
Luna menggeliat saat merasakan benda berat menimpa perutnya. Dia membuka matanya dan mendapati Darrel yang tertidur dengan memeluknya dari belakang. Gadis.. ah tidak, wanita itu tersipu atas apa yang terjadi tadi malam. Dia tak menyangka hal seperti itu terjadi pada hidupnya begitu cepat. Luna tak menyangka pada akhirnya Darrel lah yang menjadi takdirnya.
Wanita itu mengusap wajah Darrel yang bersih seperti bayi. Pria itu sangat tampan, dan Luna baru benar – benar menyadarinya saat ini. Dia mengakui Darrel tampan, namun tidak setampan sekarang, mungkin karna saat Ini Luna benar – benar jatuh cinta pada Darrel. Lelaki itu memperlakukannya dengan lembut dan tak membiarkannya kesakitan.
Darrel membuka matanya saat merasakan seseorang mengusap wajahnya, ternyata pelakunya adalah istrinya sendiri. Ah istri, memikirkannya saja sudah membuat Darrel merasa bahagia. Lelaki itu mendekat ke arah Luna dan memeluk Luna, posisi mereka masih sama seperti terakhir kali mereka membuka mata tadi malam, itu sebabnya pula Luna merasa sangat kedinginan.
~ cupp
" Mulai sekarang dan seterusnya. We must to do this. I want Morning Kiss everytime I open my eyes," ujar Darrel yang tersenyum dan menumpukan kepala dengan tangan dan sikunya. Lelaki itu masih melihat ke arah Luna, namun lama – kelamaan Luna jadi salah tingkah dan merasa tak nyaman.
" Luna malu, Luna gak pakai baju. Kak Darrel sana ih, mandi atau gimana gitu," ujar Luna yang mengulum bibirnya dengan imut. Darrel terkekeh melihat tingkah Luna yang polos, padahal dia sudah sah menjadi istri Darrel dan bahkan Darrel sudah melihat setiap inchi tubuh Luna tanpa terkecuali. Untuk apa lagi istrinya itu merasa malu?
" Ya udah, aku mandi dulu. Habis itu kita sarapan bareng. Tadi malam gak jadi makan juga," ujar Darrel yang langsung keluar dari selimut tanpa aba – aba, Luna langsung memejamkan matanya. Dia masih tidak terbiasa dengan Darrel yang seperti ini, padahal cepat atau lambat dia harus terbiasa agar bisa 'melayani' suaminya.
Saat Darrel sudah berada di dalam kamar mandi. Luna melangkah dengan selimut yang membalut tubuhnya. Wanita itu berjalan menuju lemari dengan tertatih karna masih merasa perih pada bagian itu. Entah berapa lama mereka melakukannya tadi malam, bahkan Luna sampai ketiduran saking lelahnya. Luna sendiri langsung mengambil handuk kimono dan memakainya.
Saat mengembalikan selimut ke atas kasur, Luna melihat bercak berwarna merah pudar di sprei putih yang tadi malam menjadi alas tidurnya. Luna mengambil sprei itu dan melempit sprei itu dengan rapi lalu menyimpannya di dalam lemari. Luna mengambil satu sprei baju yang memiliki motif bunga dan memasangkannya sebagai ganti.
Sambil menunggu Darrel selesai, Luna duduk di meja rias dan melihat lehernya yang memar – memar. Bukan memar, bekasnya seperti gigitan nyamuk, namun nyamuknya banyak dan liar. Lelaki itu mungkin penggemar ikan ****** untuk laga, sepertinya dia lihai sekali saat membuat kissmark seperti ini. Luna menggulung rambutnya dan menjepitnya agar dia bisa mandi dengan nyaman.
Saat Darrel sudah keluar dari dalam kamar mandi. Luna langsung berdiri dan berjalan dengan pincang menuju kamar mandi dan langsung menutup serta engunci pintu kamar mandi itu. Darrel yang memperhatikan langkah Luna langsung merasa kasihan pada istrinya itu, dia pasti kesusahan karna ulah Darrel tadi malam.
" Apa gue tanpa sadar keterlaluan ya sama dia? Sampai gak bisa jalan gitu? Atau emang normal kalau cewek susah jalan kalau udah selesai?" tanya Darrel pada dirinya sendiri. Lelaki itu menggelengkan kepala dan memakai kaos yang ada di dalam kopernya. Ya, dia belum memindahkan baju – bajunya ke dalam lemari.
Tuan Wilkinson sangat baik pada Luna. Beliau menyuruh orang untuk mengemasi sekaligus menata barang – barang Luna ke rumah baru mereka, namun Darrel harus menyiapkan semua sendiri. Padahal Darrel juga yang meembeli rumah ini agar dia bisa hidup nyaman bersama Luna di rumah ini sampai mereka tua nanti.
Darrel menyiapkan baju untuk Luna sekaligus dengan dalamannya. Lelaki itu kembali menidurkan diri di kasur dan mengambil I pad kerjanya, berharap tak ada sesuatu yang mendesak karna dia masih ingin berduaan dengan 'kekasih' barunya. Darrel mendengar suara shower menyala dan akhirnya mati, seperti wanita itu sudah selesai mandi.
" Aku udah siapin bajunya, di depan kamar mandi," ujar Darrel karna tahu Luna kan malu jika hanya memakai handuk, wanita itu lupa untuk membawa handuk kimono lain. Tak lama Luna keluar dari kamar mandi dengan rambut yang sudah tertutupi oleh handuk kecil. Wanita itu keluar kamar mandi pelan – pelan, belum terbiasa dengan kondisi kakinya saat ini.
" Ayo kita makan sekarang, aku udah pesan steak, nanti diantar, biar gak susah," ujar Darrel yang berdiri dari posisinya dan menghampiri Luna. Tiba – tiba saja lelaki itu mengendong Luna dan keluar dari dalam kamar itu. Luna terkejut, namun Luna tak menolak dan hanya mengalungkan tangannya ke leher Darrel.
" Maaf ya aku nakal, udah bikin kamu susah jalan kayak gini. Tapi aku gak menyesal sih, aku suka dan kayaknya bakal ketagihan," ujar Darrel yang membuat Luna menjewer kupingnya. Lelaki itu tertawa dan langsung berkonsentrasi karna mereka harus menuruni tangga, lelaki itu tak mau tergelincir dan membahayakan keselamatan mereka.
" Belum beli apa – apa di rumah ini. spagetti aja itu instan, aku beli dadakan. Aku minta orang buat beli camilan, nanti kita nonton film sambil malas – malasan aja di rumah," ujar Darrel yang meembuat Luna mengerutkan dahinya. Ekspresi Luna juga membuat Darrel menaikkan alisnya.
" Kak Darrel memang gak kerja? Bukannya kak Darrel orangnya sibuk banget ya?" tanya Luna yang diangguki oleh Darrel, lelaki itu setuju dnegan pernyataan Luna. Lelaki itu menurunkan Luna di kursi yang ada di meja makan sementara dia berjalan untuk mengambil dua gelas air putih dari dispenser yang ada di dana.
" Aku kan Bosnya, aku gak perlu tiap hari ke kantor. Lagi pula mereka malah bakal heran kalau pengantin baru masak berangkat kerja, aku gak mau jadi bahan gunjingan mereka," ujar Darrel memberi alasan yang menurut Luna konyol, namun wanita itu tak mau membahasnya lebih lanjut karna dia masih merasa lemas dan mengantuk walau sudah mandi sekalipun.
" makanan yang penting porsinya gak banyak dan gak junkfood. Kalau minuman harus air putih sih, atau gak teh hangat, lainnya gak boleh," ujar Darrel yang diangguki oleh Luna, kini Luna akan bertugas sebagai pemerhati kesehatan Darrel. Tak lama kemudian, bel menyala dan Darrel segera pergi menemui tamu itu, lelaki itu kembali membawa dua porsi steak yang tadi sudah Darrel pesan.
" Ini pesan sama chef rumah kamu kok. Resto gak ada yang buka pagi – pagi gini," ujar Darrel yang langsung menyajikan steak itu dan memakannya dengan lahap. Apalagi Darrel yang sudah sangat lama tidak merasakan nikmatnya makanan seperti ini, dia akan memuaskan rasa rindunya pada makanan lezat.
Setelah selesai makan, Darrel langsung mengajak Luna untuk pergi ke ruang Tv, Luna berjalan pelan sementara Darrel mencuci piring dahulu sebelum menyusul istrinya yang sudah duduk manis di karpet dan menyandar pada sofa. Wanitanya itu menyalakan televisi dan langsung mencari saluran kartun yang biasa dia tonton selain drama korea.
" Udah besar masak nontonnya kartun?" tanya Darrel saat dia sudah bergabung dengan Luna.
"' Ga papa lah, daripada Luna nonton azab atau sinetron yang istrinya nangis – nangis karna suaminya nikah lagi, mending nonton kartun," ujar Luna yang kali ini disetujui oleh Darrel, dia tak mau pikiran Luna teracuni dan malah jadi mencurigainya karna menonton sinetron seperti itu.
" Sini deh," ujar Darrel yang menarik tangan Luna dan menempatkan wanita itu ke tengah sementara dia langsung memeluk Luna dari belakang dalam posisi duduk, Luna merasa bingung, namun entah mengapa dia tidak merasa risih dan kembali menonton film dengan tenang sambil memakan camilan.
Darrel langsung mengendus leher Luna dan meniup leher itu lalu menciumi telinga Luna dengan lembut, Luna yang 'dikerjain' oleh Darrel tentu merasa geli dan berusaha menyingkirkan lelak itu, namun Darrel makin berni dan mulai menciumi telinga dan pipi wanita itu dan berakhir di bibir gadis itu.
" Kak Darrel, Luna lagi nonton nih, gak usah nakal loh. Masih pagi nih," ujar Luna yang tak ditanggapi oleh Darrel. Lelaki itu masih melakukan hal yang sama dan malah makin lama makin panas. Luna sendiri malah pasrah dan akhirnya mengikuti permainan Darrel. Lelaki itu makin intens dengan apa yang dia lakukan, membuat Luna terbuai dan akhirnya tidak berkonsentrasi menonton tv.
" Kak Darrel," ujar Luna dengan suara yang tertahan. Darrel tak menjawab, lelaki itu ingin melanjutkan aktivitasnya, dia sudah memainkan 'adik kembar' Luna dari luar, namun saat tangannya ingin masuk ke dalam baju Luna, tangan wanita itu menahannya.
" Wah, enak banget prosesnya di sini. Di kamar kek! Udah rumah gak dikunci, main di ruang Tv begini."
Mendengar suara itu, Luna dan Darrel sama – sama membuka mata dan langsung menjauhkan diri. Pemilik suara itu langsung terkekeh dan duduk di sofa bersama seorang wanita yang menggendong anak berusia satu tahun.
" Lo ngeselin banget bang, asli, Lo ngeselin, bodo amat," ujar Darrel yang merajuk. Jordan tertawa ngakak, namun wanita yang ada di sebelah Jordan menyikut lelaki itu dan memintanya untuk diam. Jordan pun menurut dan diam.
" Maaf ya, harusnya mah dia tahu kalau pengantin baru pasti suka berduaan, aku udah minta dia buat gak datang, tapi dia paksa aku buat datang karna kemarin aku gak bisa datang ke resepsi kalian, maaf ya malah jadi ganggu," ujar Keysha dengan nada tak enak.
Luna langsung bangkit dari duduknya dan menggendong keponakannya yang lucu, dia mengatakan pada Keysha tidak masalah, mereka hany bergurau tadi dan Luna jugas edang menonton kartun. Luna menggendong keponakannya dengan hati – hati namun tetap menunjukkan bahwa wanita itu sedang gemas.
" kayaknya Luna udah gak sabar pingin punya anak, kayaknya Lo harus berusaha lebih keras lagi deh Rel," ujar Jordan menepuk pundak lelaki itu. Luna menengok dan mengangguk dengan polos dan semangat.
" eemm, Luna mau punya anak 6, biar rumah ini jadi ramai," ujar Luna tanpa dosa, membuat Jordan langsung menengok ke arah Darrel dan menunjukkan wajah cengo, bahkan Jordan harus menunggu sangat lama untuk kehadiran anaknya, adiknya malah ingin punya 6.
" Semangat Bro. pastikan bibitnya berkualitas, biar bisa jadi enam anak," ujar Jordan sambil memegang pundak Darrel dan memandang lelaki itu dengan penuh semangat.
Semenara itu Darrel hanya menggaruk pelipisnya dan melihat istrinya sangat gemas dengan anak kecil itu, seakan anak itu adalah boneka baru untuknya dan dia sedang memainkan boneka hidup itu.
" Yah, Lo benar bang. Gue bakal berusaha lebih keras," ujar Darrel pada akhirnya.