh yang terpampang nyata di hadapannya.


" Kamu yang siapa? Kenapa kamu ada di gubuk saya?" tanya gadis itu yang membuat Radith terkejut untuk kesekian kalinya. Benar juga, Raith yang masuk ke rumah orang tana permisi, bahan lelaki itu tak menyangka jika gubuk ini ada pemilik yang meninggalinya.


" aah, iya ya. Eem, maaf ya kalau saya lancang, saya dan teman saya jatuh ke dalam jurang dan tersesat, tadi malam sudah sangat gelap dan kami menemukan rumah ini, makanya kami langsung masuk aja ke dalam rumah ini dan tidur di sini, maaf ya kalau kami lancang," ujar Radith yang merasa tak enak karna masuk dan menginap ke rumah orang tanpa permisi, orang itu tampak mengerti dan masuk tanpa menutup pintu.


" di buka aja ya, takut kalau ada yang lihat dan nyangka yang bukan bukan" ujar gadis itu sambil duduk di deberang Radith dan mengeluarkan berbagai dedaunan yang ada di dalam bakul. Radith mengangguk setuju dan menunggu apa yang hendak dilakukan oleh gadis yang ada di hadapannya, namun Radith menyadari sesuatu.


" Memang ada orang lain yang tinggal di sekitar sini? Bukannya sekitar sini hanya hutan belantara? Bagaimana mungkin ada orang lain lagi yang akan lewat ke tempat ini?" tanya Radith yang membuat gadis di hadapannya tersentak kaget, namun sesaat kemudian gadis itu tersenyum sopan dan berjalan ke arah dapur.


Orang itu kembali dengan membawa sebuah alat penumbuk dan mulai menumbuk dedaunan yang entah apa. Radith kembali terdiam dantak menanggapi apapun lagi, lelaki itu memilih untuk menunggu jawaban gadis yang ada di hadapannya.


" di sekitar sini raai kok, bahkans ering ada orang berlalu lalang, Cuma mungkin karna kalian datang waktu malam, kalian gak bertemu sama penduduk yang ada di sini," ujar gadis itu tanpa menghentikan kegiatannya. Radith tampak tak puas dengan jawban gadis itu, bahkan malah muncul pertanyaan lain dalam kepalanya.


" kalau begitu, kenapa kamu tadi malam gak pulang ke rumah ini? Padahal kami datang ke tempat ini tak begitu larut, tapi tempat sekitar sini memang sangat sepi," ujar Radith yang masih yakin pada pendapatnya, karna memang benar dia merasa jika tak ada tanda – tanda kependudukan di tempat ini.


" Pamali gadis menyisir hutan malam – malam, saya menginap di rumah paman saya yang tak jauh dari sini, kalau lebih dari petang memang sudah sepi mas, memang siapa yang mau dan berani menyisir hutan yang bahkan tak ada setapaknya malam – malam? Bahkan hewan peliharaan pun takut dibuatnya," ujar gadis yang baru Radith sadari menggunakan logat yang aneh.


Mereka masih berada di provinsi yang sama, mana mungkin logat yang digunakan sudah berbeda. Meski semua rasa penasaran dan curiga itu memenuhi kepealanya, Radith memilih untuk membungkam mulutnya dan mencoba berpikir positif, mungkin saja gadis yang ada di depannya berasal dari daerah lain dan menetap disini


" bagaimana bisa mas masuk ke dalam jurang dan tersesat sampai ke sini? Tak pernah ada orang luar yang masuk ke daerah sini, tak lazim pula hukumnya," ujar gadis itu sambil menambah cairan yang entah apa ke dalam alat penumbuk yang dia pegang. Semua yang gadis itu lakukan tak luput dari pandangan Radith yang masih saja penasaran dengan apa yang gadis itu lakukan.


" saya dicelakai oleh pesaing lomba saya. Saya berasal dari kota B, dan sekarang saya bahkan gak tahu saya ada dimana. Mobil yang kami tumpangi jatuh ke jurang, beruntung saya dan teman saya bisa keluar dari mobil dan terperosok ke jurang ini, kalau tidak yah, kami mungkin sudah ikut terbakar di dalam mobil."


" semua sudah ada yang atur mas, kalau memang belum waktunya ya pasti ada jalan untuk selamat, tapi sekarang teman mas dimana?" tanya gadis itu yang berdiri mendekat ke arah Radith yang kini memandangnya dengan was – was.


" ini ramuan obat mas, saya lihat kaki mas terluka paraj, obat ini bisa bantu buat ngurangin rasa sakitnya. Saya biasa pakai obat ini kalau luka, bahkan lukanya gak berbekas loh mas kalau pakai ini," ujar gadis itu yang membuat pandangan Radith melunak, lelaki itu memandang kakinya yang memang tampak sekali sedang terluka, bahkan kain yang menutupi luka itu ikut berdarah.


" makasih ya mbak, mbaknya udah baik sama saya. Oh ya, teman saya lagi nyari air bak, tapi gak tau kok gak balik daritadi, apa sumber air nya jauh ya mbak dari sini?" tanya Radith sambil mengangkat kakiya dan meluruskannya agar gadis itu dapat mengoleskan obat ke kaki Radith.


" Mungkin teman mas ketemu sama penduduk disini terus diajak ngobrol dulu, memang orang asli sini suka betemu dengan orang baru mas, jadi penasaran dan malah ngajakin orang itu tour singkat ke desa ini," ujar gadis itu sambil terkekeh, namun tidak dengan Radith, lelaki itu langsung terdiam dan berpikir.


' tadi kan dia bilang kalau gak pernah ada orang asing datang ke desa ini, tapi kenapa sekarang dia bilang kayak gitu? Jadi mana yang bener? Kok gue ngerasa ada yang gak beres ya di sekitar ini? Desa? Bahkan gue sama Darrel gak lihat ada rumah ain di sekitar sini, mana bisa disebut desa?' batin Radith dengan curiga meski wajahnya tampak biasa saja.


" Oh iya, maslaah orang yang membuat mas ada di tempat ini, semua kejadian kan ada karmanya ya mas, orang itu udah mendapatkan karmanya sendiri, bahkan sisa hidupnya tak akan pernah tenang lagi mas, mas percaya hal itu kan?" tanya gadis itu yang membuat Radith termangu dan mengangguk saja untuk mencari aman.


" Ini udah saya obatin, saya mau pamit ke belakang dulu mas, nanti kalau temannya mas datang, saya sarankan mas segera pergi ya mas, takut hari semakin sore dan mas malah gak bisa menemukan jalan keluar," ujar orang itu yang membuat Radith semakin ngeri.


" Eemm, kalau jalan keluar dari sini itu k arah mana ya mbak?" tanya Radith yang baru ingat dia tak pernah tahu jalan keluar daerah sini.


" saya gak pernah tahu mas, saya juga gak pernah keluar dari daerah sini," ujar orang itu dengan misterius dan langsung pergi ke dapur. Entah mengapa setelah orang itu pergi, Radith merasakan hawa panas menerpa tubuhnya, padahal tadi hawanya sangat dingin.


" Gilak, ini kak Darrel dimana sih? Kok gue jadi merinding gini sih rasanya, anjir banget lah," ujar Radith menggosok tangannya sendiri karna bulu bulu di tangannya mulai berdiri, entah mengapa dia sedikit takut, padahal tadi malam dia biasa saja.


" DITH! RADITH! LO DI RUMAH SINI GAK?!" Terdengar suara teriakan yang membuat Radith terkaget dan turun dari dipan dan menghampiri pintu.


" Oit! Gue di sini!" seru Radith agar orang di depan sana berhenti mengetuk, suaranya seperti suara Darrel, tapi mengapa lelaki itu menanyakan hal seperti ini? Padahal tadi malam tak ada rumah lain di sekitar sini.


" Lo kenapa panik gitu sih kak? Dikejar harimau Lo?" tanya Radith yang melihat Darrel terengah – engah dengan mata yang waspada melihat kiri dan kanan.


" Bangke! Gue tadi ketemu orang, bapak – bapak tua gitu, terus katanya dia penduduk di sini, ya gue seneng dong karna ternyata ada kehidupan di sekitar sini. Gue diajak jalan ke arah desanya tapi yang gue lihat cuma rumah rumah yang horor banget eh tiba tiba bapaknya nengok tapi mukanya ancur gitu, ya reflek gue tampol lah kepalanya kebiasaan kalau dikagetin. Tapi Lo tahu apa? KEPALANYA NGEGELINDING DITH!"


Radith tampak terkejut dengan penjelasan Darrel. Jika sudah seperti itu tentu bukan orang yang mengerjai Darrel, dan Darrel melihat desa kumuh? Apakah itu desa yang dimaksud oleh gadis yang menolongnya, tapi itu berarti…..


" Kak! Lo cek ke dapur, ada orang gak di sana? Kaki gue masih sakit nih," ujar Radith dengan wajah seriusnya. Darrel mengangguk dan segera berlari menuju dapur sementara Radith berjlan pelan menyusul Darrel karna rasa kakinya semakin perih, entah apa yang dibubuhkan oleh gadis itu, semoga saja bukan racun atau hal buruk lain.


" HUUUUAAAAAA!!!" Seru Darrel dari arah dapur yang membuat Radith berjalan cepat meski dengan terseok – seok, lelaki itu menengok ke arah dapur dan terjingkat kaget seketika. Gadis yang tadi dilihatnya sangat cantik dan menawan kini berwajah pucat dengan kepala yang berlobang. Jadi tadi yang mengobatinya juga bukan makhluk keras? Eh?


" Kalian harus segera pergi dari sini, warga di sini bisa mencium kehadiran kalian, kalian harus segera pergi atau kalian tak akan pernah bisa pergi dari sini selamanya, lekaslah," ujar gadis itu yang membuat Radith mengangguk paham.


" Sebenarnya ini desa apa?" tanya Darrel yang terbiasa kritis dengan keadaan sekitarnya.


" Dulu di sini adalah sebuah desa yang makmur, semua warganya baik dan hidup dengan damai, warga di sini juga tertutup dan tak pernah berbaur dengan dunia luar, maka dari itu saya tidak tahu jalan keluar dari daerah sini. Dan sejak kedatangan Jepang, Jepang membantai semua warga di sini tanpa sisa dan membiarkannya begitu saja sampai akhirnya desa ini dilupakan dan tak pernah dianggap ada. Maka dari itu warga di sini sangat sensitif dengan orang asing yang datang ke desa ini, tanpa mereka sadari bahwa kami semua hanyalah arwah, mungkin hanya saya yang menyadari hal itu."


" Saya gak mau kalian menjadi korban tawanan atau bahkan menjadi bahan amukan warga disini, maka dari itu kalian harus segera pergi dari sini."


" Kaki kamu akan segera sembuh, kamu coba paksa untuk berlari, itu akan langsung sembuh," ujar gadis itu yang dituruti oleh Radith, lelaki itu berlari dari sana diikuti Darrel yang menjaganya dari belakang, Radith mengerang kesakitan karna kakinya sangat kaku, namun dia terus memaksanya hingga akhirnya dia bisa berlari kencang.


" Anjir, lukanya hilang dith," pekik Darrel yang juga berlari dari tempat itu. Mereka berlari berputar – putar tak tahu tujuan, mereka dapat melihat sebuah pasar, namun mereka yakin tak mungkin ada sebuah pasar di dasar jurang. Akhirnya mereka berlari ke arah lain untuk menghindari kerumunan itu.


Rasanya nyaris gila! Kemanapun mereka berlari, mereka tiba di tempat yang sama, mereka hanya berputar putar namun kembai ke titik awal. Sadar telah dipermainkan, Radith memilih untuk menghentikan langkah kakinya dan menarik Darrel untuk berhenti.


" Lo pegang tangan gue kak, gak usah banyak bacot karna waktu kita gak banyak," ujar Radith yang langsung dituruti oleh Darrel. Radith meminta Darrel untuk menutup mata dan mereka berjalan dengan mata tertutup. Radith mengikuti pandangan yang ada di dalam matanya, sementara Darrel meraba – raba agar tidak menabrak sesuatu.


Akhirnya Radith membuka mata saat menemukan jalan menanjak. Meminta Darrel untuk membuka matanya dan mereka segera berjalan ke tanjakan itu meski sesekali harus sedikit memanjat.


*


*


*


Next Part besok jam 6 pagi