
Luna melepaskan tangannya yang sedari tadi digenggam oleh Darrel, posisi mereka sudah jauh dari gadis tak dikenal itu, Darrel menghentikan langkahnya dan menatap Luna dengan tatapan penuh Tanya.
“ Tadi siapa kak? Kenapa dia bilang dia pacar yang gak pernah putus sama kak Darrel?” Tanya Luna dengan wajah terluka, Darrel menghela napasnya dan menggenggam tangan Luna.
“ Aku gak tahu dia siapa, aku gak bisa ingat, mungkin dia potongan memori aku yang bener – bener aku lupa karna kejadian tempo hari, kamu percaya sama aku ya?” ujar Darrel memohon pada Luna, melihat wajah terluka itu tentu membuat Darrel merasa tak nyaman.
“ Kak Darrel gak lagi bohongin aku kan kak?” Tanya Luna dengan wajah curiga, Luna pling benci dengan kebohongan, karna jika sudah berbohong pasti akan timbul kebohongan lain untuk menutupinya, Luna tak ingin Darrel menjadi lelaki yang seperti itu.
“ Aku gak bohong sama kamu, bisa jadi juga orang tadi Cuma ngarang dan nekat. Kalapun dia bener pernah punya hubungan sama aku, aku gak peduli Lun. Aku sayangnya sama kamu, bahkan kita udah sejauh ini ( sambil mengangkat tangan kirinya yang bertautkan cincin), aku gak akan lepasin kamu gitu aja dengan omongan gadis tadi,” ujar Darrel meyakinkan Luna. Luna tak tahu dia harus mempercayai Darrel atau tidak, namun sepertinya Darrel tidak sedang berbohong.
“ Kita cari yang lain yuk kak, Luna tiba – tiba ngerasa pusing,” ujar Luna yang tak ingin membahas masalah ini lebih lanjut, Luna akan menganggap gadis tadi hanya sedang berhalusinasi atau mungkin memiliki kekasih mirip seperti Darrel, entahlah.
“ Aku gak pingin ketemu mereka, aku pingin berdua sama kamu sampai matahari terbenam, Cuma kita berdua,” ujar Darrel yang kembali berjalan dengan tangan yang tak ingin melepaskan genggaman itu. Darrel mengajak Luna ke tempat yang cukup sepi dengan pemandangan yang sangat indah.
“ Udah dari lama banget aku pingin ngerasain kayak gini,” ujar Darrel saat keheningan melanda, Darrel tahu Luna masih syok dengan kehadiran gadis yang tiba tiba memeluknya , apalagi kejadian itu persis di depan Luna.
Tanpa basa basi Darrel memeleuk Luna dari belakang dan meletakkan dagunya di pundak Luna, membuat gadis itu terkejut karna perlakuan tiba tiba dari Darrel.
“ Kak Darrel ngapain sih?” Tanya Luna dengan bingung dan kaget meski dia tak berniat untuk melepaskan tangan Darrel dari lehernya, lelaki itu mengeratkan pelukannya dan mengusal usal wajahnya ke pundak Luna, membuat Luna jadi kegelian.
“ Aku Cuma mau ilangin bekas cewek tadi, biar wanginya jadi wangi parfume kamu, aku gak mau ada bekas sentuhan cewek tadi yang tersisa, bantu aku ilangin ya,” ujar Darrel dengan manja, lelaki itu tetap memeluk Luna meski kali ini dia hanya diam dan menghirup lamat lamat aroma Luna yang sudah menjadi candu baginya.
“ Luna gak marah soal tadi kak, Luna percaya sama kak Darrel. Luna diam karna Luna mikir tentang Adel dan kasus terror ini, Luna masih nerka nerka kenapa Adel tega ngelakuin ini semua,” ujar Luna dengan lirih, Luna merasa hangat karna Darrel seperti membungkus tubuhnya dengan tubuh lelaki itu.
“ Kita pikirin itu besok ya, sore ini sampai malam nanti aku pingin kita nikmati waktu berdua, Cuma tentang kita. Seandainya ini bukan novel untuk anak SMA, aku pasti bakal lakuin hal yang lebih ekstrim dari sekadar meluk kamu.”
Luna mengerutkan keningnya karna tak paham maksud ucapan Drrel yang memang terdengar abstrak, novel? Memangnya mereka sedang hidup di dunia novel? Jika memang benar ini novel, bolehkah Luna meminta akhir yang bahagia?
“ Memang kalau bukan buat anak SMA Kak Darrel mau apa?” Tanya Luna yang malah sengaja menggoda dan menantang Darrel, lelaki itu paham maksud Luna, namun dia berusaha mengendalikan persaannya sendiri agar tidak tergoda dan malah menerkam Luna begitu saja.
“ Aku bakal makan kamu, gigit kamu dan buat kamu kapok karna udah nanyain hal ini ke aku,” jawab Darrel dengan asal dan senyum nakalnya, Luna mendelik dan melepaskan Darrel dari tubuhnya, berbalik dan memandang lelaki itu lekat.
“ Kok kak Darrel nyeremin sih? Luna jadi takut dekat – dekat sama kak Darrel,” ujar Luna bergidik ngeri dan berjalan menyusuri pasir putih itu sendiri, meninggalkan Darrel yang ada di belakang dan menunggu gadis itu berbalik.
Mereka berjalan menyisir pantai itu, berbalik kesana kemari, mampir untuk membeli kelapa muda dan melanjutkan langkah mereka sampai tanpa r\=terasa hari sudah berganti menjadi senja. Kedua orang itu duduk menatap langit yang menampakkan surya.
Matahari itu tenggelam perlahan seakan laut memakan cahayanya, setiap detik proses turunnya matahari itu membuat Darrel dan Luna semakin terpesona dengan keindahannya. Darrel menatap Luna dan mengambil dagu gadis itu untuk menatapnya.
Darrel menikmati indahnya paras Luna bahkan jauh lebih indah dari cahaya jingga matahari itu, Luna menatap Darrel dengan bingung, kenapa Darrel tiba – tiba jadi seperti sekarang? Luna hanya menunggu apa yang akan dilakukan oleh lelai itu, tanpa disangka Darrel mendekat dan mengikis jarak diantara mereka
~ cup
“ Biar laut Bali yang jadi saksi cinta kita, biar matahari menceritakan pada bulan dan bintang lain di tempat ini, mereka melihat Darrel yang begitu mencintai Luna.”
Darrel langsung bangkit berdiri, sementara Luna memegang ujung bibirnya yang kini terasa hangat. Darrel tidak benar benar mencium bibirnya, lelaki itu hanya mencium ujung bibirnya sedikit dan justru dominan pada pipi, namun tetap saja Luna berdebar karna hal itu, apalagi hanya mereka berdua di tempat ini.
“ Kak Darrel!! Luna Malu!” seru Luna menutup wajahnya dengan tangan dan membelakangi Darrel, Darrel terkekeh karna tingkah Luna yang memang seperti anak kecil, namun hal itulah yang dia suka dari Luna, semua kepolosannya. Siapa yang rela Luna dengan segala sifat lucunya diambil oleh orang lain? Darrel tidak sebaik itu.
“ Mau balik gak? Aku gendong deh biar kamu gak perlu lihat aku,” ujar Darrel terkekeh. Hampir saja dia melakukan hal di luar batas, apalagi bisa saja tempat ini bukan tempat yang baik untuk melakukan itu. Luna mengangguk dan naik ke punggung Darrel sementara lelaki itu langsung membenarkan posisi Luna di punggungnya.
Pertama kali dalam hidup Darrel, dia melakukan hal seistimewa ini untuk seorang gadis, Luna yang berhasil memporak – porandakan hatinya bahkan sejak hari pertama mereka bertemu dimana Luna tanpa sadar mengatakan bahwa Darrel adalah jodohnya.
Darrel menatap langit yang kini sudah menggelap, langit cerah bertabur bintang yang membuatnya tersenyum. Darrel berharap semua yang dikatakan Luna kala itu menjadi nyata, ya, semoga saja Darrel adalah jodoh Luna.
“ Kalian kemana aja? Luna? Kamu gak diapa apain sama Darrel kan?” Tanya Jordan yang ternyata menunggu mereka di Lobby hotel itu, hanya Jordan, entah dimana yang lain.
“ Luna gakpapa kok bang, kaki Luna pegel makanya minta kak Darrel buat gendong Luna,” ujar Luna dengan wajah lemas, membuat Jordan curiga dan berpikir macam – macam.
“ Gak usah mikir yang enggak – enggak bang, saya bukan cowok bejat yang bakal lakuin itu ke Luna,” ujar Darrel yang seakan tahu isi pikiran Jordan, lelaki itu bahkan terkekeh saat melihat wajah serius yang Jordan tampakkan.
“ Mau kemana bang?” Tanya Luna karna Jordan tak menuju ke kamar mereka, Jordan tak menjawab dan hanya memebri kode pada mereka untuk mengikutinya. Darrel hanya mengedikkan bahu dan mengikuti Jordan.
Ternyata Jordan sudah menyiapkan pesta Barbeque di halaman belakang hotel ini, entah berapa rupiah yang dikeluarkan Jordan untuk menyiapkan semua acara ini, bahkan Keysha tampak kesal dan hanay duduk tanpa mau menikmati acara.
“ Udah sih Key, kan gak tiap hari kayak gini, ini kita lagi liburan loh, masak kamu mau marah Cuma akrna hal ini?” Tanya Jordan yang langsung duduk di sebelah Keysha, membuat gadis itu menghela napas dan akhirnya mengikuti perkataan Jordan untuk menikmati ‘ pesta’ ini.
“ HAII GUYS!!” Semua orang yang ada disitu menengok dan terkejut karna ada orang asing yang datang ke acara mereka, namun bagi beberapa orang wajah itu memang tak asing lagi.
“ Lo kenapa sampai kesini sih? Pergi gak? Bikin malu tahu gak sih?” Tanya Adel dengan galak dan bangun dari duduknya menghampiri orang itu.
“ Apa sih Lo, orang gue mau nyambut pemilik acara dan minta join. Hai bang, kenalin nama gue Rafa, dari kamar VVIP yang ada di sebelah kamar Lo, gue pacarnya Adl, gue join gakpapa kan bang?” Tanya orang itu dengan percaya dirinya.
Adel menabok pria itu dengan keras dan membuat pria itu kesakitan. Cukup saat ada di sekolah saja Adel merasa pusing dengan kehadiran pria ini, Adel tak mau pria ini terus menguntitnya dan membuatnya sakit kepala bahkan saat seharusnya dia liburan dan merefresh otaknya sebelum kembali ke Sekolah.
“ Lo boleh join, duduk aja, kita disini Cuma mau fun fun aja kok,” ujar Jordan yang malah mempersilakan Rafa untuk bergabung, membuat Adel tak punya pilihan lain meski gadis itu masih tak terima Rafa mengikutinya sampai kemari bahkan sampai ke tempat ini.
“ Key, Lo gak papa ada Rafa disini?” Tanya Lucy tanpa berbisik, membuat semua orang yang ada di tempat itu melihat ke arah Key yang tampak menatap Adel dan Rafa dengan tatapan sebal.
“ Memang gue kenapa? Gue gak peduli lagi sama dia,” ujar Key memalingkan wajahnya meski dia tak bisa menutupi bahwa hatinya memanas.
Key yang pertama kali suka pada Rafa dan bahkan menceritakan hal itu pada Lucy dan Adel. Adel tampak tidak suka pada Rafa, entah apa alasannya hingga gadis itu tampak sangat membenci Rafa. Namun siapa sangka tiba – tiba beredar kabar bahwa Adel dan Rafa malah resmi menjadi sepasang kekasih, dengan Rafa yang tampak terus menempel pada Adel seperti telur cicak.
“ Kalau Lo suka sama Rafa, Lo tunjukin ke Rafa, gue eneg lihat dia, mending buat Lo aja nih,” ujar Adel dengan asal dan mendorong Rafa untuk menjauh darinya.
“ Lo pikir gue smurah itu harus terima sumbangan dari Lo? Gue bisa ya cari cowok lain dan gak sebegitu mengharap Rafa. Setidaknya gue mengakui kalau gue suka sama dia, daripada Lo munafik tapi penuh kepalsuan!” teriak Key yang membuat Adel mematung.
Key yang merasa malu lantas bangkit dari sana dan pergi begitu saja, sementara Adel masih tertegun dan tak menyangka perkataannya yang dimaksudkan untuk bercanda malah menyinggung hati Key sampai sebegitunya.
Luna yang melihat kepergian Key tentu tak tinggal diam, gadis itu mengejar Key untuk memastikan gadis itu baik baik saja, sementara Lucy tampak bingung mau berbuat apa, dia memilih bungkam dan tidak ikut campur dibanding nantinya akan memperkeruh suasana.
“ Dia beneran suka sama gue?” Tanya Rafa pelan pada telinga Adel, Adel mengangguk lesu sebagai jawaban. Dia merasa bersalah karna membuat Key merasa seperti itu. Rafa mengelus pundak Adel pelan untuk menenangkan gadis itu, dia pun menyesal sudah datang ke tempat ini dan malah membuat dua sahabat ini bertengkar karenanya.
“ Jaid, Lo suka sama Adel atau sama Key?” Tanya Jordan tak tahu situasi, pria itu tak pernah dihadapkan situasi seperti ini, bahkan dia sudah lama sekali tak menghadapi yang naanya wanita, dia tak terbiasa membaca situasi yang memperebutan seorang pria.
“ Kalau gue dari awal suka nya sama Adel lah abng, gue bahkan Cuma tahu Key sebagai sahabat Adel, gue gak nyangka kalau Key sampai kayak gini,” ujar Rafa dengan wajah gusarnya, dia tidak suka da diposisi seperti ini.
“ Nah, Del. Lo suka gak sama Rafa?” Tanya Jordan dengan wajah serius, lelaki itu tidak mau berbasa – basi dan merusak liburan mereka dengan drama tidak jelas ini. Kini semua mata tertuju pada Adel yang tak bisa menjawab pertanyaan Jordan.
“ Well, gue bisa lihat Lo juga suka sama Rafa, yaudah dong masalah selesai. Rafa suka Adel dan Adel suka Rafa,” ujar Jordan dengan enteng yang membuat Keysha menatap lelaki itu dengan kesal.
“ Gak bisa gitu kak, Key suka sama dia dan saya gak bisa egois. Apalagi dari awal saya bilang gak akan suka sama dia dan bahkan mau bantu Key untuk dapatin dia, tapi nyatanya ..” Adel tak melanjutkan kata – katanya.
“ Nyatanya Lo malah suka sama gue? Jadi karna ini selama ini Lo kejam sama gue? Selama ini Lo nolak gue? Karna Lo gak enak sama Key?” Tanya Rafa yang seperti memojokkan Adel agar gadis itu mau mengakui perasaannya.
“ Lo bener karna gak egois dan mentingin perasaan Lo sendiri. Tapi Key mau peduli sama perasaan Lo gak? Kalau jadinya malah Key yang egois gimana tuh? Padahal posisinya kalian saling suka, Cuma tinggal Key aja yang harus iklasin kalian.”
Jordan berlalu dan emmilih untuk meneruskan memanggang daging, membuat suasana di tempat itu menjadi hening. Adel meresapi perkataan Jordan dan membenarkannya, jika dia sudah merelakan hatinya untuk kebahagiaan Key, apa yang Key akan lakukan?
Sementara itu di tempat lain, Luna terus mengikuti Key yang menendang nendang pasir, Key bersikeras untuk menyendiri namun Luna tidak membiarkan itu terjadi. Key akhirnya duduk dan melempar kerikil kerikil kecil menuju lautan yang luas.
“ Gue ngerti perasaan Lo Key, tapi Lo juga gak bisa paksa mereka buat gak saling jatuh cinta, Selama ini Adel yang bantu Lo buat dapat pacar kan? Kenapa gak kali ini Lo iklasin Rafa dan bantu Adel?” Luna mencoba menjadi penengah, meski kali ini dia seakan memihak Adel dan melupakan segala kasus yang membuat Adel menjadi tersangka.
Perkataan Luna seperti menyentil hati Key, gadis itu selalu minta bantuan Adel dalam mendapatkan kekasih, namun hatinya langsung kesal karna Adel tidak membantunya dan malah menusuknya dari belakang.
“ Dia itu palsu Lun dan harusnya Lo udah tahu hal itu kan? Kenapa Lo masih bela dia?”
Pertanyaan Key membuat Luna terdiam seketika. Darimana Key tahu semua ini?