
" Kak Darrel, kak Darrel, ajak kita jalan – jalan naik mobil dong. Kita tadi ke tempat ini naik bus, pengen muter – muter. Kita kan gak pernah muter –m uter kak," ujar salah seorang anak sambil memegang baju Darrel, lelaki itu meminta persetujuan Luna dan Keysha, terutama Keysha yang sudah mulai lelah. Kondisi wanita itu yang paling penting di sini.
" Antar gue pulang dulu aja Rel, baru habis itu terserah kalian mau kemana," ujar Keysha yang membuat Luna mendapat ide. Lebih baik mengajak mereka semua main ke rumah Luna daripada membiarkan Darrel berdua dengan Karel di luar sana. Luna mulai menunjukkan sikap posesifnya kali ini.
" Bagaimana kalau kalian main ke rumah kak Luna aja? Di rumah kak Luna punya ruang khusus Video game, ada jug ruang mini game, terus ada mini studio buat bioskop atau main musik, kalian bisa main sepuasnya di rumah kak Luna, mau gak?" tawar Luna yang tentu membuat mereka tertarik, mereka kompak mengatakan kalau mereka mau main ke rumah Luna.
Bisa ditebak wajah Karel sedikit memerah mendengar penawaran Luna. Gadis itu tahu, main ke rumah Luna adalah cara Luna untuk tak membiarkan Darrel lepas dari pengawasannya. Namun mau tak mau dia menyetujuinya, karna untuk ada di dekat Darrel pun dia harus berterima kasih pada anak – anak ini.
Mungkin memang seperti inilah rasanya menjadi seorang pengagum tanpa status. Kita harus siap dengan semua hal yang menyakitkan, apalagi saat kita tahu orang yang kita sukai sudah menjadi pujaan hati orang lain, Karel cukup tahu diri mengingat keluarga Luna sangat berjasa dalam hidupnya, termasuk donor mata yang dia dapat ini.
" Ya udah, kak Darrel telpon orang biar bawa mobil buat kalian ya, tunggu dulu sebentar," ujar Darrel yang langsung menghitung jumlah anak dan langsung menelpon supirnya untuk membawa dua mobil lagi yang akan membawa mereka.
" Kamu duduk di depan aja sama Darrel, Kak Key capek duduk di depan, mau duduk di tengah," ujar Keysha yang berbisik di telinga Luna. Gadis itu menengok kaget dan tersenyum senang, Keysha tahu apa maunya dan mengerti perasaan Luna. Keysha mengusap kepala Luna selayaknya kakak ke adiknya.
Mereka langsung meluncur ke rumah Luna dan sepanjang jalan Luna terus mengoceh di samping Darrel. Gadis itu menceritakan hal – hal ringan dan receh sementara di kursi belakang Key sudah tidur dan Karel tampak menyumpal telinganya dengan headset. Sampai akhirnya mereka memasuki halaman rumah Luna diikuti oleh dua mobil yang membawa anak – anak itu.
" Kak, kasihan kak Key kalau dibangunin. Kak Darrel gendong aja ya ke kamarnya" ujar Luna sebelum turun dari mobil. Darrel mengiyakan saja dan langsung melakukan hal yang diminta oleh Luna. Lelaki itu menggendong Key dan masuk ke dalam rumah Luna terlebih dahulu untuk menidurkan wanita itu. Keysha tak bangun sama sekali, menandakan tidurnya nyenyak.
" Ayo kakak antar ke ruang bermainnya, ada di dalam rumah," ujar Luna yang menyambut anak – anak itu. Anak – anak itu mendongakkan kepalanya saking mereka takjub dengan rumah Luna yang besar. Mereka masuk ke dalam rumah itu, disambut oleh beberapa pelayan yang tadi sudah Luna hubungi untuk melayani anak – anak ini.
" Kalian ikut kakak kakaknya ini ya, kalau butuh apa – apa tinggal bilang kakak ini. Kalau kakaknya nakal kalian bilang aja ke kak Luna. Oke?" tanya Luna dengan menunjukkan simbol Oke dengan tangannya. Luna tersenyum saat anak – anak itu berjalan ke arah mini timezone yang ada di rumahnya. Dia berharap anak – anak itu merasa bahagia bermain di rumahnya.
" Eeem, Karel, kamu ikut ke ruang main anak – anak atau gimana? Aku mau naik ke atas dulu soalnya, ke kamar aku," ujar Luna saat Karel tak ikut masuk ke ruang main di rumahnya. Karel tampak canggung dan berpikir, namun akhirnya dia memilih untuk ikut dengan anak – anak. Sebenarnya Karel menunggu Darrel untuk keluar dari dalam kamar Key, namun dia tak enak karna Luna bertanya.
Luna sudah naik ke kamarnya menggunakan lift, sementara Darrel langsung menuju lift begitu keluar dari dalam kamar. Darrel cukup lama berada di kamar Keysha karna dia harus mengatur suhu ruangan dan mengatur selimut karna Keysha selalu menyimpan kembali selimur ke dalam lemari setelah digunakan. Wanita itu sangat rapi.
Karel yang mengintip sontak saja penasaran kemana Darrel akan pergi. Gadis itu mendekat ke arah lift dan melihat lift berhenti di lantai 3. Karel menunggu beberapa saat sebelum akhirnya menekan tombol lift untuk turun, gadis itu naik ke lantai 3. Gadis itu seperti mengendap – endap mencari keberadaan Darrel.
Karel langsung sadar yang dia lakukan salah. Gadis itu langsung memukul kepalanya pelan dan berjalan berbalik hendak menuju pintu lift. Namun panggilan namanya membuat langkah kaki gadis itu membatu. Ah tidak, dia tertangkap basah.
" Karel? Kamu ngapain di sini?" tanya suara itu yang membuat Karel tak berani berbalik.
*
*
*
" Pak Radith, ada tamu ingin bertemu pak Radith menunggu di depan, tapi beliau belum membuat janji Pak." Radith yang sedang membaca berkas laporan langsung mendongak saat sekretarisnya masuk ke dalam ruangannya. Lelaki itu langsung memasang wajah datar karna sebelumnya dia sudah berkata tak mengijinkan siapapun masuk sebelum nanti dia meeting.
" Maaf Pak, saya sudah mengatakan kalau pak Radith tidak bisa diganggu, tapi beliau tetap mengatakan ingin bertemu dengan pak Radith, katanya pak Radith mengenal beliau jadi pasti diperbolehkan," ujar Sekretaris itu dengan takut karna ekspresi dingin Radith. Lelaki itu langsung berpikir siapa yang dia kenal sampai ingin bertemu dengannya?
" Lunetta?" tanya Radith singkat. Namun sekretaris itu mengatakan tidak, karna Lunetta tak pernah meminta ijin jika masuk ke ruangan Radith. Kantor dimana Radith bekerja berbeda lokasi dengan pabrik yang waktu itu Luna datangi. Kalau kantor ini sih, sudah seperti taman bermain bagi Luna karna gadis itu sangat sering datang dan membuat tempat kerja Radith berantakan.
" Ya udah, suruh masuk aja. Kalau ternyata saya gak kenal, kamu yang saya pecat," ujar Radith yang membuat sekretaris itu gemetar. Radith sedang tidak dalam mood yang baik hari ini. Entah mengapa hari ini moodnya berubah drastis, dia bahkan berusaha mencari kesalahan dari setiap berkas yang dia pegang agar bisa meluapkan kekesalannya pada pembuat berkas.
" Selamat siang menjelang sore Radith," uja suara yang tak asing bagi Radith. Radith menoleh dan langsung terkejut dengan orang yang sudah berdiri di depan meja kerjanya. Secara instan, dia langsung tersenyum sopan dan mempersilakan tamu itu untuk duduk. Meski timbul pertanyaan mengapa orang itu sampi datang kemari?
" Aku diminta sma bos buat belajar gitu sama kamu, jadi aku datang ke sini. Sebenarnya aku gak enak, tapi ya mau bagaimana lagi, katanya bos yang bakal bilang ke kamu," ujar orang itu yang langsung mengerti maksud dari tatapan Radith.
" Oh gitu, bos kamu belum telpon apa – apa sih, tapi ya udah deh, kamu mau belajar tentang apa? Berat ya jadi Kepala cabang di Ibu Kota?" tanya Radith berbasa – basi agar suasana mencair. Gadis itu langsung menceritakan apa yang tidak dia mengerti. Radith dengan senang hati memberikan Ilmu yang dia punya kepada gadis itu.
" Kalau pemasaran di sini lebih menguntungkan kalau online. Maklum kan, di sini panas, sering macet pula, kebanyakan orang mengandalkan online gitu, tinggal pencet dan barang sampai. Coba deh kamu mulai pakai online juga, tapi tetap harus ada official storenya, begitu deh intinya," ujar Radith yang menjelaskan apa yang dia tahu.
Mereka lanjut mengobrol banyak hal, dan Radith mulai merasa aneh saat lama – lama gadis itu menanyakan hal lain padanya. Sudah mulai melenceng dari tujuan awal gadis itu. Radith melirik jam di tangannya dan berharap sekretarisnya segera masuk untuk memberitahukan bahwa dia harus pergi meeting segera.
" Aku dengar kalau tempat wisata di ibu kota itu bagus – bagus. Kamu ada rekomendasi tempat yang bagus gak?" tanya gadis itu yang membuat Radith berpikir. Lelaki itu sudah lama tidak bermain kemana pun, apakah tempat yang dulu dia kunjungi masih sama? Atau justru sudah tutup? Radith tak tahu akan hal itu.
" Kalau sekarang aku gak pernah ada waktu buat main, tapi kalau lagi free biasanya aku Cuma temenin Lunetta kemanapun dia pergi sih. Cewek yang tadi siang ketemu di perpustakaan itu, ingat kan?" tanya Radith yang membuat gadis tadi terkejut, namun juga mengangguk karna dia tak mungkin lupa dengan orang yang baru saja dia temui.
" Setiap pergi ke tempat wisata manapun aku selalu sama dia sih. Ke pasar malam, ke pantai, ke manapun pokoknya, selalu sama dia. Dia yang suka main atau jalan – jalan gitu, aku gak terlalu," ujar Radith panjang lebar, membuat gadis tadi kembali terkejut. Radith memang ramah, namun dia baru menyadari Radith jadi banyak bicara jika topiknya mengenai Lunetta.
" Loh bukannya kamu bilang kalau dia punya tunangan? Kok kamu yang temenin dia gitu? Memang tunangannya gak marah tahu kamu jalan sama dia?" tanya gadis itu dengan wajah penasaran. Radith bisa melihat sorot mata yang sungguh polos dan benar – benar tertarik ingin tahu tersebut.
" Kalau diceritain panjang banget. Intinya Aku, keluarga Wilkinson, Keluarga Atmaja, Keluarga Prameswara itu satu circle, kami saling kenal. Tunangan Luna dari keluarga Atmaja, jadi aku juga dekat sama tunangannya. Ya semua udah kayak saudara gitu. Walau seumuran, Luna itu kayak yang paling muda di sini, dia paling dijagain sama semua."
" Kamu suka sama Lunetta ya?" celetuk gadis itu tiba – tiba, membuat Radith terdiam. Lelaki itu langsung melihat jamnya dan terkejut, membuat gadis yang ada di depannya ikut bingung apa yang membuat lelaki itu terkejut. Radith langsung permisi sebentar untuk menelpon seseorang.
" Apa jadwal meeting saya dimundurkan? Kok kamu gak masuk buat kasih tahu saya? Kamu tahu kan ini meeting penting? kamu dimana? Masuk ke ruangan saya sekarang," ujar Radith yang langsung menutup panggilan telpon. Lelaki itu melihat ke arah gadis yang ada di depannya dengan wajah yang menunjukkan tak enak hati.
" Maaf ya, sepuluh menit lagi aku ada meeting penting, sekretaris aku malah lupa ngabarin. Kamu mau di sini atau sekalian keluar sama aku? Naik apa kemari?" tanya Radith sambil membereskan berkas – berkas yang tadi dia periksa. Lalu meletakkannya ke dalam laci yang ada di meja itu. Gadis itu ikut berdiri karna Radith sudah berdiri dari sana.
" Aku naik taksi online ke sini. Bentar lagi aku pesan, sekalian keluar aja paling jug cepat datangnya," ujar gadis itu dengan senyum canggung. Radith mengambil tas kerjanya dan berjalan keluar dari ruangan beriringan dengan gadis itu. Belum sempat membuka pintu, sekretarisnya membuka pintu dengan cepat dan napas yang ngos – ngosan. Sepertinya dia habis berlari.
" Pak, maaf, saya, hosh hosh, maaf pak, tapi." Sekretaris itu tak melanjutkan kata – katanya dan mengelap keringat yang ada di dahinya. Dia berlari dari lantai bawah ke ruangan ini saat mendengar nada marah di telpon tadi. Dia bahkan harus menggunakan tangga karna lift masih berada di lantai atas.
" Kamu sudah siapkan semua berkas kan?" tanya Radith sambil mengancingkan jas yang tadi hanya dia selampirkan di lengannya. Sekretaris itu mengangguk dan mengatakan berkas sudah ada di dalam mobil. Sementara itum Gadis yang ada di sebelah Radith masih menunggu respon Radith untuk dirinya.
" Kamu udah pesan taksi onlinenya?" tanya Radith yang mengejutkan gadis itu. Ah, Radith selalu membuat kaget. Gadis itu langsung tergagap dan segera membuka aplikasi taksi online, namun tangannya dicegah oleh Radith, membuat senyum tipisnya mengembang tanpa sengaja. Radith langsung mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
" Ada mobil kosong gak di bawah? Tolong antaran tamu saya pulang ya, saya harus meeting sekarang. Antar aja nanti dia yang menunjukkan jalannya. Ya udah terima kasih," ujar Radith yang langsung menutup panggilan telpon.
" aku udah minta supir buat antar kamu. Kamu bisa ke bawah sendiri kan? Aku harus ke bagian keuangan dulu. Maaf ya aku gak bisa antar kamu, gak papa kan?" tanya Radith dengan wajah tak enak. Gadis itu mengangguk sopan dan tersenyum.
" Maaf malah ngerepotin pakai siapin supir pula. Terima kasih banyak atas waktu dan ilmunya, kapan – kapan kalau mau main lagi boleh kan?" tanya gadis itu yang diiyakan oleh Radith. Gadis itu segera pergi dan Radith berjalan ke arah sebaliknya. Saat gadis itu hilang dari hadapan Radith, Radith kembali ke posisinya semula.
" Maaf Pak, tapi kan meetingnya masih nanti sore pak, masih tiga jam lagi, itu pun di ruangan rapat lantai empat gedung ini. Pak gak ada jadwal meeting siang ini," ujar sekretaris itu yang diangguki oleh Radith.
" Saya tahu. Saya minta maaf udah buat kamu terburu – buru kayak tadi, saya akan kasih bonus untuk akting kamu yang bagus. Cari tahu apakah bos perusahaan C meminta dia datang kemari atau tidak, saya tunggu kabarnya segera." Radith masuk lagi ke ruangannya setelah itu.
Sekretaris Radith yang tak tahu apapun akhirnya langsung pergi dan menjalankan perintah Radith yang sebenarnya tak sesuai dengan Job Desknya.