Hopeless

Hopeless
Chapter 62



Jordan berjalan cepat menuju kamar Luna, entah mengapa perasaannya menjadi tidak enak atas gadis itu, apalagi dia tidak menerima telpon dari Luna sejak tadi pagi


" Dimana Lunetta?" tanya Jordan pada pelayan sambil melepaskan dasi.


" Nona Lunetta ada di kamar, tuan muda. Sejak tadi pagi belum keluar dari kamar," jawab pelayan itu dengan sopan. Jordan hanya mengangguk dan melanjutkan langkahnya.


Jordan mengetuk pintu kamar Luna, namun tidak ada jawaban sama sekali. Akhirnya lelaki itu membuka pintu kamar Luna yang ternyata tidak dikunci. Kakinya melangkah masuk dan seketika membeku melihat kamar Luna.


Terdapat sebuah boneka 'buruk rupa', pisau dan kotak hadiah, serta beberapa plastik pembungkus seperti paket. Jordan segera masuk dan mendapati Luna yang meringkuk ketakutan di kasur.


Lelaki itu berjalan pelan dan menyentuh pundak Luna, badan gadis itu bergetar hebat saat Jordan menyentuhnya. Dengan sigap Jordan menyingkap selimut yang menutup tubuh Luna.


" Jangan, jangan, ampun. Kamu siapa? Tolong jangan bunuh saya. Saya salah apa sama kamu? Kamu siapa? hiks, hiks, please pergi dari sini," ujar Luna dengan takut dan gemetar. Jordan sampai tidak tega dibuatnya.


Jordan langsung memeluk Luna, membuat Luna langsung memekik, namun saat mengetahui yang memeluknya adalah kakaknya, gadis itu langsung menangis sesenggukan.


" Abaang, Luna takut, Luna.. Luna takut banget bang. Luna gak tahu Luna salah apa," ujar Luna sambil terisak - isak.


" Gak usah takut, abang udah ada disini, Luna gak akan kenapa - napa, sstttt, gak usah nangis lagi ya," ujar Jordan dengan lembut sambil menepuk - nepuk pundak Luna.


Kepergian Ibunya membuat Jordan berusaha menggantikan peran Ibu dalam hidup Luna. Lelaki itu melakukan apa yang Ibunya dulu lakukan padanya, termasuk menepuk pundak dan memeluknya saat dia menangis.


" Abang gak akan tinggalin Luna sendiri kan?" tanya Luna menatap Jordan. Lelaki itu terkekeh melihat wajah Luna yang berantakan, ingus dan air mata bercampur di pipinya.


Jordan meraih tissue yang ada di nakas dan langsung membersihkan wajah Luna dari ingus tersebut tanpa ada rasa jijik atau risih.


" Kenapa ada benda kayak gitu masuk ke rumah ini?" tanya Jordan dengan lembut, jika dia memasang wajah serius, Luna pasti kembali ketakutan.


" Luna gak tahu, tiba - tiba kata penjaga depan ada paket atas nama Luna, yaudah Luna suruh aja bawa ke kamar."


" Paket atas nama kamu?" tanya Jordan membeo.


" Iya, makanya Luna juga penasaran pingin lihat, awalnya Luna kira kayak kado kejutan, emang sih kalau dari belakang Lucu. Tapi ternyata dari depan seram banget," ujar Luna dengan bergidik ngeri. Dia sudah tidak menangis, berada di dekat Jordan selalu berhasil membuatnya merasa aman.


" Abang tanya penjaga dulu, bentar, ponsel abang ada di tas," ujar Jordan melepaskan pelukannya dan berjalan menuju sofa dimana tadi dia melemparkan tas kerjanya disana.


Lelaki itu merogoh tas kerjanya dan mendapatkan ponsel miliknya lalu mencari nomor penjaga di depan dan segera menempelkan ponsel itu ke kupingnya.


" Halo? Pak ini Jordan, saya mau tanya," ujar Jordan membuka percakapan.


" Tanya apa tuan muda?" tanya penjaga itu dengan sopan.


" Bagaimana bisa paket atas nama Luna itu datang ke rumah? Siapa yang mengantarnya?" tanya Jordan langsung pada intinya. Pulsa mahal brader.


" Tadi ada orang berpakaian seperi pengantar paket, Tuan muda. Dia bilang ada paket atas nama nona, saya langsung berikan pada Nona tanpa membuka isinya. Apakah ada sesuatu yang salah tuan?" jelas penjaga itu.


" Besok lagi entah siapapun yang beli, kalau ada paket berisi bingkisan, buka dulu sebelum masuk rumah. Kalau ada yang memarahi kamu lapor ke saya, mengerti?" perintah Jordan saat mengetahui bahwa penjaga tidak tahu menahu terhadap isi paket tersebut.


" Besok lagi kalau kamu gak ngerasa beli tapi ada paket datang, minta pengawal periksa isinya, jangan sampai kayak gini terulang lagi," ujar Jordan menegur Luna namun tetap menggunakan bahasa yang lembut.


Luna pun hanya mengangguk dan merasa dia bersalah, seharusnya memang dia tidak membukanya. Nasib baik hanya teror seperti ini, kalau ternyata isinya bom bagaimana? Mungkin semesta hanya tinggal bisa mengenang Luna.


" Sekarang mandi, makan, terus tidur. Besok kamu harus sekolah," ujar Darrel memberi perintah pada Luna. Gadis itu mengangguk dan mendorong Jordan agar keluar dari kamarnya, karena dia akan melaksanakan perintah Jordan.


Secepat itu hatinya membaik, hanya membutuhkan kehadian dan perhatian Jordan, ketakutan dalam hatinya langsung menghilang, bahkan gadis itu sudah bida tersenyum lagi.


" Haaiiihhh, Ini apaan, gue harus gimana juga gak ngerti!" seru Luna frustasi saat menghadapi benda di depannya.


" Apasih Lun? cuma disuruh ngelepas komponen yang nempel disitu," ujar Ghea yang ada di sebelah Luna. Gadis itu memegang soldernya dan mulai melepas satu persatu komponen yang tertempel di PCB.


Luna mengambil solder dari dalam tasnya serta alat penyedot timah ( Atracktor) untuk mulai mengerjakan tugas dari gurunya.


Gadis itu berdecih kesal saat menyadari guru itu hanya enggan membiarkan siswanya bersantai. Tugas ini sangat tidak bermutu. Untuk apa melepas komponen bekas sedangkan sekolah memiliki stok baru yang berlimpah ruah?


" Anak - anak, saya mau ngopi dulu di ruang jurusan TAV, kalau ada apa apa bisa tanya Salman ya," ujar guru itu melangkah keluar dengan santainya.


Ingin Luna melempar solder panas pada guru itu. Entah mengapa pak Komang dipindahkan untuk mengajar kelas 3, sementara dia harus diajar oleh Pak Marwan yang sangat menyebalkan.


Setiap kali hanya datang, memberi tugas yang menurut Luna tidak berguna lalu pergi dan menyerahkan tugasnya pada Salman, murid paling pandai dan mengerti pelajaran jurusan.


Luna merasa bosan dan meletakkan soldernya, tak lupa mencabut kabel agar tidak terus menjadi panas dan akan melukai orang lain.


Gadis itu melihat Radith yang tampak memegang ponselnya dalam posisi miring, bahkan lelaki itu masih sempat bermain game padahal tugasnya belum dikerjakan sama sekali.


" Radith, kok Lo malah ngegame?" tanya Luna sambil duduk di sebelah lelaki itu.


" Ya terus gue harus apa? Momong Lo gitu?" tanya Radith cuek tanpa menghentikan permainan.


" Tapi kan ada tugas dari pak Marwan," ujar Luna menimpali Radith.


" Gak mutu tugasnya, ngapain dikerjain? Dinilai enggak, dikumpulin juga enggak." Jawaban Radith membuat Luna berpikir.


" Benar juga ya dith, ngapain susah susah ngerjain tugas dari dia? Lo kenapa gak nyadarin gue dari tadi sih dith?" tanya Luna dengan sewot. Radith hanya terkekeh dengan mata yang masih fokus ke layar ponsel.


" Lo nya ada yang bego," jawab Radith santai yang membuat Luna berdesis kesal.


" Lun, kata gue, Lo harus hati hati sama teman ciwi - ciwi Lo," ujar Radith dengan berbisik saat sudah mempause gamenya.


" Hah? Ciwi - ciwi? Kenapa?" tanya Luna dengan nada sedikit keras, membuat Radith langsung menutup mulut Luna dengan kesal.


" Gak sekalian pakai toaknya TU biar satu sekolah dengar Lo ngomong?" tanya Radith dengan kesal, padahal Radith sudah berbisik.


" Memang kenapa?" tanya Luna tanpa menggubris perkataan Radith.


" Nurut aja, Lo gak bisa percaya sama sembarang orang untuk belakangan ini, termasuk ciwi - ciwi," ujar Radirh lagi.


" Terus gue gak punya temen dong dith," ujar Luna dengan sedih, meski Luna masih tak mengerti alasan Radith memintanya tidak terlalu dekat dengan teman - temannya.


" Kan ada gue, kalau di luar kelas juga ada kak Darrel," ujar Radith tanpa berpikir, membuat Luna berbinar karena perkataan Radith.


" Ya gak gitu juga, pokoknya Lo jangan terlalu dekat apalagi percaya omongan mereka," ujar Radith dengan final lalu melanjutkan game yang tertunda tanpa menyambut tangan Luna.


Senyum di bibir gadis itu langsung menghilang, ditariknya kembali tangannya dan duduk diam di samping Radith. Meski tidak mengerti, Luna yakin semua yang dilakukan demi kebaikannya, tidak baik bila membantah.


Radith sendiri tidak dapat menyampaikan nama Resya secara langsung, mengingat tidak adanya bukti kuat untuk menuduh gadis itu, akan menjadi kacau jika Luna langsung menyerang Resya dan ternyata Resya tidak terlibat.


" Dith, laper. Kantin yuk," ujar Luna dengan kepala yang menutupi layar ponsel Radith. Entah mengapa Luna suka menganggu Radith yang sedang bermain game, lelaki itu bermain seakan game tersebut penentu masa depannya.


" Iya bentar, nunggu satu game selesai," ujar Radith sambil menggeser ponselnya yang tertutup kepala Luna, namun gadis itu ikut menggeser kepalanya agar ponsel Radith tetap tertutup.


" Selesainya satu game kapan?" tanya Luna dengan wajah miring dan tatapan polos membuat Radith ingin menelan bulat bulat kepala Luna.


Lelaki itu menyingkirkan kepala Luna dengan tangannya, lalu memainkan kembali ponselnya, dia tidak ingin kehilangan bintang karena Luna.


" Lo gitu lagi, gue gak mau ngomong sama Lo sampai setewasnya gue." Perkataan Radith membuat Luna mengurungkan niatnya untuk kembali menganggu Radith. Luna memilih duduk tenang sambil memainkan kakinya, menunggu lelaki itu selesai dengan dunianya.


~ kruukk kruuukk


Radith menoleh dan mendapati Luna yang memegang perutnya, gadis itu tidak bercanda saat mengatakan dirinya lapar.


" Lima menit lagi, tunggu bentar," ujar Radith kembali fokus dan ingin menyelesaikan permainan secepat mungkin.


" Well done, yok makan," ajak Radith sambil berdiri. Luna yang sudah memejamkan mata langsung bangun dan kaget karena Radith menggebrak meja yang dia jadikan sandaran.


" Sakit bege," ujar Luna mengelus jidatnya yang terbentur meja. Radith hanya terkekeh dan bangkit menghampiri Arka, Satria dan Firman.


Luna mengikuti mereka menuju kantin, rasanya nyaman dan aman ditemani emoat orang lelaki saat makan. Meski menghasilkan pandangan tidak enak dari pengunjung lain.


" Bukannya Dia pacarnya ketos? Kok kayak cabe sih temannya cowok semua." Luna masih bisa mendengar dengan jelas cibiran itu, namun dia masih bisa makan dengan lahap tanpa peduli perkataan orang itu.


" Bukan pacarnya coy, dia cuma dekat gitu. Lagian ini kan STM, wajar kalik kalau temannya cowok, Lo kayak anak SMA aja tukang gosip."


Luna tersenyum karena ada yang menyampaikan isi hatinya, siapapun orang itu, Luna berterima kasih karena sudah menjelaskan dan meminta orang yang mencibirnya untuk diam.


" Lo tuh terkenal banget ya Lun di Sekolah ini," ujar Arka mendekat pada Luna agar hanya mereka yang mendekat.


" Gak mutu banget kalimat Lo, yang baca buang - buang waktu jadinya," ujar Satria menimpali.


Firman hanya melihat kelakuan tidak mutu teman - temannya, lalu dia melihat ke arah Luna yang ternyata sedang memindah isi makanannya ke piring Radith.


" Lah? Ngapain Lo pindah isinya Lun?" tanya Firman pada Luna, Luna hanya terkekeh tanpa menjawab pertanyaan Firman.


" Kok Lo pindahin hampir semua, ngapain Lo pesan kalau gak doyan?" sentak Radith saat menyadari kelakuan Luna.


" Ya gue gak tahu kalau isinya beginian, kan gue gak doyan," ujar Luna membela diri.


Radith menarik piring Luna, membuat gadis itu menatap Radith dengan bingung.


" Lo pesan lagi yang Lo doyan, biar ini gue yang makan."


" Lah yang bayar?"


" Elo lah."


Luna langsung mendengus tak suka mendengar perkataan Radith. Namun dia tetap berdiri dan memesan makanan lain yang dia doyan.


' Kalau chef rumah gue jualan disini laris kalik ya?' - batin Luna.


Gadis itu akhirnya membeli mie Surabaya yang rasanya cukup enak, apalagi harganya relatif murah ( bagi Luna). Tak lama pesanannya pun tiba.


Luna memakan makanannya dengan lahap, membuat Radith yang sudah memakan dua porsi nasi pun melihatnya dengan kepingin.


Tanpa diduga gadis itu menyodorkan mie yang sudah digulung ke depan wajah Radith, membuat lelaki itu tersenyum sangat manis dan memakan mie tersebut.


" Peka juga Lo, hehe. Makasih," ujar Radith sambil mengunyah makanan di mulutnya.


Semua yang dua orang itu lakukan tak lepas dari pandangan tiga orang lain di meja itu. Mereka menggelengkan kepala melihat kelakuan Radith dan Luna.


" Hubungan kalian itu apa sih?" tanya Satria dengan penasaran. Pasalnya Radith sudah memiliki kekasih, yang dia tahu namanya Blenda.


Luna pun juga sangat dekat dengan Darrel, meski mereka menyangkal, Satria tahu bahwa Luna kekasih Darrel. Tapi mengapa Radith dan Luna juga dekat?


" Gak usah mikir macem - macem. Mata Lo gak biasa lihat cewek nyuapin cowok?" tanya Radith dengan malas saat Satria menatapnya curiga.


" Sering sih, tapi kan sama pacarnya, bukan cowok macem - macem," ujar Satria menanggapi.


" Main Lo kurang jauh berarti coy," jawab Radith dengan santai. Memang apa salahnya jika Luna menyuapinya? Apakah langsung berarti dia dan Luna berpacaran? Yang benar saja!


" Heh, Lo gak boleh gitu coy, Lo sendiri tahu Radith punya pacar. Kita juga udah pernah ketemu sama tuh kancil," ujar Firman ikut angkat suara.


" Maksud Lo kancil apaan?" tanya Radith dengan bingung.


" Dia gerak mulu, berisik pula. Lompat sana lompat sini kayak kancil," ujar Firman mengangkat bahu.


" Kenapa bukan kalian aja sih yang pacaran. Padahal cocok loh," ujar Arka menyeletuk membuat Radith dan Luna menghentikan makan mereka.


" Mulut Lo yang bener kalau ngomong," ujar Firman dengan pelan. Arka sendiri hanya mengangkat bahu, tidak merasa bersalah sama sekali.


" Kalau si Kancil pacarnya tapi Lunetta jodohnya, Radith bisa apa? Hayoloh," ujar Arka menunjuk Firman.


Radith memilih tidak menanggapi perkataan ngawur Arka, tidak mungkin juga dia berjodoh dengan Lunetta, dari derajat saja sudah jauh berbeda.


Sementara Luna melihat wajah Radith pun menjadi lesu, sepertinya bahkan lelaki itu enggan menjadi jodohnya.


' Kalau gue jodohnya tapi dia gak mau? Ya cerai.' - batin Lunetta dengan sedih