Hopeless

Hopeless
Chapter 74



Luna terdiam dalam kamarnya, dia tidak tidur semalaman, dia masih memikirkan setiap apa yang terjadi dalam hidupnya. Apakah ini semacam kutukan? Mengapa semua orang di sekitarnya celaka?


Mata Luna tampak menghitam dan sembab, wajahnya sangat pucat seperti mayat, bahkan dia hanya melamun semalaman.


Luna tidak menyangka akan kehilangan Jordan secepat ini, bahkan kakaknya pun belum menikah, namun harus menyusul mantan kekasihnya ke surga sana.


" hiks, hiks, hiks, hiks." Luna kembali menangis sesenggukan saat mengingat wajah tampan Jordan. Wajah yang bertahun tahun ini dia rindukan, wajah yang belakangan ini bisa dia sentuh setiap saat.


Luna sudah merindukan Jordan, sungguh. Luna sangat merindukan lelaki itu. Pelukan hangatnya, wangi khas tubuh Jordan, bahkan usapan lembut lelaki itu untuk Luna, semua terekam jelas dan terus berputar.


Gadis itu bahkan bisa merasakan hangatnya Jordan dan membayangkan wangi tubuh lelaki itu, membuat sesak di dadanya kian bergemuruh dan semakin memuncak.


" Bang Jordan, Bang Jordan, hiks, hiks, hiks."


Harus kehilangan Ibu kandungnya saat dia lahir, harus kehilangan sosok menyerupai malaikat bernama Shilla, dan kini dia harus kehilangan kakak yang sangat berharga baginya.


"  AAAAHHH, BANG JORDAN, BANG JORDAN BALIK BANG, LUNA GAK BISAAAA!!" Luna mulai menggila dan berteriak frustasi. Dia mengacak rambutnya dengan frustasi.


Luna memukul mukul dadanya sendiri, berharap rasa sesak itu hilang dari hatinya, semakin keras dia memukul semakin dia terisak keras.


" Bang Jordan pulang ke bang, Luna takut sedirian, bang Jordan, hiks hiks hiks."


Luna menekuk lututnya dan menangis sesenggukan, dia sangat ketakutan sekarang. Tidak ada lagi yang akan melindunginya saat dia terluka, tidak akan ada lagi yang menemaninya kala kesepian.


" Bang Jordan, Luna gak bisa, Luna gak bisa kalau kehilangan abang," ujar Luna tanpa henti, gadis itu sudah seperti gadis gila yang terus mengoceh dan menggeleng gelengkan kepalanya dengan frustasi.


Tubuhnya melemah belakangan ini karena masalah yang datang bertubi - tubi, bahkan seakan masalah itu tidak memberinya waktu untuk bernapas. Batin Luna terus tertekan dari waktu ke waktu.


~ tok tok tok


Luna membiarkan suara ketukan pintu tersebut, membuat si pengetok mengulanginya beberapa kali.


" Nona Lunetta?"


~ Pyaaarrrr


Luna meraih vas bunga yang ada di dekatnya dan melemparnya ke pintu kamarnya, tanda meminta orang itu untuk segera pergi.


" Nona, jenazah tuan muda Jordan sudah sampai, Mr. Wilkinson juga sudah ada di bawah," ujar orang itu dengan sopan, tidak mempedulikan Luna yang mengamuk di dalam sana.


" PERGI! Ini cuma mimpi! KALIAN PERGI DARI SINI!!!" Teriak Luna dengan frustasi dan melempar apapun yang ada di dekatnya.


Tak ada suara lagi, orang itu sudah pergi. Luna kembali menekuk lututnya dan menggigil ketakutan.


Tadi malam Luna masuk ke kamar mandi dan membasahi seluruh tubuhnya dengan air dingin kemudian langsung keluar dan duduk semalaman dengan Pendingin ruangan yang disetel 16 derajat celsius.


Bahkan gadis itu tidak mengeringkan tubuhnya terlebih dahulu, berharap dia bisa tidur dan mendapati semua hanya mimpi. Namun sekeras apapun Luna berusaha, semua yang terjadi tetap terjadi, Luna tidak sedang bermimpi.


Seluruh tubuh gadis itu tampak memutih dan berkerut, rambutya tak berbentuk lagi dan pandangannya pun sudah kosong.


Luna memang berencana membuat dirinya mati perlahan, untuk apa dia hidup jika semua orang pergi dari hidupnya. Biarlah rasa dingin ini menggerogoti tubuhnya hingga dia bisa menyusul mereka yang pergi meninggalkannya.


~ Kriieetttt


" PERGI!!!" Seru Luna sambil melempar bantal ke arah pintu yang dibuka. Untunglah orang itu dapat menangkis sehingga bantal tersebut tidak mengenai wajahnya.


" Lunetta." Suara berat yang sangat Luna kenali meski jarang dia temui.


" Daddy," lirih Luna kembali menangis sesenggukan, Mr. Wilkinson yang melihat itu tentu menjadi tidak tega.


Pria separuh baya itu berjalan mendekat dengan perlahan, kamar Luna yang biasanya rapi kini jauh lebih parah dari kapal pecah.


Direngkuhnya tubuh lemah putrinya dan dihangatkannya dalam pelukannya. Pria itu meraih remote pendingin ruangan dan mematikan mesin itu.


" Anak Daddy kok seperti ini, gak cantik lagi loh," ujar Mr. Wilkinson sambil mengelus rambut putrinya.


" Daddy, Please tell me this is just a dream, please tell me Bang Jordan is fine. Please daddy please, you can do anything, please make my brother life again."


Luna mulai menggeleng gelengkan kepalanya dan terus terisak, berhadap Mr. Wilkison akan menuruti permintaannya kali ini.


" Luna, semua yang udah pergi dari dunia ini, mereka tidak akan pernah kembali lagi, Daddy tahu ini berat, tapi kamu harus tabah, harus bisa terima," ujar Mr. Wilkinson berusaha memberi pengertian


" You've said to me, you will give me everything in this world, I want my brother, please bring my brother back to me, please Daddy."


Luna kembali menangis histeris saat Mr. Wilkison menggeleng sebagai jawaban,  artinya Luna tak akan pernah lagi bertemu dengan kakaknya.


" Daddy pernah kehilangan orang yang sangat berharga, Daddy bahkan sampai pindah dari Indonesia karena itu. Tapi mengiklaskannya memang pilihan terbaik, Luna juga harus bisa seperti itu."


Luna masih menangis dan tidak menjawab Mr. Wilkison, membuat pria itu menarik napasnya dalam dan mulai mengeluarkan Suara emasnya


🎤 You're the perfect melody,


( Kamu adalah melody yang sempurna)


🎶 The only harmony


( satu satunya harmoni)


🎵 I wanna hear.


( Yang ingin aku dengar)


🎶 You're my favorite part of me,


( Kamu bagian favorit dari diriku)


🎤 With you standing next to me,


( Denganmu yang berdiri di sampingku)


🎶 I've got nothing to fear.


( aku tak Perlu takut)


Mr. Wilkinson mengecup kepala Luna dan memeluk gadis kecilnya, seakan berkata semua akan baik baik saja.


🎶Without you, I feel broke.


( Tanpamu, aku merasa hancur)


🎵Like I'm half of a whole.


( Seakan aku separuh dari semuanya)


🎶Without you, I've got no hand to hold.


( Tanpamu, aku tidak memiliki tangan untuk digenggam)


🎤Without you, I feel torn.


( Tanpamu, aku merasa koyak)


🎶Like a sail in a storm.


( Seperti berlayar di dalam badai)


🎵Without you, I'm just a sad song.


( Tanpamu, aku hanyalah lagu sedih)


( Aku hanyalah lagu sedih)


( Sad song - we the kings ft. Elena coats)


Luna semakin sesenggukan mendengar nyanyian merdu daddynya, baru kali ini dia merasa Mr. Wilkinson sungguh menyayanginya.


" Luna harus tahu, anak anak Daddy semua berharga dan Daddy sayang kalian semua, Daddy gak sanggup kalau harus kehilangan anak anak Daddy lagi. Luna janji sama daddy ya."


Luna masih menangis dan mengeratkan pelukannya pada Daddynya, entah kapan terakhir kali dia bisa memeluk daddynya seperti ini.


" Setiap hal yang terjadi di hidup Luna pasti ada sebabnya, Tuhan pasti punya rencana, Luna percaya itu kan?" Tanya Mr. Wilkinson dengan lembut, membuat Luna mengangguk lemah.


" Will you promise me? Janji sama Daddy Kamu gak akan pernah sedih lagi, janji sama Daddy kamu akan selalu bahagia. Buat Mama, kak Nay dan semua yang sayang sama Luna juga bahagia karna Luna selalu bahagia."


Luna mendongak dan cemberut, Mr. Wilkinson berkata seolah dia selalu ada di sisi Luna, padahal selama ini pria itu sellu sibuk dengsn bisnisnya.


" Daddy memang tahu apa yang Luna alami?" tanya Luna sambil menaikkan alisnya.


" Tentu aja, Daddy selalu tahu, tapi Daddy diam karna mau kamu selesaiin masalah kamu sendiri," ujar Mr. Wilkinson dengan tenang.


" Sekarang, kita turun yah, bang Jordan udah sampai. Kamu bakal menyesal kalau gak bisa kasih perpisahan sama dia."


Luna terdiam dan meresapi setiap apa yang dikatakan Mr. Wilkinson, ada benarnya juga, ini terakhir kali Luna akan melihat wajah Jordan, dia akan menyesal seumur hidup jika tidak memberikan penghormatan terakhirnya.


" Jadi, Luna mau ikut atau tetap disini? " Tanya Mr. Wilkinson dengan Lembutnya, sentuhannya persis seperti Jordan, mungkin Jordan belajar dari papanya.


" Luna ikut," ujar Luna mengangguk yakin, apapun itu, Luna harus menahan sakitnya dan menemui Jordan.


Mr. Wilkinson menarik Luna ke kursi di depan meja rias, dan mengambil sisir untuk merapikan rambut anak gadisnya.


" Anak Daddy harus tetap cantik, Daddy gak mau nanti kolega Daddy lihat anak gadis Daddy kayak gak keurus," ujar Mr. Smith sambil tetap menyisiri rambut Luna.


Luna merasakan setiap sentuhan yang diberikan oleh Mr. Wilkison, ternyata seperti ini rasanya dimanja oleh ayah sendiri.


Tanpa sadar Luna mulai menitikkan air mata lagi, menyadari betapa kesepian hidupnya selama ini, betapa hidupnya terlalu jauh dari ayah dan kakaknya.


Lebih buruknya lagi, Luna harus merasakan kasih nyata seorang ayah di hari kematian kakaknya, gadis itu tidak tahu harus merasa bahagia atau sedih.


"Kamu cuci muka terus ganti baju, daddy Tunggu di luar," ujar Mr. Wilkinson saat rambut Luna sudah rapi.


Mr. Wilkinson menyempatkan untuk mencium puncak kepala anaknya sebelum berjalan dengan hati hati menuju pintu keluar mengingat banyaknya pecahan kaca dan air yang tadinya ada di vas bunga kaca.


Luna melihat pantulan wajahnya, bahkan dia seakan tak mengenali dirinya sendiri. Wajahnya tampak menyeramkan dan sangat tirus.


Gadis itu berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan berganti pakaian. Gadis itu membiarkan rambutya terurai dan bertekad tidak akan menangis di depan Jordan.


Luna tidak ingin Jordan merasa sedih melihat keadaannya, Jordan tak akan pergi dengan tenang bila melihat Luna seperti ini.


Gadis itu mengusap matanya yang terus berair, menghirup udara sebanyak banyaknya dan menghembuskannya untuk menenangkan diri.


" Daddy," panggil Luna pada Mr. Wilkinson yang duduk di sofa sambil memainkan Ipad miliknya.


Luna merasa kasihan pada Daddynya yang harus terus bekerja sampai tak kenal kata istirahat. Pria itu sampai memiliki banyak kerutan dan kantong mata yang besar.


" Luna yang tegar ya," ujar Mr. Wilkinson mengusap pundak Luna dan mengajak gadis itu menuju lift.


Luna tampak tak tenang dan bergerak gelisah, Mr. Wilkinson sendiri tak henti memberikan ketenangan untuk gadis itu, berusaha menegarkan puterinya. Tak ada yang tahu apa yang dirasakan Mr. Wilkinson .


Pintu lift terbuka, Semua pengawal Mr. Wilkinson berbaris rapi menyambut tuan mereka sambil menundukkan kepala.


" Dad, sebanyak ini pengawal rahasia Daddy?" tanya Luna yang tak bisa menahan rasa ingin tahunya, padahal gadis itu tahu bukan situasi yang tak tepat menanyakan hal tak penting seperti itu.


" Masih ada banyak lagi," bisik Mr. Wilkinson di telinga Luna. Mereka berjalan menuju sebuah peti yang tertutup.


Saat sudah dekat, kaki Luna berhenti melangkah, enggan untuk mendekat dan melihat abangnya yang sudah dalam kondisi berbeda.


" Luna!" panggil seseorang yang membuat Luna menengok seketika, didapatinya Ketiga sahabatnya berlari mendekat dan langsung memeluknya erat.


Luna tak dapat lagi membendung air matanya, gadis itu langsung terisak dan akhirnya menangis sesenggukan. Ketiga orang itu mengeratkan pelukan mereka untuk Luna, seakan menyalurkan energi mereka untuk Luna.


" Luna, Lo harus tabah," ujar Lucy yang memeluk Luna paling depan dan paling erat.


" Lun, gue bener bener ikut berbela sungkawa, Lo kuat ya," ujar key yang memeluk Luna dari samping.


" Gue tahu berat buat Lo, gue pun merasa berat kehilangan cints pertama gue. Tapi Lo harus iklas, kita harus iklas," ujar Adel yang memeluk Luna dari belakang.


Mr. Wilkinson yang melihat itupun sampai terharu, bersyukur puterinya memiliki sahabat sebaik mereka, menemani kala Luna diatas, mengangkat kala Luna terjatuh dan menghibur kala Luna terpuruk.


" Lo harus kuat, lo gak mau kan datang lihat bang Jordan dengan sedih kayak gini, bang Jordan pasti ikut sedih."


Luna mengangguk dan mulai berjalan mendekat ke peti itu lagi, Luna sudah mengusap air matanya yang berulang kali terjatuh.


Peti dibuka saat Luna tepat berada disamping peti itu. Tangis Luna pecah seketika, tidak menyangka yang yang ada di dalam sana sungguh Jordan. Luna menyangka semua adalah nyata.


Gadis itu menangis keras dan memukul mukul dadanya, kakinya lemas seketika, bahkan dia sampai terduduk di lantai dan bersandar pada peti tersebut.


Semua yang melihat Luna tentu merasa kasian, bahkan mereka sampai menitikkan air mata, ikut merasakan kepahitan itu.


Jordan sosok yang ceria, tegas dan tentu baik hati. Semua perlakuan baik Jordan membekas di hati orang di sekitarnya. Beberapa pelayan yang tak kuat melihat Luna memilih pergi dari situ dan menyiapkan keperluan lain.


" Bang Jordan, bang Jordan kenapa tega tinggalin Luna? Bang Jordan bilang mau ajak Luna jalan jalan, bang Jordan kenapa bohong?" tanya Luna sambil mengelus peti tersebut.


" Luna, kalau kamu gak kuat kita ke kamar lagi ya," ujar Mr. Wilkinson tak tega dan ikut berjongkok untuk menenangkan Luna.


Gadis itu menggeleng dan berusaha untuk bangun, dibantu Mr. Wilkinson gadis itu akhirnya berdiri lagi dan menatap wajah pucat Jordan yang tak bergerak sama sekali.


Jordan hanya menampakkan wajahnya, tubuhnya dibungkus kain tebal, entah sehancur apa tubuh lelaki itu, Luna tak berani membukanya.


" Bang Jordan," lirih Luna dengan suara bergetar, gadis itu mengelus wajah Jordan yang kini banyak bagian membiru di wajah itu.


" Sakit banget ya bang?" tanya Luna sambil sesenggukan membayangkan rasa sakit yang harus Jordan terima.


" Lunetta, Daddy mau bilang sesuatu sama kamu," Ujar Mr. Wilkinson yang memegang pundak Luna yang bergetar hebat.


Gadis itu semakin menangis dan bahkan memeluk Mr. Wilkinson dengan erat, mengotori baju pria itu dengan ingus dan air mata.


" Daddy, mau bilang sesuatu, Luna dengar baik baik ya," ujar Mr. Wilkinson dengan lirih dan lembut.


Luna hanya mampu menganggukkan kepalanya, sudah tak memiliki tenaga untuk bicara lagi. Melihat Jordan sudah menghabiskan tenaga Luna yang tersisa.


" Daddy mau bilang.."


.


.


.


.


.


.


" Selamat ulang tahun Lunetta."