Hopeless

Hopeless
Chapter 141



" sshhhhhh, kaki gue, kaki gue sakit banget," ujar salah seorang lelaki dengan wajah pucatnya, lelaki itu memegangi kakinya yang terluka cukup parah dan mulai menyobek kai bajunya untuk menutup luka itu. Dilihatnya seorang pria lain yang ada di sebelahnya, pria itu terbujur kaku tak bergerak sedikitpun.


" Woy kak, Lo masih hidup kan? Kak? Woy kak! Bangun kak, Lo bakal jadi bangkai beneran kalau kita gak keluar dari sini, woy kak!" kaki lain lelaki itu menendang – nendang pelan kepala pria yang masih tak bergerak dari tempatnya. Mungkin pria itu pingsan karna mereka berguling cukup jauh dari atas sana.


Lelaki itu mmeandang ke langit dan mengingat kembali apa yang terjadi pada mereka hingga sampai di tempat ini


#


" mas, jika terjadi sesuatu yang buruk, mas mas ini langsung melompat aja kelauar dari mobil ya mas, mas mas ini bisa lepasin sabuk pengaman dulu, saya punya perasaan gak bagus untuk hal ini," ujar supir yang mengendarai mobil yang ditumpangi Darrel dan Radith. Supir itu masih berusaha menyeimbangkan mobil yang dipepet oleh orang gila terebut.


" bapak gimana?" Tanya Darrel yang tampak tak setuju karna supir tu hanya meminta Darrel dan Radith menyelamatkan diri, tanpa ingin menyelamatkan diri sendiri.


" Ya saya juga bakal menyelamatkan diri mas, tapi yang penting nyawa mas mas ini, kalian harus selamat ya mas, kalian itu mengingatkan saya ke anak di rumah, saya jadi rindu buat ketemu anak saya, sayang anak saya beda pulau sama saya," ujar orang itu yang membuat suasana menjadi mendung dan sedih.


" Bisa gak kita meloow mellow an nanti dulu? Gimana kalau kita fokus buat nyelametin diri dulu dari orang gila ini?" tanya Radith yang menyahut dari kursi belakang.


Benar saja, mobil langsung kehilangan kendali dan masuk ke dalam jurang. Darrel dan Radith langsung lekuar dari pintu kiri secepat mungkin, namun yang mereka lakukan malah membuat mereka tergelincir dan langsung terperosok ke sisi lain jurang.


Sementara itu supir mobil sepeertinya lupa untuk melepaskan sabuk pengaman, membuatnya tetap berada di dalam mobil bahkan sampa Radith dan Darrel sudah berguling entah kemana. Sepertinya memang sudah menjadi takdir hidup supir itu yang harus berakhir dengan cara seperti ini.


" Ra.. Radith, Lo masih hidup kah?" terdengar suara pelan yang membuat Radith sadar dari lamunannya, lelaki itu menatap Darrel yang meringkih sambil menggulingkan tubuhnya yang tengkurap. Wajah lelaki itu penuh dengan tanah, namun tak dapat dipungkiri bahwa wajahnya yang menawan memang menjadi daya tarik tersendiri, sayang saja Radith masih lurus, hingga dia tak tertarik pada lelaki itu.


" Ki..kita di neraka kak, tadi gue lihat ada malaikat bawa celurit nungguin kita di depan sana," jawab Radith yang memang terlalu asal, bahkan Darrel langsung menegakkan tubuhnya dan melihat sekeliling untuk memastikan apakah Radith hanya mengerjainya atau memang mereka sudah ada di ambang neraka.


" Bangke Lo, kita masih di hutan coy, Lo mah kalau ngomong ngawur, dikabulin beneran baru tahu deh lo rasanya," ujar Darrel yang sewot dan mendudukkan dirinya, lelaki itu membersihkan baju dan celananya yang kotor, bajunya bahkan sudah sobek dan ada bagian yang hilang entah kemana. Kakinya terasa perih karna tergores belukar.


" Mending sekarang kita cari jalan keluar kak, atau paling gak kita cari sesuatu yang bisa dimakan buat nanti malam. Gara – gara Lo nolak buat makan siang dulu nih, gue laper banget kak jadinya," ujar Radith memegangi perutnya. Entah sudah berapa lama mereka pingsan, yang jelas Radith merasa sangat lapar untuk saat ini.


" Gila aja Lo masih bisa mikir lapar di saat kita bahkan gak tahu bakal bisa selamat dari jurang ini atau enggak," ujar Darrel dengan sewot, tak menyangka Radith bisa sesantai itu di situasi yang menegangkan seperti ini. Bahkan Radith masih bisa santai memainkan kakinya yang terluka.


" Lo tuh lucu kak, kalau kita pusing mikir jalan keluar tanpa makan, yang ada kita mati membusuk disini karna kelaparan. Jadilah para harimau dan serigala gak kelaparan lagi karna makan bangkai kita. Emang Lo mau berakhir kayak gitu? Gue mah ogah," ujar Radith dengan santai dan mencoba berdiri meski merasakaan sakit yang luar biasa.


" Terus kita mau makan apa? Daun?" tanya Darrel yang masih tak bisa santai, membuat Radith melirik lelaki itu dengan kesal. Bagaimana bisa Luna betah berada di dekat lelaki yang mudah panik dan terlalu pemikir seperti Darrel? Sikap dan sifatnya sangat menyebalkan bagi Radith.


" Kalau Lo mau makan daun ya silakan, gue mah nyari daging yang bisa dimakan. Gak tahu deh ntar nemunya daging ular, daging rusa, atau mungkin daging babi hutan," ujar Rasith dengan santai sambil melangkah pincang meninggalkan Darrel yang menatapnya dengan tatapan aneh.


" Lo makan babi? Masak Lo jadi kanibal gitu sih dith? Gak baik tauk dith," ujar Darrel yang ikut bangkit dan menyusul Radith yang sudah berjalan di depannya.


" Lo ngomong aja tuh kak sama penunggu pohon yang ada di belakang Lo," jawab Radith yang kesal dengan pernyataan Darrel. Dalam alam bebas, yang penting mereka bisa bertahan hidup, entah apapun caranya dan bagaimanapun resikonya. Bahkan Radith harus segera menemukan obat untuk lukanya yang sepertinya akan infksi.


Siapa yang menyangka dia akan melakukan tes survival saat ini? Rasaya seperti dia sedang melakukan tes untuk kenaikan slayer organisasi pecinta alam yang dia ikuti. Bedanya, kali ini dia tak mempunyai alat untuk perlengkapan survival. Hanya korek aapi, gunting, dan makanan ringan yang memang selalu ada di dalam tasnya. Masih baik dia selalu membawa tas kemanapun dia pergi dan dia membawa tas ini saat keluar dari mobil.


Tak seperti Darrel yang hanya membawa tubuhnya keluar, bahkan ponsel mereka tetinggal di dalam mobil yang entah bagaimana nasibnya karna Radith langsung tak sadarkan diri setelah kepalanya terbentur sebuah batang pohon tumbang sebelum akhirnya oleng dan jatuh ke dasar jurang ini.


" Anjiir, kaki gue sakit dith, bodo amat lah, gue gak bisa hidup di tempat kayak gini, Lo pikirin cara kek biar kita bisa keluar dari sini, eneg gue lihat pohon mulu, dari tadi juga jalan jalan mulu tanpa tujuan, bete gue dith," ujar Darrel yang duduk dan memegang kakinya yang sakit. Radith menghela napas dan melepaskan tasnya.


" Lo tuh laki, Lo ketua OSIS, Lo kakak kelas gue, dan Lo punya cewek yang harus Lo jaga, masak Lo lembek kayak gini sih kak? Lo gak malu sama semua status dan predikat yang Lo punya? Najis kali kau kak," ujar Radith yang sangat pedas, lebih pedas dari sandal jepit atau mulut tetangga.


" Lah kalau kita bisa hidup normal ya ngapain harus nyusahin diri buat hidup kayak gini? Gue mah ogah dith nyusahin diri kayak gini, biasanya juga da pengawal atau orang orang gue yang layanin gue," ujar Darrel dengan wajah kesalnya. Hal itu membuat Radith menyumpal mulut Darrel dengan buah apel yang dibawanya, lebih baik lelaki itu diam daripada membuatnya lebih pusing.


" terus kita harus apa loh ini dith? Gue kan gak ada pengalaman sama sekali. Lo deh yanag udah pengalaman kasih instruksi, ntar gue yang lakuin daripada kaki Lo tambah parah jadinya," ujar Darrel mengalah dan menatap Radith dengan tatapan kasihan. Radith mengambil sebuah ranting yang cukup besar dan mulai membuat lubang.


" bantuin gue kak, kita buat lubang jebakan, gue dengar ada suara ayam hutan, siapa tahu nanti malam kita makan ayam kan," ujar Radith yang mulai menggali lubang sambil duduk. Darrel mendekat dan mencari ranting lain, lalu mulai menggali lubang sampai sesuai intruksi Radith untuk berhenti. Saat dikira lubang yang dibuat sudah cukup dalam, Radith mulai menata ranting kecil untuk menutupi lubang tersebut.


" ayam hutan tuh bisa terbang gak ya kak? Udah bikin kayak gini ternyata ayamnya terbang, sia sia dong," ujar Radith setelah menutupi ranting itu dengan daun kering agar jebakan mereka tak terlalu terlihat.


" Ya gue mah gak tahu, ayam hutan kayak apa juga gue gak tahu, dicoba aja dulu, mana tahu ayamnya cidera karna masuk ke dalam lubang terus gak bisa apa apa," ujar Darrel mencoba berpikiran positif yang membuat Radith tertawa mendengarnya.


Mereka menunggu dari kejauhan setelah Radith memasang umpan beberapa makanan ringan yang mereka taruh di atas daun kering. Perlu waktu cukup lama sebelum akhirnya umpan dan jebakan mereka sungguh dihampiri oleh seekor ayam bukan dari kampus tentunya. Darrel mengintai jebakan itu sampai akhirnya ayam tersebut tampak terpesorok ke dalam lubang.


Darrel berlari membawa jaket yang tadi ada di dalam tas Radith. Lelaki itu segera menggelar jaket tersebut dan tidur di atasnya untuk mencegah ayam itu lari. Radith terkekeh keras melihat Darrel yang begitu antusias dengan hewan buruan mereka. Darrel melambaikan tangannya untuk meminta Radith mendekat.


" dimasukin ke jaketnya aja kak, gak ada tali soalnya. Ntar gue nyari sulur atau akar pohon buat nali tuh ayam di kayu yang mau kita bakar. Lo ngumpulin kayu bakar buat ngebakar nih ayam, makan ayam kita malam ini kak," ujar Radith dengan riang yang diangguki oleh Darrel. Lelaki itu membungkus ayam tersebut dan menyisakan kepalanya untuk keluar, lalu menaruh ayam itu disamping barang - barang mereka ( sebenarnya milik Radith semua sih)


Darrel mulai memungut ranting ranting pohon di sekitarnya, sementara Radith berjalan menjauh sambil terpincang untuk mencari sesuatu yang bisa dijadikan tali. Pertama kali dalam hidupnya bisa mempraktekkan cra bertahan hidup di alam liar dalam kondisi seperti ini dengan alat yang benar – benar seadanya.


" Lo bisa nemuin akarnya?" tanya Darrel saat melihat Radith kembali. Lelaki itu mengangguk dan menunjukkan beberapa akar dan rumput panjang yang dia temukan. Entah dimana Radith menemukan benda itu, yang jelas benda itu bisa digunakan untuk alat bantu membakar ayam buruan mereka.


Hari pun sudah mulai gelap. Radith mengumpulkan ranting yang ditemukan oleh Darrel, mengambil banyak duan kering untuk memancing kayu agar terbakar serta membuat pondasi untuk membuat ayam panggang guling yang akan menjadi menu makan malam. Meski tanpa bumbu, hal itu dirasa lebih baik dibanding mereka harus tidur dengan kondisi lapar.


Mereka bekerja sama untuk menali ayam yang terus memberontak itu ke kayu yang cukup besar. Menali ayam itu di kayu yang sudah mereka siapkan. Radith mengambil pisau dan menyembelih ayam itu untuk mengurasi rasa sakit yang dirasakan ayam itu. Alasan mereka baru melakukannya sekarang karna mereka mau makan daging yng masih fresh.


" gue gak nyangka hal kayak gini bakal terjadi di hidup gue. Gila, selama ini gue serba ada, sekarang gue harus makan ayam bakar tanpa bumbu, hahaha," ujar Darrel sambil menggulingkan ayam yang sudah setengah matang. Radith hanya terkekeh dan menambahkan beberapa kayu agar api tidak mati.


" udah mateng tuh kak, udah aja, udah laper juga gue, di suir suir aja biar nanti daging dalam yang belum mateng bisa dimatengin," ujar Radith yang membantu Darrel mengangkat ayam tersebut dan meletaakkannya di atas daun jati hijau yang tadi mereka cari dan temukan.


Mereka mulai menyobek daging ayam tersebut dan kembali membakar bagian yang belum matang, akhirnya perut mereka bisa terisi dan tidak tidur dalam keadaan lapar. Darrel makan dengan lahap, sementara Radith makan dengan santai sambil mengontrol ayam mereka agar tidak hangus dan nanti malah terasa pahit.


" habis ini kita harus jalan nyari tempat buat tidur. Kita gak mungkin tidur di tempat terbuka gini," ujar Radith sambil mengunyah ayam yang ada dalam mulutnya.


" Maksud Lo kita bakal jadi umpan binatang buas kalau tidur disini? Atau gimana nih?" tanya Darrel dngan parno mengingat harir sudah semakin malam dan bahkan suara hewan hutan mulai bersuara dan bersaut sautan seakan menunjukkan suara siapa yang lebih indah.


" gak gitu kak, kalau tidur di tempat kayak gini tuh banyak nyamuk. Biasanya mah gue bawa tenda kecil buat tidur kalau emnag niat survival, tapi sekarang tanpa persiapan, mending kita nyari tempat buat tidur, syukur syukur mah bisa nemu pemukiman atau paling enggak penginapan gitu di dalam hutan ini," ujar Radith yang membuat Darrel memalingkan wajahnya dan fokus kembali dengan makanannya.


" Mana mungkin loh ada penginapan di dalam hutan, Lo mah yang ada ada aja. Makin laper gue dengar Lo ngelantur kayak gitu," ujar Darrel yang kembali menelan makanna yang ada di mulutnya. Radith terkekeh dan menyelesaikan makannya dan membungkus makanan sisa itu untuk mereka sarapan.


Mereka membereskan barang bawaan dan mulai berjalan menyisir hutan ditemani senter yang menjadi senjata utama milik Radith. Mereka berharap menemukan tempat yang cukup teduh dan aman dari segala hewan penganggu apapun.


" Dith, gubuk dith," ujar Darrel menunjuk ke arah kiri mereka. Radith menyorotkan senter ke sebuah bangunan dari rotan dengan atap daun kering. Mereka berjalan berharap menemukan seseorang di dalam rumah yang terkesan menyeramkan itu.


" emang ada orangnya ya kalau bangunan kayak gini?" tanya Darrel saat Radith mengetuk pintu bangunan itu, namun tenryata tak ada sahutan apapun, membuat Radith memberanikan diri dan membuka pintu bangunan tersebut. Hawa dingin langsung menerpa kulit Radith, hanya sebentar, karna setelah itu hawa hangat menyelimuti ruangan yang ada di rumah itu. Mungkin karna bangunan ini tertutup dan tak ada jendela atau ventilasi sebagai sirkulasi udara.


" kita tidur dulu aja disini malam ini, baru besok pagi kita nyari jalan keluar, percuma juga kalau kita nyari jalan keluar malam ini, malah yang ada kita nyasar," ujar Radith yang merebahkan diri di atas dipan yang ada di tempat itu. Disana terdapat dua dipan yang seakan memang dipersiapkan untuk Radith dan Darrel.


" Iya, kaki gue makin sakit juga, gak kuat kalau harus jalan lagi, bodo amatlah horor nih bangunan, yang penting kita bisa tidur nyenyak," ujar Darrel yang ikut merebahkan dirinya di atas dipan di seberang Radith.


Perlahan hawa semilir membuat mereka memejamkan matanya, mengucapkan selamat tinggal pada malam dan tidur untuk menyambut pagi yang akan datang.