Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 68



Darrel dan Radith memulai misi mereka. Melihat banyaknya orang yang ada di sana. Mereka membatalkan niat untuk memakai senjata api, hal itu tentu akan memancing keributan dari orang – orang itu. Mereka mncari cara lain dan akhirnya memilih cara klasik seperti yang mereka tonton di film action. Radith bertugas memancing dan Darrel mengeksekusi.


Radith mengambil sebuah batu kecil dan melempar sedekat mungkin dengan salah satu orang yang ada di sana. Lelaki itu melihat respon orang tadi, rupanya orang itu terpengaruh, dia mencari – cari dan mulai mengangkat senapan yang dia pegang. Dia menengok ke kanan dan kiri, naamun tak menemukan apapun karna Radith bersembunyi.


" Aku akan periksa sekitar," ujar orang itu pada yang lain. Orang itu berjalan ke arah Radith dengan hato – hati, sementara Radith langsung berlari tanpa suara. Darrel yang sudah siap dengan belatinya langsung mendekat, saat orang itu lengah, Darrel langsung membekap mulutnya dan menggoreskan belati itu tepat di leher orang itu, membuat orang itu terkapar tak berdaya.


" ck, bau darah deh gue," ujar Darrel dengan santay dan membersihkan darah di tangannya. Radith yang melihat itu hanya melongo, entah mengapa Darrel bisa santai saja membunuh orang seperti itu, padahal Radith yang hanya melihat saja merasa merinding dan mual, tangannya pun bergetar.


" Lo gak usah bikin gue psikopat atau apapun itu, Gue juga merinding, tapi gue berusaha tenang karna masih banyak nyawa yang harus hilang pakai tangan gue ini," ujar Darrel pelan, Radith menganggukkan kepalanya dan mencoba untuk biasa saja meski terasa sulit. Radith kembali ke posisinya dan bersiap untuk mencari 'korban' berikutnya. Namun lelaki itu melihat hal yang mengejutkan


Radith langsung berlari ke arah Darrel, tanpa berkata apapun, Radith menarik tangan Darrel untuk mendekat ke arah rumah yang menjadi markas itu, Darrel yang melihat hal itu tentu terkejut, dia memelototkan matanya dan menggelengkan kepalanya, dia tak menyangka orang yang selama ini mereka cari sangat dekat dengan Luna.


" Dia pak Indra, pengawal Luna sejak Luna masih kecil. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa dia yang jadi dalangnya?" tanya Darrel pelan pada dirinya sendiri. Lelak itu masih mencoba tak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia mengucek matanya berkali – kali dan memastikan yang dia lihat adalah nyata.


" Gue gak nyangka, dia kelihatan sayang banget sama Luna dan care banget sama Luna, gue gak nyangka kalau selama ini dia ada maksud tersembunyi," ujar Radith dengan wajah sedih. Sementara itu Darrel langsung mengepalkan tangannya, urat di tangannya langsung nampak dan bahkan tangan itu bergetar.


Tanpa kata, Darrel langsung mengambil pistol yang ada di pinggangnya, dia mengarahkan pistol itu ke pak Indra. Namun segera Radith menahan lelaki itu. mereka tak bisa gegabah dan mengakhiri semua dengan cara sepeti ini, Luna akan dalam bahaya jika mereka nekat melakukannya. Radith berusaha meyakinkan Darrel dengan matanya.


Tangan Darrel masih bergetar karna emosi, gigi bergemelatuk dan pistol masih mengarah ke arah pak Indra. Namun dia juga teringat nyawa Luna prioritas mereka saat ini, dia tak bisa mengikuti emosinya dan membuat Luna dalam bahaya. Lelak itu akhirnya meletakkan pistol yang dia pegang dan menunduk. Berusaha meredakan emosi yang menguasahi hatinya.


" Kalau orangnya pak Indra, kita gak ada pilihan, dia pasti udah tahu setiap kelemahan kita dan dia udah rencanain ini mateng – mateng. Kita bakal gagal kalau tetap nkat. Mending kita tunggu Tuan Wilkinson buat sampai, kita butuh bantuan dia," ujar Radith yang tak dijawab oleh Darrel, lelaki itu masih menyorot lurus ke arah pak Indra.


" Ayo kita pergi dulu dari sini sekarang," ujar Radith menarik tangan Darrel. Akhirnya lelaki itu menurut pada Radith. Posisi mereka sama sekali tak menguntungkan dan mereka kalah telak dalam segi apapun, memaksakan pun tak akan baik. Lebih baik mereka menunggu tuan Wilkinson sambil menyampaikan informasi ini.


Darrel dan Radith berjalan ke dalam hutan, memilih untuk mundur dan menunggu tuan Wilkinson. Ya, mereka menyerah untuk saat ini. Mereka tak mau membahayakan nyawa mereka untuk sesuatu yang sudah jelas hasilnya, lebih baik mencari jalan aman untuk mendapat keuntungan yang lebih lagi.


" Wah, kalian mau kemana? Pesta baru saja dimulai," ujar seseorang yang langsung berdiri di hadapan Darrel dan Radith, membuat dua orang itu terpaku dan terkepung. Darrel hendak melawan, namun dia melihat banyak orang mulai keluar dari persembunyian dan semua menodongkan senjata pada mereka berdua. Hal itu memebuat Darrel dan Radith mengurungkan niat untuk menyerang.


" Kalian sudah berani membunuh salah satu dari kami, kalian pikir bisa pergi dari sini dengan organ yang utuh?" tanya orang itu sambil tertawa, mereka tertawa meledek, membuat Darrel kembali mengepalkan tangannya. Jika kondisinya prima, dia bisa meenghabisi semua orang yang ada di sini.


" Ah, aku kasih kalian pilihan. Kalian boleh saja pergi dari sini, tapi kalian akan melihat wajah teman wanita kalian dengan kondisi kepala yang berlobang. Bang," ujar orang itu sambil menggerakkan tangan ke arah kepala seperti seseorang yang sedang menembak. Hal itu membuat Darrelberdecak pelan dan kesal.


" Gak seru banget langsung ketangkap kayak gini," ujar Darrel dengan sengaja. Radith yang mendengar itu langsung menengok dan melihat Darrel dengan kaget. Lelak itu tampak santai dan tak terlihat sedang dalam suasana tertekan, ntah bagaimana lelaki itu melakukannya. Bahkan Radith merasa sangat tertekan dengan posisi seperti ini.


" Kalian tuh gak usah sok glak gitu deh. Kalian tahu kan kalau kalian gak bakal bunuh gue? Kalau kalian bunuh gue, bunuh nih anak dan bunuh tuh anak cwek. Kalian gak akan dapat apa – apa. Kalian rugi besar, buang – buang tenaga, buang – buang duit, buang – buang nyawa," ujar Darrel yang lirih di bagian akhir.


Radith sampai tak bisa berkata – kata. Dia hanya memndang dengan sorot takut ke Darrel. Darrel yang dia lihat tak seperti Darrel yang biasanya. Lelak iitu terlihat dingin, menyeramkan dan bahkan tak menunjukkan ketakutan sedikitpun. Bahkan Radith sudah menganggap dirinya dingin, namun dia masih takut melihat Darrel yang seperti ini.


" Kalian tahu dan kalian sadar kalian bunuh kami bertiga buat sukses ambil alih harta Wilkinson. Kalau kalian bunuh salah satu di antara kami, apa kalian masih yakin kalian masih bisa hidup?" tanya Darrl yang membuat mereka menatap satu sama lain, mereka mulai tampak ragu dan menatap Darrel dengan grogi.


" Gak percaya? Bos besar kalian itu anak buah saya di perusahaan. Kalian belum pernah kan dia menjejerkan anak buahnya dan menembak kepala mereka satu persatu karna kesalahan kecil yang mereka buat," ujar Darrel dengan wajah yang meyakinkan. Lelaki itu mengerikan, dia mengatakan seakan hal itu adalah hal yang menyenangkan untuk di lihat.


" Kalian pasti gak tahu ya? Yah, saya juga gak percaya awalnya. Tapiii, saya lihat sendiri. Pak Indra jalan pelan – pelan, bawa pistol dan mengarahkan pistol itu ke arah kepala mereka. Bang, kepalanya bocor, bahkan darahnya langsung melumuri mukanya pak Indra, keren kan?" tanya Darrel dengan nada psikopat.


Darrel memberi tanda ke Radith, sementara mereka masih terpaku, seperti dugaan Darrel, mereka hanya orang – orang bodoh yang dipekerjakan oleh pak Indra. Tindakan nekat dan mendadak Darrel juga penuh resiko, namun dia tak banyak pilihan saat ini. Sementara itu Radith yang dibeeri kode langsung paham dan menunjukkan targetnya dengan lirikan.


Radith langsung bergerak cepat memiting kepala salah satu di antara mereka sementara kakinya langsung menendang yang lain agar pistol yang orang itu bawa terlepas. Segera Radith mematahkan leher orang yang dipitingnya. Darrel mengangguk bangga melihat ketangkasan Radith. Darrel terpaksa mengeluarkan pistol tanpa suara yang disimpannya dan menembakkan pistol itu ke arah mereka.


Darrel dan Radith bekerja sama, menunjukkan kemampuan mereka dalam seni bela diri dan memainkan senjata. Kemampuan bela diri Radith sangat baik, entah kapan lelak itu mempelajarinya. Radith berhasil mematahkan leher empat orang di antara mereka dan melindungi Darrel dari senjata api yang diarahkan pada lelaki itu.


" Bodoh, kalian harusnya berteriak dan mencari bantuan. Kalian harusnya gak halangin jalan kami, kami terpaksa untuk membungkam kalian," ujar Darrel dengan sinis. Lelaki itu menatap ke arah Radith yang sudah berlutu memandang orang – orang yang mati terkapar itu. beberapa di antara mereka mati dengan kepala berlubang, beberapa lagi dengan posisi kepala yang miring.


" Lo tenang, kita membunuh mereka buat melindungi diri, Lo bukan pembunuh, Lo gak melakukan hal yang jahat. Lo harus kendaliin pikiran Lo," ujar Darrel yang berjongkok dan memegang pundak Radith, Radith menggelengkan kepalanya. Menatap tangannya yang bergetar dan memegang kepalanya sendiri. Bibir Radith bergetar, jika bisa, mungkin lelaki itu sudah menangis.


" Gue gak pernah bunuh orang, gue gak pernah hilangin nyawa dengan tangan gue sendiri. Gue, gue," ujar Radith yang tak sanggup melanjutkan kata – katanya. Dia tak merasakan ketakutan apapun saat 'beraksi' namun rasa bersalah dan takut langsung menghantuinya saat semua sudah berakhir. Darrel yang melihat itu tentu menjadi tak tega.


" Lo harus tegar. Lo tahu? Ini Cuma permulaan, Lo bakal dihadapkan di posisi lebih buruk dari ini di masa depan. Lo gak boleh lemah gini, Lo gak pantas jadi bagian dari keluarga Wilkinson dengan sikap Lo ini," ujar Darrel yang menatap Radith dengan penuh keyakinan. Radith menatap Darrel dan akhirnya mengangguk.


" Lo benar, gue harusnya tahu kalau kita bakal ada di posisi ini. Apalagi kita udah memutuskan buat terjun langsung. Sorry, gue Cuma kebawa perasaan aja. Gue bakal baik – baik aja setelah ini," ujar Radith yang memejamkan matanya dan mengurut pelipisnya. Radith menghela napas berkali – kali dan akhirnya bangkit berdiri.


Baru saja lelaki itu berdiri, lelaki itu langsung mematung dan menatap Darrel dengan mata yang melotot. Sementara Darrel yang ditatap aneh oleh Radith langsung menoleh ke belakang, dia melihat seseorang menodongkan pistol tepat di dahinya. Membuat lelaki itu memundurkan wajahnya tanpa melangkahkan kakinya.


" Darrel Atmaja, lama kita tidak berjumpa. Kenapa kau membantai orang – orangku yang bodoh itu? apa gunanya mengotori tanganmu? Mereka tak lebih berharga dari sekantung beras bagiku, tapi membunuh mereka menyisakan beban yang besar untuk kalian," ujar orang itu yang membuat Darrel menyatukan gigi atas dan bawahnya untuk menghilangkan emosi.


" Pak Indra. Orang kepercayaan Tuan Besar Wilkinson sekaligus orang yang sudah seperti ayah kandung Lunetta sejak kecil, tak terbayang kita akan bertemu dalam situasi seperti ini," ujar Darrel yang masih berusaha untuk tidak takut. Lelaki itu tampak santai, namun tangan yang bergetar tak bisa bohong. Pak Indra langsung memerintahkan orang untuk memegang Radith.


" Kau tahu? Kau sangat berani. Tapi sayang, mengenalmu cukup lama membuatku tahu kau sedang ketakutan, aku tak bisa membunuhmu sampai Wilkinson memberikan apa yang aku mau. Tapi dia? Aku tak yakin aku membutuhkannya. Dia bukan bagian penting di keluarga Wilkinson," ujar pak Indra menunjuk Radith dengan dagunya.


" Aku tahu kau memegang berpuluh persen saham warisan keluarga Wilkinson, jika kau sukarela memberikan saham itu padaku, aku akan sedikit lunak dan tak akan memberikan rasa sakit untuk kematian kalian. Tapi jika kau menolak, maaf jika aku harurs menggunakan orang yang sangat kalian cinta," ujar lelaki itu dengan senyum yang menyebalkan.


" Jangan gegabah dan jangan pernah berani menyakiti Lunetta. Kau tahu? Kau bahkan hanya kerikil kecil untuk Tuan besar Wilkinson. Dia bisa membunuhmu dalam hitungan detik,kau yang harusnya terus berdoa dan berhati – hati," ujar Darrel dengan lirih namun penuh penekanan. Pak Indra tertawa keras mendengar hal itu.


" Tuan Besar Wilkinson? Bahkan lelaki itu tak bisa melakukan banyak hal tanpa bantuanku, namun dia tetap membuatku menjadi bawahan, bahkan berada di bawah kalian tikus – tikus tidak berguna. Dan apa katamu tadi? Dia bisa membunuhku dalam hitungan detik? Seperti ini?" tanya Pak Indra sambil menarik pelatuk pistol yang dia bawa


~daarr


Satu orang langsung jatuh terkapar dengan peluru yang bersarang di kepalanya. Darrel menatap lelaki itu dengan wajah kasihan, sementara Radith tak berani melihat, dia memejamkan matanya dan menngok ke arah lain, Pak Indra yang melihat itu hanya tersenyum miring.


" Kau lihat? Aku bahkan bisa membunuh orang yang bekerja untukku kurang dari satu detik tanpa keraguan. Kau masih yakin aku tak sanggup membunuhnya? Aku masih berbaik hati untuk memberikan penawaran, namun jika kau masih menolak, tinggal satu tarikan pelatuk, nyawanya akan hilang."


" Lo gak usah dengar dia kak, dia Cuma menggertak," ujar Radith lantang. Orang yang memegang Radith langsung menampar pipi lelaki itu dengan keras, bahkan bibirnya sampai mengeluarkan darah.


" Kau tahu aku tak sebercanda itu Darrel. Ikut denganku suka rela dan semua akan baik – baik saja. Atau tolak dan kau akan melihat dia mati dengan cara yang menyakitkan," ujar pak Indra yang membuat Darrel memejamkan matanya. Dia menatap Radith yang masih menggelengkan kepalanya.


" Oke, aku akan tanda tangan dan berikan semua bagianku untuk kalian," ujar Darrel dengan penuh keyakinan. Radith hendak protes, namun Darrel menatap galak ke arah Radith dan minta lelaki itu untuk diam. Pak Indra sendiri hanya tertawa puas dan bertepuk tangan.


" Bagus, Bagus, kau mengambil keputusan yang tepat. Sekarang, kalian ikut dengan ku, bergabung dengan gadis, ah, wanita yang kalian sama – sama cintai," ujar pak Indra yang mengode orang – orang itu untuk memegang Darrel dan membawa mereka ke markas.


" Lo gila!" pekik Radith dengan kesal, namun Darrel tak bergeming, lelaki itu tetap diam dan melangkah dengan wajah yang semakin pucat.