
Mereka menyelesaikan makan mereka dan fokus pada kegiatan masing – masing. Radith masih kepikiran dengan perjalanan Blenda, gadis itu belum sampai ke tempat tujuan, dan dia tak tahu bagaimana keadaan terkini gadis itu. Entah mengapa dia jadi khawatir tanpa sebab. Luna yang melihat hal itu langsung tersenyum, senyum yang tulus untuk kali ini, karna dia pun bahagia Radith memiliki seseorang yang sangat dia sayangi dan bahkan dia sampai khawatir seperti ini.
" Tenang aja kalik, staff pesawat keluarga gue tuh semua profesional, Blenda pasti baik – baik aja, apalgi di pesawat itu juga ada dokter khusus buat dia, dia gak akan kenapa – napa, Lo gak usah gelisah gitu, lagian nih ya dith, dia kan gak punya kartu sim provider sana, dia harus beli dulu, aktifin dulu, dan sebagainya, gak usah Lo tungguin, belum tentu hari ini dia kabarin Lo.
" Kok Lo tahu sih gue khawatirin dia? Gue kan gak ngomong apa – apa," heran Radith yang membuat Luna terkekeh tanpa sadar.
" Gue tahu kalik dith Cuma Blend ayang bisa bikin Lo setakut ini, bikin Lo sekhawatir ini, bahkan gue rasa Cuma dia yang bisa bikin seorang Radithya jadi panik untuk suatu hal, tebakan gue gak salah kan?" tanya Luna yang membuat Radith menghela napasnya. Jawaban Luna tak salah, Dia memang sangat khawatir pada Blenda.
" Lo jangan salah paham, gue tuh sayang sama dia sebagai adik aja, dan dia tahu itu, sebelum dia berangkat ke US aja kita udah putus kok, dia gak mau gue terlalu maksain hubungan ini. Tapi bagaimana pun Lo bener, dia yang paling penting di hidup gue, apalagi dia udah ada di hidup gue untuk waktu yang lama," ujar Radith tanpa memikirkan perasaan Luna sedikitpun.
" Memang apa pentingnya kalau gue salah paham dith? Lo kayak lagi laporan sama nyokap aja sih, hahaha, lagian bagus kalik kalau Lo ada orang yang bisa Lo bucinin gitu, eh tapi Lo bilang, Lo putus? Demi apa? Kenapa Lo tega putusin dia?" tanya Luna dengan kaget karna pernyataan Radith.
" Bukan gue yang minta putus, tapi dia yang putusin gue, dia tahu kalau gue sayang sama dia udah kayak adik gue sendiri, makanya dia minta putus, dia bilang dia gak tahu kapan dia bisa balik kesin, dia minta gue buat cari cewek lain dan gak nunggu dia," ujar Radith dengan santai dan tanpa beban, namun tidak dengan Luna, gadis itu tak bisa menganggap jal ini biasa saja.
" Gue punya banyak alasan Logis kenapa Lo bisa betah, dan pacaran lama sama Blenda, tapi gue gak nyangka dia udah sampai tahap berpikir yang kayak gini, demi apa dith, dia dewasa banget dan bahkan dia sama sekali gak egois. Gue aja malah ngewanti – wanti kak Darrel biar gak suka sama orang lain, tapi kok dia bisa setabah itu sih?"
" Ya itu bedanya Lo sama dia. Lo gak bisa biarin apa yang Lo punya jadi milik orang lain. Tapi dia beda, dia bahkan rela nyakitin hatinya sendiri biar gue bahagia. Tapi Lo gak perlu bandingin diri Lo sama dia, karna setiap manusia punya keistimewaannya masing – masing, Lo gak akan jadi istimewa dengan Lo niru dia."
" Jadi menurut Lo gue istimewa dith? Jujur aja sih banyak hal yang gue iri ke Blenda, dia bisa mikir seterbuka itu diusianya, yah, walau dia Cuma lebih muda setahun dari gue, tapi tetep aja, dia tuh kayak yang amazing banget gitu dith, wajar aja Lo sayang banget sama dia," ujar Luna sambil menerawang dan mengingat bagaimana Blenda selama ini menurut yang dia lihat dan rasakan.
" Kenapa Lo harus iri sama dia? Bahkan Lo bisa bikin banyak orang jatuh hati sama semua yang ada di dalam diri Lo. Lo bsa bikin orang kagum sama semua rasa tulus yang Lo punya, Lo itu istimewa, Lo punya hal yang gak banyak orang lain punya. Lo punya hati yang bersih, Lo gak pernah dendam sama siapapun, kecuali gue, Lo punya dendam kesumat sam ague bahkan di kali kedua kita ketemu."
" Waktu itu gue kira Lo mau ledekin gue dith, makanya gue sewot sama Lo, apalagi wajah Lo kan gak pernah bisa santai, ngegas, dingin, bkin kesel bawaannya. Sebenernya waktu itu Pak Indra ngira Lo orang jahat dan udah nyaris ambil senjatanya, untung gue bisa nyegah dia loh." Radith terkejut dengan fakta itu.
" Bahkan Pak Indra bawa senjata ke sekolah? gilak! Kalian bisa dikira teroris dan Lo otomatis gak akan keterima disana kalau waktu itu kalian ketawan, parah banget kalian, gilak," ujar Radith menggelengkan kepalanya takjub. Dia tahu keamanan keluarga Luna sangat ketat karna memang anggota keluarga wilkinson merupakan orang penting, namun tetap saja membawa senjata ke lingkungan sekolah bukan suatu hal yang bisa dibenarkan.
" Tapi kan gak dipake dith, Cuma buat jaga – jaga aja. Awalnya gue gak setuju, tapi sekarang gue paham kenapa mereka seakan lebay banget ngejaga gue, gue tuh salah satu aset penting keluarga wilkinson, apalagi banyak orang jahat yang bakal pakai gue buat hancurin bisnis bokap, jadi gue terima – terima aja deh dijaga kayak gitu, gak rugi juga," ujar Luna dengan bangga.
" Aset berharga? Hahaha," tawa Radith meledak menengar hal yang lebih mirip lelucon baginya. Luna yang melihat Radith tertawa tentu kesal, namun gadis itu tak menanggapi Radith, karna apapun yang dilakukannya pasti akan dibalas oleh Radith dengan hal yang lebih menyakitkan.
" Jalan – jalan yok Lun, bosen gue disini mulu, lihatnya Lo mulu, suntuk rasanya," ujar Radith yang membuat Luna merasa dihina sekali lagi. Gadis itu mendengus kesal dan bangkit dari duduknya. Menggigit potongan pizza dengan kasar dan berjalan ke arah pintu keluar dengan hentakan keras.
" Ngambek nih ye, ngambek nih ye, gilak Lo jelek banget Lun kalau ngambek kayak gitu, haha, udah jelek jadi tambah jelek pula, Lo harusnya seneng kalau ada yang jujur sama Lo, tapi kan sebenernya gue care sama Lo," ujar percaya dirinya.
" Elo dith? Care sama gue Dith? Bisa terbalik dan kebelah jadi dua dith kalau sampai yang kayak gitu kejadian. Udah ah ayo jalan – jalan aja daripada Lo ngelantur kayak gitu, sekalian beliin gue gula kapas," ujar Luna yang meninggalkan Radith di belakang dan menutup pintu rumah kosong itu.
Radith dan kedua orang yang tadi dibawa kemari menatap pintu yang sudah tertutup itu. Radith keluar dari dalam rumah itu dan berjalan mengikuti Luna, dengan dua orang itu di belakang mereka. Radith tak habis pikir dengan isi kepala Luna yang selalu saja teringat pada gula kapas setiap mereka bersama – sama.
" Otak Lo jangan – jangan terbuat dari gula kapas juga ya Lun? Perasaan tiap kita pergi Lo selalu minta gula kapas. Kayak gak ada hal lain aja Loh Lun," ujar Radith yang membuat Luna terkekeh. Entah mengapa gadis itu hanya teringat gula kapas saat bersama dengan Radith.
" Gue padahal gak begitu suka gula kapas kalau sama orang lain, tapi kalau sama Lo entah kenapa gue selalu pingin makan gula kapas. Masih mending kan gue mintanya gula kapas, coba kalau gue minta rumah atau bunga deposito, auto miskin Lo dith," ujar Luna yang membuat Radith terkekeh menanggapinya. Dia tidak keberatan bahkan jika Luna meminta semua gula kapas yang ada di dunia ini. Toh semua uang yang dia gunakan adalah uang yang diberikan oleh Jordan untuk Luna.
Tidak perlu terkejut. Bang Jordan tahu jika Luna akan banyak minta, dia pun mengerti jika Radith masih remaja dan bahkan berstatus pelajar, maka dari itu bang Jordan menyiapkan satu buah kartu kredit yang boleh Radith gunakan untuk keperluan keinginan Luna, meski lelaki itu bisa saja memakai kartu itu untuk dirinya sendiri, namun dia tak pernah melakukannya.
" Eh, gue sampai lupa kalau kita harus lewat ke danau ini, danau yang bikin gue excited waktu itu karna dikasih kejutan dinner dari kak Darrel, padahal gue gak kenal sama sekali sama dia," ujar Luna dengan mata yang berbinar, namun hal itu tampak janggal bagi Radith.
" Lo gak kenal sama dia dan dia nyiapin ini semua? Lo jadian sama dia padahal Lo gak kenal sama Dia? Gilak banget Lo," ujar Radith dengan reflek. Yang dia tahu, Luna resmi menjadi kekasih Darrel saat mereka berada di sini malam itu, esoknya Radith berubah kejam pada Luna agar gadis itu tak mengusik hidupnya lagi.
" Dia tuh baik banget tahu dith, dia bahkan mau nungguin gue buka hati buat dia. Dia rela korbanin hatinya selama gue masih suka sama Lo, entah gimana gue jadi jatuh cinta sama ketulusan dia, gue jadi jatuh hati sama sikap manis dia, gak tahu sejak kapan juga gue jadi suka sama dia," ujar Luna yang terkesan seperti curhat bahagia, yang sama seklai tak membuat Radith bahagia.
" Bucin banget ya dia, kalau gue mah gak bakal mau nungguin kayak gitu, cewek banyak, ngapain ngarepin satu, yang kayak Lo pula," ujar Radith yang membuat Luna tertawa, sepertinya dia sudah terbiasa dengan semua kata pedas yang ada di kamus Radith.
" Untungnya dia gak kayak Lo ya dith, untungnya dia punya hati yang baik dan tulus, kalau gak ada dia pasti gue masih ngarepin Lo yang sama seklai gak pernah suka sama gue, ya kan? Kalau gak ada dia juga gue pasti masih gangguin Lo, harusnya Lo makasih sama dia," ujar Luna yang membuat Radith terdiam seketika.
" Tapi gue suka digangguin sama Lo," ujar Radith dengan pelan, bahkan snagat pelan hingga hanya dia dan hatinya yang dapat mendengar hal itu, sementara Luna tampak riang dengan langkahnya melihat danau yang luas dan indah itu. Karna hari sudah sore, danau tersebut tampak ramai dengan mereka yang sekadar berjalan – jalan atau mereka yang berlari sore.
" Itu ada penjual gula kapasa, ayo kesana dith," ujar Luna menarik tangan Radith dan berlari ke arah penjual gula kapas yang unik. Radith yang siap hampir saja terjatuh karna ditarik tiba – tiba, untung saja lelaki itu bisa menahan tubuhnya dan mengikuti langkah Luna yang cepat. Dilihatnya penjual gula kapas dengan bentuk karakter kartun yang lucu. Mungkin itu adalah strategi pemasaran yang digunakan. Nyatanya banyak anak kecil berkumpul di sana, mungkin Luna lah yang paling besar di sana.
" Dith, gue mau yang bentuk doraemon, kayaknya enak deh dith," ujar Luna menunjuk Doraemon besar yang sudah dibungkus plastik itu. Radith mengamati gula kapas itu dan menggeleng sebagai jawaban. Luna sendiri menatap Radith dengan bingung karna lelaki itu menggleen gtanpa berkata apapun, memang apa yang lelaki itu tidak setujui?
" Banyak pewarna gulanya, gak baik tauk Lun, kalau ternyata itu bukan pakai pewarna makannan gimana?" tanya Radith sambil berbisik pada Luna. Sebenarnya itu hanya caranya untuk menghasut Luna saja agar gadis itu tak jadi membeli gula kapas yang ada di sana.
" Lagian, Lo gak ingat? Lo kan udah bilang gak mau makan yang manis – manis dulu, nanti semut yang ada di dalam badan Lo makin banyak Loh, Lo mau tiap saat kesemutan? Udah ya, gak usah beli dulu, beli yang lain aja deh, kan banyak tuh, ada yang jual sosis bakar, jagung bakar, pilih deh yang mana," ujar Radith yang membuat Luna merengut dan menggeleng.
" Gue mau makan ini, gue mau kasih makan semut – semut di badan gue, beliin dith, habis itu kalau Lo mau beliin gue Sosis bakar juga gak papa deh, tapi beliin gue ini dulu, ya dith ya? Radith baik deh," ujar Luna yang membuat Radith menghembuskan napasnya kasar. Gadis itu tetaplah Luna, merengek jika kemauannya tidak dituruti.
" Ya udah iya, tapi satu aja loh, gak baik makan gula banyak – banyak," ujar Radith yang membuat Luna mengangguk senang, gadis itu tersenyum puas karna kemauannya dituruti, sementara Radith yang harus mengantre untuk Luna, gadis itu tak mau ikut mengantre dan memilih duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
" Kalian mau makan apa? Beli aja, ntar Luna yang bayar, masak kalian kayak patung berjalan yang Cuma ngikutin kita main? Gak seru lah," ujar Luna yang membuat dua orang itu saling berpandangan dan mengangguk patuh, membeli beberapa makanan ringan yang nantinya akan mengisi perut mereka.
Radith kembali dengan membawa satu buah permen kapas doraemon yang besar, memberikan gula kapas itu pada Luna setelah Luna memberikan satu sosis bakar isi keju yang besar untuk Radith. Lelaki itu menerimanya dengan senang hati dan mulai memakannya dengan cepat.
" Enak gak dith?" tanya Luna sambil mengesap gula kapas yang baru saja dia masukkan ke dalam mulutnya. Gula kapas itu langsung mengempes dan kembali ke wujud aslinya ( Gula). Radith mengangguk dan mengulurkan sosis itu pada Luna, membuat Luna membuka mulutnya dan menggigit sosis itu lalu mengunyahnya.
" Kok Rasanya manis banget?" tanya Luna dengan heran.
" Ya iya lah, di mulut Lo kan masih ada gulanya, makanya kalau makan tuh dihabisin dulu baru makan yang lain, biar rasanya gak kecampur – campur, nih air," ujar Radith mengulurkan satu botol air mineral yang entah sejak kapan dia bawa. Luna meneguk air itu dan kembali memasukkan gula kapas dalam mulutnya.
" Duh Lun, gue tuh ngasih air biar mulut Lo bersih terus nih nyobain sosis ini lagi, kok malah Lo makan gula kapas lagi sih?" tanya Radith dengan wajah heran sekaligus kesal. Luna menatap gula kapas yan gada di tangannya, lalu terkekeh dan kembali memasukkan gula kapas itu dalam mulutnya dengan nikmat.
" Hahahha, gue lupa, lagian enak sih gula kapasnya, manis banget," ujar Luna dengan riang dan memasukan satu potongan besar sampai mulutnya harus terbuka sangat lebar untuk memasukkannya. Radith yang melihat itu hanya mampu menggeleng takjub, ternyata Luna bisa memiliki mulut yang lebar juga.
" Lebih manis yang ada di hadapan gue saat ini sih Lun," ujar Radith tanpa sadar yang membuat Luna memandang lelaki itu dengan tatapan herannya.
" Maksud Lo siapa?" tanya gadis itu dengan polos, namun cukup untuk membuat Radith tergagap dan salah tingkah sendiri.
*
*
*
Next Part jam 9 malem